Kamis, 26 Juni 2014

Sinopsis X-Men Days of Future Past



Genre : Aksi, Fiksi Ilmiah, Fantasi
Sutradara : Bryan Singer
Produser : Bryan Singer, Hutch Parker, Lauren Shuler Donner
Penulis Naskah : Simon Kinberg

"Hanya karena seseorang pernah tersandung dan kehilangan arah satu kali, bukan berarti ia akan tersesat selamanya" (Charles Xavier)





Alkisah pada tahun 2023, terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan terhadap makhluk mutan oleh ratusan bahkan ribuan robot ciptaan manusia yang bernama Sentinel. Saat itu mutan dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan hidup umat manusia sehingga harus dihabisi, parahnya lagi pembantaian pun dilakukan terhadap manusia yang diprediksi secara genetis mampu melahirkan makhluk mutan.

Robot Sentinel ini tidaklah ada dengan sendirinya, ia diciptakan pada tahun 1973 oleh seorang ilmuwan bernama Bolivar Trask. Sentinel didesain untuk mengidentifikasi dan membunuh mutan. Karena alasan tersebut, sang ilmuwan dibunuh oleh Raven "Mystique" Darkholme pada hari peluncuran Sentinel di depan Presiden dan seluruh khalayak Amerika. Sayangnya, Raven salah perhitungan. Pembunuhan yang dilakukan terhadap Trask malah membuat pemerintah AS mendanai penuh program pengembangan robot Sentinel hingga tahun 2023 Sentinel dirasa telah sempurna untuk menjalankan tugasnya menghabisi semua mutan.

Dalam keadaan terdesak dan menyadari kecilnya kemungkinan untuk mengalahkan Sentinel, Profesor Charles Xavier (Profesor X) dan Erik Lensher (Magneto) menugaskan Shadowcat untuk mengirim kesadaran Wolverine ke tahun tujuh puluhan, ke masa saat Sentinel pertama diciptakan dan mencegah pembunuhan Trask yang akan dilakukan oleh Raven. Wolverine dipilih karena ia yang paling memungkinkan untuk menahan efek pengiriman kesadaran ke masa lalu secara fisik.

Tugas Wolverine ternyata tidaklah mudah, setelah sampai di masa lalu, Profesor X muda malah enggan membantu, ia dalam keadaan terpuruk karena sekolah yang didirikannya gagal dan menggunakan obat-obatan untuk menutup kekuatan yang dimilikinya, padahal Profesor X dengan kemampuan telepatisnya yang paling kuat di dunia yang mampu membuat proyeksi astral, mengendalikan pikiran, memasukkan ilusi dan memanipulasi memori, adalah sosok yang diharapkan bisa mencegah Raven membunuh Trask.

Magneto pun sama saja, saat itu ia masih berseteru dengan Profesor X akibat perbedaan pandangan. Jika Profesor X cenderung ingin membaur dan hidup rukun dengan manusia, Magneto malah ingin membinasakan manusia karena pengalaman pahitnya di masa lalu.

Setelah upaya yang susah payah, Wolverine akhirnya mampu meyakinkan Profesor X yang selalu didampingi Beast yang setia untuk membantu. Ravenlah yang keras kepala dan enggan berubah pikiran, ia tetap ingin membunuh Trask. Meskipun demikian, selalu saja Profesor X berkata :"Hanya karena seseorang pernah tersandung dan kehilangan arah satu kali, bukan berarti ia akan tersesat selamanya".

Profesor X percaya Raven yang pada dasarnya baik hati bisa berubah pikiran dan pembunuhan Trask bisa dicegah. Keyakinan ini dipegangnya terus bahkan hingga detik terakhir Raven menodongkan senjatanya pada Trask dan pelatuk senjata tinggal ditarik.

Prasangka baik Profesor X pada Raven ternyata berbuah manis. Raven menurunkan senjatanya dan berkat bantuan Wolverine dan Beast, Magneto yang saat itu sedang mengacau berhasil dikendalikan. Dengan kejadian itu pemerintah AS merubah pandangannya terhadap para mutan. Mereka tak lagi menganggap mutan sebagai ancaman dan program pengembangan Sentinel dihentikan. Tindakan pembunuhan yang tak jadi dilakukan Raven membuat peperangan mutan dan manusia di masa depan tak terjadi. Dan saat kesadaran Wolverine kembali ke masa depan, ia menemukan kondisi yang jauh berbeda dengan saat ia dikirim ke masa lalu, ia menemukan situasi damai dimana manusia dan mutan bisa hidup berdampingan.

Film ini dikomentari oleh banyak pihak lebih mengusung sisi dramatis daripada unsur laga. Meskipun demikian, saya sendiri berpendapat ini film yang sangat bagus dan layak tonton. Film ini mengajarkan bahwa satu kejadian kecil di masa sekarang bisa berpengaruh besar di masa depan, dan yang paling penting adalah bahwa seseorang bisa berubah. Tak selamanya orang jahat akan jadi iblis, dan tak selamanya juga orang baik akan jadi malaikat.

Manusia, dengan sifat kemanusiaannya selalu berada di garis tengah. Ia selalu merupakan medan pertarungan antara sisi baik dan sisi buruk, ada saat ia berada di sisi baik meskipun tak ada yang bisa menjamin sedetik kemudian ia tak akan menyeberang ke sisi buruk. Sayangnya, tak semua orang sebijak Profesor Charles X Xavier. Betapa mudahnya menjustifikasi seseorang akan jahat selamanya hanya karena satu kali kekhilafan. Padahal, siapa tahu kesempatan kedua yang diberikan kepadanya bisa membuat ia bahkan jauh lebih baik dari orang yang garis hidupnya lurus.

Betapa mudahnya menghakimi, betapa mudahnya mencap seseorang dengan atribut tertentu. Kesalahan justifikasi ini anehnya lebih mudah dilakukan oleh orang "baik", entahlah, mungkin karena sepanjang hidupnya ia tak pernah bersentuhan dengan kesalahan sehingga dengan mudahnya ia bisa menghakimi orang yang sekali berbuat khilaf dengan pandangan negatif dan tuduhan kejam. Padahal adakah jaminan ia tak akan tergelincir juga di masa depan.

Tak banyak orang seperti Profesor X, yang selalu percaya pada sisi terbaik setiap orang, yang selalu mampu memberikan kesempatan kedua (mungkin sosok seperti ini mirip dengan Prof. Dumbledore di serial Harry Potter),  tapi saya percaya orang-orang seperti inilah yang mampu mengubah dunia.

Senin, 19 Mei 2014

Pengalaman Mengikuti Ujian Masuk S2 ITB

Time flies....

Rasanya baru kemarin, belajar tergopoh-gopoh semalam suntuk untuk ujian masuk S2 ITB, dari mulai bahasa Inggris, TPA, dan materi dasar ilmu sipil, eh tiba-tiba sekarang sudah tiba di penghujung semester 2 lagi. 

Dengan kondisi kehamilan yang cukup berat kali ini, ditambah segudang tugas kuliah milik dua orang yang menumpuk, dan seluruh pekerjaan rumah tangga tanpa khadimat, dan Air dan Bumi yang juga harus dibimbing sekolahnya, dan Badai yang juga masih harus diajar membaca, rasanya ajaib bagaimana saya bisa menyelesaikan semua kerumitan hidup semester ini. Entah bagaimana hasil laporan akademik saya semester ini, tapi rasanya cukup lega juga mendapati saat ini saya punya waktu luang untuk sekedar blogging, beres-beres rumah dengan santai, dan menunggu kelahiran anak keempat ini dalam masa liburan panjang semester genap. Ditambah Air dan Bumi pun libur sekolah, aaah....menyenangkan sekali hidup ini =D.

Dan tiba-tiba saja saya teringat punya janji pada seorang teman untuk menceritakan prosedur yang harus ditempuh untuk mengikuti ujian masuk program Pascasarjana ITB. Saya mengikuti ujian masuk pascasarjana ITB ini dua kali, meski dua-duanya lulus, yang pertama tidak saya ambil karena terbentur masalah beasiswa yang belum saya dapatkan, baru setelah tes yang kedua saya mendapat beasiswa untuk terus lanjut S2 (terima kasih Beasiswa Unggulan =D).

Meski kebanyakan alumni S1 ITB akan berpendapat ujian masuk pascasarjana ITB tak sesusah ujian masuk program S1-nya, tapi saya pikir tak ada salahnya juga mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Apalagi jika boleh sedikit berpromosi sebagai bagian dari keluarga besar ITB, kualitas Pascasarjana ITB masih sangat layak untuk dibilang baik, proses ujian saringan masuknya objektif, banyak pendaftar yang gugur, dan tim seleksi mahasiswa memang berorientasi untuk mendapat calon mahasiswa terbaik, bukan hanya untuk mendapatkan mahasiswa dalam jumlah banyak agar program tersebut tetap berdiri saja (ini bukan kata saya loh, tapi kata salah satu dosen penguji saya hehehe...).

Setiap tahun program pascasarjana ITB membuka dua kali pendaftaran, info lengkapnya bisa dibaca di http://www.sps.itb.ac.id/ind/pendaftaran/persyaratan-magister/.

Secara garis besar, ada empat tahap yang harus dilalui untuk masuk pascasarjana ITB. Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Pada tahap ini ada dokumen-dokumen yang harus diisi dan dilengkapi, seperti transkrip nilai dan ijazah S1 yang sudah dilegalisir, pasfoto, dan surat pernyataan belum pernah mengundurkan diri atau Drop Out dari ITB. Oh iya, masih ada lagi surat keterangan sehat dari dokter, surat rekomendasi dan beberapa lembar formulir yang harus diisi. 

Untuk yang sudah bekerja, surat rekomendasi ini bisa diperoleh dari atasan, (karena saya PNS saya minta surat rekomendasinya dari atasan langsung saya, Eselon IV dan eselon III saja di kantor), sementara untuk yang belum bekerja, surat rekomendasi ini bisa diperoleh dari dosen pembimbing di kampus terdahulu.

Sementara formulir isian, berisi data-data pribadi yang harus diisi, dari mulai riwayat akademik, karya tulis yang pernah dibuat, organisasi yang pernah diikuti, dan penghargaan yang pernah diraih. Ada juga satu lembar halaman tersendiri yang berisi harapan dan cita-cita setelah mengikuti program pascasarjana ITB. Saran saya, pintar-pintarlah merangkai kata =D, meski jangan juga terlalu berlebihan, jujur saja tentang impian kita ke depannya.

Dokumen yang sudah lengkap diisi bisa dikirim lewat pos atau bisa juga diantar ke Gedung Annex langsung. Untuk yang belum tes TOEFL dan TPA, harap disertakan juga kwitansi pembayaran sebagai bukti untuk mengikuti kedua tes tersebut.

Tes tahap selanjutnya adalah tes TOEFL. Syarat minimal untuk lulus ada di angka 475. Pendaftaran tes TOEFL ini langsung saja ke UPT Pusat Bahasa ITB, gedungnya ada di sebelah gedung Farmasi. Tesnya juga biasanya diadakan di dekat-dekat situ, biasanya turun satu lantai ke basement. Tes TOEFL yang diselenggarakan sebenarnya adalah tes ELPT (English Language Proficiency Test) jadi in sha Allah tidak akan terlalu susah. Terdiri dari tiga bagian tes yaitu listening, structure dan reading. Hasil tes TOEFL berlaku selama dua tahun.

Skor yang nanti diberikan masih harus dikonversi lagi, berikut adalah tabel konversi dari skor ELPT-ITB ke skor TOEFL-PBT (Paper Based Test):
NoELPT – ITBTOEFL (Paper-Based Test)
10310
27310
314317
421327
528350
635377
743397
850417
957433
1064450
1171463
1278480
1385497
1492513
1599523
16106537
17113550
18120563
19128570
20134587
21142600
22149620
23156637
24163650
25170677
Sumber: Sertifikat ELPT ITB.



Nah setelah mengikuti tes TOEFL ini, tes selanjutnya adalah Tes Potensi Akademik, meski diselenggarakan oleh Bappenas Jakarta, jangan khawatir karena tesnya dilakukan di ITB. Biasanya TPA ini diselenggarakan di GKU Timur, jadi siap-siap saja naik tangga =D.

Jika Tes TOEFL bisa selesai dalam waktu kurang lebih dua jam, maka tes TPA ini memakan waktu yang lebih lama. Jangan lupa sarapan dulu sebelum tes dan bawa bekal air minum. Alat tulis juga sebaiknya dipersiapkan dengan baik, bawalah pensil cadangan karena jka patah, sayang sekali waktu tes akan terbuang percuma untuk menyerut pensil. 

Selesai tes TOEFL dan TPA, masih ada lagi tes materi. Tes ini biasanya terkait dengan jurusan dan sub jurusan yang ingin dimasuki. Tapi biasanya sebelum tes, panitia akan mengirimkan kisi-kisi soal berupa judul dari materi yang akan diujiankan lewat email. Contohnya, karena saya ingin masuk subjurusan Rekayasa Manajemen Infrastruktur Prodi Teknik Sipil maka yang akan diujiankan adalah materi berikut ini:

1.  Probabilitas dan Statistik: 



  • Statistik deskriptif (histogram, rata-rata, standar deviasi, modus, median, kemencengan), 
  • Fungsi densitas probabilitas atau PDF (normal, standar normal).


2.  Ekonomi Teknik: 



  • Nilai waktu dari uang serta nilai ekivalennya (single payment, uniform series), 
  • Pemilihan alternative proyek (metoda present worth, future worth,dan annual worth)
3. Manajemen Proyek: 


  • Pengetahuan Manajemen Proyek Konstruksi (tahapan, pihak-pihak, pengertian kontrak),
  • Penjadwalan dengan CPM atau AOA (penetapan jalur kritis, pembuatan bar chart dan kurva S   hasil AOA)

 4. Teknologi Material Konstruksi: 



  • Teknologi Beton (sifat fisik, tahapan pelaksanaan),
  • Teknologi Baja (sifat fisik).


Kisi-kisi ini membantu meminimalisir apa saja mata kuliah jaman sarjana dulu yang harus dipelajari lagi.

Tes materi ini biasanya diselenggarakan pada hari yang sama dengan tes wawancara, jadi jangan dulu pulang setelah tes. Pertanyaan ketika wawancara ini biasanya sederhana tapi menjebak, seperti apa motivasi masuk ITB, motivasi masuk jurusan yang dipilih, pengalaman kerja, keterkaitan jurusan yang diambil dengan pekerjaan, apa yang diketahui tentang jurusan yang diambil, apa yang akan dilakukan setelah lulus, masalah pendanaan ya begitu-begitulah. Yang mewawancarai biasanya adalah dosen dari jurusan yang diambil jadi besar kemungkinan jika lulus dan kemudian mengikuti perkuliahan kita akan bertemu kembali dengan dosen yang mewawancarai kita ketika masuk.

Nah setelah keempat tahap tersebut dilalui, hal terakhir yang harus dilakukan adalah menunggu pengumuman hasil test. Seluruh pengumuman dari mulai hasil tes TOEFL, TPA dan pengumuman akhir berupa lulus tidaknya masuk pascasarjana ITB diumumkan di website. Jenis lulus ini pun ada bermacam-macam, lulus memang beneran lulus dan lulus bersyarat. Jadi jika namanya tidak tercantum di daftar lulus jangan dulu berkecil hati, siapa tahu namanya ada di daftar lulus bersyarat, biasanya daftar lulus bersyarat ini karena hasil tes TOEFL atau TPA-nya belum disetor ke Annex. Pengalaman saya untuk hasil TPA, pihak Bappenas selain mengirim hasilnya kepada peserta juga mengirim salinannya langsung ke ITB, sementara hasil tes TOEFL harus diambil sendiri ke UPT Bahasa dan diberikan ke Annex.

Nah, selesai sudah semua tahapan yang harus dilalui untuk masuk pascasarjana ITB, tinggal banyak-banyak berdoa agar diberi yang terbaik. Good Luck.

Kisah Sang Penandai


Judul Novel     : Kisah Sang Penandai   
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Mahaka, Republika
Cetakan           : Pertama, Jakarta, Juli 2011
Jumlah hlm      : iv+295 hlm

"pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya"


Agak ragu untuk membaca buku ini saat melihat covernya yang tidak terlalu menjanjikan, tapi demi melihat nama Tere Liye yang menjadi pengarangnya serta sederet nama besar yang memberi rekomendasi di halaman belakangnya, akhirnya saya memutuskan mengambil juga buku ini untuk bahan bacaan di akhir pekan. Dan entah karena saya membaca buku ini sambil sibuk memikirkan hal lain atau entah bagaimana, rasanya buku ini tak seperti buku-buku Tere Liye lainnya yang mampu menyedot perhatian bahkan sejak halaman pertama. Sempat terbersit rasa bosan saat hendak menamatkan  buku ini, apalagi konsep "dunia fantasi" yang ditawarkan buku ini rasanya serba nanggung, terlalu tawar dan kurang greget, sosok Sang Penandai digambarkan terlalu sakti,  sementara sosok Jim dan kisah cintanya juga rasanya terlalu cengeng (tapi mungkin itu karena saya seperti halnya Pate dan Laksamana Ramirez -dua tokoh dalam buku tersebut-, belum beruntung merasakan cinta sedahsyat yang dirasakan Jim dan Nayla). Selain itu pemilihan latar tempat yang kurang jelas dan beberapa logika cerita yang terkesan dipaksakan membuat saya benar-benar harus berjuang untuk tiba di akhir halaman.

Ada beberapa bagian buku ini yang rasanya terlalu mirip dengan benang merah cerita lain, misalnya kematian Rhenald dan Kaisah yang mengingatkan saya pada cerita Romeo dan Juliet, juga tentang "konsep perwujudan mimpi" yang pernah saya temukan di buku Sang Alchemist-nya Paulho Coelho. 

Meskipun ide yang diusung dalam  buku ini tidak benar-benar baru, tapi buku ini menyajikan cinta dalam perspektif yang lain, akan sangat menghibur untuk para "galau-ers" yang sedang patah hati, memotivasi untuk bangkit dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. 

Berikut ini adalah ringkasan ceritanya:

Jim, adalah seorang yatim piatu, pemain biola jalanan yang miskin dan berpendidikan rendah. Saat ia memainkan biola dalam perhelatan pernikahan putri bungsu walikota, alunan biolanya ternyata memesona seorang gadis cantik, putri dari bangsawan negeri seberang yang bernama Nayla. Bermula dari keinginan Nayla untuk diajari bermain biola, akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih. Tak pernah terbersit dalam benak keduanya bahwa status sosial mereka yang jauh berbeda akan menjadi penghalang keduanya untuk terus hidup bersama. Sampai suatu hari Nayla dipanggil pulang dan dijodohkan dengan pemuda yang berasal dari kedudukan sosial yang setara. Nayla pun berduka. Pada saat itu hukum perjodohan yang ditetapkan orangtua untuk anak gadisnya adalah titah yang tak bisa dibantah. Maka tak mungkin Nayla menolak keputusan perjodohan ini. 

Berkali-kali ia mengirimkan surat yang mengiba pada Jim, meminta Jim membawanya lari agar ia tak  perlu menjalani pernikahan dengan pemuda lain. Sayangnya, meski cinta Jim pada Nayla tak perlu diragukan, tapi Jim tak punya cukup keberanian untuk membawa pergi Nayla. Begitu banyak hal yang menjadi pertimbangan dan ditakuti oleh Jim: reaksi keluarga Nayla, ancaman dari sekelompok pembunuh bayaran Beduin yang pasti akan disewa keluarga Nayla jika ia berani membawa kabur putri mereka. Kegamangan Jim terus berlarut-larut sampai waktu terus berjalan dan pernikahan semakin dekat. Akhirnya Nayla memberanikan diri untuk datang ke kota Jim, dan mereka berjanji untuk bertemu pada pukul tujuh, tanggal tujuh bulan tujuh, tepat saat seluruh jam di kota berdentang dan semua orang merayakan kisah cinta abadi pendiri kota tersebut. Sayang, Nayla tak pernah datang. Yang kemudian ditemui oleh Jim malahan jasad Nayla yang terbujur kaku di salah satu kamar penginapan kota. Nayla bunuh diri.

Akhirnya Jim tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan. Sedih karena kehilangan kekasih dan menyesal untuk kepengecutannya yang tak pernah berani membawa lari Nayla. Dalam kondisi terpuruk, seorang tua yang mengaku sebagai Sang Penandai datang kepadanya, berasal dari kata andai, sehingga Sang Penandai bisa diartikan sebagai Sang Pembuat Cerita. Konon, ia hanya datang kepada orang yang terpilih untuk membuat kisah di dunia. Dan Jim, termasuk salah satu yang terpilih itu. Kisah yang harus dibawakan oleh Jim adalah membuktikan pada dunia, bahwa "pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya". 

Sang Penandai menganjurkan Jim untuk ikut serta dalam rombongan Armada Kota Terapung yang akan berlayar untuk menemukan Tanah Harapan. Sayang, Jim tak berminat. Jim malah memilih untuk berlarut-larut dalam kesedihan meski ternyata Jim pun terlalu pengecut untuk bunuh diri, tindakan yang pernah dijanjikannya pada Nayla, bahwa ia berani mati untuk Nayla.

Tapi kejadian pada pagi berikutnya merubah total keputusan Jim, serombongan pembunuh bayaran dari suku Beduin menyerbu kamar kontrakannya untuk membunuh, beruntung Sang Penandai yang tiba-tiba datang entah dari mana, menyelamatkan nyawanya. Mau tak mau Jim mendaftar menjadi kelasi untuk ikut serta dalam pelayaran Armada Kota Terapung, semata karena tak ada pilihan lain. Jika Jim terus menetap di kota tempat tinggalnya hanya masalah waktu sebelum rombongan Beduin berikutnya menyerbu lagi.

Pelayaran bersama Armada Kota Terapung ternyata tak bisa menghapus kesedihan Jim. Ia menjadi kelasi yang sangat pemurung bahkan sering kedapatan menangis sampai-sampai ia mendapat julukan "Kelasi yang Menangis", tak banyak yang dekat dengan Jim kecuali seorang pria kulit hitam bernama Pate yang ternyata pandai membaca dan menulis dan tak keberatan untuk mengajari Jim. 

Setelah beberapa bulan pelayaran yang tenang, Armada Kota Terapung mulai menghadapi masalah, dimulai dengan sepasukan besar perompak terkenal yang dipimpin oleh Yang Zhuyi menghadang jalur pelayaran kapal. Pertempuran besar tak terelakkan lagi, sampai semua kelasi dan pegawai rendahan pun harus ikut berperang, termasuk Jim. Untung buat Jim, selain pandai membaca dan menulis, Pate pun ternyata ahli bermain pedang, dan lagi-lagi Jim belajar padanya untuk melawan pasukan perompak dan bertahan hidup.

