Jumat, 19 Desember 2014

Sinopsis Novel SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh



"Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara

Kau hadir dengan ketiadaaan
Sederhana dalam ketidakmengertian
gerakmu tiada pasti
Namun aku terus disini
Mencintaimu
Entah kenapa"


- Dee -



Tiga belas tahun yang lalu, novel ini sudah membuat saya jatuh cinta bahkan sejak saya membuka halaman-halaman pertamanya dan menemukan puisi ini. 

Bahkan Kata Pengantar, bagian yang selalu saya lewati setiap membaca buku apapun tapi dalam novel ini menjadi bagian yang juga ikut saya baca sampai berulang kali. Bukan apa-apa, tapi pengantar penerbitnya sendiri yang memakan sampai empat halaman buku rasanya kocak dan unik. Membuat saya membayangkan sekumpulan anak muda energik yang berada di balik penerbitan novel pertama Dewi Lestari ini kelebihan energi hingga sempat-sempatnya mengeluarkan teka teki di bagian akhir kata pengantar (*kenapa domba bau?, jawabannya adalah karena domba keleknya empat hahahaha….).

Novel ini berkisah tentang Dhimas dan Ruben,  pasangan gay yang bertemu saat kuliah di Amerika. Pertemuan mereka dalam sebuah pesta (*narkoba?), berujung pada ikrar untuk menjadi pasangan dan juga ikrar bahwa sepuluh tahun kemudian mereka akan membuat sebuah karya yang merupakan gabungan antara science ilmiah dan sastra. Dan sepuluh tahun kemudian, penulisan karya itu dimulai, dalam bentuk sebuah novel dengan Ferre (CEO sebuah korporasi multinasional), Rana (jurnalis sebuah majalah bergengsi), dan Diva (model sekaligus pelacur papan atas), sebagai tokoh utamanya.

Konflik dimulai saat Rana mewawancarai Ferre untuk artikel yang akan dimuat di majalah. Tak disangka jika wawancara singkat itu menjadi awal terjalinnya kisah cinta terlarang di antara mereka berdua. Terlarang karena ketika itu, Rana sudah menikah dengan Arwin yang sama seperti Rana, juga berasal dari keluarga aristokrat bangsawan lama.

Tak ada justifikasi salah atau benar dalam kisah perselingkuhan ini. Arwin bukanlah pria jahat yang pantas untuk dikhianati, sebaliknya justru, Arwin digambarkan sebagai pria yang baik, soleh, bertanggung jawab, dengan latar belakang keluarga yang baik dan juga memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan. Dan seluruh kelebihannya itulah yang menjadi satu-satunya kesalahan Arwin untuk Rana. Karena dengan menjadi sosok yang sempurna, tak ada alasan untuk Rana berpaling dari Arwin. Pengkhianatan yang dilakukan Rana semata-mata karena Rana dan Ferre saling jatuh cinta, titik. Dan bisakah orang memilih pada siapa ia jatuh cinta?. 

Sayangnya, tak seperti kisah perselingkuhan lain yang mungkin hanya karena nafsu sesaat, cinta lokasi atau pelarian dari rumah tangga yang bermasalah, cintanya Rana dan Arwin adalah cinta dalam artian sebenarnya cinta. Rana melihat sosok Ferre sebagai seseorang yang mampu membangkitkan semangat dalam hidupnya yang membosankan. Pun demikian Ferre, ia melihat Rana sebagai sosok Puteri, yang selalu menjadi perwujudan obsesi dari dongeng masa kecilnya.

Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk  melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik,
“tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya… “Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.

Sayang, Puteri yang selalu didambakannya ini sekarang adalah isteri orang lain. Tapi status kekasihnya ini membuat Ferre berpikir lebih dalam tentang cinta dan hubungan mereka. Tentang arti komitmen dalam pernikahan, tentang cinta yang "katanya" tak harus memiliki, tentang konsep cinta yang "katanya" seharusnya membebaskan. Dan untuk Ferre dan Rana, semua itu hanya konsep yang utopis karena mereka sendiri tak bisa mengingkari, cinta yang mereka punya menuntut sebuah kebersamaan, yang sangatlah tak mungkin dengan Arwin yang sudah lebih dahulu hadir dalam hidup Rana.

Dalam kebimbangannya, dari seorang teman Rana mendapat saran untuk mengkonsultasikan masalahnya dengan Supernova, Cyber Avatar yang bersedia menjawab semua permasalahan dan pertanyaan yang diajukan orang-orang. Tak ada yang tahu bahwa sosok Supernova di dunia maya ini sebenarnya adalah Diva di dunia nyata, tetangga depan rumah Ferre, yang adalah seorang model sekaligus pelacur papan atas, tetapi dengan kemampuan akademis melampaui bahkan para pakar di bidangnya. 

Tanya jawab yang dilakukannya dengan Supernova, membawa Rana pada pertanyaan yang sebenarnya: pertanyaan untuk mengenal dirinya sendiri. Tapi ia masih juga belum menemukan jawaban, apa yang harus ia lakukan, kabur dengan Ferre dan meninggalkan Arwin, atau terus bertahan dengan Arwin sementara dalam hati ia menyadari cintanya pada Ferre sudah kadung berlarat-larat.

Tak kuat menahan beban pikiran, akhirnya Rana masuk rumah sakit. Lemah jantung yang dideritanya sejak kecil menunjukkan keberadaannya lagi di tubuh ringkihnya. Dan momen saat kemudian Ferre menjenguk Rana di rumah sakit ternyata menjadi titik balik semuanya. Tanpa sengaja Arwin yang sudah tahu perselingkuhan istrinya menangkap pandangan mata Rana dan Ferre. Dan tiba-tiba ia menyadari, bahwa ia melihat cinta yang begitu besar di mata keduanya. Alih-alih marah dan cemburu, Arwin malah merasa ia telah menjadi penghalang untuk kebahagiaan keduanya. Dan akhirnya Arwin memutuskan setelah Rana keluar dari rumah sakit, ia akan menyerahkan Rana pada Ferre. Momen yang sebenarnya pas, karena disaat yang sama Rana pun sudah memutuskan bahwa sepulang dari rumah sakit ia akan meninggalkan Arwin demi Ferre.

Ferre sudah begitu bahagia, senang karena akhirnya ia akan bersatu dengan Puteri-nya, tak pernah ia sangka bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Malam itu, Arwin menghampiri Rana. Malam itu, Arwin menyatakan bahwa ia sudah tahu semuanya, tentang Rana dan Ferre. Tak seperti yang selalu dibayangkan Rana, Arwin dengan mata merah dan kalap, dengan senjata di tangan, siap untuk mengejar dan membunuh Ferre di kediamannya. Sebaliknya, Arwin malah tampak begitu pasrah dan tenang, memeluk Rana dari belakang, sambil menyatakan bahwa ia sedemikian mencintai Rana, saking cintanya sampai ia tak ingin lagi menyiksa Rana dengan memaksakan kebersamaan yang semu. 

"Istriku atau bukan, kamu tetaplah Rana yang kupuja. Dan perasaan ini cukup besar untukku berjalan sendiri tanpa perlu kamu ada". 

Dan terkesiaplah Rana, menyadari bahwa cinta yang membebaskan itu ternyata Arwin yang punya, bukan miliknya bukan pula kekasihnya. Seketika itu pula Rana membalik badannya memeluk Arwin dengan pelukan orang yang kembali selepas akan beranjak pergi. 

Dan Ferre, akhirnya jatuh sedalam-dalamnya setelah membaca surat perpisahan dari Rana, patah hati sampai memutuskan bunuh diri dengan bermain rolet Rusia menggunakan satu peluru di pistolnya. Ia tinggal menarik pelatuk sebelum semuanya tamat. Dan dimulailah kilasan-kilasan hidupnya. Tentang ayahnya yang kabur dengan wanita lain hingga ibunya bunuh diri, tentang kakek dan nenek yang selalu ingin ia berdoa, dan satu ledakan, yang membuat ia tersadar bahwa hidupnya akan terus berlanjut, dan perasaannya untuk Rana sudah mengkristal dan akan selalu ia simpan.

Jujur, tak mudah untuk saya membuat sinopsis dari novel ini. Karena memang novel ini adalah novel yang sangat kaya, konflik yang terjalin, teori-teori sains yang ikut menjadi bagian dari cerita, penokohan dan konsep cerita di dalam cerita, membuat novel ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Bukan sekedar cerita picisan tentang perselingkuhan, tapi ada pencarian makna oleh tokoh-tokoh didalamnya. Tentang hakikat manusia, tentang hidup, tentang persahabatan, dan tentang cinta yang sering salah diinterpretasikan. Didukung oleh pilihan diksi yang kuat dan puisi-puisi yang indah, maka pantaslah jika novel ini memenangkan banyak penghargaan dan menjadi best seller.

Di akhir cerita, Dhimas dan Ruben yang menyusun cerita tentang Ferre, Rana, dan Diva akhirnya menyadari bahwa mereka berdua sama dengan tokoh cerita yang mereka susun, ada dalam molekul pikiran seorang pengarang yang lain. Mengingatkan saya akan ending dari buku Dunia Sophie yang juga fenomenal. Terkait dengan dugaan ini, penerbitnya sempat memberikan konfirmasi bahwa Dee belum pernah membaca buku Dunia Sophie. Tak masalah sebenarnya, karena bagaimanapun juga, novel ini disepakati banyak orang sebagai novel yang sangat keren. Bahkan untuk saya pribadi, yang menjadi penggemar karya-karya Dee selanjutnya gara-gara novel ini, tak bosan rasanya membaca novel ini hingga berulang-ulang. ^^


Kamis, 11 Desember 2014

Resensi Film SUPERNOVA; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Great Novel, Poor Movie



Jujur saja, saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Karena itulah di kolom isian hobby pada form standar biodata, saya selalu mengisi "membaca" alih-alih "menonton".  Maka jangan harap saya akan rela berdesak-desakkan untuk mengantri tiket sebuah film yang baru tayang perdana, seheboh apapun pemberitaan tentang film tersebut. Tapi film SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, adalah film yang telah membuat saya rela mencuri waktu beberapa jam dari keseharian saya khusus untuk menonton bahkan pada hari tayang perdananya tanggal 11 Desember 2014 kemarin. Semata karena novelnya adalah salah satu buku favorit yang sangat saya suka dan mungkin telah saya baca ulang entah sudah berapa puluh kali hingga saat ini.

Tiket yang habis dan antrian yang cukup panjang mungkin menunjukkan animo mayarakat yang cukup baik, yang saya yakin juga serupa dengan saya, sudah jatuh cinta duluan pada bukunya hingga penasaran akan seperti apa jadinya jika difilmkan. Tapi sayang, novel dan film adalah dua hal yang sangat berbeda. Tak seperti novel yang memungkinkan imajinasi untuk berkembang seluas mungkin, film adalah karya seni yang berbatas durasi. Tak banyak film yang berhasil mengadaptasi versi bukunya dengan baik dan film SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh ini jelas bukan salah satu diantaranya.

Harapan saya yang sudah melambung tinggi saat opening film yang dimulai dengan penjelasan tentang order dan chaos serta turbulensi dihempas begitu saja saat tiba pada adegan Dhimas bertemu Ruben. Dialognya terdengar tak wajar, seperti pembacaan deklamasi saat di sekolah dasar dahulu. Saya masih mencoba untuk sabar, berasumsi keganjilan dialog ini hanya dilakukan oleh pemeran Dimas dan Ruben, tapi betapa kecewanya saya karena gaya deklamasi ini juga diperlihatkan oleh semua tokoh di film ini dari awal hingga akhir. Sayang sekali karena dialog-dialognya meskipun dicomot persis dari bukunya, tapi penuturannya tak mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari hingga membuat film ini kelihatan sangat absurd dan dibuat-buat.

Selain dialog yang monoton dan kualitas akting para aktornya yang parah, penokohannya pun agak kurang pas. Saya pikir tokoh Re akan kelihatan sedikit lebih maskulin, dan pilihan Herjunot Ali sepertinya agak terlalu klemek-klemek, mencerminkan pria urban memang, tapi tak menunjukkan sisi Ferre yang mencapai posisi CEO  dengan kerja keras hasil sendiri.

Sementara itu, pilihan untuk tokoh Ale pun tak membantu. Tokoh Ale di bukunya digambarkan sebagai sahabat terbaik Ferre yang sama-sama lulusan Amerika tapi berkecimpung di dunia otomotif, sosok Ale inilah yang mencerca keputusan Re untuk mencintai Rana, memaki sekaligus menasihati Re habis-habisan, tapi di sisi lain Ale adalah sosok yang tegas berkata akan tetap menjadi sahabat dan mendukung Re sebodoh apapun keputusan Re. Sementara di film, sosok Ale ini hanya menjadi penggembira yang tidak berkontribusi apapun untuk Re, selain menjadi pembanding yang mempertegas bahwa Re itu keren dan Ale itu konyol.

Dari semua tokoh di film Supernova ini, mungkin hanya Diva yang menurut saya paling mending. Sikap sinisnya cocok meski di akhir film lagi-lagi sayang sekali karena ia harus mengucap dialog bak deklamasi lagi. 

Soundtrack film yang dibawakan oleh Nidji mungkin adalah hal terbaik dalam film ini, meskipun karena karakternya yang terlalu kuat film dan soundtrack jadinya seperti berjalan sendiri-sendiri. Pengaruh sound effect juga saya rasa tak banyak membantu. Ada banyak adegan yang di buku bisa mengharu biru, ternyata malah menjadi adegan yang aneh dan datar di film. Contohnya adalah adegan ketika Arwin merayu Rana di kamar tidur. Getirnya hati Rana saat harus melayani Arwin sedangkan dalam hati ia memanggil-manggil Ferre gagal untuk dijelaskan dalam film dan malah menjadi adegan aneh yang entah harus disikapi bagaimana oleh penonton, lucu bukan, sedih juga ngga.

Juga pada malam saat Arwin mengatakan pada Rana bahwa ia akan merelakan Rana untuk Ferre. Tak ada pergulatan batin Arwin yang ditonjolkan, tentang bagaimana seorang suami yang dikhianati tapi alih-alih murka malah merelakan istrinya untuk pergi pada pria lain. Merelakan diri sendiri untuk menahan sakit semata demi kebahagiaan orang yang dicintai. Unconditional love, dengan dialog yang sangat indah di buku, terasa kering dan tidak real dalam filmnya. Arwin mengucapkan kalimat yang menyatakan betapa ia mencintai Rana hingga merelakan kepergian Rana  dengan cara yang tak jauh beda dari ketika ia mengabari Rana bahwa ia tak bisa pulang saat pesta ulang tahun Rana. Dan pelukan Rana pada Arwin usai Arwin berkata begitu pun tak mampu mencerminkan orang yang memutuskan untuk kembali saat hampir beranjak pergi.

Selain adegan-adegan yang aneh, juga ada banyak hal yang rasanya tak masuk akal dalam film ini. Tempat dalam film ini yang katanya pseudo Jakarta ternyata punya pantai sangat indah yang hampir menyerupai Bali. Juga saat Diva berkemah di gunung, bisa-bisanya sambil membuka internet yang membuat saya bertanya-tanya sendiri, memangnya ada sinyal ya?,

Dua jam saya menonton film ini, dua jam pula saya memaki-maki sendiri. Antara bosan setengah mati ingin segera meninggalkan ruangan bioskop dan gemas karena buku sebagus ini menjadi sangat dangkal ketika diangkat ke sebuah film. Menjadi tak lebih dari sekedar cerita selingkuh biasa  dan tak jelas pesan apa yang ingin disampaikan oleh film ini.

Saat dua jam habis dan film telah selesai diputar, saya menarik nafas lega karena bisa segera meninggalkan ruangan bioskop. Tapi jujur sempat terlintas pertanyaan dalam hati saya, apakah Dee sempat menonton filmnya sebelum film ini di-launching?, Jika ya, tidak kecewakah Dee?, karena saya sendiri yang hanya seorang penggemar bukunya pun amat sangat kecewa.

To: Indah_widya_a, trims udah bayarin nonton film ini karena sayang banget kalo harus bayar sendiri demi film seperti ini hahaha…., next time i'll treat you mate, ayo kamu mau nonton apa? ^^


Selasa, 02 Desember 2014

Kakek Tua Penjual Amplop

Hari ini memang istimewa, Alhamdulillah…

Macet parah dari rumah hingga perjalanan menuju kampus memerlukan waktu 30 menit lebih lama dari biasanya. Dan karena printer di rumah sedang cuti-sebab-habis-tinta, tiba di kampus saya masih harus berlari-lari ke UKSI untuk ngeprint tugas. Dalam hati sudah mereka-reka, apa jadinya jika setelah semua kerempongan ini saya tak boleh masuk kelas.

Tapi Alhamdulillah, siapa sangka jika dosen mata kuliah pagi ini baru tiba dari San Fransisco kemarin malam. Beliau mengaku masih jet lag dan jika biasanya sangat tepat waktu kali ini beliau memberi kelonggaran untuk menunggu semua peserta kuliah hadir semua sebelum mulai mengajar. Alhamdulillah…

Sembari menunggu, saya menemui Pak Undang, pesan nasi pepesnya yang sudah terkenal ke seluruh Sipil untuk dimakan siang nanti (berasaaa jadi mahasiswa =D). Usai kuliah 3 jam, dan berdadah-dadah dengan teman sekelas, saya langsung cabut ke Salman, ada buku yang harus dikembalikan ke Salman Reading Corner, sudah didenda pula.

Tapi saat tiba di jalan menuju kompleks Salman, saya tertegun.

Tak mungkin salah lagi, tas lusuh itu, tumpukan amplop dan kresek hitam itu…


Sesaat saya merasa terserang déjà vu.

Pak Darta, beliau adalah kakek penjual amplop yang sering saya temui berjualan di Salman semasa kuliah S1 dulu. Setiap melewati beliau saya tak bisa untuk tidak merasa iba. Bagaimana tidak, di usia yang sudah sepuh begitu, beliau masih memaksakan diri  untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berdagang amplop, komoditas yang saya yakin kurang begitu laku di zaman korespondensi sudah serba elektronik begini. Bahkan untuk saya sendiri yang gemar bersahabat pena ketika berada di sekolah menengah dahulu, amplop kini hanya  dicari jika akan pergi ke kondangan atau takziyah saja. Ditambah lagi, saya ingat betul dulu harga satu bungkus amplop Pak Darta yang berisi 10 lembar adalah seribu rupiah. Pak Darta hanya mengambil keuntungan dua ratus rupiah saja dari setiap 10 lembar amplop yang terjual. Maka bagaimanakah beliau bisa memenuhi keperluan hidupnya dengan mengandalkan hasil penjualan amplop, jika secara matematis kecil sekali laba yang  bisa beliau dapat .

Dan serasa mengulang masa S1 dulu, saat melihat beliau berjualan kaki saya secara  otomatis akan melangkah ke arah beliau. Begitu pun kali ini, saya memilih beberapa bungkus amplop yang sebenarnya tak terlalu saya butuhkan.

“Janten sabaraha Pak?”, tanya saya, dan persis seperti dulu, ada jeda beberapa lama sebelum saya harus mengulang pertanyaan yang sama karena pendengaran Pak Darta yang sudah berkurang.

“Anu tilu 1.500an Neng, janten 4.500, anu alit ieu mah sarebu, janten sadayana 5.500, tapi sawios janten 5.000 wae”, masih suara lirih yang sama, dengan tangan gemetar yang sama,  mencoba memasukkan amplop yang saya beli kedalam sebuah kantong kresek hitam.

Lima tahun sudah saya meninggalkan kampus ini, lima tahun sudah juga saya tak berjumpa dengan Pak  Darta, tapi hanya 500 rupiah saja kenaikan dari harga amplopnya, Tak sebanding dengan kenaikan harga-harga bahan pokok yang selalu mengejar laju inflasi dari tahun ke tahun. Dan masih sempat-sempatnya beliau memberi diskon, 500 rupiah yang mungkin tak seberapa untuk kita tapi untuk beliau itu adalah laba entah dari berapa lembar amplop yang harus bisa beliau jual untuk bertahan hidup.

Entah bagaimana, tiba-tiba air mata saya menggenang begitu saja. Dan akhirnya saya memutuskan tidak menolak diskon 500 rupiah yang beliau beri untuk saya. Saya ingin memberi ruang untuk kebaikan Pak Darta, dengan harapan semoga diskon 500 rupiah itu menjadi berkah untuk saya, menjadi pengingat saat hati saya tamak mengejar dunia, bahwa di luar sana masih ada orang yang menjaga kehormatannya dengan tak meminta-minta selama mampu berusaha, bahwa diluar sana masih ada orang yang masih ingin memberi bahkan dalam kekurangannya.

Saya urung memberikan uang lebih yang sudah saya siapkan untuk beliau. Untuk saya ini bukan transaksi bisnis. Rasanya tak pantas mengembalikan diskon yang sudah beliau beri untuk saya dengan sejumlah uang.

Bentuk asimetris di ransel saya mengingatkan pada nasi pepes yang dibeli tadi pagi. Dan betapa bahagianya saya saat beliau berkenan menerima nasi pepes itu. Perasaan bahagia yang membuat saya tersadar bahwa saya membutuhkan orang-orang seperti Pak Darta, untuk berbagi sedikit kebaikan, untuk menjaga agar saya tetap bisa menyebut diri sendiri sebagai manusia, untuk mengobati entah apa dalam diri yang perlahan tapi pasti mulai menumpulkan matahati.

Saat pulang dari kampus saya dapati jalanan Bandung macet lagi, tapi kali ini saya pulang ke rumah menempuh jalanan yang macet ini sambil bersyukur dan bernyanyi dalam hati.

Note:
foto yang kedua saya ambil dari mbah google, ternyata sudah banyak yang mengulas tentang beliau, bisa dicek di:









Sedekah Itu Menolak Bala...

"Sering-seringlah sedekah!".

Nasihat itu saya yakin tepat sekali diberikan pada orang slebor yang koplak dan serampangan seperti saya ini. Bukan hanya sekali saya kehilangan barang-barang dari mulai yang berharga seperti handphone dan perhiasan, sampai barang remeh temeh seperti gantungan kunci dan pin. Sebagian mungkin terjadi karena faktor musibah seperti dicopet orang, tapi sebagian besar lainnya terjadi karena saya yang kurang apik meletakkan sesuatu ditambah sifat pelupa saya yang bisa dibilang cukup akut. Maka wajarlah jika sering sekali saya dimarahi Abinya anak-anak karena keteledoran saya ini. Saking seringnya dimarahi, sekarang ini jika kehilangan sesuatu, omelan beliau adalah hal pertama yang-jauh-lebih-saya-takuti daripada perasaan kehilangan terhadap benda itu sendiri.

Bukannya saya tak pernah berusaha untuk mengatasi keteledoran saya yang satu ini, saya sudah berusaha, sungguh. Usaha saya dimulai dengan mencoba meletakkan sesuatu pada tempatnya setiap selesai digunakan. Benda pertama yang saya coba untuk manage adalah alat-alat tulis. Saking seriusnya saya sampai menyengajakan untuk membeli sebuah kotak pensil, benda standar yang entah kenapa tak pernah saya punya sepanjang sejarah saya bersekolah. Alasannya simpel, saya biasanya hanya punya satu pulpen dan satu pensil yang rasanya sudah cukup digeletakkan begitu saja di dasar tas. Tapi kini, saya punya tempat pensil, yang kemudian menggembung karena isinya yang penuh. Akhirnya saya merasa perlu juga terhadap alat-alat tulis lainnya selain pulpen dan pensil, yaitu segala stabilo, tip-ex, penghapus, hingga cutter dan kalkulator scientific. 

Saya sangat menyayangi tempat pensil yang penuh ini. Dan sesuai dengan tekad saya, setiap saya selesai menggunakan sebuah alat tulis, saya segera mengembalikan ke tempatnya lagi, tak ada alat tulis yang tercecer. Hingga setelah berbulan-bulan tempat pensil itu tetap terjaga kepenuhannya. tapi apalah daya, malang tak dapat ditolak, suatu hari entah kenapa saat tiba di rumah sepulang dari kampus, baru saya sadari bahwa tempat pensil berikut segala isinya ini telah raib. Tak berguna segala pengumuman  kehilangan yang saya tempel di kampus, dan dengan berat hati saya menyadari bahwa tempat pensil ini tak akan pernah kembali lagi ke tangan saya.

Setelah kejadian tempat pensil ini, akhirnya saya menyadari bahwa ternyata selain teledor saya juga pelupa. Pernah suatu hari saya berniat untuk mengumpulkan tugas gambar. Dari tempat ngeprint di Gelap Nyawang, saya langsung ke kantor Tata Usaha Sipil untuk menyetorkan tugas gambar saya disana. Jarak dari Gelap Nyawang ke area Sipil memang tidak terlalu jauh, tapi dengan berjalan kaki cukup lumayan menyita waktu dan tenaga untuk orang yang sedang terburu-buru. Sialnya, saat tiba di TU, baru ketahuan kalau tabung gambar saya ternyata ketinggalan di tempat ngeprint, maka kembalilah saya ke Gelap Nyawang diiringi tatapan aneh seorang teman.

Sejak itu, saya punya kebiasaan aneh, setiap akan meninggalkan suatu tempat saya akan menyapukan pandangan untuk memeriksa lagi tempat yang baru saya tinggalkan, mengecek siapa tahu ada barang yang saya tinggalkan disitu. Karena tak terhitung sudah barang yang harus saya relakan akibat tertinggal di suatu tempat dan akhirnya hilang.

Sampai pada suatu ketika, saya kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk hidup saya. Tak seperti kehilangan-kehilangan yang saya rasakan sebelumnya, kehilangan seseorang ternyata menjadi titik balik akan pemahaman saya terhadap benda. Saya tak lagi merasa terikat pada setiap benda yang saya miliki. Semuanya hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Pemilik Sesungguhnya. Termasuk uang yang ternyata hanyalah nominal, sederet angka yang hanya sekedar lewat. Pemahaman ini entah kenapa menjadikan hati saya lebih ringan untuk berbagi. 

Sering saya mendengar tentang keajaiban sedekah, bagaimana sedekah menarik rezeki dan bagaimana sedekah bisa menolak bala. Tapi mengalami sendiri ternyata berbeda jauh dari sekedar mendengar. Sering saya merinding sendiri karena merasakan semakin banyak yang saya berikan semakin banyak juga yang saya terima. Dan yang paling ajaib adalah, banyak sekali kejadian dimana saya hampir celaka dan entah kenapa saya bisa lolos dan selamat.

Pernah pada satu ketika saya mengambil uang dari ATM, saya ingat betul, satu juta rupiah uang yang saya ambil. Selesai proses penarikan, kartu ATM dan resi  saya masukkan ke tas, tapi entah linglung, entah bodoh, saya tak sadar kalau ternyata uangnya malah belum saya ambil. Keluar dari Gerai ATM saya mendapati seorang kakek tua yang berjualan daun salam dan serai. Merasa kasihan saya membeli banyak daun salam dan serai yang sebenarnya tak terlalu saya butuhkan. Usai membayar si Kakek, Ibu yang masuk ke Gerai ATM setelah saya tergopoh-gopoh keluar dengan muka yang pucat pasi,  "Neng, ini uangnya ketinggalan", ia berkata sambil menyerahkan segulung uang lima puluh ribuan dan mengusap-ngusap dadanya mungkin karena kaget sendiri menemui orang seaneh saya.

Lutut saya lemas seketika. Bersyukur sekaligus shock, karena banyak sekali kemungkinan uang itu bukan rezeki saya karena lagi-lagi, keteledoran saya. Bagaimana jika yang masuk ke ATM setelah saya tak jujur dan tak menyerahkan uangnya kepada saya, atau jika berniat menyerahkan pun saya sudah tak ada di situ karena langsung pergi dan tak berhenti dulu untuk membeli daun salam dan serai. Bagaimana jika setelah saya pengunjung ATM berikutnya baru datang entah berapa lama kemudian dan ia tak mungkin tahu siapa pemilik uang yang ketinggalan tersebut. 

Entahlah, memikirkannya saja sudah membuat saya lemas, nilai uangnya memang tak seberapa, tapi keteledoran saya yang rasanya sudah terlampau parah membuat saya sedikit terpukul. Dan dari semua probabilitas kejadian mungkin tak mungkin, sedikit kasih yang saya punya untuk si Kakek mungkin menjadi tali tipis yang menyelamatkan saya.

Kali yang lain, saya diamanahi suami untuk membawa uang dari rumah ke pasar, nilainya cukup besar kali itu, dua puluh juta rupiah yang dibungkus dengan amplop coklat. Tanpa pretensi apa-apa, uang dua puluh juta rupiah itu saya masukkan ke ransel, dan saya berangkat ke pasar dengan naik motor. Dua puluh menit saya mengendarai motor seorang Bapak di belakang saya berteriak, "Neng, tasnya kebuka!". Segera saya menepi dan lagi-lagi saya hampir terduduk lemas, retsleting ransel saya sempurna terbuka, dan si amplop-coklat-dua-puluh-juta-rupiah-itu melambai-lambai, andai disambar seseorang pun saya tak akan sadar.  

Perjalanan saya teruskan dengan mendaras istigfar dan hamdalah dalam hati. Sambil berpikir dan merenung, lagi-lagi berhitung probabilitas kejadian mungkin tak mungkin. Entah yang mana, mungkin sepiring makanan yang saya bagikan kepada tetangga, atau uang lebih yang saya berikan untuk seorang pedagang sepuh yang menyelamatkan saya kali itu.

Tapi semua kejadian itu semakin mengukuhkan keyakinan saya atas keutamaan berbagi.

Kejadian terakhir pagi tadi, membuat saya ingin berbagi cerita, sedikit hikmah dari seorang sembrono yang pelupa-tak-ketulungan. Tak seberapa sebenarnya, hanya sekilo singkong dan sedikit cabai rawit  dari kebun belakang yang saya berikan pada Ibu penjual gorengan di depan rumah. Tapi siapa sangka jika benda tak seberapa itu yang menolong saya pagi tadi. Dompet kali ini, yang penuh dengan segala macam kartu-kartu penting, SIM dan STNK, Askes, KTP, ATM dan segala macam kartu lainnya. Uang yang hilang masih bisa dicari, tapi urusan semua kartu yang hilang itu akan memerlukan waktu berbulan-bulan hingga selesai.

Saat ke klinik pagi tadi, lagi-lagi saya tak sadar jika dompet saya ketinggalan di ruang tunggu. Dalam perjalanan ke tempat parkir, saya baru sadar dompet saya hilang. Saya kembali ke ruang dokter, ternyata dompet saya tak ada disana. Panik saya kembali ke resepsionis, hati saya mencelos seketika melihat ruang tunggu yang penuh dipadati pengunjung. Dengan orang sebanyak itu, kecil sekali kemungkinan dompet saya masih ada. Setengah putus asa saya menemui resepsionis judes  yang sedang bertugas, dan ajaib dompet saya ada disitu, ternyata ada seseorang yang berbaik hati menyerahkan dompet saya untuk dititip di resepsionis.

Alangkah betulnya ungkapan, bersyukurlah untuk masalah atau cobaan yang tidak menimpamu.

Rabu, 06 Agustus 2014

Salman Reading Corner



Apa yang paling menyenangkan di lingkungan mesjid Salman ITB?.

Jika pertanyaan itu dilontarkan pada banyak aktivis Salman, saya yakin jawabannya pasti beragam, meski demikian saya harus mengakui bahwa salah satu alasan saya ingin masuk ITB dulu adalah karena saya jatuh cinta pada mesjidnya. Rasa cinta yang mungkin wajar adanya karena sejak SD saya sering diajak Ibu yang rutin mengikuti kuliah Dluha setiap minggu pagi di mesjid ini. 

Sempat terputus ketika SMP, siapa sangka jika ketika SMA cinta itu tumbuh kembali, kali ini lewat ajakan seorang teman, Mas Bambang Wibisono yang ketika itu bersama teman-teman di jurusan Filsafat UIN SGD bekerjasama dengan beberapa aktifis Salman mendirikan SKAU (Salman Komunikasi Antar Umat). 

Merasa SKAU terlalu berat untuk seorang abege dengan pemikiran sederhana seperti saya ketika itu (wadezig!!!), akhirnya saya pindah ke PRPA (Pembinaan Remaja Pra Aktifis). Kegiatan yang membuat saya harus datang ke Salman minimal satu kali seminggu ini membuat saya akhirnya terbiasa lagi dengan suasananya, dengan lantai kayu jatinya, dengan bentuknya yang aneh tanpa kubah seperti lazimnya mesjid-mesjid yang lain, dengan sensasi dingin dan teduh saat duduk bersimpuh didalamnya.

Ditambah dengan penampakan mahasiswa-mahasiswa ITB yang menurut saya ketika itu sangat keren, semakin inginlah saya kuliah di ITB. (Belakangan baru saya tahu, keren menurut saya cukup berbeda dengan keren menurut pandangan umum, belakangan kemudian saya juga baru tahu bahwa ITB selain sering diplesetkan sebagai Institut Tambal Ban, juga sering diguyonkan sebagai Institut Tanpa Bidadari, bahkan oleh mahasiswa-mahasiswanya sendiri =D).

Ketika benar-benar sudah diterima menjadi mahasiswa ITB, mudah ditebak, Salman adalah tempat pemberhentian saya dalam pengertian denotatif maupun konotatif. Saat senggang menunggu jeda sebelum jam kuliah berikutnya, saya suka sekali sekedar duduk di koridor depan toilet sambil membaca Qur'an atau membaca buku apa saja. Jika disitu sudah terlanjur penuh, barulah saya naik ke koridor atas, sambil makan cemilan yang saya beli di Istek. Dan jika lapar saya akan mengantri di barisan akhwat di Kantin Salman. Ah ya, Kantin Salman, mungkin kantin ini pun menjadi salah satu alasan menyenangkan lainnya dari mesjid ini. Dengan konsep antriannya yang memisahkan konsumen laki-laki dan perempuan, kemudian penerapan sistem prasmanan yang memungkinkan konsumen makan dalam porsi jumbo, ditambah harga makanannya yang murah meriah, wajarlah jika kantin ini selalu penuh pengunjung, meski tentu saja tak ada yang sempurna di dunia ini karena menurut seorang teman rasa semua makanannya sama  =D.



*selasar Salman yang selalu penuh.

Mesjid, Gedung Kayu, kantin, toko Istek, Taman Ganesha, lengkap sudah syarat yang membuat saya selalu ingin kembali ke tempat ini, bahkan setelah saya lulus kuliah. Dan ketika kesempatan untuk kuliah lagi di ITB itu datang, kompleks Salman adalah tempat yang pertama saya kunjungi sebelum kampus. Dan betapa senangnya saya, ketika menemukan tak banyak yang berubah dari mesjid ini, masih sama seperti dulu ketika terakhir saya menginjakkan kaki disitu. Beberapa hal memang berubah, tapi ke arah yang lebih baik, contohnya air minum gratis, serta teh manis dan kopi gratis yang kini selalu tersedia untuk jamaah. Perbaikan lainnya adalah perpustakaan Salman yang meskipun tempatnya masih di pojok Gedung Kayu lantai bawah, kini berganti nama menjadi Salman Reading Corner (SRC).


Jika jaman saya S1 dulu koleksinya hanya berupa buku-buku agama yang itupun kebanyakan adalah koleksi lama, maka kini koleksi SRC mencakup buku-buku novel dan sastra. Yang paling mengesankan adalah koleksi buku agama dan novelnya lengkap dan up to date. Begitu juga koran, majalah Tempo dan satu lagi: National Geographic!!. Membuat orang yang suka membaca tapi enggan membeli seperti saya ini berjingkrak kegirangan setiap berkunjung kesana hehehe...

Syarat menjadi anggotanya pun mudah saja, cukup menyerahkan foto copy identitas  serta uang dua puluh ribu rupiah untuk masa keanggotaan enam bulan, maka kita sudah berhak meminjam dua buah buku dengan jangka waktu peminjaman satu minggu. Denda keterlambatan lima ratus rupiah perbuku perhari. (Lebih murah dari denda Perpustakaan Pusat ITB yang menerapkan denda keterlambatan seribu rupiah perbuku perhari huhuhu...). 

Terakhir, jika boleh saya memberi rekomendasi: ayo kita menjadi anggota Salman Reading Corner =D.



*Gambar saya ambil dari http://www.pictame.com/user/salmanreadingcorner/4204508346

Kamis, 26 Juni 2014

Sinopsis X-Men Days of Future Past



Genre : Aksi, Fiksi Ilmiah, Fantasi
Sutradara : Bryan Singer
Produser : Bryan Singer, Hutch Parker, Lauren Shuler Donner
Penulis Naskah : Simon Kinberg

"Hanya karena seseorang pernah tersandung dan kehilangan arah satu kali, bukan berarti ia akan tersesat selamanya" (Charles Xavier)





Alkisah pada tahun 2023, terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan terhadap makhluk mutan oleh ratusan bahkan ribuan robot ciptaan manusia yang bernama Sentinel. Saat itu mutan dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan hidup umat manusia sehingga harus dihabisi, parahnya lagi pembantaian pun dilakukan terhadap manusia yang diprediksi secara genetis mampu melahirkan makhluk mutan.

Robot Sentinel ini tidaklah ada dengan sendirinya, ia diciptakan pada tahun 1973 oleh seorang ilmuwan bernama Bolivar Trask. Sentinel didesain untuk mengidentifikasi dan membunuh mutan. Karena alasan tersebut, sang ilmuwan dibunuh oleh Raven "Mystique" Darkholme pada hari peluncuran Sentinel di depan Presiden dan seluruh khalayak Amerika. Sayangnya, Raven salah perhitungan. Pembunuhan yang dilakukan terhadap Trask malah membuat pemerintah AS mendanai penuh program pengembangan robot Sentinel hingga tahun 2023 Sentinel dirasa telah sempurna untuk menjalankan tugasnya menghabisi semua mutan.

Dalam keadaan terdesak dan menyadari kecilnya kemungkinan untuk mengalahkan Sentinel, Profesor Charles Xavier (Profesor X) dan Erik Lensher (Magneto) menugaskan Shadowcat untuk mengirim kesadaran Wolverine ke tahun tujuh puluhan, ke masa saat Sentinel pertama diciptakan dan mencegah pembunuhan Trask yang akan dilakukan oleh Raven. Wolverine dipilih karena ia yang paling memungkinkan untuk menahan efek pengiriman kesadaran ke masa lalu secara fisik.

Tugas Wolverine ternyata tidaklah mudah, setelah sampai di masa lalu, Profesor X muda malah enggan membantu, ia dalam keadaan terpuruk karena sekolah yang didirikannya gagal dan menggunakan obat-obatan untuk menutup kekuatan yang dimilikinya, padahal Profesor X dengan kemampuan telepatisnya yang paling kuat di dunia yang mampu membuat proyeksi astral, mengendalikan pikiran, memasukkan ilusi dan memanipulasi memori, adalah sosok yang diharapkan bisa mencegah Raven membunuh Trask.

Magneto pun sama saja, saat itu ia masih berseteru dengan Profesor X akibat perbedaan pandangan. Jika Profesor X cenderung ingin membaur dan hidup rukun dengan manusia, Magneto malah ingin membinasakan manusia karena pengalaman pahitnya di masa lalu.

Setelah upaya yang susah payah, Wolverine akhirnya mampu meyakinkan Profesor X yang selalu didampingi Beast yang setia untuk membantu. Ravenlah yang keras kepala dan enggan berubah pikiran, ia tetap ingin membunuh Trask. Meskipun demikian, selalu saja Profesor X berkata :"Hanya karena seseorang pernah tersandung dan kehilangan arah satu kali, bukan berarti ia akan tersesat selamanya".

Profesor X percaya Raven yang pada dasarnya baik hati bisa berubah pikiran dan pembunuhan Trask bisa dicegah. Keyakinan ini dipegangnya terus bahkan hingga detik terakhir Raven menodongkan senjatanya pada Trask dan pelatuk senjata tinggal ditarik.

Prasangka baik Profesor X pada Raven ternyata berbuah manis. Raven menurunkan senjatanya dan berkat bantuan Wolverine dan Beast, Magneto yang saat itu sedang mengacau berhasil dikendalikan. Dengan kejadian itu pemerintah AS merubah pandangannya terhadap para mutan. Mereka tak lagi menganggap mutan sebagai ancaman dan program pengembangan Sentinel dihentikan. Tindakan pembunuhan yang tak jadi dilakukan Raven membuat peperangan mutan dan manusia di masa depan tak terjadi. Dan saat kesadaran Wolverine kembali ke masa depan, ia menemukan kondisi yang jauh berbeda dengan saat ia dikirim ke masa lalu, ia menemukan situasi damai dimana manusia dan mutan bisa hidup berdampingan.

Film ini dikomentari oleh banyak pihak lebih mengusung sisi dramatis daripada unsur laga. Meskipun demikian, saya sendiri berpendapat ini film yang sangat bagus dan layak tonton. Film ini mengajarkan bahwa satu kejadian kecil di masa sekarang bisa berpengaruh besar di masa depan, dan yang paling penting adalah bahwa seseorang bisa berubah. Tak selamanya orang jahat akan jadi iblis, dan tak selamanya juga orang baik akan jadi malaikat.

Manusia, dengan sifat kemanusiaannya selalu berada di garis tengah. Ia selalu merupakan medan pertarungan antara sisi baik dan sisi buruk, ada saat ia berada di sisi baik meskipun tak ada yang bisa menjamin sedetik kemudian ia tak akan menyeberang ke sisi buruk. Sayangnya, tak semua orang sebijak Profesor Charles X Xavier. Betapa mudahnya menjustifikasi seseorang akan jahat selamanya hanya karena satu kali kekhilafan. Padahal, siapa tahu kesempatan kedua yang diberikan kepadanya bisa membuat ia bahkan jauh lebih baik dari orang yang garis hidupnya lurus.

Betapa mudahnya menghakimi, betapa mudahnya mencap seseorang dengan atribut tertentu. Kesalahan justifikasi ini anehnya lebih mudah dilakukan oleh orang "baik", entahlah, mungkin karena sepanjang hidupnya ia tak pernah bersentuhan dengan kesalahan sehingga dengan mudahnya ia bisa menghakimi orang yang sekali berbuat khilaf dengan pandangan negatif dan tuduhan kejam. Padahal adakah jaminan ia tak akan tergelincir juga di masa depan.

Tak banyak orang seperti Profesor X, yang selalu percaya pada sisi terbaik setiap orang, yang selalu mampu memberikan kesempatan kedua (mungkin sosok seperti ini mirip dengan Prof. Dumbledore di serial Harry Potter),  tapi saya percaya orang-orang seperti inilah yang mampu mengubah dunia.

Resensi MALAM SERIBU JAHANAM

Judul buku                    : Malam Seribu Jahanam Penulis                       : Intan Paramadhita Penerbit                      : Grame...