Judul Buku : Teka-Teki Terakhir
Penulis : Annisa Ihsani
Jumlah Halaman : 253 lembar
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta
“Aku senang aku yang akan pergi duluan,” katanya sambil sedikit tersenyum, “dengan begitu aku tidak perlu merindukanmu.”
Tuan Maxwell kepada Laura, menjelang kematiannya, hlm. 235
Sudah lama sekali rasanya tidak baca buku semudah ini (sejujurnya saya agak kesulitan mencari padanan kata lain yang mendeskripsikan “mudah”, tapi saya yakin sesama pembaca buku pasti paham maksud saya).
Buku ini berkisah tentang Laura Welman, gadis berusia 12 tahun yang mendapat nilai 0 untuk sebuah kuis matematika. Tak ada maksud aneh ketika ia membuang kertas kuisnya yang sudah dilipat-lipat di tempat sampah rumah tetangga, namun tak disangka, itu jadi awal interaksinya dengan pasangan Maxwell, tetangga yang dicap aneh, yang surprisingly ternyata keduanya adalah ahli matematika. Tuan Maxwell yang menemukan kertas kuis bernilai 0 itu kemudian memberikan buku berjudul Nol: Asal Usul dan Perjalanannya kepada Laura. Dan dari buku itu, persahabatan Laura dengan penghuni rumah Jalan Eddington nomor 112 mulai terjalin.
Ketika saya bilang buku ini mudah, bukan berarti bukunya jelek, justru sebaliknya, dalam buku ini tidak ada kalimat rumit sastrawi yang meski indah namun sulit dipahami, pilihan kata dalam buku ini justru sangat ringan dan gampang. Vibes buku ini pun sangat menghangatkan jiwa, kisah tentang seorang anak yang lahir di keluarga harmonis dari ayah yang dokter, ibu yang pegawai bank, dan kakak yang pintar dan aktif, dimana masalah hidup terbesarnya hanyalah ujian sekolah atau berseteru dengan teman. Tiba-tiba saja saya tersadar, menjadi WNI seumur hidup anehnya sudah membuat saya merasa takjub bahkan pada kisah hidup yang normal seperti ini. Padahal sudah seharusnya memang begitu bukan, anak remaja itu tugasnya ya cuma sekolah dan belajar dengan benar. Bukannya harus bantu orang tua cari uang atau menghadapi kehidupan yang rumit bahkan di rumah sendiri.
Meskipun buku ini berkisah tentang kehidupan anak remaja, tapi saya merasa mendapat banyak hal dari buku ini, salah satunya saya diingatkan lagi tentang istilah-istilah dalam matematika sebagai berikut:
1. Teorema adalah pernyataan matematika yang sudah dibuktikan secara formal;
2. Hipotesis adalah pernyataan yang masih berupa tebakan dan belum terbukti;
3. QED berasal dari bahasa latin Quad erat demonstrandum artinya sudah terbukti;
4. Konjektur adalah sebutan untuk pernyataan yang diyakini benar tapi belum didukung bukti formal;
5. Teorema Phytagoras berbunyi: pada semua segitiga siku-siku, luas persegi di sisi hipotenusa adalah sama dengan penjumlahan luas persegi di sisi-sisi kakinya, atau dengan kata lain kuadrat sisi miring adalah jumlah kuadrat dua sisi lainnya;
6. Teorema terakhir Fermat berbunyi tidak ada tiga bilangan bulat bukan nol, a, b dan c yang memenuhi persamaan an + bn = cn untuk n bilangan bulat lebih besar dari 2;
7. Logika matematika (saya harus belajar lagi bab ini, mengingat matematika yang bisa dengan percaya diri saya kerjakan dengan cepat hanyalah aljabar dan pangkat bilangan, duh T_T).
Saya juga diingatkan bahwa Eratosthenes adalah orang pertama yang menghitung keliling bumi dan mengukur jarak bumi dari matahari dan bulan (saya tahu fakta ini sebelumnya dari buku Carl Sagan yang berjudul Cosmos).
Dan buku ini menyampaikan fakta-fakta diatas bukan dengan cara menggurui yang membosankan, namun justru teori matematika menjadi bagian yang menyatu dengan cerita, karena Tuan Maxwell ternyata sudah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menemukan bukti teorema terakhir Fermat yang belum ada satu pun berhasil menemukannya selama 356 tahun.
Karena buku ini sangat positif vibes, saya sempat menduga bahwa buku ini akan berakhir dengan keberhasilan kerja keras seumur hidup Tuan Maxwell dalam membuktikan teorema terakhir Fermat ini, namun ternyata tidak. Menjelang akhir cerita justru ada orang lain yang sudah berhasil membuktikan teorema ini duluan, dan kemudian Tuan Maxwell sakit dan wafat. Sebagai sahabat yang baik, justru Laura yang merasa terpukul karena merasa kerja keras puluhan tahun Tuan Maxwell terasa sia-sia.
“Tidakkah menurutmu sedih, bahwa umurnya mungkin tidak panjang lagi , tapi peristiwa penting yang terakhir dalam hidupnya adalah terbuktinya Teorema Teakhir Fermat oleh ahli matematika lain”
Dan disini Laura lantas mempertanyakan arti hidup, makna kematian serta hal-hal diantaranya yang terasa sia-sia, ketika hadir kesadaran bahwa bukankah semua akan berakhir. Menarik ketika dalam diskusi ini, Julius yang notabene sempat dicap sebagai mantan-kriminal -sehingga-harus-dijauhi, justru mengingatkan Laura bahwa yang penting adalah menikmati dan mensyukuri momen ini dengan melakukan hal terbaik.
Ketika kuliah dulu, saya ingat menjelang ujian akhir, ada kertas yang tertempel di pilar kolom Kampus Ganesha, tulisannya berbunyi :”Hard work never betrays you”. Saya yakin tulisan ini dibuat oleh himpunan sebagai penyemangat bagi para mahasiswa yang sedang ujian.
Sekian lamanya, saya ikut mengimani dogma ini. Kerja keras tidak akan pernah mengkhianatimu, maka bekerja keraslah untuk semua hal, jika kamu gagal artinya satu: upayamu masih kurang. Namun seiring bertambahnya usia, saya akhirnya menyadari, semata menggantungkan keberhasilan kepada kerja keras sebetulnya adalah bentuk kesombongan yang lain. Karena ada banyak variable lainnya yang harus diperhitungkan dalam hidup. Dan keberhasilan adalah sesuatu yang punya banyak warna, bukan sekedar spektrum hitam putih dengan dikotomi berhasil atau gagal semata.
Tuan Maxwell tidak berhasil menemukan bukti Teorema Terakhir Fermat, padahal kurang kerja keras apa ia?, puluhan tahun ia mencurahkan waktunya, sampai kemudian sakit dan wafat. Untungnya, dalam perjalanan membuktikan teorema itu, ia tetap memilih bersikap baik pada istrinya, membuka hati pada persahabatan dan menjalin hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat. Sehingga meskipun tak berhasil mencapai tujuannya, tak lantas hidup menjadi tak berarti.
Lagi-lagi saya diingatkan pada kesadaran itu: kita tidak bisa memilih kejadian seperti apa yang akan menimpa hidup kita, begitu pun kartu apa yang kita harus kita mainkan dalam perjudian hidup, tak sepenuhnya baik, tapi tak mungkin juga kita mendapat semua kartu buruk. Tuan Maxwell ‘kebetulan’ terlahir dari keluarga bangsawan kaya raya sehingga tak perlu bekerja formal pun ia sudah pasti hidup berkecukupan, makanya ia punya banyak waktu untuk berkutat dengan rumus tanpa harus dipusingkan oleh cicilan ini itu, tapi kemudian ia sakit kanker. Bukankah begitulah hidup, ada hal-hal yang memang harus kita terima begitu saja, tetapi pada akhirnya, akan seperti apa kita memaknai hidup, sepenuhnya adalah pilihan kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar