Minggu, 11 Oktober 2026

Resensi LELAKI HARIMAU

 


Judul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit pertama: 2004


Dari dua novel Eka Kurniawan yang pernah saya baca, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, saya lebih menyukai yang kedua.

Bukan berarti Cantik Itu Luka tidak bagus. Novel itu memiliki cakupan cerita yang begitu luas, dengan sejarah, politik, kekerasan, dan berbagai persoalan manusia yang saling berkelindan. Tetapi Lelaki Harimau memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Ceritanya lebih ringkas, lebih terarah, dan memiliki akhir yang membuat saya ingin kembali memikirkan seluruh kejadian sejak halaman pertama.

Saya memang menyukai gaya bercerita Eka Kurniawan. Lugas, tidak bertele-tele, dan tepat sasaran. Ia bisa menceritakan sesuatu yang begitu brutal dengan kalimat yang tenang, bahkan kadang terasa jenaka. Tidak banyak dramatisasi yang tidak perlu. Dan justru karena itu, ceritanya menjadi semakin mengganggu.

Lelaki Harimau dibuka dengan sebuah pembunuhan. Margio, seorang pemuda, membunuh Anwar Sadat dengan cara yang sangat brutal. Tidak ada upaya menyembunyikan identitas pelaku. Sejak awal kita sudah tahu siapa yang membunuh siapa.

Lalu apa lagi yang mau diceritakan?. Rupanya banyak sekali.

Eka Kurniawan membawa pembaca menelusuri kehidupan Margio, keluarganya, dan orang-orang yang terhubung dengan peristiwa pembunuhan tersebut. Cerita bergerak maju mundur, membuka satu demi satu kejadian yang semula tampak tidak berkaitan, sampai perlahan kita mulai memahami bahwa pembunuhan itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Rupanya, Eka Kurniawan menyimpan pertanyaan yang jauh lebih menarik: mengapa Margio membunuh Anwar Sadat?. Jawabannya baru terungkap menjelang akhir novel. Dan ketika sampai di bagian itu, saya merasa seluruh cerita mendadak berubah makna.

Saya merasa bahwa Lelaki Harimau bukan semata-mata cerita tentang pembunuhan, dendam, atau seekor harimau putih yang bersemayam dalam tubuh seorang pemuda. Bagi saya, ini juga cerita tentang perempuan-perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarkal, dan bagaimana mereka harus menanggung akibat dari kekuasaan laki-laki atas tubuh, perasaan, dan kehidupan mereka.

Terutama Nuraeni.

Nuraeni menikah dengan Komar bin Syueb, laki-laki kasar yang menjadikan kehidupan rumah tangga mereka begitu menyedihkan. Ia mengalami kekerasan fisik, penghinaan, dan pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinannya. Bagian terakhir ini penting untuk disebutkan. Hubungan seksual yang dipaksakan oleh suami terhadap istrinya tetap merupakan kekerasan seksual, atau marital rape. Perkawinan tidak serta-merta memberikan hak kepada seseorang untuk menguasai tubuh pasangannya.

Dan melalui kehidupan Nuraeni, kita melihat bagaimana perkawinan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi tempat berlangsungnya kekerasan. Yang menyedihkan, Nuraeni seperti tidak memiliki pilihan lain. Kemiskinan struktural adalah masalah berlarat-larat yang tidak memberikan alternatif pilihan bagi perempuan. Nuraeni bertahan dalam rumah tangga yang tidak memberinya kebahagiaan, untuk melipur lara, perlahan-lahan ia mulai bicara sendiri pada panci sampai dibilang sinting bahkan oleh anak-anaknya sendiri.  Sementara anak-anaknya tumbuh menyaksikan kekerasan tersebut. Margio, terutama, menyimpan kemarahan yang begitu besar terhadap ayahnya.

Kemudian Nuraeni bekerja di rumah Kasia, istri Anwar Sadat. Di sinilah ada perubahan kecil yang menurut saya sangat menyentuh. Nuraeni mulai tersenyum. Ia mulai bersenandung. Perempuan yang sebelumnya begitu murung perlahan terlihat lebih hidup. Bayangkan, setelah sekian lama menjalani kehidupan yang menyakitkan, akhirnya ada sesuatu yang membuat perempuan ini kembali menemukan kegembiraannya. Tetapi rupanya kebahagiaan itu datang melalui hubungan dengan Anwar Sadat.

