Penulis | : Roald Dahl |
Penerbit | : PT. Gramedia Pustaka Utama |
Tahun terbit | : 2003 |
Jumlah halaman | : 103 halaman |
Jika seseorang memiliki pikiran-pikiran jelek, maka itu akan terlihat di wajahnya. Dan ketika orang itu memiliki pikiran-pikiran jelek setiap hari, setiap minggu, setiap tahun, wajahnya menjadi semakin jelek sampai begitu jeleknya sehingga kamu hampir tidak sanggup melihatnya.
Seseorang yang memiliki pikiran-pikiran baik tidak akan pernah bisa menjadi jelek. Kamu boleh punya hidung yang miring, mulut yang bengkok, dagu berlipat, dan gigi yang tonggos, tapi jika kamu memiliki pikiran yang baik, itu akan memancar keluar dari wajahmu bagaikan sinar matahari dan kamu akan selalu terlihat manis.
Saya sudah menyukai buku-buku Roald Dahl sejak remaja. Dulu saya membaca Danny, the Champion of the World, Matilda, Charlie and the Chocolate Factory, dan Esio Trot. Entah mengapa, saya selalu menyukai cara Dahl bercerita, meskipun harus diakui, buku-bukunya memang aneh dan sebetulnya cukup gelap.
Belakangan saya baru mengenal istilah dark humor, macabre, dan grotesque, yang rupanya cukup tepat untuk menggambarkan sebagian cerita Dahl. Bayangkan saja, buku-buku yang diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi isinya manusia-manusia kejam, hukuman yang kadang mengerikan, dan orang dewasa yang kelakuannya jauh lebih buruk daripada anak-anak.
Tetapi mungkin justru di situlah letak daya tariknya. Di balik cerita-cerita absurd tersebut, saya merasa Dahl sedang menyindir banyak hal tentang manusia. Keserakahan, kesombongan, kebodohan, penyalahgunaan kekuasaan, sampai kebiasaan orang dewasa yang merasa dirinya selalu benar.
Dan hebatnya, semua itu disampaikan tanpa perlu berceramah panjang lebar. Kita cukup membaca ceritanya, tertawa karena kelakuan tokoh-tokohnya yang luar biasa konyol, lalu sesekali menyadari bahwa manusia-manusia seperti itu ternyata tidak sepenuhnya fiktif.
Membaca The Twits membuat saya kembali merasakan hal yang sama.
Buku ini bercerita tentang sepasang suami istri, Mr. Twit dan Mrs. Twit, yang barangkali layak mendapatkan penghargaan sebagai pasangan paling menjijikkan sekaligus paling menyebalkan dalam sejarah cerita anak-anak.
Mr. Twit adalah laki-laki tua berjanggut lebat yang tidak pernah membersihkan janggutnya dengan benar. Akibatnya, berbagai sisa makanan tersangkut di sana, dari potongan telur, ikan, sampai makanan-makanan lain yang entah sudah berapa lama menghuni wajahnya.
Sementara istrinya, Mrs. Twit, digambarkan sebagai perempuan yang tidak kalah mengerikan. Keduanya sama-sama licik, kejam, dan gemar mempermainkan satu sama lain.
Kalau biasanya pasangan suami istri saling memberikan kejutan sebagai bentuk kasih sayang, pasangan ini juga gemar memberikan kejutan. Bedanya, kejutan mereka berupa tipu daya yang dirancang untuk membuat pasangannya ketakutan atau menderita.
Mrs. Twit pernah memasukkan mata palsunya ke dalam gelas minuman suaminya. Mr. Twit membalas dengan menyelipkan seekor katak ke tempat tidur istrinya, lalu meyakinkannya bahwa makhluk tersebut adalah sesuatu yang mengerikan. Belum cukup sampai di situ, Mr. Twit juga mengerjai istrinya dengan membuatnya percaya bahwa tubuhnya terus memanjang dan harus menjalani proses penyusutan.
Ya Tuhan, rumah tangga macam apa ini?
Saya membayangkan betapa melelahkannya hidup bersama seseorang yang setiap hari sibuk memikirkan cara baru untuk membuat kita sengsara. Tetapi rupanya kedua orang ini memang berjodoh. Sama-sama menyebalkan, sama-sama kejam, dan sama-sama tidak punya keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yang menarik, kejahatan mereka tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Di halaman rumahnya, pasangan Twit memelihara sekelompok monyet bernama Muggle-Wumps yang mereka paksa berdiri terbalik. Mereka juga memiliki kebiasaan menangkap burung dengan mengoleskan lem pada cabang-cabang pohon, kemudian menjadikan burung-burung malang itu sebagai bahan pai.
Dan di sinilah cerita mulai bergerak dari sekadar rangkaian keisengan menjijikkan menjadi kisah pembalasan yang cukup menghibur. Para monyet, dibantu burung-burung yang selama ini menjadi sasaran kekejaman pasangan Twit, akhirnya menyusun rencana untuk memberikan pelajaran kepada kedua manusia tersebut.
Tentu saja, karena ini cerita Roald Dahl, pembalasannya pun tidak biasa.
Saya menyukai bagaimana Dahl menciptakan dunia yang begitu absurd, tetapi tetap membuat pembacanya penasaran. Ceritanya sederhana, bahkan terkesan berlebihan, namun justru di situlah kelucuannya. Kita tidak diminta memikirkan apakah seluruh kejadiannya masuk akal. Kita hanya perlu mengikuti kegilaan dua manusia yang begitu sibuk berbuat jahat sampai akhirnya menjadi korban kejahilan mereka sendiri.
Salah satu hal yang menarik dari The Twits adalah cara Dahl menggambarkan hubungan antara pikiran dan penampilan seseorang. Ia menulis tentang bagaimana pikiran yang buruk dapat membuat wajah seseorang terlihat buruk pula, sementara pikiran yang baik dapat membuat seseorang tampak menyenangkan meskipun secara fisik tidak sempurna.
Tentu saja, dalam kehidupan nyata, penampilan seseorang tidak menentukan baik buruknya watak. Tetapi sebagai bagian dari dunia dongeng Dahl yang penuh karikatur, gagasan itu digunakan untuk memperkuat gambaran tentang pasangan Twit yang memang luar biasa menyebalkan.
Ilustrasi Quentin Blake juga menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari cerita. Gambar-gambarnya yang tampak berantakan justru cocok sekali dengan dunia Dahl yang aneh dan kacau. Sulit membayangkan Mr. Twit dengan janggut menjijikkannya tanpa ilustrasi tersebut.
Membaca The Twits mengingatkan saya bahwa buku anak-anak tidak selalu harus menghadirkan tokoh yang manis atau cerita yang lembut. Kadang-kadang, cerita tentang dua manusia tua yang jahat, monyet-monyet yang dipaksa berdiri terbalik, dan burung-burung yang hampir dijadikan pai justru bisa menjadi bacaan yang sangat menghibur.
Saya juga menyukai bahwa Dahl tidak berusaha membuat pasangan Twit memiliki masa lalu menyedihkan untuk menjelaskan kelakuan mereka. Tidak ada upaya panjang untuk membuat pembaca bersimpati. Mereka memang digambarkan sebagai dua manusia yang luar biasa buruk perangainya. Dan anehnya, justru itu yang membuat cerita ini menyenangkan.
The Twits bukan cerita yang rumit. Alurnya sederhana, tokohnya berlebihan, dan humornya kadang cukup menjijikkan. Tetapi buku ini memiliki daya tarik khas Roald Dahl: nakal, imajinatif, sedikit gelap, dan tidak takut membuat tokoh orang dewasa terlihat konyol.
Setelah menamatkannya, saya hanya sampai pada satu kesimpulan. Mungkin Mr. dan Mrs. Twit bukanlah pasangan yang cocok. Mereka hanya dua manusia yang terjebak dalam kehidupan bersama yang sama sekali tidak bahagia, dan entah bagaimana mulanya mereka berdua akhirnya menjadi pasangan yang terus-menerus saling menyakiti. Celakanya, ketidakbahagiaan itu tidak berhenti pada mereka berdua. Monyet-monyet dan burung-burung malang di sekitar rumah pun harus ikut menanggung akibatnya.
Dan barangkali di situlah sindiran Roald Dahl. Rumah tangga yang dipenuhi kebencian bukan hanya menyengsarakan penghuninya, tetapi juga bisa menyakiti siapa pun yang berada di sekitarnya.
Seperti biasa, Dahl membuat kita tertawa pada sesuatu yang absurd, sebelum menyadari bahwa yang ditertawakan sebenarnya tidak terlalu jauh dari kehidupan kita sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar