Selasa, 24 Februari 2015

SELALU ADA KESEMPATAN KEDUA

Beberapa waktu yang lalu, media sempat ramai dengan pemberitaan tentang Aceng Fikri, bupati Garut yang menikahi wanita di bawah umur, dan menceraikan wanita tersebut dengan cara yang kurang santun. Jika pemberitaan tersebut benar, maka meminjam kosakata anak gaul, Pak Aceng ini bisa saya sebut sebagai: “bad boy”. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu lagi dengan pria asal Garut yang lain, sebut saja namanya X, tak disangka X ini pun ternyata tipikal pria bad boy juga. Saya mulai curiga, kenapa pria Garut yang saya ketahui semuanya bad boy. Secara kebetulan, sepupu saya baru saja patah hati karena calon suaminya yang juga orang Garut, ternyata baru ketahuan, lagi-lagi adalah seorang bad boy.
Saya pun mulai membangun deduksi dari fakta:
Aceng Fikri , orang Garut, bad boy.
X, orang Garut, bad boy.
Calon suami sepupu saya, orang Garut, bad boy.
Sahkah jika dari serangkaian fakta di atas, saya lantas mengambil kesimpulan bahwa semua pria Garut adalah bad boy?. Jika sepupu saya menemui lagi seorang pria Garut, bolehkah jika ia langsung menghakimi pria itu pun juga adalah seorang bad boy?.
Jika saya menjawab ya, maka saya jatuh pada kesalahan berpikir yang oleh Jalaluddin Rahmat disebut sebagai the dramatic of fallacy instance, kesalahan generalisir. Hanya karena tiga orang pria Garut yang saya temui semuanya bad boy, saya langsung memberikan cap bahwa semua pria Garut adalah bad boy.
Padahal bagaimana dengan sekian juta populasi pria Garut yang lain?. Hanya karena tiga sampel yang saya temui secara acak buruk, apakah lantas sekian juta sisanya pun jadi ikut buruk?.
Dalam ilmu statistik kita kenal yang namanya probabilitas atau peluang suatu kejadian. Probabilitas ini akan sangat dipengaruhi oleh keakuratan pengambilan sampel yang dilakukan. Tidaklah valid memutuskan sebuah kejadian akan seperti apa hanya berdasarkan sedikit sampel dari sekian banyak yang tersedia dalam ruang sampel, seperti halnya akan jauh dari kebenaran memutuskan kepribadian seseorang  seperti apa hanya berlandaskan sedikit contoh individu dari sekian banyak populasi. 
Selain keakuratan dalam pengambilan sampel, probabilitas ini pun akan sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Variabel inilah yang memungkinkan adanya simpangan dalam setiap perhitungan statistik. Simpangan, atau standar deviasi, atau anomali yang akan mengesahkan adanya ketidaksesuaian dari perhitungan yang paling akurat sekalipun.
Maka saya tidak sepakat ketika ada seorang yang bertaruh bahwa penjahat ketiga akan mengulangi kejahatan serupa, hanya karena dua penjahat terdahulu mengulangi kejahatannya setelah sekali dimaafkan.
Saya percaya selalu ada kesempatan kedua, dan siapa tahu ada variabel yang membuat si penjahat ketiga justru bisa lebih saleh dari sang hakim sendiri. Siapa tahu.

Senin, 16 Februari 2015

TAK ADA INSINYUR SIPIL DI SURGA

“Suatu hari, penduduk neraka meminta rekonsiliasi dengan penduduk surga.  Hal ini disebabkan penduduk neraka sudah tak tahan terus menerus menjalani siksaan. Bukan berarti mereka tak menerima ketetapan Tuhan untuk menjalani hukuman atas dosa-dosa mereka selama di dunia, tapi ada saat-saat dimana mereka ingin berhenti dan beristirahat sejenak dari hukuman.

Memanfaatkan hubungan kekerabatan dan karena kebaikan hati penduduk surga, akhirnya disepakatilah untuk membuat sebuah jembatan yang menghubungkan surga dengan neraka.  Teknisnya, masing-masing pihak bersepakat untuk membangun jembatan yang nantinya akan bertemu di titik tengah, di perbatasan antara surga dan neraka.

Singkat cerita dimulailah pembangunan jembatan tersebut. Selang beberapa waktu, penduduk neraka sudah selesai membangun jembatan bagian mereka, tapi lama ditunggu entah kenapa jembatan bagian penduduk surga tak juga selesai.  Akhirnya penduduk neraka menghubungi lagi penduduk surga untuk meminta konfirmasi. Jawaban yang didapat sungguh di luar dugaan, penduduk surga tak bisa membangun jembatan karena tak ada orang teknik sipil di surga. Semua orang teknik sipil ternyata tempatnya di neraka.”

Mendengar anekdot yang disampaikan salah satu dosen saat kuliah ini, saya hanya bisa mesem-mesem sendiri.  Bingung sebenarnya harus memberikan komentar atau bereaksi seperti apa. Tapi jika saya bisa tarik kesimpulan, anekdot ini lahir bukan tanpa latar belakang. Ada beragam premis sebelum akhirnya lahir kesimpulan yang berujung pada satu guyonan.  Panjangnya mata rantai dalam sebuah proyek konstruksi yang memungkinkan timbulnya peluang untuk berbuat curang mungkin adalah salah satu diantaranya. Atau bisa jadi faktor keamanan yang sangat lentur dalam penentuan spesifikasi teknis bangunan konstruksi memungkinkan adanya modifikasi-modifikasi yang berujung pada mark-up biaya. Atau sifat unik dari setiap proyek yang menyebabkan tindakan pengawasan tak bisa diseragamkan. Atau bisa juga…. Yah, daftar dugaan yang akan semakin panjang jika ditulis satu persatu.
Tapi jika berbicara tentang peluang untuk berbuat curang, saya yakin tak hanya dalam proyek konstruksi saja kemungkinan itu tersedia. Yang dekat dalam kehidupan sehari-hari saja, misal dalam perdagangan sembako atau sayur mayur sekalipun, saya yakin, juga memiliki celah untuk sebuah kecurangan, entah itu dengan mengurangi timbangan atau menukar barang yang sudah disepakati. Semua untuk laba yang lebih besar. Lalu kenapa hanya insinyur sipil yang masuk neraka?.
Lama saya renungkan pertanyaan ini. Membuat saya iseng membaca ulang sejarah konstruksi di dunia. Tercatat dalam sejarah, Hammurabi menerapkan hukuman mati untuk kegagalan bangunan yang menyebabkan kematian. Sementara itu dalam catatan yang lain, runtuhnya sebuah jembatan yang terjadi di awal-awal masa layannya menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Dan tak terhitung kalkulus berdarah yang timbul karena runtuhnya sebuah gedung.
Bukan rahasia jika suatu proyek konstruksi melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar, tapi setiap kegagalan bangunan ternyata tak hanya menyebabkan kerugian secara materil. Ada kerugian lain yang lebih besar: hilangnya sebuah nyawa yang bisa jadi mata rantai untuk munculnya dampak-dampak negatif  lainnya. Kematian seorang tulang punggung keluarga akan menyusahkan kehidupan satu keluarga, sementara kematian seorang anak akan jadi trauma berkepanjangan untuk orang tuanya. Bukan tentang kematian itu sendiri, tapi tentang bagaimana dampaknya terhadap orang-orang sekitar yang ditinggalkan si mati.
Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: kecurangan seorang insinyur sipil dalam suatu proyek konstruksi yang menyebabkan kegagalan bangunan akan berdampak fatal terhadap banyak orang. Mungkin karena itulah, tanggung jawab yang diemban sedemikian besar sehingga hukuman yang dijatuhkan untuk kesalahan yang terjadi pun sangatlah berat. Kecurangan yang dilakukan seorang pedagang eceran mungkin merugikan, tapi masih dalam skala kecil, dalam hal ini hanya individu yang membeli saja yang menderita kerugian. Sementara itu, kecurangan yang dilakukan seorang insinyur sipil dalam sebuah proyek konstruksi akan berdampak lebih buruk karena melibatkan banyak pihak. Belum terhitung jika muncul korban jiwa yang tak sedikit.
Dan saat menulis ini, lama saya renungkan lagi, apakah saya ini kekurangan pekerjaan, kenapa sebuah anekdot saja bisa membuat saya berpikir lama dan menulis ocehan yang begitu panjang lebar.
Tiba-tiba saya teringat pada tesis yang bahkan belum juga saya sentuh. Seketika saya terkena serangan panik. Bagaimana bisa, tinjauan pustaka analisis keandalan bangunan malah jadi ocehan tentang anekdot yang beredar di lingkungan insinyur sipil.
*aaaaaaaa………..(nangis bombay T__T)
ingin wisudaaaaaa……


Senin, 09 Februari 2015

Yes, I am a Sherlockian





   Judul Buku : Sherlock Holmes, a Collector's Edition
   Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
   Penerjemah: Ismanto, Ahmad Asnawi, Sutrisno, dkk
   Periksa Aksara : Daru Wijayanti
   Tata Letak & Kulit Muka : Ardhi
   ISBN : 978-602-7900-55-4
   Cetakan IV, Tahun 2013
   Penerbit : Penerbit Indoliterasi
   Jumlah Halaman : 957 + viii halaman
   Ukuran : 15 x 23 cm


Saya tak akan pernah membandingkan Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle dengan Hercule Poirot-nya Agatha Christie.  Karena sebagai individu yang menjadi tokoh utama suatu cerita, kedua detektif legendaris ini menurut saya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sherlock mampu menarik serangkaian kesimpulan yang benar hanya dari satu fakta kecil, ia pun memiliki kemampuan fisik yang bagus, tapi sayang ketika tak ada kasus yang harus ditangani ia mengkonsumsi kokain untuk mengalihkan energi dari pikirannya yang meletup-letup. Sebaliknya Poirot begitu terobsesi pada kerapian dan kebersihan, tapi dari segi kemampuan fisik ia tak setangguh Sherlock. 

Tapi jika dilihat dari segi narasi dan penceritaan, saya memang lebih menyukai cerita Sherlock Holmes. Ada romantisme, drama dan humor dalam sentuhan ceritanya. Maka tak heran setelah hampir dua abad sekalipun, petualangan Sherlock menjadi cerita yang tetap menarik untuk dibaca dengan ending yang tak mudah ditebak dan penyelesaian kasus yang tetap mengundang decak kagum. Tokoh ciptaan Sir Arthur Conan Doyle ini bahkan telah menjadi inspirasi untuk banyak pengarang cerita detektif yang lain,  dan menciptakan komunitas penggemar tersendiri yang bernama Sherlockian.

Buku Yes I’am a Sherlockian yang menyatukan empat buku dari cerita-cerita pendek Sherlock ini bisa menjadi penawar rindu untuk para Sherlockian Indonesia. Berlawanan dengan dugaan awal saya, buku setebal 957 halaman ini sama sekali tak berat untuk dibawa-bawa, selain itu penjilidan yang bagus membuat buku ini tak mudah rusak (meski-sudah-saya-jatuhkan-berkali-kali =D).  Saya pikir penerbitnya cukup bijak dengan membuat penjilidan yang berkualitas untuk buku ini, karena untuk buku setebal ini bisa dipastikan pembaca tak akan menamatkan bacaannya dalam satu waktu dan akan sering membuka tutup buku sehingga penjilidan yang berkualitas sangatlah penting.

Meski demikian, sangat disayangkan ada beberapa hal yang cukup mengganggu dalam buku ini, diantaranya adalah kesalahan cetak yang cukup banyak ditemui pada beberapa bagian buku. Contohnya kesalahan dalam penulisan judul The Blanched Slodier (harusnya The Blanched Soldier).  Kesalahan lain yang menurut saya cukup fatal adalah penerjemahan yang kurang bagus. Ada banyak bagian dimana “kami” akan lebih baik jika diganti dengan “kita” atau sebaliknya. Asumsi saya, kemungkinan hal ini disebabkan “We” dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai kami ataupun kita, meskipun jika dilihat keseluruhan konteks kalimatnya,  saya pikir tetap bisa dibedakan mana “We” yang berarti “kita”, dan mana “We” yang berarti kami. Di bagian yang lain penerjemahan yang kurang pas ini pun menciptakan paragraf-paragraf yang artinya membingungkan.  Selain beberapa penerjemahan yang rancu, ada juga penggunaan kata ”kamu” yang tidak konsisten dengan kata “Anda”.

Kekurangan lain menurut saya adalah tata letak penyusunan bagian-bagian bukunya. Keempat buku Sherlock yang terdiri dari Petualangan, Memoar, Koleksi Kasus, dan Kembalinya Sherlock Holmes dalam edisi kolektor ini tidak disusun berdasarkan kronologis waktu. Bagian ketika Sherlock diduga meninggal setelah duel dengan Profesor Moriarty disimpan di bagian pertama, dan langsung loncat ke penyelesaian kasus-kasus lainnya.  Menurut saya akan lebih baik jika penyelesaian kasus sebelum meninggalnya Sherlock  yang ditaruh di awal, dilanjutkan dengan bagian ketika Sherlock meninggal dan baru memoar Sherlock yang ditutup dengan kembalinya Sherlock. Jadi ada efek kenangan yang oleh Dr. Watson diceritakan pasca kematian Sherlock, dan ada kejutan karena setelah tiga tahun Sherlock dianggap meninggal, ia tiba-tiba muncul untuk suatu kasus. Tapi tentu saja itu menurut saya sendiri yang mungkin juga salah =D.


Meskipun demikian, secara keseluruhan buku ini tetap layak untuk dikoleksi kok.  Membuat saya tak keluar rumah sepanjang minggu karena asyik membaca =D. So Sherlockian, this is a must have book.

Jumat, 30 Januari 2015

Sinopsis Film: THE IMITATION GAME



Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can imagine.

Terkadang, justru orang yang tak dibayangkan yang melakukan hal-hal yang tak terbayangkan.






Tiga puluh lima ribu rupiah mungkin jumlah yang tak seberapa. Tapi jika dengan tiga puluh lima ribu rupiah kita bisa mendapatkan banyak hal seperti hiburan, bahan untuk berpikir dan merenung serta pengetahuan, maka saya yakin tiga puluh lima rupiah itu akan menjadi berarti. Dan tiga puluh lima ribu rupiah yang saya habiskan untuk menonton film ini memang berarti dan tak terbuang sia-sia. Film ini sudah memikat bahkan sejak opening yang bisa dibilang tak biasa.

Are you paying attention? Good. If you are not listening carefully, you will miss things. Important things. I will not pause, I will not repeat myself, and you will not interrupt me. You think that because you're sitting where you are, and I am sitting where I am, that you are in control of what is about to happen. You're mistaken. I am in control, because I know things that you do not know.

What I will need from you now is a commitment. You will listen closely, and you will not judge me until I am finished. If you cannot commit to this, then please leave the room. But if you choose to stay, remember you chose to be here. What happens from this moment forward is not my responsibility. It's yours. Pay attention.

Sebuah rumah porak poranda akibat upaya perampokan. Kepolisian mendapat laporan tentang perampokan tersebut justru dari tetangga korban. Sementara Alan Turing, sang pemilik rumah malah menanggapi kedatangan polisi yang berniat membantu dengan sikap menyebalkan dan menegaskan tak perlu ada penyelidikan lebih lanjut. Yang aneh tak ada barang yang hilang, maka penolakan Turing terhadap upaya penyelidikan malah membangkitkan kecurigaan Deteftif Nock. Instingnya mengatakan, Turing, profesor matematika yang mengajar di Cambridge ini menyembunyikan sesuatu. Ia pun mulai menyelidiki aktifitas Cambridge, dan kejutan lain ia temukan: catatan perang Alan Turing kosong. Ketiadaan catatan ini semakin mengukuhkan kecurigaan Nock. Dugaannya sementara: Turing adalah mata-mata Sovyet.

Dan waktu pun berjalan mundur.

Tahun 1941, saat pecah Perang Dunia Kedua, Turing mendaftar ke dalam tim khusus yang bertugas untuk memecahkan kode perang. Tim ini bekerja dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Motivasi Turing hanya satu: kegemarannya memecahkan kode rahasia. Dan meskipun ia jenius di bidang matematika dan layak disebut sebagai salah satu ahli matematika terbaik di dunia hampir saja ia ditolak. Alasannya sederhana: Turing tak bisa bahasa Jerman. 

Seluruh argumen Turing tentang kode perang adalah urusan matematika yang tak perlu kemampuan berbahasa Jerman dengan keras kepala ditolak oleh Cdr. Alastair Denniston yang mewawancarainya. Saat hampir diusir, Turing mengucapkan satu kata sakti yang membuat Denniston berubah pikiran: Enigma, alat rahasia yang digunakan tentara Jerman untuk saling berkomunikasi. Semua komando penyerbuan, setiap serangan pengeboman maupun invasi tiba-tiba dikirim oleh Hitler ke tentara Nazi melalui Enigma. Bahasa sandi adalah bahasa yang umum digunakan dalam perang. Tapi sandi yang digunakan Enigma adalah yang paling rumit di dunia. Meskipun Inggris berhasil menyadap setiap pesan dari Enigma, tapi mereka tak pernah mampu menerjemahkan artinya. Ini berarti semua serangan tentara Jerman terjadi begitu saja tanpa bisa dihindari, dan dengan langkah perang yang tak terbaca Jerman berhasil menginvasi hampir seluruh Eropa. Maka untuk mengalahkan Jerman, kunci untuk menerjemahkan Enigma adalah syarat mutlak yang harus dikuasai. Sayangnya semua orang berpikir Enigma adalah mesin rumit yang mustahil dipecahkan. Tapi semakin rumit Enigma semakin Turing merasa tertantang.

Alan Turing
:
I like solving problems, Commander. And Enigma is the most difficult problem in the world.
Cmd Denniston
:
Enigma isn't difficult, it's impossible. The Americans, the Russians, the French, the Germans, everyone thinks Enigma is unbreakable.
Alan Turing
:
Good. Let me try and we'll know for sure, won't we?.


Turing akhirnya diterima. Tapi di luar dugaan, ternyata ia harus bekerja dalam tim. Padahal meskipun jenius dalam bidang matematika, kemampuan bersosialisasi Turing nyaris sempurna gagal. Dengan ketidakmampuannya memahami makna tersirat di balik suatu kalimat, dan sikap apa adanya yang tanpa basa basi, Turing menjadi anggota tim yang paling dibenci. Alih-alih membantu pekerjaan teman-teman satu timnya, Turing malah sibuk sendiri. Setiap hari, waktu kerjanya habis dengan kesibukannya merancang diagram-diagram dan sederet perhitungan, ia tengah membangun sebuah mesin dengan kemampuan di atas Enigma. Filosofinya sederhana: Enigma adalah sebuah mesin yang diciptakan dengan sangat baik. Dan untuk mengalahkan sebuah mesin diperlukan mesin lain yang lebih baik.

Sayangnya sikap Turing yang dianggap menyebalkan membuat teman-teman timnya mengajukan keluhan kepada Denniston dan Turing hampir dipecat. Tak kehabisan akal, Turing mengirim surat langsung kepada Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris.  Di luar dugaan, bukan hanya tak mengizinkan Turing keluar dari tim, Churchill bahkan memberikan perntah untuk menjadikan Turing sebagai kepala tim.

Dengan kewenangannya yang baru, Turing meminta biaya 100.000 poundsterling untuk biaya membuat mesinnya dan kemudian memecat dua orang anggota tim. Ia menyeleksi anggota tim yang baru dengan sebuah teka teki silang sebagai ujian. Tak disangka yang lolos ujian adalah seorang wanita muda bernama Joan Clarke.

Joan tak hanya menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi anggota tim dengan kemampuan yang bahkan membuat kagum Turing, tapi ia pun membawa angin segar kepada seluruh tim. Ia menasihati Turing tentang bagaimana harus bersikap kepada anggota timnya yang lain. Tujuannya sederhana: Turing memerlukan semua bantuan yang tersedia untuk dapat memecahkan Enigma. Dan anggota timnya tak akan tergerak untuk membantu jika mereka tak menyukai Turing.

Adalah upaya yang sangat mengharukan, ketika Turing pada suatu pagi membagikan apel kepada semua temannya dan kemudian mencoba menceritakan sebuah lelucon (yang pasti sudah dihapalkannya terlebih dahulu) dengan gaya khasnya yang kaku dan canggung. Lelucon yang disampaikan dengan gaya orang membaca buku teks ini memang bisa dibilang gagal memancing tawa, tetapi teman-temannya kini mulai melihat Turing dengan cara yang berbeda. Bantuan yang dibutuhkannya mulai berdatangan, meski lagi-lagi Joan yang harus mengajarinya mengucapkan terima kasih.

Akhirnya mesin ciptaannya selesai dan mulai dioperasikan. Tapi sayang, belum juga menunjukkan hasil yang diinginkan. Denniston yang tak menyukai Turing menjadikan ketidakberhasilan ini sebagai alasan untuk dapat memecat Turing. Beruntung teman-teman setimnya datang membantu, menjadi martir untuk Turing sehingga tak mungkin Denniston memecat Turing tanpa memecat semua anggota timnya yang lain, yang meskipun tak sejenius Turing tapi tetap merupakan yang terbaik dalam bidangnya masing-masing di Inggris.

Maka Denniston memberikan waktu satu bulan untuk Turing menunjukkan bahwa mesin mahal ciptaannya mampu beroperasi menafsirkan Enigma. Sampai disini Turing menemui jalan buntu. Christopher (nama mesin ciptaan Turing) telah terus bekerja, tapi tak juga berhasil. Christopher sama tersesatnya dengan Turing, tak tahu apa yang harus dicari. Seiring berjalannya waktu, kesabaran anggota timnya pun mulai semakin menipis.

Bahkan Joan pun berniat mengundurkan diri meski dengan alasan yang berbeda, usianya sudah 25 tahun dan orang tuanya memaksa Joan untuk segera menikah. Tak ingin ditinggalkan Joan, Turing pun memutuskan untuk melamar Joan dan keduanya pun bertunangan. Padahal ada rahasia besar yang disembunyikan Turing, bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang homoseksual. Tak diragukan lagi kepedulian Turing terhadap Joan, tapi tetap saja Turing tidak mencintai Joan seperti pria normal mencintai wanita pada umumnya.

Saat pesta pertunangan mereka, Turing berbagi keresahan ini dengan Cairncross. Tak disangka Turing malah disarankan untuk menyimpan rahasia ini. Di tengah pesta, Helen teman Joan melakukan aksi “flirting” dengan Hugh. Tanpa sengaja, Helen menceritakan rekan sepekerjaannya di radio yang ternyata orang Jerman dan selalu mengirimkan pesan dengan kode awal CILLY. Hal ini menarik minat Turing, karena sepengetahuan Turing orang Jerman memiliki aturan untuk memulai pesan dengan lima huruf random. Fakta ini seketika menyadarkan Turing pada satu mata rantai penting dalam pesan-pesan yang dikirim Enigma. Semua pesan pasti selalu berupa laporan cuaca yang diakhiri oleh kalimat “Heil Hitler” (Salam Hitler). Berdasarkan fakta ini, Christoper bisa mempersempit pencariannya hanya pada rangkaian huruf yang sering muncul.

Adegan ketika tiba-tiba Turing mendapat ilham bisa dibilang adegan yang sangat seru dan komikal. Ia tiba-tiba saja meninggalkan pesta dan berlari kencang menuju tempat kerjanya, tanpa sempat menunjukkan kartu identitas kepada penjaga. Joan dan teman-teman setimnya yang lain pontang panting mengejar Turing dan memperlihatkan kartu identitas kepada penjaga dengan hiruk pikuk dan tergopoh-gopoh. Sementara itu Turing yang telah sampai di ruang kerja terlebih dulu bersikap tak kalah hebohnya, ia mencari-cari arsip pesan yang disadap dari Enigma kemudian berlari kepada Christopher dan mulai mengeset ulang. Semua orang antusias sekaligus tegang. Dan saat Christopher berhenti berbunyi, Turing segera mencatat huruf-huruf yang ditunjukkan Christopher.

Eureka.

Isi pesannya adalah koordinat tempat yang akan diserang oleh tentara Nazi, bukan lagi racauan tak penting tentang cuaca yang cerah. Mereka berhasil memecahkan kode Enigma. Dan semua orang seketika larut dalam euforia keberhasilan. Turing menangis penuh emosi sementara teman-teman setimnya yang lain memeluknya satu persatu.

Tapi ternyata setelah mereka mampu memecahkan Enigma pun masalah tak lantas selesai begitu saja. Saat mereka tengah menerjemahkan serangkaian pesan Enigma yang lain, Joan menemukan bahwa serangan berikutnya akan ditujukan terhadap konvoi yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Hugh langsung mengambil telepon untuk lapor pada Denniston. Tapi Turing lagi-lagi bertindak dengan alur pikiran yang tak dimengerti semua orang. Ia merebut telepon dari Hugh dan memutus sambungan telepon hingga Hugh menonjoknya sampai berdarah. Turing menyeka hidungnya yang berdarah dan memulai penjelasnnya pada Hugh dengan kalimat:

Kamu tahu kenapa orang-orang sangat menyukai kekerasan?, karena kekerasan itu menyenangkan. Manusia menemukan bahwa kekerasan itu sangatlah memuaskan. Tapi hilangkan kepuasan itu, maka aksi kekerasan itu akan menjadi…kosong.”

Dan mulailah argumentasi Turing: jika konvoi yang sudah direncanakan jauh-jauh hari ini tiba-tiba saja dibatalkan, tidakkah itu malah akan memancing kecurigaan Jerman bahwa Enigma sudah dipecahkan. Jika Jerman sampai curiga bagaimana jika mereka mengubah lagi setelan Enigma dan akan sia-sialah pekerjaan yang sudah dikerjakan selama dua tahun untuk memecahkan Enigma.

Semua mengakui argument Turing sangatlah benar. Maka ketika Peter yang kakaknya mengikuti konvoi tersebut memohon kebijaksanaan Turing untuk memberitahu Denniston, keputusan Turing tak berubah: Peter harus merelakan kakaknya dibantai.

Perang memang tak pernah menyenangkan.

Turing kemudian menemui Menzies, memintanya menyimpan rahasia tentang Enigma, dan melakukan politik tingkat tinggi dengan memunculkan gosip dari sumber lain, agar ketika ada serangan Jerman yang bisa dicegah, Nazi tak akan curiga bahwa Enigma telah dipecahkan.

Dan perang pun terus berlanjut. Ada beberapa serangan yang dibiarkan terjadi, dan beberapa lagi yang bisa dicegah. Tapi selalu dengan perhitungan statistik dimana jumlah optimum yang tak akan memancing kecurigaan Jerman. Dan dengan cara tersebut, Inggris menang perang.

Semua anggota tim kembali pada kehidupan masing-masing. Turing pun kembali pada kesendiriannya. Ia memutuskan pertunangannya dengan Joan, beberapa saat setelah Enigma berhasil dipecahkan. Alasan sebenarnya: karena Turing mengkhawatirkan keselamatan Joan. Tapi alasan yang dikatakannya pada Joan: karena ia seorang homoseksual. Tercengang dengan jawaban Joan yang tidak menyatakan keberatan akan orientasi seksual Turing yang aneh, akhirnya Turing mengucapkan kalimat yang tak termaafkan: Turing hanya memanfaatkan Joan untuk memecahkan Enigma.

Di akhir kisah, Turing divonis dengan tuduhan ketidaksenonohan karena perilaku homoseksualnya. Pada masa itu, hukum Inggris menyatakan homoseksual adalah salah satu tindakan kriminal. Turing diberi pilihan: hukuman 2 tahun penjara, atau pengebirian secara kimia. Turing memilih yang kedua meskipun pengobatan yang harus dijalaninya berdampak pada kesehatannya. Joan yang datang berkunjung bersedia menjadi saksi untuk meringankan vonis terhadap Turing, tapi Turing menolak semua bantuan. Ia tak ingin berpisah dengan Christopher. Dan setelah masa hukumannya selesai, Turing bunuh diri.


Saya tak punya kapabilitas untuk menilai sebuah film. Tapi menurut pandangan saya sebagai orang awam, ini film yang sangat sangat bagus. Acting Benedict Cumberbatch memerankan Turing bisa dibilang sempurna. Ia membuat kita hanyut dalam emosi Turing, tergelak dengan penafsirannya yang terlalu harfiah untuk setiap patah kata, gemas dengan kesombongan dan arogansinya.

