Pernahkah, sekali saja dalam hidup, kamu memutuskan mencoret nama seseorang dari hatimu?. Seseorang yang pernah punya arti. Seseorang yang tahu banyak cerita tentang hidupmu. Seseorang yang pernah kamu anggap lebih dari saudara. Seseorang yang pernah kamu panggil sahabat.
Saya pernah. Dan rasanya sungguh tidak enak.
Kalau diingat-ingat lagi, mungkin ada dua orang yang pernah hilang dari hidup saya dengan cara seperti itu. Lucunya, keduanya pergi dengan cara yang sama sekali berbeda. Yang pertama adalah sahabat saya sejak SD. Sebut saja namanya Ina. Persahabatan kami bertahan sampai SMA, bahkan ketika saya kemudian lulus SPMB dan kuliah sementara Ina memilih menikah dengan guru SMA-nya. Tidak pernah ada pertengkaran besar di antara kami. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada satu peristiwa dramatis yang bisa ditunjuk sambil berkata, nah, sejak hari itulah semuanya berubah.
Kami hanya mulai menjalani kehidupan yang berbeda. Saya sibuk dengan kampus, sementara Ina mulai menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu. Apalagi tiga tahun terakhir persahabatan kami dijalani dari kota yang berbeda. Pelan-pelan surat-menyurat setiap akhir minggu berhenti. Kunjungan setiap saya pulang kampung semakin jarang. Cerita-cerita panjang tentang hal-hal remeh dalam hidup kami mulai habis. Sampai suatu hari kami bertemu dan saya menyadari ada sesuatu yang berbeda. Kami masih bisa bicara. Masih saling bertanya kabar. Masih tersenyum dan tertawa. Tapi semuanya terasa sopan.
Dan ternyata ada sesuatu yang menyedihkan dari menjadi sopan kepada seseorang yang dulu mengetahui hampir seluruh hidup kita. Dulu kami bisa bercerita dengan heboh tentang apa saja yang terjadi ketika sedang tidak bersama. Sekarang percakapan kami tidak jauh berbeda dengan percakapan dua orang yang kebetulan pernah saling mengenal. Entah sejak kapan ada sekat di antara kami. Tidak kelihatan. Tapi ada. Lalu saya pun berhenti menghubunginya lebih dulu.
Bukan karena marah. Mungkin hanya karena lelah menjadi orang yang terus mencoba mengetuk pintu yang rasanya sudah tidak lagi terbuka seperti dulu. Kadang-kadang masih sedih memikirkannya. Karena ternyata sebuah persahabatan tidak selalu berakhir dengan pertengkaran. Kadang ia hanya mati pelan-pelan karena dua orang berhenti hadir dalam kehidupan satu sama lain. Dan ketika akhirnya sadar, jaraknya sudah terlalu jauh untuk ditempuh kembali.
Kami masih teman. Tapi bukan lagi sahabat.
Orang kedua berbeda. Sebut saja namanya Opi. Kami sebenarnya berteman sejak SMA, tapi lucunya baru menjadi dekat setelah sama-sama menikah. Saya dan suami sering berkunjung ke rumahnya. Karena usia perkawinan kami tidak terpaut jauh, rasanya kami seperti memulai kehidupan rumah tangga dari titik yang sama.
Saya melihat sendiri perjuangannya. Dari berjualan ikan di pasar tradisional sampai akhirnya menjadi pemasok rumah makan besar di sekitar Bandung. Ketika rumah tangga kami masih berkutat dengan gaji bulanan yang pas-pasan, Opi sudah mampu membeli rumah dan kendaraan secara tunai. Saya ikut senang melihat hidupnya membaik. Sampai kehidupan berbalik arah. Rumah tangganya berakhir. Bisnisnya bermasalah. Utangnya menumpuk. Dan saya tetap menganggapnya sahabat.
Bahkan ketika kemudian ada uang saya dan suami dalam jumlah cukup besar yang dibawanya pergi dan ia menghilang tanpa kabar hampir dua tahun, entah kenapa saya masih mencoba percaya. Mungkin karena begitulah kita memperlakukan orang yang sudah telanjur diberi tempat di hati. Kita memberi mereka lebih banyak alasan. Lebih banyak kesempatan. Lebih banyak toleransi daripada yang mungkin akan kita berikan kepada orang lain.
Maka ketika hampir dua tahun kemudian Opi menelepon, saya tidak mengungkit uang itu. Saya masih mempersilakannya datang ke rumah. Bahkan menawarkan tempat usaha. Dalam kepala saya waktu itu hanya ada pikiran sederhana: mungkin hidup sudah memberinya cukup banyak pelajaran dan sekarang ia ingin memulai lagi. Ternyata kemudian ia kembali meminjam uang. Jumlahnya tidak besar. Tapi sedikit-sedikit dan berulang. Lalu ia mulai menawarkan barang-barang pribadinya untuk dijual kepada saya. Entah kenapa di titik itu saya merasa lelah.
Bukan lagi soal uangnya. Mungkin saya hanya mulai merasa bahwa batas antara menjadi sahabat dan menjadi seseorang yang terus-menerus dimanfaatkan sudah semakin kabur. Dan kali ini saya memilih berhenti. Pesannya tidak saya balas. Teleponnya tidak saya angkat. Pelan-pelan saya mengeluarkan diri dari kehidupannya. Sampai akhirnya ketidakhadirannya menjadi sesuatu yang biasa.
Kalau dipikir-pikir, Ina dan Opi meninggalkan rasa kehilangan yang berbeda. Pada Ina, kadang saya masih bertanya-tanya: Bagaimana kalau dulu saya berusaha sedikit lebih keras?. Bagaimana kalau tetap menulis surat? Tetap datang ketika pulang? Tetap menelepon meskipun kehidupan kami sudah begitu berbeda?. Mungkin kami masih menjadi sahabat sampai sekarang.
Tapi pada Opi, pertanyaannya berbeda. Apakah saya jahat karena memilih pergi ketika seorang sahabat sedang berada dalam keadaan sulit?
Saya tidak tahu.
Dulu saya sering merasa bersalah memikirkannya. Merasa mungkin kalau saya orang yang lebih baik, saya akan lebih sabar. Lebih pemaaf. Memberinya satu kesempatan lagi. Tapi semakin bertambah usia, saya mulai berpikir bahwa menjadi orang baik tidak selalu berarti memberikan akses tanpa batas kepada semua orang yang pernah kita sayangi.
Memaafkan seseorang tidak selalu berarti harus mengundangnya kembali ke tempat yang sama dalam hidup kita. Dan menjaga diri sendiri tidak otomatis membuat kita menjadi orang jahat. Mungkin suatu hari hati saya berubah. Mungkin suatu hari saya dan Opi bisa duduk bersama, membicarakan semua yang pernah terjadi, lalu tertawa seperti dahulu. Mungkin juga tidak. Untuk sekarang, biarlah seperti ini dulu.
Dua orang itu mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada saya tentang kehilangan. Dari Ina saya belajar bahwa hubungan yang kita anggap akan selalu ada ternyata tetap harus dirawat. Kedekatan bukan sesuatu yang sekali dibangun lalu akan tinggal selamanya. Ia bisa habis karena jarak, kesibukan, dan terlalu banyak kalimat nanti saja aku hubungi.
Tapi dari Opi saya belajar sesuatu yang sebaliknya. Bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan hanya karena dulu pernah begitu berarti. Ada orang yang perlu kita genggam lebih erat. Ada pula yang pada satu titik harus kita lepaskan.
Dan mungkin bagian tersulit menjadi dewasa adalah belajar membedakan keduanya. Sebab kehilangan orang yang pernah kita sayangi memang menyakitkan, entah ia sahabat, kekasih, atau bahkan saudara. Apalagi kehilangan sahabat. Ada bagian dari diri kita yang seperti ikut pergi bersama mereka, karena mereka membawa begitu banyak versi lama diri kita yang hanya mereka kenal.
Ina mengenal saya ketika saya masih anak-anak. Opi mengenal saya ketika kami sama-sama sedang belajar menjadi orang dewasa. Sekarang mereka tidak lagi ada sedekat dulu. Tapi bukan berarti semua tahun yang pernah kami lalui bersama menjadi tidak berarti. Mungkin memang tidak semua orang yang kita sayangi ditakdirkan berjalan bersama kita sampai akhir.
Ada yang hanya menemani beberapa kilometer. Lalu hidup membawa kami ke jalan masing-masing. Yang tersisa kemudian bukan selalu kemarahan. Kadang hanya sebuah ingatan tentang seseorang yang pernah begitu dekat, lalu entah bagaimana menjadi asing. Dan mungkin itu yang paling pedih: bukan kehilangan seseorang sepenuhnya, tetapi mengetahui ia masih ada di dunia yang sama, hanya tidak lagi ada dalam hidup kita.
*Saat menulis ini, entah kenapa hati saya masih terasa sedikit pedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar