Selasa, 03 November 2026

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

 


Sudah hampir dua bulan buku Merawat Luka Batin karya Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menemani perjalanan, sesekali dibuka ketika ada waktu luang. Namun, sampai hari ini, saya belum juga selesai membacanya.

Bukan karena bukunya membosankan. Justru sebaliknya.

Membaca buku ini rasanya seperti mengikuti kuliah satu semester yang seluruh materinya dimampatkan ke dalam sebuah buku. Padat, penuh pengetahuan, dan menuntut perhatian lebih dari sekadar membaca sambil lalu.

Ada bagian-bagian yang membuat saya harus berhenti sejenak, mencoba memahami apa yang baru saja saya baca. Kadang saya perlu kembali ke halaman sebelumnya, mengulang satu atau dua paragraf, lalu membiarkan isinya mengendap sebelum melanjutkan. Tidak semua hal bisa langsung dicerna, apalagi ketika yang sedang dibicarakan adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan manusia: luka batin, emosi, dan cara kita memahami diri sendiri.

Barangkali itulah yang membedakan buku ini dari bacaan yang biasa saya habiskan dalam beberapa hari. Saya tidak merasa sedang mengejar halaman terakhir. Saya justru merasa perlu memberi waktu kepada diri sendiri untuk memahami apa yang disampaikan penulis.

Ada perbedaan antara mengetahui sebuah konsep dan benar-benar memahaminya. Lebih jauh lagi, ada jarak yang tidak selalu pendek antara memahami sesuatu secara intelektual dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya juga mulai menyadari bahwa membaca buku tentang kesehatan mental tidak otomatis membuat seseorang lebih memahami dirinya sendiri. Pengetahuan bisa membantu kita mengenali dan memberi nama pada apa yang kita rasakan, tetapi proses mengolahnya tentu tidak sesederhana membalik halaman buku.

Saat ini saya sedang mencoba menyusun rangkuman dari apa yang saya baca. Bukan pekerjaan mudah, karena saya ingin memastikan bahwa saya benar-benar memahami gagasannya, bukan sekadar memindahkan kalimat-kalimat dari buku ke dalam catatan.

Jadi, untuk sementara, tulisan ini belum bisa disebut resensi yang utuh. Anggap saja sebagai catatan perjalanan membaca sebuah buku yang membutuhkan waktu lebih panjang daripada biasanya.

Rangkumannya masih dalam proses. Akan saya perbarui setelah selesai.

Dan mungkin, untuk buku yang berbicara tentang merawat luka batin, tidak ada alasan untuk terburu-buru menyelesaikannya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menemani ...