Dan di sinilah tragedi berikutnya dimulai. Saya melihat hubungan Nuraeni dan Anwar bukan sekadar perselingkuhan antara dua orang dewasa. Ada ketimpangan kekuasaan yang perlu diperhatikan. Nuraeni adalah perempuan yang bekerja di rumah keluarga Anwar, sementara Anwar berada dalam posisi yang lebih kuat secara sosial dan ekonomi. Hubungan itu pun berawal dari perilaku seksual Anwar terhadap Nuraeni yang dapat dibaca sebagai pelecehan, bukan sebuah kisah cinta yang sejak awal berlangsung setara. Sungguh menyedihkan. Nuraeni yang sebelumnya mengalami kekerasan dari suaminya justru kembali berada dalam hubungan dengan laki-laki yang memiliki kuasa atas dirinya.

Namun, Nuraeni kemudian benar-benar jatuh cinta. Dan saya rasa, di situlah letak tragedinya. Bagi Nuraeni, hubungan itu menjadi sesuatu yang berarti. Ia kembali tersenyum, kembali bersenandung, dan tampak menemukan alasan untuk menikmati hidup. Tetapi bagi Anwar Sadat, hubungan tersebut ternyata tidak memiliki arti yang sama. Margio pun tampaknya mengalami pergulatan perasaan yang rumit. Ia tidak sepenuhnya menerima hubungan ibunya dengan Anwar, tetapi ia juga melihat sendiri bagaimana ibunya mulai bahagia.

Bagaimana mungkin seorang anak yang sepanjang hidupnya menyaksikan penderitaan sang ibu tidak merasa lega melihat perempuan itu akhirnya bisa tersenyum?. Tentu saja hubungan tersebut tidak bisa dibenarkan begitu saja. Apalagi Kasia, istri Anwar Sadat, telah memperlakukan Nuraeni dengan sangat baik.

Dan di sinilah saya ingin membicarakan perempuan lain yang nasibnya juga menarik: Kasia. Porsinya dalam cerita memang tidak sebesar Nuraeni. Tetapi bagi saya, ia juga merupakan korban dari tatanan patriarkal yang sama. Kasia adalah perempuan yang bekerja, memiliki penghasilan, dan berperan penting dalam menopang kehidupan rumah tangganya. Secara finansial, ia memiliki kemandirian yang tidak dimiliki Nuraeni.

Namun, kemandirian ekonomi ternyata tidak otomatis membuat seorang perempuan terbebas dari ketidakadilan dalam perkawinan. Anwar Sadat digambarkan sebagai parasit, tidak punya pekerjaan, tapi hobinya main serong.

Ia tak punya pekerjaan sejak berhenti menjual lukisan, ia merupakan teman bermain catur Mayor Sadrah, sponsor klub sepak bola kota, dan berburu perempuan. Kelakuannya yang terakhir, dilakukan lebih bergairah daripada melukis, menemukan gadis-gadis dan meniduri mereka, kadang-kadang janda dan istri orang jika mau. Ia membanggakan kemaluannya yang sekukuh tanduk (h. 16).

Dan tampaknya Kasia memilih menulikan telinga demi mempertahankan kehidupan rumah tangga. Saya jadi berpikir, betapa seringnya perempuan ditempatkan dalam situasi yang serba salah.

Nuraeni tidak bahagia karena suaminya kasar dan memperlakukannya dengan semena-mena. Sementara Kasia, meskipun mandiri secara finansial, juga harus menanggung perilaku suami yang sudah tidak bekerja juga tidak setia. Dua perempuan dengan keadaan ekonomi yang berbeda, tetapi sama-sama terluka oleh laki-laki dalam kehidupan mereka.

Dan ironisnya, kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni justru ikut menyakiti Kasia. Di titik ini, saya tidak ingin membenarkan perselingkuhan Nuraeni hanya karena ia merupakan korban KDRT.  Tetapi saya juga tidak ingin melihat Nuraeni semata-mata sebagai perempuan yang merebut suami orang. Manusia rupanya memang tidak sesederhana itu. Seseorang bisa menjadi korban dalam satu hubungan, tetapi sekaligus ikut melukai orang lain dalam hubungan yang berbeda. Dan dua hal tersebut bisa sama-sama benar. Cerita kemudian mencapai titik yang paling mengejutkan ketika Anwar Sadat mengakui kepada Margio bahwa ia tidak mencintai Nuraeni.

Perempuan yang selama ini begitu menderita, yang akhirnya menemukan alasan untuk tersenyum lagi, ternyata jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak memiliki perasaan yang sama. Saya kasihan kepada Nuraeni. Tetapi saya juga memahami kemarahan Margio.

Bukan berarti saya membenarkan pembunuhan yang dilakukannya. Hanya saja, setelah mengetahui seluruh kehidupan keluarganya, kemarahan Margio menjadi jauh lebih dapat dipahami. Ia telah menyaksikan ibunya diperlakukan dengan kejam oleh ayahnya. Kemudian, ketika ibunya akhirnya tampak bahagia bersama laki-laki lain, ia harus mendengar bahwa laki-laki tersebut ternyata tidak mencintainya. Dan seluruh kemarahan yang selama ini terpendam akhirnya meledak.

Inilah plot twist yang menurut saya luar biasa.

Eka Kurniawan tidak menyembunyikan identitas pembunuh. Ia justru menyembunyikan alasan pembunuhan tersebut, lalu perlahan mengajak kita memahami peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Ketika alasan itu akhirnya terungkap, yang saya rasakan bukan hanya keterkejutan, tetapi juga kesedihan.

Menariknya, jika dibaca dari sudut pandang perempuan, saya merasa Eka Kurniawan cukup berpihak kepada mereka. Setidaknya, ia tidak memberikan akhir yang menyenangkan bagi laki-laki yang selama ini menyakiti perempuan. Komar bin Syueb mati, dan bahkan kematiannya digambarkan dengan cara yang ganjil, seolah bumi pun enggan menerimanya. Sementara Anwar Sadat harus menemui ajal yang begitu mengenaskan di tangan Margio.

Saya sampai berpikir, barangkali Eka memang sengaja tidak memberikan kematian yang damai kepada kedua laki-laki tersebut. Tentu ini bisa saja merupakan tafsir saya sebagai pembaca. Tetapi ada semacam pembalasan yang terasa simbolis: laki-laki yang sepanjang hidupnya menggunakan kekuasaan untuk menyakiti perempuan akhirnya tidak memperoleh akhir yang terhormat. Meski demikian, kematian keduanya tidak otomatis membuat kehidupan perempuan-perempuan yang mereka sakiti menjadi lebih baik.

Komar mati, tetapi penderitaan Nuraeni tidak serta-merta terhapus. Anwar Sadat mati, tetapi kematiannya juga tidak mengembalikan kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni, apalagi memperbaiki luka yang dialami istrinya. Dan Margio, anak yang begitu marah melihat penderitaan ibunya, justru menjadi pelaku kekerasan berikutnya. Barangkali di sinilah kritik yang paling menyedihkan dalam novel ini. Kekerasan tidak selalu berakhir ketika pelakunya mati. Ia bisa meninggalkan luka yang panjang, bahkan melahirkan kekerasan baru pada generasi berikutnya. 

Saya takjub pada bagaimana Eka Kurniawan menghadirkan harimau putih dalam tubuh Margio. Unsur magis itu membuat ceritanya terasa ganjil, tetapi sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan kemarahan yang selama ini tersimpan dalam diri Margio. Apakah harimau itu benar-benar ada, atau merupakan cara lain untuk menggambarkan sesuatu yang liar dan tidak terkendali dalam diri manusia?. Saya rasa kita tidak harus memilih satu jawaban. Justru itulah yang membuat novel ini menarik.

Lelaki Harimau bukan novel yang panjang, tetapi berhasil memuat persoalan yang tidak sederhana: kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan seksual dalam perkawinan, pelecehan, perselingkuhan, ketimpangan kekuasaan, dan kemarahan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan.

Semua itu disampaikan dengan gaya bercerita yang saya sukai: lugas, tajam, dan tidak bertele-tele. Setelah menamatkannya, saya tidak lagi terlalu memikirkan betapa mengerikannya cara Anwar Sadat dibunuh. Saya justru memikirkan Nuraeni dan Kasia.

Dua perempuan yang berbeda, dengan kehidupan yang berbeda, tetapi sama-sama harus menanggung akibat dari perilaku laki-laki yang seharusnya memperlakukan mereka dengan lebih baik. Dan mungkin itulah yang membuat Lelaki Harimau begitu membekas bagi saya.

Pada awalnya kita mengira sedang membaca kisah tentang seorang laki-laki yang membunuh laki-laki lain. Tetapi setelah seluruh cerita terbuka, saya justru menemukan kisah tentang perempuan-perempuan yang terluka. Dan betapa menyedihkannya, bahkan ketika laki-laki yang menyakiti mereka akhirnya mati, bukan berarti luka mereka ikut selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi LELAKI HARIMAU

  Judul:  Lelaki Harimau Penulis:  Eka Kurniawan Terbit pertama:  2004 Dari dua novel Eka Kurniawan yang pernah saya baca,  Cantik Itu Luka ...