Rabu, 01 April 2015

MUNGKINKAH MASUK S1 ITB TANPA BIMBEL?

Dulu, ketika saya masih remaja, saya sama sekali tidak berpikir bahwa kehidupanlah tempat belajar sesungguhnya, yang menguji siswanya setiap saat dan mereka harus lulus menempuh ujian ini.

—Old Shatterhand, Winnetou Ketua Suku Apache, Karl May


Bulan April saya yakin, menjadi awal bulan-bulan yang menyesakkan bagi adik-adik yang duduk di kelas terakhir SMA. Pada masa saya dulu, ada ujian kompetensi, ujian sekolah, ujian nasional, lalu ada lagi ujian menentukan yang kala itu namanya SPMB: pertarungan untuk merebut satu kursi di perguruan tinggi negeri impian yang biasanya tak jauh-jauh dari ITB, UI, UGM, atau Unpad.

(Karena saya anak ITB, mohon dimaafkan kalau ITB saya taruh paling depan. Haseeek... =D)

Tekanan dari serangkaian ujian itu membuat bimbingan belajar nyaris dianggap wajib. Ada bimbel yang menawarkan rumus cepat, kumpulan soal tahun-tahun sebelumnya, sampai garansi uang kembali jika tidak lulus SPMB.

Saya pernah tercengang membaca brosur bimbel yang dikirim ke rumah: biaya paket tiga bulannya lebih mahal daripada SPP kuliah saya setahun. Maka ketika adik saya bersikeras ingin ikut, reaksi pertama saya tentu:

Hah? Dua puluh juta?

Alasannya sederhana. Hampir semua teman sekelasnya ikut bimbel, dan ia tidak yakin bisa masuk PTN favorit tanpa melakukan hal yang sama.

Saya bilang, “Bisa kok masuk ITB tanpa bimbel.”

Ia menatap saya seolah saya baru saja mengatakan sesuatu yang absurd. Padahal saya mengalaminya sendiri: tidak pernah ikut bimbel, hanya sekali ikut SPMB, dan langsung diterima di ITB. Tapi tentu, pengalaman saya tidak bisa dijadikan ukuran untuk semua orang. Ada yang memang terbantu bimbel. Ada pula yang seperti saya dulu, karena alasan ekonomi sekaligus sedikit keras kepala, memilih mencoba sendiri.

Saya lulusan SMK Analis Kimia, jauh lebih terlatih menentukan kadar suatu zat daripada mengerjakan soal teori SPMB. Banyak sekali ketinggalan materi yang harus saya kejar. Tapi keputusan tidak ikut bimbel bukan semata soal uang.

Waktu itu saya baru saja membaca Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang, yang membuat saya mempertanyakan banyak hal tentang pendidikan, termasuk ketergantungan pada lembaga pendidikan tambahan. Entah terinspirasi atau sekadar sok idealis sebagai anak belasan tahun, saya menantang diri sendiri: Saya ingin mencoba masuk ITB tanpa bimbel.

Dimulailah hari-hari panjang itu. Hari-hari yang hanya ada belajar dan belajar saja isinya. Literally, saya belajar sampai mimisan, sering sekali mimisan, sampai darah dari hidung menetes-netes ke buku saya. Saya tidak punya uang untuk bimbel atau bahkan sekedar untuk beli banyak buku. Beruntung sekolah saya dekat dengan Perpustakaan Daerah, sehingga kekurangan uang tidak berarti kekurangan bahan untuk belajar konsep. Saya juga rajin berkunjung ke pasar kaget di Gasibu hanya untuk nongkrong di tempat buku bekas. Dan seolah semesta juga mendukung, saya dapat banyak buku bekas kumpulan soal SPMB dengan harga seribuan saja. Dari buku-buku itu saya mendapat banyak sekali soal-soal latihan.

Begitulah, saya belajar memahami konsep sekaligus mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saya sudah tak lagi pakai pulpen, tapi pakai pensil mekanik agar lebih hemat membeli isi ulangnya. Saya juga sudah tak lagi pakai buku tulis, sebagai gantinya saya mengumpulkan kertas bekas fotocopyan yang satu sisinya masih kosong, dan entah sudah habis berapa bundel buat kotretan. Banyak malam habis hanya untuk memahami satu konsep. Soal yang konon diselesaikan anak bimbel dalam satu-dua langkah, harus saya kerjakan dengan memutar ke sana-sini. Pernah saya perlu waktu tiga hari untuk mengerjakan satu soal, hanya untuk mencari jalan agar dapat jawaban yang persis sama dengan kunci jawaban. Tapi sungguh perasaan ketika menemukan jawaban akhir yang sama adalah perasaan paling menyenangkan sedunia.

