Jumat, 09 Januari 2015

Dogi in Memoriam

Hari ini keluarga kami kehilangan salah satu sahabat: seekor anjing penjaga warna coklat bernama Dogi. Ia tewas terbunuh tadi malam.
Terbunuh saya bilang, karena ketika ditemukan tergeletak di kebun depan, mulutnya mengeluarkan busa, ciri khas binatang yang mati diracun. Dan seribu satu pertanyaan berkecamuk di benak kami, siapa yang tega membunuhnya, karena Dogi tak pernah singgah ke halaman tetangga, ia hanya berputar-putar di sekitar area rumah kami, jika tak di halaman depan ya di kebun belakang. Meski memang harus diakui Dogi sangat galak terhadap tamu yang berkunjung ke rumah, ia tak segan-segan menyalak keras bahkan sampai menggigit jika sang tamu berkeras masuk ke halaman sebelum salah satu dari anggota keluarga kami keluar.
Entahlah mungkin bertahun-tahun sering dirantai membuatnya jadi galak begitu. Tapi bagaimana pun ia anjing yang bisa diandalkan, bahkan ketika ia sedang di kebun belakang yang jaraknya cukup jauh dari rumah utama, ia tetap bisa mencium ketika ada orang asing yang datang.
Sebenarnya, saya sama sekali tak suka anjing. Pelajaran fikih yang saya dapat waktu kecil dulu mengatakan bahwa anjing termasuk salah satu binatang dengan kategori najis kelas berat, itu cukup untuk membuat saya menepi tak mau dekat-dekat pada binatang ini. Perasaan yang tak berubah ketika Air diberi hadiah seekor anak anjing oleh Mang Irin waktu kecil dulu. Maka saya lega ketika mendapati  anak anjing yang lama-lama tumbuh sampai hampir sama tinggi dengan anak 4 tahun itu dirantai di halaman rumah. Cukuplah tugasnya hanya menjaga rumah. Itu saja. Siapa sangka jika perasaan saya terhadapnya lambat laun berubah.
Saya mulai memperhatikan sorot matanya yang bersahabat, dan sedikit demi sedikit entah bagaimana saya mulai bersahabat dengan binatang itu. Mungkin terdengar bodoh, tapi saat memberi ia makan, saya suka bercerita padanya, meski tahu ia tak mengerti, meski tahu ia tak akan menanggapi. Saya juga bilang padanya, saya tak mau dekat-dekat karena malas jika baju atau kulit saya sampai tersentuh saya  harus mencuci bagian yang tersentuh itu tujuh kali dan salah satunya harus dengan tanah. Aduh ribet sekali. Dan ajaibnya entah kenapa, ia selalu menjaga jarak dengan saya, bahkan ketika ia berjalan mengekor di belakang saya. Tapi meskipun begitu saya tak meragukan persahabatan kami karena dimana pun ia, ketika saya panggil ia akan selalu berlari dan datang menghampiri.
Maka saya cukup terpukul mendapatinya tergeletak di sebelah kolam ikan tadi malam. Saat saya panggil ia tak menjawab, tak berlari menghampiri dengan semangat seperti selalu dilakukannya. Ia hanya bergeming, dan seketika saya tahu ada yang salah. Dan busa di mulutnya menjelaskan semuanya, meski tak ada sedikit pun dugaan tentang siapa yang membunuhnya.
Tubuhnya masih lemas  saat kami menguburnya, dan sebagai penghormatan terakhir kali itu saya menyentuhnya saat memindahkan jasadnya ke kuburan kecil yang digali suami saya untuknya, meski dengan sarung tangan tentunya.
Aneh, bagaimana bisa hati saya sesedih itu, bahkan saya sampai menangis saat melihat sedikit demi sedikit urugan tanah menutupi tubuhnya. Bahkan pagi ini, hati saya perih melihat tempat makannya yang tergeletak di kebun belakang. Perih yang tak kunjung hilang meskipun siangnya suami saya membawakan anjing yang lain untuk menjaga rumah. Spesies yang sama, tapi saya yakin tak bisa menggantikan Dogi untuk kami.
Selamat jalan Dogi, terima kasih untuk apa yang sudah kamu lakukan untuk keluarga kami. Siapapun yang membunuhmu, kami yakin ia akan mendapat balasan setimpal, karena bagaimana pun juga kamu tetap makhluk Tuhan yang tak boleh disakiti.
Bukankah manusia itu aneh, selalu saja merasakan arti sesuatu saat sudah kehilangan.

Begitu pun juga saya ternyata.

Kamis, 08 Januari 2015

Sejarah Ringkas Tan Malaka: Pahlawan Republik yang Sendirian



Orde Baru telah melabur namanya dengan tinta hitam dalam sejarah Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, menggali pemikiran Tan sama berbahayanya dengan mendiskusikan buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan dalam jaringan klandestin, pemikiran-pemikirannya dibahas dengan berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya ia berseberangan jalan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), tapi namanya selalu disejajarkan dengan Muso, Semaun dan Darsono, para pembesar partai yang dicap sebagai pengkhianat republik dan musuh besar Bangsa Indonesia.
Semasa Soekarno, perlakuan yang diterimanya pun tak jauh lebih baik. Ia dipenjara selama dua setengah tahun tanpa proses pengadilan. Perseteruannya dengan para pembesar PKI membuatnya terlempar dari lingkaran kekuasaan. Tan memang sosok yang kontraversial dalam PKI. Ia mendukung aliansi dengan Islam, yang membuatnya sering tak sepaham dengan rekan-rekan seperjuangannya. Pasca penentangannya pada rencana pemberontakan PKI pada tahun 1926, ia berpisah jalan dengan partai itu. Politik memang kemudian menenggelamkan namanya.
Meskipun demikian, di mata sebagian orang, Tan adalah sosok yang menarik. Ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika dan Jepang di 11 negara, karena ia memiliki satu cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer (dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara dari Amerika Latin). Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi siapa sangka ia hafal Al-Qur’an di waktu muda. Bahkan kata Tan, “Di depan Tuhan, saya seorang Muslim”.
Tak banyak yang tahu, bahwa Tan Malaka adalah tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Muhammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie (1926) yang ditulisnya di tanah pelarian telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Sayuti Melik misalnya, mengenang bagaimana Soekarno membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Isi buku ini menjadi ilham dan dikutip dalam pledoi Indonesia Menggugat. W.R Soepratman pun memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya karena diilhami bagian akhir dari Massa Actie.
Tan menorehkan peranan penting seputar proklamasi. Ia adalah tokoh yang menggerakkan rapat raksasa yang diadakan para pemuda di Lapangan Ikada, 19 September 1945. Inilah rapat pertama yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu masih sebatas catatan di atas kertas. 
Dalam banyak sumber, disebutkan bahwa Soekarno-Hatta memilih bekerja sama dengan Jepang dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia, tapi Tan sebaliknya, ia berkata: "Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya".
Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya “seorang yang mahir dalam revolusi”, tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.
Di samping sebagai pejuang politik yang ulung tetapi kontroversial dan tragis. Tan Malaka juga seorang intelektual-pemikir yang berkaliber. Ia menghasilkan banyak karya berupa buku maupun tulisan selama masa hidupnya yang terbilang singkat.
     Berikut adalah beberapa di antara karya-karya tulisannya:
1.     Sovyet atau Parlement, Semarang, 1921
2.     Toendoek kepada kekoeasaan, tetapi tidak Toendok kepada Kebenaran, Berlijn, 1922
3.     Indonesia i ejo mesto na proboezdjajoesjitsjemsja vostoke, Moskou 1924
4.     Goetji Wasiat Kaoem Militer, Saigon (?), 1924 (?)
5.     Naar de Republiek Indonesia, Canton April 1925

6.     Semangat Moeda, Manila 1926
7.     Massa Actie, Singapore 1926
8.     Lokal dan Nasional Aksi di Indonesia, Singapore 1926
9.     Parimanifest, Bangkok, 1927
10.     Pari dan Kaum intelektuil Indonesia, Bangkok 1927
11.     Pari en het Internasionalisme, 1927
12.     Pari dan PKI (Pari dengan PKI), 1927
13.     Brief aan Sukarno, Singgih en Sutomo, Mei 1920
14.     Aan de aanhangers der Komintern in Indonesia, Mei 1929
15.  Pari dan Komintern (Pari dengan Komintern) 
16.  Stalinisme dan Trotskyisme
17.  PKI dan Digul
18.  Madilog, Materialisme, Dialektika, Logika, Jakarta 1951.
19.   Het Vrije Woord
20.  “Armoedeland”
21.  “Engelsche arbeidstoestanden in 1919
22.  “Verbruikscooperaties voor Javaansche proletariat”
23.  “Het Roode Deli”
24.  “De Delische Staking”
25.  “Deli en de arbeidersbeweging”
26.  Malaka, “Raden Kamil, de Nestor”
27.  Sumatra Post
28.  T.M. “Sovyet-Rusland”,
29.  Soeara Ra’jat
Malaka, “Sovyet atau Parlement”,
MK., “Kaoem Moeslimin dan Bolsjewisme
SI Semarang dan Onderwijs
Malaka, “SI Semarang dan Onderwijs
30.  Sinar Hindia
31.  “Een woord tot Jong Java”,
32.  “Wie zal de sterkste zijn?
33.  Die Komunistische Interbationale
Tan Malaka, “Die Kommunistische Bewegung in Indonesien” (Gerakan Komunis di Indonesia), Agustus 1923,
34.  De Voorheede
Dalam koran Cina ini, diterbitkan oleh “Biro Perpustakaan Rakuat di Kanton, katanya, Tan Malaka pada tahun 1924 dengan nama samaran Ma La Chia pernah menulis artikel berjudul “Gerakan Sosial di Hindia Belanda”.
35.  The Dawn
36.  El Debate
37.  La Opinion
38.  Obor

Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...