Pasukan perompak Yang Zhuyi ternyata sangat tangguh. Armada Kota Terapung nyaris terancam binasa. Pada suatu malam yang kritis, Jim melihat formasi capung warna warni yang hanya muncul saat kedatangan Sang Penandai. Terheran-heran sendiri karena Jim tak merasa memanggil Sang Penandai, akhirnya ia menyelinap mencari tahu. Dan betapa terkejutnya Jim mendapati Sang Penandai tengah mendatangi Laksamana Ramirez, sang pemimpin kapal. Rupanya Laksamana Ramirez pun salah satu orang yang terpilih untuk mengukir cerita. Sang Penandai memberitahu Laksamana Ramirez strategi yang harus ditempuh untuk mengalahkan para perompak, dan terbukti strategi tersebut ampuh sehingga Armada Kota Terapung lepas dari ancaman kematian.

Meski terlepas dari ancaman kematian, beberapa kapal Armada Kota Terapung rusak parah. Mau tak mau mereka harus berlabuh di kota terdekat untuk memperbaiki kapal. Tak dinyana jika perbaikan kapal memerlukan waktu sekitar empat bulan yang boleh digunakan oleh semua awak kapal untuk cuti dengan syarat mereka sudah harus kembali ke kapal saat perbaikan selesai dan siap berangkat.

Pate berniat untuk melakukan perjalanan ke Puncak Adam, tempat yang selalu diimpikan oleh pendeta yang membesarkannya waktu kecil. Karena tak tega mebiarkan Pate berangkat sendirian, selain Jim pun memang tak punya kegiatan yang harus dilakukan semasa cuti, akhirnya Jim memutuskan untuk menyertai perjalanan Pate. Keduanya tak mengalami masalah yang berarti selama perjalanan ke Puncak Adam. Meski belum pernah kesana, Pate hapal semua jalan dan jalur untuk menuju puncak Adam berdasarkan penggambaran detail dari sang pendeta, hanya satu yang tak diketahui Pate, tepat di bawah Puncak Adam ada satu perkampungan penduduk asli yang bertugas mencegah siapa pun memasuki wilayah Puncak Adam yang ternyata merupakan daerah suci yang terlarang untuk dimasuki.

Mereka tinggal di perkampungan tersebut selama beberapa hari. Jim bertemu dengan seorang gadis bermata hijau yang untuk sesaat membuatnya lupa pada Nayla.  Jika Jim menghabiskan waktunya selama di kampung tersebut untuk bermain musik dengan si gadis bermata hijau, maka Pate ternyata malah menghabiskan waktunya dengan memikirkan cara agar bisa lolos dari pengawasan penduduk dan diam-diam pergi ke Puncak Adam, dan niat itu ternyata benar-benar dilaksanakannya, Jim ditangkap penduduk saat Pate diketemukan hilang dan diyakini telah pergi ke Puncak Adam seorang diri. Jim menjadi sasaran kemarahan penduduk kampung akibat kenekatan Pate, ia diikat di sebuah tiang, terpanggang matahari terik saat siang dan terjebak dalam suhu dingin yang ekstrim saat malam tiba dan hujan turun, tanpa makan dan minum.  Setelah beberapa hari dalam kondisi demikian, tibalah Jim pada batas pertahanan terakhirnya, saat ia merasa tak punya kekuatan lagi untuk bertahan Pate datang menyelamatkannya. Dibantu oleh si gadis bermata hijau, mereka berdua menemukan jalan pintas keluar dari perkampungan tersebut hingga akhirnya selamat sampai di kota. 

Kondisi Jim sudah sepenuhnya pulih saat tiba waktu bagi Armada Kota Terapung untuk melanjutkan pelayarannya, kali ini Jim dan Pate sudah naik pangkat dan bukan lagi hanya kelasi rendahan di kapal. Setelah beberapa saat pelayaran yang tenang, masalah selanjutnya yang dihadapi oleh Armada Kota Terapung adalah saat mereka menangkap kura-kura raksasa, yang ternyata adalah kutukan sehingga kapal mereka dilanda badai yang datang  selama tiga malam berturut-turut. Badai hebat yang membuat kapal mereka terpusing-pusing di satu titik selama tiga hari tiga malam, tak beranjak kemana-mana dan hanya berputar-putas di sekitar mata badai. Seorang awak kapal menyarankan untuk melepaskan kura-kura yang telah mereka tangkap, dan ajaib badai itu mereda setelah si kura-kura kembali ke laut.


Kerusakan kapal yang parah akibat badai akhirnya memaksa Armada Kota Terapung untuk merapat di sebuah kota yang konon termasyhur karena kemakmurannya dan terkenal karena kecantikan paras para wanitanya. Sayang kota tersebut tengah porak poranda akibat perang yang disulut oleh para pemberontak. Maka Laksamana Ramirez memutuskan bahwa Armada Kota Terapung akan membantu peperangan untuk melawan kaum pemberontak. Drama dimulai saat Jim menyelamatkan puteri Raja yang ternyata sempurna mirip Nayla. Luka Jim berdarah lagi. Mati-matian ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa sosok di depannya bukan Nayla meski fisik dan suaranya 100% sama. Maka ia menolak untuk menikahi Puteri saat kesempatan itu ditawarkan karena jasanya menyelamatkan nyawa sang Puteri dan memilih untuk kembali berlayar mengikuti Armada Kota Terapung setelah peperangan selesai dan kaum pemberontak yang ternyata dipimpin oleh kerabat sang raja sendiri bisa ditumpas.


Singkat cerita, akhirnya Armada Kota Terapung menemukan Tanah Harapan. Perjalanan berakhir, tapi Jim dan Pate yang tak punya tujuan lagi  memutuskan untuk tetap mengikuti perjalanan Laksamana Ramirez menuju sebuah tempat yang memang selalu diimpikannya.


Jujur saja saya kurang mengerti ketika cerita ini tiba di penghujungnya. Saat Jim akan tewas karena serangan dari Pasukan Perawan penjaga tempat yang akan dituju Laksamana Ramirez, tiba-tiba saja ia sudah ada di kapal lagi, lengkap dengan Pate dan Nayla yang ternyata tak pernah mati, Nayla ternyata hanya koma, karena meminum racun yang diberikan Sang Penandai yang akan membuatnya terlihat seperti mati padahal tidak, racun yang sama yang diminum Kaisah, kekasih sang pendiri kota tempat Jim berasal dulu. 


Bedanya adalah Rhenald memutuskan bunuh diri mendapati keadaan Kaisah yang tampak seperti telah mati, sedang Jim memutuskan untuk menjalani hidup dengan lebih baik setelah "kematian" Nayla. Maka karena Jim berhasil untuk menunjukkan pada dunia bahwa "pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya", ia mendapatkan hadiahnya berupa Nayla yang kembali hadir secara utuh untuk dirinya. 


Imajinasi adalah hal yang sah-sah saja dalam sebuah cerita, tapi saya pikir ada urutan logis yang tetap harus dipenuhi. Dalam buku ini, penutup cerita terkesan "melompat" untuk mendapatkan ending yang happy bagi si tokoh utama. Ada runtutan logika yang tak masuk akal dan alih-alih membuat pembaca merasa takjub, penutup buku ini malah menjadi keganjilan yang cukup mengganggu dan membuat pembaca bertanya-tanya.

Saat buku ini selesai saya baca, kesan awal saya terhadap buku ini ternyata tak berubah. (*maaf ya Bang Tere =D )

Rabu, 02 April 2014

Semua Orang Punya Alasan...



Opening film ini berdarah-darah untuk ukuran sebuah film bergenre komedi. Dimulai dengan seorang pemimpin polisi yang babak belur di kantornya sendiri, sementara anak buahnya pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan saat sang pemimpin geng yang melakukan penganiayaan itu keluar meninggalkan kantor polisi, jalanan seketika sunyi senyap. Angin yang berhembus membawa aroma kematian, dan seketika pintu dan jendela bangunan di sepanjang jalan itu terkunci rapat, sang pemimpin geng dan segelintir anak buahnya yang tadi meninggalkan kantor polisi dengan penuh keangkuhan mencoba masuk kembali dengan ketakutan, sayang kantor penegak hukum ini pun terlalu takut untuk membuka pintu, maka tak ada pilihan untuk mereka selain menghadapi yang akan terjadi: sepasukan besar anggota geng lain yang membawa kapak berwarna merah, isyarat pembantaian besar-besaran untuk mengukuhkan eksistensi sebuah geng baru: Geng Kapak Merah.

Pasca pembantaian itu, Geng Kapak Merah menjadi geng yang paling berkuasa di Shanghai, kekacauan terjadi dimana-mana, dan penegak hukum disuap hingga tak ada hukum yang berlaku untuk menegakkan keadilan. Tapi rupanya ada satu bagian kecil dari kota yang tampaknya tak terpengaruh dengan kekacauan tersebut. Tempat itu adalah perkampungan orang miskin yang bernama Rumah Susun Kandang Babi (Pig Sty Alley) yang dimiliki oleh seorang Tuan Tanah genit dan istrinya yang sok kuasa.

Suatu hari Xing dan Bone, dua orang pengangguran yang tak punya uang, datang ke rusun tersebut untuk memeras orang-orang. Meski mengaku sebagai anggota Geng Kapak Merah upaya pemerasan mereka gagal. Merasa terpojok Xing dan Bone melepaskan kembang api yang ternyata mengundang kedatangan Geng Kapak Merah yang sebenarnya. Konflik pun terjadi, Geng Kapak Merah yang merasa dipermainkan berniat membantai penghuni rusun. Tak disangka ternyata tiga penghuni rusun yang semula dianggap sebagai orang biasa yaitu Si Kuli, si Tukang Jahit dan Si Tukang Mie adalah ahli kungfu yang luar biasa. Untuk sementara Geng Kapak Merah bisa diusir dan pembantaian tak terjadi.

Sayang, Geng Kapak Merah yang merasa sudah dipermalukan ternyata menyimpan dendam. Akhirnya mereka menyewa sepasang pemain kecapi yang merupakan pembunuh professional untuk membunuh ketiga ahli kungfu dari Rusun Kandang Babi. Setelah pertarungan yang tak seimbang, Kuli dan Tukang Jahit akhirnya tewas. Saat Tukang Mie pun hampir menemui ajalnya, barulah Tuan Tanah dan istrinya datang menolong. Tak dinyana ternyata Tuan Tanah dan istrinya pun adalah ahli kungfu yang sangat lihai.

Stop!.

Saya tak hendak menceritakan synopsis film ini. Teman-teman penggemar film-film Stephen Chow pasti tahu bahwa film yang yang saya ceritakan ini adalah film Kungfu Hustle, dan pastilah lebih tahu jalan ceritanya daripada saya.

Seperti halnya film Stephen Chow lainnya yang sarat emosi meski tetap mampu mengocok perut, Kungfu Hustle ini pun rasanya mampu mengaduk-ngaduk perasaan. Siapa yang tak akan terharu menyaksikan adegan Xing kecil yang dipukuli sekelompok anak yang lebih besar saat mencoba menyelamatkan seorang gadis bisu, tapi siapa juga yang tak akan tertawa terpingkal-pingkal saat adegan kejar-kejaran Xing dengan si Nyonya Gemuk.

Tapi dari semua scene, adegan yang paling berkesan untuk saya adalah ketika Tukang Mie hampir menemui ajalnya, Tuan Tanah dan istrinya digugat penduduk rusun karena tak menolong sejak awal. Jawaban keduanya hanya satu kalimat sederhana: “Semua orang punya alasan”, dan barulah terungkap bahwa Tuan Tanah dan Nyonya kehilangan satu-satunya putra mereka dalam salah satu pertarungan kungfu yang membuat keduanya akhirnya bersumpah untuk tak pernah lagi menggunakan kungfu atau bahkan membuat orang lain tahu bahwa mereka berdua menguasai kungfu.

Ya, semua orang punya alasan.

Hal-hal yang melatarbelakangi tindakan seseorang hingga membuat ia mungkin tak dipahami oleh orang lain, dianggap aneh, dianggap salah, dianggap tak wajar. Tapi siapa tahu apa sebab ia melakukan tindakan tersebut.

Setiap orang memiliki masa lalu dan kemampuan untuk mempersepsikan kejadian yang menimpa dirinya dengan cara yang berbeda. Maka mungkin karena itulah kita tak diperkenankan untuk mengukur badan orang dengan baju kita sendiri. Sesuatu yang jelas putih untuk kita, mungkin abu-abu untuk orang lain, atau mungkin sebaliknya.

Menghakimi sesuatu itu salah tanpa menyusuri latar belakang yang mendasarinya hanya akan melahirkan arogansi seolah diri ini suci hama dan tak pernah melakukan kesalahan. 

Dan untuk hal-hal tertentu, tiba-tiba saya berpikir bahwa Filsafat Zeno*) mengenai kebenaran relatif itu tak sepenuhnya salah.




*note:

Zeno, adalah murid dari Parmanides, seorang tokoh filsafat relativisme yang penting. Ia merelatifkan kebenaran yang telah mapan dan menjadikan manusia sebagai ukuran kebenaran. Keyakinan yang dianutnya menjadi tulang punggung dari humanisme kemudian. Termasuk salah satu tokoh aliran sofis yang meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat umum, atau dengan kata lain semua kebenaran itu relatif. Meskipun ajarannya menjadi tonggak awal munculnya filsafat manusia, tapi ia telah meninggalkan kekacauan terutama pada para pemuda Athena. Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif menggoyahkan teori sains yang telah mapan bahkan mengguncangkan keyakinan agama. 

Belakangan teorinya dipatahkan oleh Socrates yang meyakinkan masyarakat bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang.


Tentang Aroma dan Kenangan

Ternyata kenangan punya cara yang aneh untuk pulang. Kadang ia datang lewat sebuah lagu. Kadang lewat tempat yang tidak sengaja kita lewati....