Jangan tanya juga, berapa banyak malam dimana tiba-tiba saja saya terjaga dari tidur karena tersentak oleh kesadaran: hari ini saya belum cukup belajar, bagaimana kalau waktu saya habis dan tiba-tiba sudah dekat waktu ujian. Ternyata mimpi adalah hal yang bisa mengganggu tidur, tapi saya paham juga bagaimana rasanya ada nyala di dada dan ternyata itu cukup menjadi bahan bakar untuk terus melangkah. 

Sering merasa bodoh? Tentu saja.

Belum lagi komentar orang-orang di sekitar.

“Kalau mau kuliah, kenapa masuk SMK?”

“ITB terlalu berat.”

“Ambil D3 saja.”

Mungkin semua itu diucapkan dengan niat baik, tapi bagi saya justru terdengar seperti tantangan. Semakin banyak yang bilang tidak mungkin, semakin keras saya belajar. Dan dalam perjalanan mengejar ITB ini, secara alamiah saya selalu jadi juara umum di sekolah. Tapi lucunya, setelah hampir tiga tahun belajar mati-matian, justru menjelang pendaftaran saya ingin mundur.

Bisa enggak, sih? Memangnya semua belajar ini ada hasilnya?. Sekeras apapun saya belajar pastinya tetap tidak bisa dibandingkan dengan yang ikut les.

Saya hampir tidak membeli formulir, merasa ingin menyerah di detik terakhir, murni karena minder sendiri. Tapi entah bagaimana, pagi itu saat berjalan menuju gerbang sekolah, random saja saya menceritakan kegundahan saya pada seorang teman yang padahal juga tidak dekat-dekat amat dan juga tidak termasuk "circle anak pintar" di sekolah. Inget banget, menanggapi cerita saya dia nyeletuk: "Jangan kalah sebelum perang,  ya udah sih beli aja formulirnya, kalaupun gagal, setidaknya kan udah nyoba, jangan mendahului takdir ih, pasti nyesel banget kalau ngga nyoba sama sekali". 

Saya tercenung mendengar komentarnya. Iya juga. Maka akhirnya saya membeli formulirnya, dan dengan kenekatan yang kalau dipikir sekarang cukup menggelikan, mengisi dua pilihan jurusan, dua-duanya ITB, dua-duanya teknik. Langkah yang sama sekali tidak strategis atau mempertimbangkan probabilitas dengan benar karena belakangan saya tahu kalau pilihan jurusan saya dua-duanya termasuk top jurusan paling favorit aka persaingannya berat aka kemungkinan diterimanya juga semakin kecil. Tapi manalah aci, saya sudah terlanjur mengisi. 

Dan hari ujian pun datang. Lokasinya saja saya tidak tahu persis. Modal saya cuma berangkat dua jam lebih pagi dan bertanya pada sopir angkot. Di tempat ujian, mental saya makin ciut. Peserta lain entah bagaimana terlihat jauh lebih lebih pintar dan terlihat datang dengan persiapan yang matang. Obrolan basa basi saja berkisar seputar strategi bimbel,  prediksi soal dan teknik memilih jurusan. Saya cuma bisa mendengarkan karena sebagai anak yang belajar sendiri, semua itu tidak relate.

Tetangga ujian saya ada yang bertanya, “Pilih mana?”

Saya jawab, “Unpad.”

Saya malu menjawab kalau pilihan saya dua-duanya ITB. Saya takut kalau jujur, ia akan menjelaskan betapa kecil peluang saya berdasarkan rumus probabilitas atau strategi memilih jurusan dari bimbelnya. Tolong, jangan bikin hati saya tambah ciut.

Seusai ujian, peserta lain sibuk membahas soal. “Oh, yang tadi pernah keluar tahun sekian.” “Oh, yang ini ada di buku latihan.” “Oh, kalau pakai rumus ini cuma dua langkah.”

Saya semakin yakin: Sudah. Kayaknya saya nggak akan lulus.

Tapi tak ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya sudah belajar semampunya; sisanya tentu sudah di luar kendali saya. Kebetulan saat itu saya juga sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Bandung Barat. Pikir saya kalau tidak lulus, ya sudah, mungkin selanjutnya saya bisa kuliah sambil bekerja. Hidup toh tidak harus melalui satu pintu saja, padahal sungguh itu hanya untuk membesarkan hati saya yang sejujurnya gundah gulana.

Sering sekali, saat istirahat makan siang di pabrik, saya merenung sendiri, masih mencoba beradaptasi dengan kondisi kerja yang ternyata tidak semenyenangkan masa sekolah. Pelan-pelan menyadari fakta bahwa bekerja sebagai lulusan SMK itu ternyata tidak enak-enak amat. Waktu itu posisi saya staf analis di lab Research and Development. Artinya sebagai buruh saya berada hanya satu tingkat di atas jalur paling bawah rantai produksi. 

Maka setiap istirahat solat, betapa hanya itu doa yang saya panjatkan sepenuh hati: "Ya Allah, saya ingin lulus masuk ITB", saya ulang-ulang doa itu seharian, semalaman, dalam bisik hati saya yang paling dalam, hanya itu saja: "saya ingin masuk ITB".

Lalu hari pengumuman pun tiba. Semalaman saya sudah tidak bisa tidur. Perut saya mulas tapi bukan karena ingin ke kamar mandi. Seluruh saraf saya rasanya tegang, takut, sebagian hampa. Setengah bagian otak saya bersiap menghadapi kekecewaan terbesar, tapi juga sangat penasaran. Berharap cepatlah pagi datang, sekaligus ingin agar selamanya malam. Mungkin ini yang namanya harap-harap cemas. Sudah tak enak makan tak enak segala. 

Subuh- subuh, saya langsung berlari ke tukang koran, tapi anehnya di depan tukang koran malah takut sendiri, berpikir lama sebelum beli. Sampai melihat posisi saya yang seperti orang linglung, bapak tukang koran menegur saya, mau kemana, neng?. Koran itu akhirnya saya beli juga. Tak sabar, saya buka disitu juga, mencari pengumuman SPMB, mencari nama saya di antara deretan panjang huruf kecil-kecil peserta lulus ujian SPMB. 

DAN NAMA SAYA TERCETAK DISANA.

Lutut saya lemas. Terlalu kelu untuk bersorak. Akhirnya hanya bisa terduduk dan sujud syukur. Saya diterima di ITB. Kata-kata itu berdering di kepala saya. Sedetik kemudian emosi saya meluap, merasa perlu sekali untuk berbagi informasi ini entah dengan siapa saja.

"Mang, saya diterima di ITB", kata saya kepada tukang koran, dan segaris pemakluman terhadap tingkah saya yang aneh tergurat di wajahnya, "Wilujeng, neng, ngiring bingah", katanya. 

Saya lalu menelepon ke rumah, mengabarkan berita baik ini. Ternyata bapak dan ibu sudah tegang juga seperti saya, belakangan saya dapat laporan dari ibu khadimat, bahwa setelah menerima telepon saya, mereka langsung bikin penganan untuk dibagikan ke mesjid.

Ini mungkin pengalaman paling manis dalam hidup saya.

Tapi bertahun-tahun kemudian, yang paling saya ingat justru bukan nama kampusnya, bukan pula kebanggaan masuk tanpa bimbel. Yang paling saya ingat adalah momen ketika saya hampir tidak membeli formulir karena takut gagal. Kalau waktu itu saya mundur, mungkin hidup saya tetap baik-baik saja. Tapi saya tidak akan pernah tahu sejauh mana usaha  bisa membawa saya pergi.

Maka ketika adik saya bilang ia membutuhkan bimbel, saya tidak lagi bersikeras.

Silakan.

Kalau itu bisa membuatnya belajar lebih terarah dan percaya diri, mungkin dua puluh juta itu bukan sekadar membeli kumpulan rumus. Saya hanya berharap ia tidak percaya bahwa tanpa bimbel berarti tidak punya kesempatan. Sebab pengalaman saya membuktikan satu hal kecil: ada lebih dari satu jalan untuk sampai ke tempat yang kita tuju.

Ada yang belajar sendiri, ada yang ikut bimbel. Ada yang berhasil pada percobaan pertama, ada yang harus mencoba beberapa kali. Saya kebetulan sampai melalui jalan saya sendiri: buku-buku bekas, perpustakaan, segebung kertas bekas untuk mengoret, malam-malam panjang, komentar yang membuat nyali ciut, dan berkali-kali keinginan untuk menyerah. Dan kali itu, Tuhan mengizinkan usaha saya berakhir persis seperti yang saya harapkan. Di balik semua keraguan, sebetulnya ada satu keyakinan yang sejak dulu saya pegang: Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiarnya.

Bukan berarti setiap kerja keras pasti berakhir dengan apa yang kita inginkan. Saya rasa hidup tidak bekerja sesederhana itu. Kita bisa belajar mati-matian lalu tetap gagal. Bisa berdoa sungguh-sungguh tapi ternyata yang datang bukan jawaban yang kita harapkan.

Namun saya percaya tidak ada kesungguhan yang benar-benar sia-sia.

Kalau bukan hasilnya yang kita dapat, mungkin ada kemampuan yang tumbuh. Ada ketangguhan yang terbentuk. Ada jalan lain yang terbuka. Atau mungkin, baru bertahun-tahun kemudian kita mengerti kenapa dulu Tuhan membawa kita melewati jalan yang begitu memutar.

Maka tugas saya waktu itu sebenarnya sederhana: belajar sekeras yang saya bisa, berdoa semampu saya, lalu berhenti merasa punya kuasa atas hasil akhirnya.

Mungkin karena itu, sampai sekarang saya masih percaya: kita tidak harus tahu akan berhasil untuk mulai berjuang. Kerjakan saja bagian kita dengan sungguh-sungguh, lalu berdoalah dengan sepenuh pengharapan dan kerendahan hati. Selebihnya, biarkan Tuhan mengerjakan bagian-Nya.

 

9 komentar:

  1. wah tq. sngt memotivasi :D hehe

    BalasHapus
  2. SMK Bisa!Saya baru masuk smk komputer jurusan TKJ,impian saya masuk keITB gan.setelah denger cerita agan jadi motivasi banget.Go,SMK Bisa🙏

    BalasHapus
  3. Mau nanya, agan smk analis kimia mana? Dan skrg kuliah di itb jurusan apa? Soalnya saya jg anak smk analis kimiadi bandung dan ingin kuliah di itb, makasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu sekolah di SMKN 13 Bandung de, lulus tahun 2003, masuk ITB jurusan Teknik Sipil tahun 2003 juga. Ayo, yakin bisa!!, yang penting memaksimalkan ikhtiar, dan terus berdoa, semangat!!!

      Hapus
  4. seneng dan bangga denger kisahnya Teh Nurmala... saya cetak kisahnya buat penyemangat pun rayi... hatur nuhun...

    BalasHapus
  5. Waduh mas, tulisannya sangat memotivasi sekali. Ditambah, pengolahan bahasanya yang membuat saya semakin senang. Sebelumnya saya membaca tulisan mas yg bercerita tentang Kisah Tan Malaka, tokoh yang sangat saya sesali kematiannya. Untunglah semlat terfikirkan untuk membuka halaman utama nya mas. Waduh, langsung baca post ini akhirnya bukan main. Persis seperti yg saya rasakan saat ini! Motivational!

    BalasHapus
  6. Subhannallah . bagus kak . saya juga ada tekad pengen kesana . tapi saya gak berani bersaing sama orang2 seusia saya yang nasibnya lebihlebih baik dari saya .

    BalasHapus
  7. Ayo SMK Bisa! Sudah Mas buktikan..... Semangat dan doa adalah perjuangan yang sudah Mas buktikan. Saya jadi sangat terinspirasi dengan perjuangan Mas, bahwa anak SMK juga mampu untuk masuk PTN terkenal di negara ini. Selamat Mas semoga semakin sukses.

    BalasHapus
  8. Ingin menangis saat membaca kalimat "Pada akhirnya setiap upaya yang berawal dari kesungguhan hati akan selalu berbuah manis. Dan ketika sudah berupaya maksimal, serahkan semuanya pada ketetapan Allah, karena Ia tak akan salah menggariskan yang terbaik untuk hamba-Nya." Sangat memotivasi saya anak SMK yang berkecil hati untuk masuk ITB, doakan saya semoga tahun depan saya bisa masuk ITB🙏🏻

    BalasHapus

Resensi CINTA TAK ADA MATI

Judul buku                   : Cinta Tak Ada Mati Penulis                      : Eka Kurniawan Penerbit                    : Gramedia Pustak...