Humor yang disampaikan pun tak berlebihan tapi tetap menggelitik. Contohnya adalah ketika Christopher menunjukkan pada Turing buku tentang kriptografi. Christopher menjelaskan bahwa kriptografi adalah ilmu yang membuat kita bisa saling bertukar pesan melalui sebuah kode yang meskipun bisa dibaca semua orang tapi hanya bisa dipahami orang–orang tertentu saja atau dengan kata lain kriptografi adalah ilmu tentang kode atau sandi rahasia, yang dengannya kita tak perlu khawatir rahasia kita akan terbongkar meskipun pesan kita sampai ke tangan yang salah. Mendengar penjelasan Christopher dengan polosnya Turing bertanya: “Apa bedanya kriptografi dengan bicara?. Bukankah ketika berbicara pun orang-orang tak pernah mengatakan dengan jelas maksud ucapan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang lain dan kamu diharapkan untuk memahami artinya”. (Ini menjelaskan sikap Turing yang selalu bersikap terlalu harfiah).

Beberapa kritikus menilai film ini kekurangan adegan seksual untuk menegaskan disorientasi Turing. Tapi menurut saya justru ini menjadi sebuah kelebihan, karena tanpa adegan seksual sekalipun film ini tak akan khawatir kekurangan penonton.

Juga pesan moral yang terselip dalam banyak bagian cerita. Membuat film ini bermakna dan bukan hanya sekedar hiburan belaka. Ada satu bagian yang sangat saya suka, yaitu ketika Turing akan memutuskan pertunangannya dengan Joan. Di luar dugaan Turing, Joan ternyata tak keberatan dengan disorientasi seksual Turing, bahkan ia sempat berkata:

“Lantas kenapa?, aku sudah menduganya, selalu. Tapi kita tak seperti orang-orang yang lain. Kita saling mencintai dengan cara kita masing-masing, dan kita bisa bersama-sama menjalani kehidupan yang kita inginkan. Kamu tidak akan menjadi suami yang sempurna?, aku bisa berjanji bahwa aku pun tak akan menjadi istri yang sempurna. Aku tak akan duduk manis diam di rumah seharian menunggu kamu pulang bekerja. Aku akan bekerja. Kamu akan bekerja. Dan kita bisa tetap saling memiliki hubungan kita masing-masing. Kita bisa tetap saling memiliki pikiran kita masing-masing. Dan itu kedengarannya lebih baik dari kebanyakan pernikahan lainnya. Karena aku peduli padamu. Dan kamu peduli padaku. Dan kita saling memahami lebih daripada yang pernah orang-orang lakukan”.

Perkataan Joan entah kenapa membuat saya berpikir ulang mengenai pernikahan. Joan mungkin bukan tipikal wanita rumah tangga yang akan mengabdikan hidupnya untuk keluarga. Tapi dengan kecerdasannya, ia akan menjadi rekan yang setara untuk Turing. Ia akan menjadi satu-satunya yang memahami Turing dengan semua keanehannya. Memaafkan keterbatasan linguistic Turing dalam menyampaikan maksud sebenarnya, yang sering menjadi sumber kesalahpahaman jika ia bicara dengan orang selain Joan.

Berapa banyak pernikahan yang menjelma menjadi aksi saling menguasai dan ternyata banyak dijalani oleh orang normal, tapi konsep pernikahan yang ditawarkan Joan sepertinya lebih baik dan sempurna untuk Turing dengan semua keabnormalannya.

Dan akhirnya, seperti yang disampaikan Turing di awal film, setelah seluruh cerita Turing selesai, bagaimana penilaian anda?. Mesin ciptaan Turing mampu mempersingkat perang selama dua tahun. Diperkirakan ia telah mencegah jatuhnya korban sekitar 14 juta jiwa. Ia pun telah meletakkan pondasi untuk ilmu baru yang menjadi cikal bakal komputer. Tapi jasa-jasanya seolah terhapus karena orientasi seksualnya yang menyimpang.

Entah bagaimana penilaian anda, tapi baru pada tahun 2013, Ratu Elizabeth menganugerahinya pengampunan dan mengakui jasa-jasanya.





Resensi MALAM SERIBU JAHANAM

Judul buku                    : Malam Seribu Jahanam Penulis                       : Intan Paramadhita Penerbit                      : Grame...