Kamis, 08 Januari 2015

Sejarah Ringkas Tan Malaka: Pahlawan Republik yang Sendirian



Orde Baru telah melabur namanya dengan tinta hitam dalam sejarah Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, menggali pemikiran Tan sama berbahayanya dengan mendiskusikan buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan dalam jaringan klandestin, pemikiran-pemikirannya dibahas dengan berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya ia berseberangan jalan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), tapi namanya selalu disejajarkan dengan Muso, Semaun dan Darsono, para pembesar partai yang dicap sebagai pengkhianat republik dan musuh besar Bangsa Indonesia.
Semasa Soekarno, perlakuan yang diterimanya pun tak jauh lebih baik. Ia dipenjara selama dua setengah tahun tanpa proses pengadilan. Perseteruannya dengan para pembesar PKI membuatnya terlempar dari lingkaran kekuasaan. Tan memang sosok yang kontraversial dalam PKI. Ia mendukung aliansi dengan Islam, yang membuatnya sering tak sepaham dengan rekan-rekan seperjuangannya. Pasca penentangannya pada rencana pemberontakan PKI pada tahun 1926, ia berpisah jalan dengan partai itu. Politik memang kemudian menenggelamkan namanya.
Meskipun demikian, di mata sebagian orang, Tan adalah sosok yang menarik. Ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika dan Jepang di 11 negara, karena ia memiliki satu cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer (dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara dari Amerika Latin). Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi siapa sangka ia hafal Al-Qur’an di waktu muda. Bahkan kata Tan, “Di depan Tuhan, saya seorang Muslim”.
Tak banyak yang tahu, bahwa Tan Malaka adalah tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Muhammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie (1926) yang ditulisnya di tanah pelarian telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Sayuti Melik misalnya, mengenang bagaimana Soekarno membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Isi buku ini menjadi ilham dan dikutip dalam pledoi Indonesia Menggugat. W.R Soepratman pun memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya karena diilhami bagian akhir dari Massa Actie.
Tan menorehkan peranan penting seputar proklamasi. Ia adalah tokoh yang menggerakkan rapat raksasa yang diadakan para pemuda di Lapangan Ikada, 19 September 1945. Inilah rapat pertama yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu masih sebatas catatan di atas kertas. 
Dalam banyak sumber, disebutkan bahwa Soekarno-Hatta memilih bekerja sama dengan Jepang dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia, tapi Tan sebaliknya, ia berkata: "Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya".
Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya “seorang yang mahir dalam revolusi”, tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.
Di samping sebagai pejuang politik yang ulung tetapi kontroversial dan tragis. Tan Malaka juga seorang intelektual-pemikir yang berkaliber. Ia menghasilkan banyak karya berupa buku maupun tulisan selama masa hidupnya yang terbilang singkat.
     Berikut adalah beberapa di antara karya-karya tulisannya:
1.     Sovyet atau Parlement, Semarang, 1921
2.     Toendoek kepada kekoeasaan, tetapi tidak Toendok kepada Kebenaran, Berlijn, 1922
3.     Indonesia i ejo mesto na proboezdjajoesjitsjemsja vostoke, Moskou 1924
4.     Goetji Wasiat Kaoem Militer, Saigon (?), 1924 (?)
5.     Naar de Republiek Indonesia, Canton April 1925

6.     Semangat Moeda, Manila 1926
7.     Massa Actie, Singapore 1926
8.     Lokal dan Nasional Aksi di Indonesia, Singapore 1926
9.     Parimanifest, Bangkok, 1927
10.     Pari dan Kaum intelektuil Indonesia, Bangkok 1927
11.     Pari en het Internasionalisme, 1927
12.     Pari dan PKI (Pari dengan PKI), 1927
13.     Brief aan Sukarno, Singgih en Sutomo, Mei 1920
14.     Aan de aanhangers der Komintern in Indonesia, Mei 1929
15.  Pari dan Komintern (Pari dengan Komintern) 
16.  Stalinisme dan Trotskyisme
17.  PKI dan Digul
18.  Madilog, Materialisme, Dialektika, Logika, Jakarta 1951.
19.   Het Vrije Woord
20.  “Armoedeland”
21.  “Engelsche arbeidstoestanden in 1919
22.  “Verbruikscooperaties voor Javaansche proletariat”
23.  “Het Roode Deli”
24.  “De Delische Staking”
25.  “Deli en de arbeidersbeweging”
26.  Malaka, “Raden Kamil, de Nestor”
27.  Sumatra Post
28.  T.M. “Sovyet-Rusland”,
29.  Soeara Ra’jat
Malaka, “Sovyet atau Parlement”,
MK., “Kaoem Moeslimin dan Bolsjewisme
SI Semarang dan Onderwijs
Malaka, “SI Semarang dan Onderwijs
30.  Sinar Hindia
31.  “Een woord tot Jong Java”,
32.  “Wie zal de sterkste zijn?
33.  Die Komunistische Interbationale
Tan Malaka, “Die Kommunistische Bewegung in Indonesien” (Gerakan Komunis di Indonesia), Agustus 1923,
34.  De Voorheede
Dalam koran Cina ini, diterbitkan oleh “Biro Perpustakaan Rakuat di Kanton, katanya, Tan Malaka pada tahun 1924 dengan nama samaran Ma La Chia pernah menulis artikel berjudul “Gerakan Sosial di Hindia Belanda”.
35.  The Dawn
36.  El Debate
37.  La Opinion
38.  Obor

Jumat, 26 Desember 2014

Sinopsis Film THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES




"Apakah seluruh harta ini lebih berharga dari kehormatanmu, Thorin Oakenshield?"


'Film yang bagus selain menghibur, juga akan mendidik dan memperkaya jiwa dengan caranya sendiri'. Kutipan anonim ini entah kenapa adalah kalimat pertama yang muncul di benak saya setelah menonton film ini. Membuat saya memberikan applause (lagi) untuk Peter Jackson sang sutradara, karena seperti film-film lain besutan sebelumnya, The Hobbit:The Battle of the Five Armies ini pun sangat bagus dan terjaga konsistensi kualitasnya sejak trilogy film The Hobbit ini dikeluarkan.
Tak seperti dua film pendahulunya yang dimulai dengan flashback alur cerita, film ketiga dari trilogy The Hobbit ini langsung menampilkan adegan Laketown yang tengah dihancurkan oleh Smaug. Jeritan penduduk yang panik dan mencoba menyelamatkan diri tak dipedulikan oleh Master of Laketown yang malah memilih menyelamatkan diri sendiri beserta seluruh emas dan harta benda. Justru Bard yang dipenjarakan olehnya yang berjuang untuk mengeluarkan diri dari penjara dan mencoba untuk membunuh Smaug. Setelah mengetahui anak panah Bard tak mampu bahkan untuk menembus kulit sang naga, Bain membawakannya the Black Arrow dan menjadikan tubuhnya sebagai penahan busur Bard yang kemudian mampu membunuh Smaug.
Sementara itu, Gandalf yang dipenjara di Dol Gundur diselamatkan oleh Galadriel dan Radagast. Kemunculan Necromancer membuat mereka tersadar kekuatan gelap Sauron ada di balik ini semua. Kabar kematian Smaug akan segera menyebar ke seluruh Middle Earth dan ini akan menarik bahkan kekuatan jahat untuk menguasai Erebor. Bukan hanya karena harta yang tersimpan di perutnya, tetapi juga karena posisi Erebor yang strategis dan mampu menjadi jalan untuk bangkitnya Kerajaan Kuno Angmar. Gandalf kemudian diutus untuk memperingatkan para kurcaci akan bahaya yang tengah  mengintai Erebor.
Kematian Smaug juga ternyata tak menjadi penyelesaian masalah untuk penduduk Laketown, karena penduduk Laketown kini menghadapi masalah yang sebenarnya: seluruh kota mereka terbakar hingga tak ada makanan dan tempat tinggal untuk mereka berlindung menghadapi musim dingin yang akan segera datang. Tak ada pilihan lain untuk Bard selain memandu orang-orangnya menuju Erebor dan berlindung disana. 
Kili dan tiga kurcaci yang bergabung dengan teman-temannya di Erebor segera setelah kematian sang naga mendapati fakta pahit bahwa Thorin pemimpin mereka, telah terkena penyakit naga. Penyakit yang sebelumnya juga menyerang kakeknya, Thror. Penyakit naga ini merupakan penyakit gila dan obsesi terhadap semua emas dan harta yang telah membuat Thorin mengingkari janjinya sendiri untuk memberikan bagian kepada penduduk Laketown dan juga bangsa peri yang telah membantunya dalam perjalanan merebut Erebor. Tak hanya mengingkari janji, penyakit naga ini pun telah membuat Thorin meragukan kesetiaan teman-teman kurcacinya dengan menuduh salah satu dari mereka mengambil The Arkenstone: batu paling berharga dari semua harta yang terkubur di perut Lonely Mountain (yang padahal telah ditemukan dan disimpan oleh Bilbo Baggins dengan asumsi batu itu adalah 7% bagiannya sesuai perjanjian).
Thranduil, pemimpin bangsa peri akhirnya memutuskan untuk memulai perang setelah mendapati upaya Bard untuk berunding dengan Thorin mengenai pembagian harta yang telah dijanjikannya gagal. Thorin dengan keras kepala menolak menepati janji, jangankan memberikan pusaka kaum peri ia tak mau membagi bahkan sekeping koin emas pun kepada mereka.
Untuk menghindari terjadinya perang, diam-diam Bilbo mendatangi Bard dan Thranduil. Menyarankan agar Arkenstone yang dimilikinya dijadikan jaminan pengganti untuk memaksa Thorin menepati janji. Dan betapa murkanya Thorin saat  benteng Erebor dikepung, Bard menunjukkan batu itu, dan menyarankan penggantian yang adil untuk Arkenstone, yaitu harta yang telah dijanjikan Thorin. Bilbo hampir saja dilemparnya dari atas benteng jika saja tak ada Gandalf yang datang menyelamatkan. Dan yang paling mengecewakan, Thorin tetap menolak menepati janji bahkan dengan Arkenstone sebagai gantinya, bahkan dengan kedatangan bantuan yaitu pasukan sepupu kurcacinya, Thorin memutuskan perang.
Perang yang hampir terjadi untuk memperebutkan harta ini membuat mereka lengah terhadap bahaya yang sebenarnya: pasukan besar Orc yang telah datang untuk merebut Erebor. Peperangan besar pun terjadi. Kaum peri yang hampir mundur akhirnya beraliansi dengan bangsa manusia dan kurcaci untuk melawan Orc. Sayangnya kaum Orc yang dipimpin oleh Azog  lebih unggul, akibatnya banyak korban berjatuhan dari kaum peri, manusia dan kurcaci. 

Sementara itu Thorin malah menahan teman-temannya untuk tidak keluar dari benteng dan membantu pertempuran. Lihat, bagaimana harta telah begitu membutakan jiwanya. Ia telah mengingkari janji, meragukan kesetiaan kerabatnya sendiri dan kini ia hanya duduk-duduk saja saat bangsanya menghadapi pertempuran dan dibantai. 

Tapi Thorin beruntung, ia punya teman-teman sejati, Bilbo dan para kurcaci yang memarahinya, yang menunjukkan bahwa ia salah, yang mengingatkan bagaimana ia telah berubah jauh. Ia bukan lagi Thorin raja terakhir kaum kurcaci, tapi tak lebih dari Thorin yang mengenakan mahkota dan duduk di singgasana tapi rendah dan tak punya kehormatan diri. 
Dengan semua hujatan ini, Thorin yang memang pada dasarnya baik akhirnya harus bergumul dengan batinnya sendiri. Kecintaannya pada emas dan harta bertarung dengan akal sehat dan kehormatan dirinya. Dan akhirnya kesadaran bahwa ia tak ingin menjadi seperti kakeknya mengembalikan kewarasannya. Ia kembali kepada kawan-kawannya, dan memberikan perintah untuk ikut berperang melawan Orc. Perintah yang diterima dengan segenap hati oleh kawan-kawannya.
Gerbang dihancurkan, dan ketiga belas kurcaci ini (ditambah Bilbo) keluar menuju pertempuran. Jumlah yang tak signifikan sebenarnya, tapi kemunculan Thorin dan kawan-kawannya telah menyuntikkan semangat yang membalikkan arah pertempuran. Sementara seluruh pasukan manusia, peri dan kurcaci mencoba menahan para Orc, Thorin membawa Kili, Fili, dan Dwalin untuk membunuh Azog pemimpin kaum Orc yang memberikan perintah dari Ravenhill.
Bilbo menyusul ke Ravenhill, untuk memperingatkan Thorin bahwa itu adalah jebakan, karena Azog telah memanggil Wargs dari Gundabad untuk membantu Orc. Kabar itu diperolehnya dari Legolas dan Tauriel yang menyusup sampai Gundabad. Tauriel yang mencintai Kili akhirnya menyusul ke Ravenhill, dan Legolas yang di sisi lain mati-matian mencintai Tauriel mau tak mau mengikuti Tauriel ke Ravenhill.
Dan di Ravenhill, Kili terbunuh meskipun Tauriel membantunya habis-habisan. Tauriel sendiri tak akan selamat jika tak ditolong Legolas. Di saat yang sama, Thorin tengah dalam pertarungan yang dahsyat dengan Azog. Mereka memiliki riwayat dendam yang kelam. Untuk Thorin,  Azog telah membunuh ayahnya, sementara untuk Azog, Thorin adalah orang yang telah membuatnya kehilangan sebelah lengan kirinya.
Setelah pertarungan yang sengit, Azog berhasil dibunuh meski tak lama kemudian Thorin pun menemui ajal. Di saat-saat terakhir hidupnya, dengan Bilbo di sampingnya, Thorin mengucapkan permohonan maaf . Untuk baru menyadari bahwa semua tindakan Bilbo -termasuk tindakannya tentang Arkenstone- adalah tindakan yang hanya akan diambil oleh teman sejati. 
Dan akhirnya Thorin wafat, sebagai seorang raja sejati yang telah menunaikan janjinya untuk melindungi rakyatnya, sebagai seorang pahlawan, yang akan menjadi legenda dengan tindakan heroiknya membunuh Azog.
Pertarungan pun usai. Bilbo dan kedua belas kurcaci bersimpuh di sebelah jasad Thorin, memberikan penghormatan terakhir. 
Di bagian Ravenhill yang lain, Tauriel menangis dengan jasad Kili di pangkuannya. Dan entah kenapa adegan ini menjadi bagian yang sangat berkesan untuk saya.

"Jika ini memang cinta, aku tak menginginkannya. Ambilah…", kata Tauriel kepada Thranduil.
Dalam keheningan, dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya, ia berkata lagi: "Kenapa rasanya begitu menyakitkan?".
"Karena ini nyata", jawab Thranduil.
Dan Legolas yang menyaksikan ini semua, dalam diam yang terasa pahit akhirnya menyadari bahwa setelah kematian Kili pun ia tak mungkin merebut hati Tauriel. Yah, wanita… mereka selalu seperti ini. Mencari yang tak mungkin dimiliki, sementara yang jelas-jelas lebih baik dan di depan mata seolah tak nampak bagi mereka. Menerima kekalahannya dan menghargai cinta Tauriel, Legolas memutuskan untuk tak kembali ke negeri peri. Thranduil menyarankannya untuk pergi ke Dunedain dan mencari Strider. Ini adalah salah satu bagian cerita yang akan menjadi penghubung dengan kisah The Lord of The Rings.
Film berakhir dengan Bilbo yang kembali ke Bag Ends. Ada satu bagian yang berkesan untuk saya. Saat Gandalf menyampaikan salam perpisahannya pada Bilbo yang diantarnya sampai ke perbatasan, ia menyinggung sedikit tentang cincin yang dipegang Bilbo. Bilbo yang tak mau mengaku masih menyimpan cincin itu berbohong dengan mengatakan cincin itu jatuh dan hilang dalam pertempuran. Dan Gandalf hanya berkata: "Bilbo, seluruh perjalanan ini mungkin telah mengubahmu. Kamu bukan lagi orang yang sama dengan kamu yang sebelum memulai perjalanan ini. Tapi kamu tetaplah hanya seorang manusia kecil dalam dunia yang begitu luas". 
Dengan kecenderungan hobbit yang lugu, jujur dan tak serakah terhadap dunia, cincin itu memang kemudian terbukti tak berpengaruh jelek terhadap Bilbo selain menimbulkan keinginan untuk terus memilikinya. Hingga 60 tahun setelah petualangan ini berakhir, Bilbo yang berulang tahun ke-111 ditemui Gandalf dalam kondisi sehat dan awet muda.
Menurut saya ini film yang sangat bagus dan mampu mengadaptasi novelnya dengan begitu baik. Improvisasi yang ditambahkan Jackson dengan memunculkan tokoh Legolas dan Tauriel serta menambahkan kisah cinta di dalamnya semakin mempermanis film ini, menjadi jeda untuk ketegangan setelah perang dan intrik serta menjadi penghubung pada kisah selanjutnya tentang cincin yang dipegang Bilbo. Juga tokoh Alfrid, pecundang licik yang diperankan dengan begitu baik oleh Ryan Gage  menjadi kesatuan yang menunjang cerita.
Pergulatan batin Thorin pun ditampilkan dengan begitu apik. Bagaimana harta hampir membutakan jiwanya dan bagaimana kemudian ia sadar dan menemukan kembali hakikat dirinya dengan bantuan teman-temannya.
Ya, teman sejati, bukan hanya mereka yang akan selalu meng-iyakan apa katamu, sebaliknya teman sejati adalah ia yang meskipun akan terus berada disisimu, tapi ia yang akan menentangmu paling keras ketika kamu salah. Tanpa Bilbo dan kurcaci-kurcaci sahabatnya, mungkin Thorin tak akan sembuh dari penyakit gilanya. Meski di akhir cerita ia wafat, bukankah ia wafat dengan terhormat, dan bukankah itu adalah sesuatu yang tak bisa dinilai dengan harta meskipun itu berupa gunungan emas. Seperti apa yang dikatakannya sendiri di akhir hidupnya pada Bilbo: "If more of us, valued home above gold, it would be a merrier world".


*Note:

Judul The Hobbit: The Battle of The Five Armies ini diambil dari lima pasukan yang bertempur di Erebor yaitu bangsa manusia, kurcaci, peri, melawan orc dan wargs.

Oiya, mungkin akan sedikit sulit mengikuti jalan cerita film ini jika tidak menonton film pertama dan keduanya, jadi akan lebih asyik jika baca bukunya saja =D


Minggu, 21 Desember 2014

Tips Mengatasi Kloset Duduk yang Mampet

Aaaaaaaaaaaaaargh……….. sungguh bencana.

Kloset di rumah mampet.

Dan Bumi sebagai pengguna terakhir, mau tak mau langsung diinterogasi: "Nggak tau Umi, Bumi pakai seperti biasa kok, tapi pas Bumi udah pencet tombol siramannya, klosetnya malah mampet…", jawabnya takut-takut.

"Mainan Bumi dari saku jatuh mungkin, kelereng, stik atau apa?", tanyaku tak puas.

"Bumi ngga bawa-bawa mainan di saku, Umi…", jawabnya lagi.

Oke…oke…, mari kita atasi ya Nak. Pertama-tama, pakai masker. langkah kedua cari sesuatu, benda apapun yang bisa digunakan untuk mendorong  apapun itu yang mungkin nyangkut di saluran kloset. Akhirnya pilihan jatuh pada besi bekas potongan tulangan beton yang tidak terpakai. Sayangnya anatomi kloset duduk yang tidak saya pahami membuat besi tulangan tadi tak berguna meski sudah saya coba dorong berkali-kali.

Langkah terakhir: tanya Mbah Google. Dari hasil googling, saya baru tahu kalau ternyata ada beberapa alternatif untuk mengatasi kloset yang mampet.

Alternatif pertama: gunakan alat penyedot WC  bernama plunger.

Alternatif kedua: siram kloset dengan 1kg NaCl (garam dapur) yang dilarutkan dengan air panas.

Alternatif ketiga: dengan soda kue dan cuka.

Alternatif keempat: gunakan soda api.

Alternatif kelima: panggil tukang sedot WC.

Dari kelima alternatif ini, hanya alternatif ketiga yang paling memungkinkan untuk saya. Alasannya sederhana, saya tak punya plunger, ataupun satu kilogram garam yang bisa saya buang begitu saja ke kloset. Saya juga tak punya soda api di rumah dan menurut beberapa sumber, penggunaan soda api ini sebaiknya dihindari karena selain bisa merusak pipa saluran, juga bisa mematikan bakteri pengurai di septic tank. Untuk memanggil  tukang sedot WC pun rasanya saya terlalu malas. Sedangkan soa kue dan cuka adalah pelengkap masak standar yang kebetulan ada di dapur saya.

Dan mulailah saya bekerja dengan kedua bahan tersebut. Pertama-tama saya menuangkan soda kue ke dalam kloset (karena saya tak punya timbangan kue, akhirnya saya pakai ilmu kira-kira saja), kemudian saya tuangkan cuka (di petunjuknya disebutkan akan timbul gelembung-gelembung di kloset setelah tahap ini dilakukan,  tapi entah kenapa saya tak menemukan gelembung sama sekali),  dan terakhir siram dengan air panas setelah beberapa menit. Setelah dibiarkan selama kurang lebih 6 jam, kloset akan berfungsi lagi seperti semula (katanya).

Tapi.....

Ternyata saya belum beruntung, setelah saya biarkan bahkan sampai semalaman, kloset saya masih mampet, air pembuangannya tetap tak mau mengalir meski sudah saya coba bantu dengan pendorong berkali-kali. Putus asa dan pusing sendiri akhirnya kloset saya tutup dan saya tempeli pengumuman: "TIDAK DAPAT DIGUNAKAN".

Dan begitulah, kloset tersebut tetap tak berfungsi. Pikiran bahwa kami masih bisa menggunakan kamar mandi yang lain membuat urusan kloset ini terabaikan meskipun tetap saja ternyata mengganggu pikiran (semakin jadi pikiran dengan Abinya anak-anak yang terus-terusan nanya: "Mi, klosetnya udah bener?", huhuhu...)

Setelah dua hari, saya sedikit marah saat mendapati Bumi yang tengah iseng memencet-mencet tombol penyiramnya.

"Bumi, kan udah tau klosetnya mampet!", sembur saya.

"Ngga kok Umi, nih udah jalan lagi", jawabnya santai sambil memencet tombol penyiram dan terdengar suara air menyedot tanda klosetnya sudah tak mampet lagi. Seketika saya merasa lega dan senang sendiri.

"Sama Bumi diapain?", tanya saya penasaran.

"Nggak diapa-apain, Mi, cuman dipencet-pencet aja penyiramnya".

"Oh iya?", tanya saya tak percaya.

Tapi kemudian saya ngeh juga, mungkin soda kue dan cuka yang saya tuang sebelumnya akhirnya bereaksi dan menghasilkan gas yang mampu mendorong si penyebab mampet, tapi reaksinya sangat lambat sehingga perlu waktu yang cukup lama. 

Tapi bagaimana pun juga Alhamdulillah, berkurang satu pekerjaan rumah yang tak saya harapkan hari ini. =D



Sabtu, 20 Desember 2014

Tips Mengatasi Sakit Mata pada Bayi...

Melakukan perjalanan dengan membawa serta seorang bayi memang selalu menakjubkan. Entah kenapa, mungkin karena semua orang sepakat bahwa bayi adalah makhluk kecil yang menggemaskan hingga dengan satu kali pandang saja orang sudah merasa sayang. Tiba-tiba saja banyak orang yang menyapa dan menunjukkan keramahan pada makhluk mungil itu, sekedar bertanya pada ibunya: "Laki-laki atau perempuan?" dan pertanyaan standar: "Sudah berapa bulan usianya?". Dan obrolan pun akan berlanjut ke hal-hal kecil lainnya.

Pun kali itu, ketika pada suatu kesempatan saya terpaksa melakukan perjalanan ke luar kota dengan travel sambil membawa si bungsu yang baru berusia 15 hari. Wanita yang duduk di samping saya sudah mencuri-curi pandang pada si kecil bahkan sejak ia mulai meletakkan tasnya di samping saya. Sayangnya saya yang memang pada dasarnya malas mengobrol hanya tersenyum sopan dan memilih untuk berusaha tidur sepanjang perjalanan. Di pertengahan perjalanan, ia yang tahu saya ternyata tak bisa tidur, mulai menyapa si kecil. Dan mengalirlah obrolan itu, cerita hidup yang tak saya tanya tapi mengalir begitu saja. Tentang kehidupan rumah tangga yang sebenarnya cukup pribadi tapi dibaginya begitu saja dengan saya. Saya menanggapinya sekedar untuk sopan santun. Baru pada bagian beliau menceritakan pengalaman mengurus anak-anaknya saya mulai memasang perhatian lebih.

"Saya ini dulu orang ngga punya Neng, empat anak saya waktu masih kecil belum pernah ke dokter setiap kali sakit".

Dan saya langsung takjub mendengarnya, bagaimana bisa tak perlu ke dokter, padahal saya tahu persis,  usia 0-5 tahun kondisi kesehatan seorang anak berada pada masa rentannya. 

"Saya obatin sendiri kalau mereka sakit. Kalau demam dan panas, saya balur badannya dengan minyak kelapa yang sudah dicampur irisan bawang merah. Kalau badannya gatal-gatal saya balur bagian yang gatal dengan parut kunyit yang sudah dipanasin dengan sedikit minyak kelapa".

Wah, canggih juga ini ibu, pikir saya dalam hati.

"Kalau sakit mata saya tetesin ASI ke matanya", dan saya langsung tercengang mendengarnya, 

"Oh iya Bu?, bukannya katanya ASI itu tajem ya, emang ngga apa-apa di kematain?". 

"Coba aja sendiri", jawab beliau dengan yakinnya.

Dan begitulah berbekal sepotong pembicaraan dengan beliau, pada suatu pagi ketika saya mendapati si kecil bangun dengan mata yang merah dan kotoran mata yang saking banyaknya membuat matanya susah terbuka, saya mencoba mengobatinya sendiri. Saya menetesi kedua matanya dengan ASI. Tapi sampai siang kondisi mata adik belum juga membaik, masih merah dengan kotoran mata yang terus menerus ada lagi-ada lagi. Saya coba tetesi ASI sekali lagi. Dan ajaib, saat sore hari adik terbangun dari tidur siangnya matanya sudah sembuh.

Alhamdulillah

Senang sekali rasanya, mengetahui obat yang sederhana tapi ternyata sangat manjur ini. Sayangnya, dulu saya tak sempat minta contact person si Ibu untuk mengucapkan terima kasih (dan minta tips-tips canggih lainnya) =D.

Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...