Senin, 25 September 2017

Menghilangkan Flek Hitam di Wajah (2)



“Merawat kulit itu adalah tentang belajar bersyukur dan menghargai diri sendiri"




Entah karena kurang telaten atau bagaimana, tapi cara yang saya posting sebelumnya pada Menghilangkan Flek Hitam di Wajah ternyata tak berhasil. Flek hitam di wajah saya tak lantas berkurang atau bahkan entah karena faktor usia atau apa, flek-flek hitam itu rasanya malah menyebar dan semakin banyak. 


Saya mulai mencoba dan mempraktekkan banyak tips yang saya peroleh dari google, diantaranya:


  1. Dengan jeruk nipis, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari. Cara ini direkomendasikan banyak orang sebagai salah satu metode yang ampuh, sayangnya tak berhasil untuk saya. Yang ada kulit muka saya perih dan pada suatu malam suami saya komentar: "Berasa tidur sama es teh lemon", duh...
  2. Dengan asam jawa, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari, dibiarkan mengering dan kemudian dibasuh dengan air hangat. Well... muka saya memang terasa lebih halus, tapi flek hitamnya tetap saja tuh.
  3. Produk-produk yang diiklankan mampu menyamarkan noda hitam dan mencerahkan wajah seperti Pond’s dan Olay. Ini mungkin karena saya yang kurang telaten, tapi setelah sekian bulan pemakaian tak kunjung melihat perubahan yang berarti akhirnya rangkaian produk dari dua brand besar tersebut malah saya hibahkan.
  4. Bio Oil, produk ini sejatinya sih digunakan untuk mengobati stretch mark, tapi demi membaca salah satu kegunaan yang tertera di botolnya adalah untuk mengatasi uneven skin tone dan ageing skin lantas saya pun iseng mencobanya di muka. Sayangnya lagi-lagi karena saya yang cukup pembosan, setelah menghabiskan botol kedua, saya memutuskan untuk menghentikan penggunaan Bio Oil ini di muka saya.
Akhirnya saya kembali menghabiskan banyak waktu di depan komputer, untuk membaca berbagai review produk-produk kecantikan. Dan setelah membaca review dari banyak produk, pilihan saya kemudian jatuh pada SK II. Memang mahal sih, tapi membaca banyak review dari beauty blogger yang cocok dengan brand ini sungguh membuat ngiler. Apalagi ditambah dengan testimony produk ini awet untuk berbulan-bulan, hingga jika dikalkulasi anggaran tiap bulan menggunakan produk ini bisa sama bahkan jauh lebih murah dibanding biaya perawatan ke dokter.


Pada awalnya saya sempat tergoda untuk membeli produk SK II lewat online shop. Alasannya sederhana, harga yang ditawarkan online shop ternyata jauh lebih murah dari harga di gerai resmi. Tapi setelah  banyak membaca lagi, saya menemukan kasus-kasus dijualnya produk SKII yang palsu di luaran sana.  Karena saya belum tahu seperti apa produk SK II yang asli, maka saya memutuskan untuk pemakaian perdana saya harus beli ke gerai resmi. Simple saja, agar ketika nanti saya melanjutkan pemakaian dan membeli di situs online, saya tidak akan tertipu karena sudah punya pembanding produk yang asli. 


Produk SK II pertama yang saya beli adalah PITERA Welcome Set, produk ini terdiri dari Facial Treatment Clear Lotion 30ml, Facial Treatment Essence 75ml  dan R.N.A.Power Radical New Age 15g. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto produknya, jadi foto yang saya tampilkan disini berasal dari situs resmi SK II Indonesia.




Sebelum membeli produk ini, kulit saya dites dengan magic ring oleh beauty advisornya. Hasil yang diperoleh cukup membuat hati saya pedih (duh berlebihan ya ^^), karena berdasarkan hasil tes, noda hitam yang menjadi masalah terbesar saya setara dengan orang berusia 35 tahun, 5 tahun lebih tua dari usia saya sekarang, dan tak cukup sampai disitu, ternyata masih ada calon flek yang bersembunyi di bawah lapisan kulit. 


SK II mengeluarkan beberapa rangkaian produk untuk menghilangkan flek hitam, tetapi beauty advisornya menyarankan untuk pemakaian pertama cukup dengan PITERA Welcome Set ini saja dulu. Jika ternyata nanti ada tahap purguing,  pemakaian sebaiknya tetap dilanjutkan. Setelah tahap purguing ini terlewati barulah direkomendasikan untuk menambah rangkaian produk SK II yang lain. 

Alhamdulillah, kulit saya ternyata sama sekali tidak mengalami purguing, maka di bulan kedua saya memutuskan mencoba juga Whitening Power Spot Specialist.  Penampakannya seperti ini:






Dan hasilnya: bintik-bintik hitam saya semakin banyak, Sodara. Hadeuh... Merasa kecewa dengan hasilnya, saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi dengan beauty advisornya. Jawaban yang saya dapat cukup melegakan ternyata. Jadi kata si beauty advisornya,  tahapan awal dari cara kerja serum SK II untuk menyamarkan flek hitam ini justru dengan mengangkat semua flek hitam termasuk yang masih calon ke atas permukaan kulit. Maka wajar jika pada tahap awal flek hitam ini terlihat semakin banyak dan semakin jelas. Setelah semua flek hitam terangkat ke permukaan kulit, barulah serum akan bekerja untuk menyamarkan. Selain itu, hal yang perlu dingat adalah flek hitam tidak muncul begitu saja di wajah. Biasanya flek ini muncul sedikit-sedikit akibat kebiasaan perawatan wajah yang salah dalam jangka waktu lama. Maka tidak masuk akal jika untuk menghilangkannya bisa dilakukan dengan instant. Saya dianjurkan untuk bersabar  dan meneruskan pemakaian semua rangkaian produk SK II yang saya punya seperti biasa. 


Sampai hari ini, hampir satu tahun sudah saya mencoba berdisiplin menggunakan rangkaian produk perawatan SK II. Saya belum berani bilang flek hitam di wajah saya hilang seluruhnya, tapi kemarin saya bertemu dengan seorang teman lama. Komentar pertamanya cukup membesarkan hati: “Nu, kulit wajahnya bersih ya sekarang”.


Di luar keinginan, saya kok senang ya mendengar komentarnya. =D


Kesimpulan: SKII ini recommended banget, repurchase?, yes, mahal pun saya bela-belain deh. Bukan apa-apa, dibanding membeli make-up yang berfungsi sebagai corrector, saya memilih berinvestasi pada perawatan kulit jangka panjang saja. Hehehe…


*gambar saya copy dari https://creativepool.com/ianperkins/projects/sk-ii-face-the-wild-for-sk-ii








Senin, 18 September 2017

AKAR, yang Terbaik dari Seluruh Serial Supernova






Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi
Tunggu aku
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu


Saya sudah kadung jatuh cinta dengan Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, hingga ketika Dee meluncurkan buku selanjutnya dari serial Supernova yang berjudul Akar, saya termasuk salah satu yang ikut berebut di toko buku. Dan saya tidak kecewa, karena Akar bahkan lebih baik dari ekspektasi saya. Saya sampai berani menyimpulkan bahwa dari keseluruhan serial Supernova, Akar adalah buku yang terbaik.

Tak seperti KPBJ, sama sekali tak ada puisi di dalam buku ini selain di halaman pembuka. Tetapi pilihan  diksinya  yang menawan, dan jalan cerita yang tak biasa membuat saya merasa ikut hanyut dalam setiap lembarannya. Membuat saya jatuh cinta pada sosok Bodhi, tokoh utama pada buku ini: seorang pemuda yatim piatu berusia 24 tahun, dengan sederet anomali, diantaranya: mampu melihat makhluk gaib dan memiliki sederet tonjolan serupa tulang belakang yang tumbuh di kepala botaknya.

Cerita dibuka dengan Gio yang kehilangan Diva, dan ternyata bagian inilah yang menjadi benang merah antara seluruh serial Supernova. Adapun kisah selanjutnya yang menceritakan perjalanan hidup seorang Bodhi, tampak sama sekali tak bersinggungan dengan kisah pada KPBJ. Belakangan, setelah membaca serial-serial Supernova selanjutnya yaitu Petir, Partikel, dan Gelombang, saya menemukan bahwa setiap serial menceritakan kisah satu tokoh utama sebelum akhirnya semua cerita tokoh tersebut bertemu pada serial terakhir yang berjudul Intelegensi Embun Pagi.

Sejak bayi Bodhi memang istimewa, ditemukan di bawah pohon asam depan sebuah wihara, pohon asam itu langsung hangus tersambar petir begitu si bayi kecil diambil. Di usia 11 tahun Bodhi mampu melihat benda-benda mikron, dan mampu bertransformasi menjadi binatang yang ia tatap. Anehnya, kelebihan-kelebihan itu dianggap sebagai kutukan, hingga Guru Liong, kepala wihara sekaligus sosok pengganti ayah untuk Bodhi mengajarkannya ribuan mantra untuk mensucikan diri. Mantra-mantra itu mental, hingga pada satu titik Bodhi akhirnya memutuskan untuk keluar dari wihara, melakukan perjalanan untuk mencari apa yang dimaksud dengan "kesejatian".

Dimulailah perjalanan Bodhi backpacking keliling Asia. Dari mulai Bandung, Surabaya hingga ke Medan, lanjut ke Thailand, Laos, dan Kamboja. Dalam perjalanannya Bodhi bertemu banyak orang, dari mulai Ompung Berlin yang membantunya membuat sejumlah dokumen palsu, Trintan Sanders sesama backpacker yang kemudian diberinya tasbih Guru Liong, Kell  pria tampan yang kemudian mengajari Bodhi segala seluk beluk tentang tato, hingga Star wanita misterius yang menjadi konsumen tatonya. Dua nama terakhir belakangan memiliki peran penting dalam kisah terakhir Supernova.

Di luar cerita tentang Bodhi, saya mendapat banyak sekali informasi dari buku ini. Mulai informasi mengenai dunia per-backpacker-an hingga informasi mengenai tato dan komunitas punk. Semua itu dikemas dengan rangkaian bahasa yang "nyastra" dan enak dibaca, selipan humor yang menggelitik dan pilihan diksi yang tak biasa.

Dengan sederhana dan tak banyak tanya, bertahun-tahun Gio mencintai satu orang yang sama. Diarunginya perasaan itu tanpa lelah seperti menaklukkan jeram-jeram. Namun orang yang dicintainya hadir serupa kabut. Hubungan yang tak pernah beranjak ke mana-mana. Ada dan tiada seperti kabut malam yang tak tergenggam. Dan entah kenapa, Gio selalu memilih untuk tetap memandangi. Merapuh dengan sukarela.
Hal.5

Apa kabar, teman. Lama tidak berjumpa. Akankah kau mendekapku balik, atau mendorongku pergi?
Hal.187

Dan kepada sang Air, anasir yang memisahkan kami berdua, aku berdoa. Aku kecewa. Kau pisahkan kami. Kau buat jarak seolah kami ini dua individu berbeda.
Hal.190-191

Not terakhir tadi bergantung sepi. Tak ada yang menyambung. Mesin di tanganku berhenti berderap. Kesunyian rupanya sudah mengendap-endap naik, mencuri sahabatku dalam selendang niskala yang ujungnya tak bisa ditarik balik. Sahabatku digondol kemerduan kekal yang hadir tanpa lantun. Kemerduan yang belum saatnya kuleburi, tapi dia sudah. Sekarang, dia sudah.
Hal.194


Untuk saya Akar termasuk buku bagus yang tak bisa disimpan sebelum lembar terakhirnya selesai dibaca. Bagaimana menurutmu?




       

Rabu, 28 Desember 2016

BALADA TESIS (Untuk yang sedang Galau karena Tesis)



Alhamdulillah…akhirnya lulus sidang juga… T_T

Adalah Pak Indra Djati Sidi, dosen penguji (a.k.a dosen pembimbing) saya yang berperan penting dalam selesainya tesis ini. Tanpa beliau, saya mungkin tak akan pernah lulus dari kampus ini, tanpa beliau saya mungkin tak akan mengerjakan tesis ini dengan sepenuh hati, dan tanpa beliau tesis ini mungkin hanya akan jadi sekedar syarat sebuah kelulusan.

Tapi Pak Indra Djati-lah yang tetap memotivasi saya di saat terpuruk, dan mengajarkan pada saya banyak hal yang jauh lebih penting dari reliabilitas bangunan. Saya masih ingat, di suatu sore yang suram di gedung CIBE, entah untuk yang ke-berapa puluh kalinya dalam 3 bulan itu, saya menunggu beliau yang sedang membimbing mahasiswa lain, dan saya mendengar aliran suaranya keluar dari ruangan:

“Menjadi master itu de, bukan sekedar kamu bisa menghitung struktur gedung, tapi menjadi master itu adalah tentang bagaimana kamu bisa menaklukkan diri kamu sendiri, bagaimana kamu bisa menyelesaikan semua masalah hidup yang terintegrasi dengan masalah sekolah kamu. Ngga ada alasan pekerjaan saya, anak saya, istri saya, suami saya, ngga ada, kamu harus bisa menyelesaikan semua itu sekaligus. Dan ngga boleh ada korban, kamu jangan mengorbankan keluarga kamu untuk studi kamu, begitu juga sebaliknya. Disitu juga akan diuji ketangguhan kamu, mungkin nanti kamu akan begadang setiap malam, belajar, harus minum kopi, tapi jika kamu mampu melewati semua itu, kamu akan dapat feel: saya layak menjadi seorang master. Jangan terbiasa mencari-cari alasan untuk sebuah kesalahan, tapi belajarlah untuk bertanggung jawab dan menghadapi semua konsekuensi kesalahan kamu.”

Di luar ruangan beliau, saya tertegun, rasanya sekawanan samurai menusuk telinga saya. Beliau berkata-kata pada mahasiswa bimbingannya yang lain, tapi betapa saya merasa bahwa semua kata-kata itu ditujukan pada saya.

Dan mungkin kata-kata itulah yang menjelma cambuk bagi saya, yang memaksa saya untuk tak menyerah meski rumit sekali jalan yang harus saya tempuh bahkan untuk sekedar bisa sidang. Belajar, belajar dan belajar. Setumpuk jurnal dan buku teks, sederet rumus berikut perhitungan struktur dan probabilitas, sekian bulan hampir gila dalam pengertian konotatif dan denotatif, sampai pada satu titik saya muak bahkan sekedar melihat diagram tegangan-regangan baja atau tabel distribusi normal.

Saya ingat suatu sore menjelang Maghrib yang lain di selasar Salman, dua orang mahasiswa (entah dari jurusan apa) membicarakan mata kuliah yang sedang mereka ambil.

“Ini susah banget sih, untung aja kita ngga ngambil jurusan sipil, katanya kalau sipil itungannya lebih dari ini loh, mereka harus desain juga sampai tulangan diameternya berapa jumlahnya berapa, belum nanti ngitung kapasitasnya, kalau belum kuat ulangi lagi desainnya, uuh susah banget".

Dan di pinggir mereka saya yang duduk sedari pagi mengusel-usel hitungan kapasitas balok, kolom dan pelat dengan cara manual dan pendekatan probabilitas, tetiba merasa diserang angin duduk. Rasanya mendengar humor yang paling ironi seharian itu, rasanya ingin memeluk mereka erat-erat sambil nangis dan teriak histeris: ”IYA DEE, BENER BANGEET, SUSAAAH DE, SAMPAI SEKARANG AJA SAYA MAU GILAA”, lalu tertawa terbahak-bahak untuk kemudian menangis tersedu-sedu karena terharu: akhirnya ada yang mengerti perasaan saya.

Untungnya saya takut diciduk Ibu penjaga mukena yang sedari tadi duduk di tangga.

Saya memilih diam, mengambil hp dan berlaku seperti remaja alay: mengetik wa dan curhat pada Gilang (teman saya yang juga akan sidang) tapi ternyata curhatan saya nyasar di grup whatsapp Tukang Kaos Naek Haji (teman-teman saya ketika SMA). Halah….

Rasanya belum pernah hidup saya serumit ini. Tapi sungguh saya mencoba untuk menjadikan nasihat Pak Indra Djati sebagai pedoman. Saya berusaha keras untuk tak mengeluh, pulang ke rumah saya mencoba untuk menghilangkan dahulu semua keruwetan hati dan pikiran saya, menghadapi tingkah kelima anak saya sambil menahan marah sampai rasanya tak bisa bernafas, mengerjakan tesis sambil menyusui si bungsu yang sering terbangun tengah malam hingga akhirnya saya memilih untuk memangku dia semalaman sambil mengetik daripada mengambil resiko ikut tertidur lelap (*percayalah mengeloni seorang bayi itu mendamaikan jiwa sampai bikin ikut ngantuk juga huhuhu…). Saya berusaha tetap menyelesaikan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, beres-beres seperti biasa, tanpa khadimat dengan pikiran penuh rumus, percayalah itu tak mudah. Saya tetap membantu berjualan di pasar meski sambil membawa laptop dan segebung kertas. Saya berusaha, sungguh saya berusaha…

Pernah, sebagian hati saya menyesali, kenapa mengambil tema tesis yang terlalu teknis yang sama artinya dengan terlalu rumit, tapi sebagian hati saya yang lain berkata, tema tesis ini memang benar-benar saya inginkan, teringat lagi semangat dan tekad di awal kuliah dulu, bahwa sekaliii saja setidaknya saya membuat karya yang benar-benar saya sukai dan benar-benar menjadi karya yang serius, bukan sekedar syarat kelulusan saja.

Maka saya juga berusaha tak mengeluh, ketika satu hari menjelang sidang masih ada revisi untuk mencari beban rata-rata terhadap beban ultimate :”Jangan pakai penelitian Galambos, pakai saja judgement pribadi kamu, sense of engineering kamu, mikir kamu sedikit”.

Oke.

Padahal merubah hubungan beban rata-rata terhadap beban ultimate sama dengan merubah lagi variabel awal yang sama artinya dengan: saya harus mengulangi lagi seluruh rangkaian perhitungan, dari awal.

Dan berlangsunglah drama itu. Sidang jam setengah lima, draft saya baru selesai jam setengah tiga, setengah jam kemudian berakrobat membuat presentasi, lalu ngeprint dan lain-lain. Tepat waktu, mepet sekali.

Sidang dimulai.

"Tesis kamu menarik, karena ada tiga hal disini: pengujian material, perhitungan struktur dan probabilitas".

Kalimat pembuka dari Pak Ivan cukup membesarkan hati. Tapi pertanyaan selanjutnya alamaaak.... bolehkah saya jadi cacing dan mencari lubang?.

Satu hal penting yang menyelamatkan saya di ruang sidang adalah pertanyaan Pak Indra Djati: “Kenapa kamu pilih metoda indeks keandalan?, kenapa tidak indeks kondisi atau capacity strength saja?.”

Ini pertanyaan jebakan, esensi dari seluruh isi tesis saya, Alhamdulillah, Allah tak lantas membuat kebas seluruh otak saya: “Karena baik kapasitas maupun beban yang menimpa struktur Pak, diyakini bersifat acak atau random, akibatnya ada ketidakpastian disitu dan karena itu sebaiknya didekati dengan konsep probabilitas”.

Pak Indra Djati mengangguk puas, satu detik saya merasa lega, hanya satu detik, karena detik berikutnya ketahuan saya salah menentukan turunan kedua dari f’c sehingga varians yang saya dapat bernilai negative, daaan revisi lagi.

Begitulah,entah bagaimana akhirnya saya dapat keluar dari ruang sidang,samar2 saya ingat Pak Indra Djati, Pak Dhemi dan Pak Ivan berkata: "Selamat ya kamu lulus".

Sidang saya selesai jam 18.00 WIB. Dan hujan mengguyur kampus ITB sesorean ini. Sendirian saya duduk di selasar sipil, tak ada hal yg lebih saya inginkan selama satu tahun terakhir ini selain lulus sidang. Tapi setelah benar2 lulus, saya malah gemetar. Antara lega dan sedih, antara bahagia tapi juga pilu. Sendirian saya menatap lagi selasar sipil yang lengang dan sepi. Dengan pedih mengakui bahwa saya mencintai kampus ini, kampus yang telah membuat saya patah hati dan jatuh bangun berkali-kali.

Saya bersyukur, memilih tema reliabilitas bangunan,saya bersyukur dipertemukan dgn Pak Indra Djati,saya bersyukur Allah mempercayai saya utk mengandung dan melahirkan Angit dan Asy saat kuliah S2 ini,saya bersyukur Allah memberi saya suami yg telah menempa saya utk menjadi tangguh dan mendidik Air,Bumi dan Badai menjadi anak2 yg juga kuat, saya bersyukur memiliki sahabat sebaik Indah, saya bersyukur dipertemukan dengan Bobby, Gilang,Ainna,Dani dan teman2 lainnya yg selalu mendukung dan mendoakan. Saya bersyukur utk semua kesulitan yg saya tempuh karena itu membuat saya mencoba memaknai lagi hidup yang tengah saya jalani.

Tetiba saja kata2 Pak Indra Djati dahulu terdengar lagi di kepala saya: "Jika kamu mampu melalui semua ini,kamu boleh berkata saya layak menjadi master".

Di tengah hujan saya tersedu lagi, sendirian.

*Seandainya seluruh dosen seperti Bapak.







Kamis, 18 Februari 2016

MENGHILANGKAN FLEK HITAM DI WAJAH

“Jangan percaya pada perempuan yang tak bisa mengurus bahkan kulitnya sendiri” 
–Njai Ontosoroh, Tetralogi Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer-


Filosofi ini mungkin tak sepenuhnya benar, tapi menurut saya ungkapan yang diucapkan Nyai Ontosoroh ini juga tak sepenuhnya salah. Maka jadilah saya pun ikut percaya, seorang perempuan, bagaimanapun sibuknya tetap harus bisa menjaga kulitnya.  
Selain itu sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa salah satu bentuk syukur kepada sang Pencipta adalah dengan menjaga dan merawat apa yang sudah dianugerahkan kepada kita. Apalagi sebagai perempuan yang merasa sama sekali tak cantik, setidaknya saya ingin punya kulit yang jika tak bisa dibilang bagus, cukuplah terlihat terawat, tidak berlebihan bukan? T_T
Jangan salah arti dulu, bukan berarti saya menganjurkan untuk berdandan habis-habisan, karena jujur saya sendiri sama sekali tak bisa berdandan. Saya dibesarkan di tengah keluarga yang tak pernah mempedulikan masalah penampilan. Maka tak heran jika saya tumbuh menjadi perempuan yang sangatlah canggung dalam urusan berdandan. Ditambah dengan teman-teman saya yang kebanyakan laki-laki, semakin jauhlah kata berdandan dari kamus keseharian saya.
Saya tak punya bahkan sekedar bedak, apalagi segala macam blush on warna warni, atau segala jenis lipstick, foundation, mascara, atau apa itu peralatan kosmetik dengan beragam namanya.  Saya sama sekali tak pernah ke salon.  Facial, peeling atau apalah itu segala jenis perawatan di salon adalah istilah yang sama sekali asing untuk saya. Perawatan yang saya tahu dan cukup rajin saya lakukan hanyalah maskeran dengan bahan-bahan alami, dengan madu, putih telur, asam jawa atau buah lemon. Sejauh ini saya cukup puas dengan hasilnya. Karena target saya hanyalah menjaga agar kulit wajah saya tidak kusam. Tapi begitulah, setelah kelahiran anak saya yang kelima, saya mulai malas-malasan merawat wajah. Melihat kaca saja tidak pernah, apalagi maskeran dan lain-lain.
Maka betapa paniknya saya, setelah sekian lama tak pernah bercermin (saya serius saat bilang tak pernah melihat cermin), saya melihat flek-flek hitam yang mulai membayang di pipi saya. Saya mulai sedikit menyesali kecuekan saya yang belakangan ini sama sekali tak pernah ambil pusing dengan urusan muka.
Mulailah saya rajin mencari-cari obat kulit yang tepat untuk masalah wajah saya. Saya mulai menanyai orang-orang di sekitar saya, mulai dari si teteh pengasuh anak saya yang kebetulan memiliki wajah yang kinclong sampai ibu-ibu sepuh tetangga saya yang sering bertemu di pengajian. Si teteh pengasuh merekomendasikan cream wajah bermerk Temulawak, sebuah brand dari Malaysia yang katanya ampuh sekali mengatasi semua masalah kulit wajah. Tertarik dengan promosinya, saya pun ikut-ikutan membeli. Harganya murah saja, hanya 75.000 rupiah untuk satu paket perawatan yang terdiri dari krim malam, krim siang dan sabun muka. Tapi saya agak ragu saat melihat tekstur si krim yang lengket dan menurut hidung saya berbau tidak enak. Curiga mengandung mercury, maka setelah hanya sempat dipakai satu kali, krim-krim tersebut akhirnya saya hibahkan pada si teteh.  
Kemudian, saya bertanya lagi pada teman SMA saya dulu, sayangnya, teman saya ini malah menyarankan untuk membeli serangkaian produk dari sebuah MLM ternama yang membuat dahi saya mengernyit saat mendengar harganya.
Saran yang akhirnya saya ikuti sepenuh hati datang  dari Ibu Sepuh tetangga saya di kompleks. Usia beliau sudah mendekati kepala 7, tetapi kuilt wajahnya bersih dan halus. Untuk ukuran seorang yang sudah sepuh saya bisa menilai kulit wajah Ibu ini termasuk juara, maka mulailah saya mendekati si Ibu, mengeluarkan segenap kemampuan saya untuk mendekati beliau.  Dan tadaaaa….si Ibu bersedia membagi rahasia kulit wajahnya yang bersih dan mulus bahkan hingga usia sesepuh itu: bedak dingin Saripohatji.
Untuk yang belum tahu, beginilah penampakan Saripohatji ini:

Kemasannya sederhana, konon katanya memang beginilah kemasannya dari sejak pertama kali diproduksi,, belum pernah sekalipun dirubah atau diperbaharui. Instruksi penggunaan bedak yang ada di dalam kemasan pun, tak kalah jadulnya. Masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan berikut tata kalimat yang membuat  dahi mengernyit sebelum memahami artinya. Harganya pun murah saja, hanya dua ribu rupiah perbungkus.
Saya menggunakan bedak ini dua kali sehari setiap akan mandi. Untuk melindungi kulit muka saat siang, saya barengi juga dengan menggunakan POND’S Flawless White, sementara untuk perawatan malam hari saya menggunakan La Tulipe,  Hyperpigmented Spot Lightening, Aaaaa… tak terbiasa dengan perawatan kosmetik, tetiba saja saya merasa menjadi korban iklan =(
Perubahannya memang tak kelihatan sekaligus. Tapi setelah dua minggu kulit wajah  saya tak kusam lagi. Apakah flek hitam saya bisa sepenuhnya hilang?. Semoga saja, nanti saya review lagi =D.

Jumat, 12 Februari 2016

PEREMPUAN-PEREMPUAN TANGGUH


Seandainya semangat untuk menjalani hidup ini digambarkan sebagai sebuah grafik sinusoidal yang memiliki puncak dan lembah, maka saat menulis ini, saya berada pada titik terendah dari si lembah. Dan semangat hidup yang rendah, sangatlah beririsan dengan kondisi putus asa.
Ya akhirnya saya harus mengakui saya putus asa, saya jenuh, saya bosan dengan semua rutinitas dan beban hidup yang rasanya tak pernah habis. Belakangan saya tau, kondisi ini menurut kamus bahasa kekinian disebut sebagai kurang piknik =P. oke, saya memang kurang piknik. Dan bukan hanya itu, akhirnya badan saya pun ambruk, saya sakit. Demam tinggi yang menyebabkan tulang-tulang terasa ngilu, dan tak cukup sampai disitu, setelah demamnya hilang, sekujur badan saya ditumbuhi bentol-bentol besar yang gatalnya minta ampun. Ditambah pusing di kepala yang tak hilang-hilang, rasanya lengkap sudah penderitaan saya.
Alhamdulillah…saya punya sepasukan bocah yang sudah bisa diandalkan untuk sekedar  cuci piring, beres-beres rumah dan masak nasi ketika saya sakit. Urusan lauknya biarlah jadi ladang rezeki warung sate sebelah rumah sampai saya sembuh nanti. Dan selama sakit, saya mencoba untuk beristirahat total, sama sekali tak memikirkan pekerjaan rumah atau pekerjaan di toko atau bahkan tesis saya.
“Umi istirahat saja, mudah-mudahan cepat sembuh”, kata anak saya yang paling besar. Maka saya sepenuhnya mengandalkan mereka untuk semua urusan rumah. Dan betapa kecewanya saya, saat kondisi tubuh saya mulai mendingan, saya mendapati pakaian kotor yang harus dicuci sampai empat ember besar, remah-remah yang tak tersapu dan menumpuk di balik meja, juga berkeresek-keresek sampah yang rupanya sudah berhari-hari tak dibuang.
Sambil menghela nafas, mau tak mau saya pasrah jika hari pertama kesembuhan saya harus dirayakan dengan kerja rodi di rumah. Tapi apalah daya, baru juga menyentuh detergent telepon rumah berdering dan kedengaranlah suara si Abi: “Mi, tolong ke toko, ada pesanan banyak”.
Lagi-lagi saya menghela nafas, bukan apa-apa, pekerjaan di toko jauuuh lebih melelahkan dari pekerjaan di rumah. Tapi telepon yang ditutup buru-buru, malah menegaskan bahwa memang di toko, si Abi sangat perlu bantuan, jadi saya pun harus berangkat.
Sepanjang perjalanan hati saya gerimis. Merunut satu demi satu status saya saat ini: istri sekaligus asisten pribadi seorang dosen, sekaligus ibu dari tiga anak prabaligh dan dua bayi, sekaligus ibu rumah tangga tanpa khadimat, sekaligus pedagang ayam kampung, sekaligus mahasiswa pascasarjana sebuah institut teknologi di kota Bandung. Job desc saya rasanya terlalu panjang untuk di-list satu-satu. Dua puluh empat jam sehari rasanya masih kurang banyak. Begitu banyak pekerjaan yang tak tersentuh, bahkan tesis pun masih terbengkalai, maka jangan protes jika pekarangan di belakang rumah saya akhirnya menjelma hutan dalam pengertian konotatif maupun denotatif. (Toloong, apa menurutmu saya sanggup membersihkan rumput dari tanah seluas hampir sembilan ratus meter sendirian? T_T).
Apa lagi?, apa lagi yang dicari?, selalu begitu ungkapan tetangga-tetangga. Entah, kadang saya pun tak bisa menjawab, tak bisa mendeskripsikan alasan yang membuat Abinya anak-anak mengambil kebijakan-kebijakan yang membuat kami harus menjalani hidup seperti ini: jam kerja yang nyaris tak manusiawi, dan sama sekali tak ada libur kecuali Lebaran. Dan pada satu titik, saya merasa jadi wanita yang paling malang di dunia. Ya, saya bertransformasi begitu cepat, dari wanita yang menerima hidup sebagai adanya menjadi wanita paling malang dan menderita.
Tapi Allah seolah menjawab duka dan pertanyaan-pertanyaan gugatan saya, lewat si Mbak yang kebetulan juga datang ke toko saat saya sedang mengurus ayam-ayam pesanan. Sebut saja Mbak Sum namanya, seorang wanita Jawa berusia 33 tahun. Ia datang membeli bebek siang itu.
“Satu ekor saja Mbak”, pesannya.
“Saya baru jualan pecel lelenya”, tambahnya lagi.
Sembari menunggu bebek pesanannya selesai, mengalirlah cerita di antara kami berdua. Mbak Sum ternyata ibu dari dua orang anak. Suaminya satpam di sebuah gereja, dan untuk menambah penghasilan, Mbak Sum berjualan pecel lele. Kamu tau kan pecel lele?, itu loh warung-warung tenda di pinggir jalan dengan roda dan spanduk besar bertuliskan PECEL LELE =D. Menu yang disajikan biasanya selain lele, ayam dan bebek goreng juga soto ayam dan soto babat. Waktu buka biasanya dari pukul lima sore sampai tengah malam.
Saya masih ber-ooh ooh datar ketika Mbak Sum cerita ia jualan pecel. Telinga saya mulai meruncing tertarik ketika Mbak Sum menambahkan ia berjualan sendirian sepanjang sore sampai malam itu. Dan kepo-lah saya:
“Yang pasang tenda sama dorong gerobak siapa Mbak?,
“Saya sendiri”
“Yang masak??”
“Saya sendiri juga”
“Yang belanja ke pasar???”
“Saya sendiri Mbak, semuanya saya sendiri, paling nanti anak saya bantuin cuci piring”.
Dan sukseslah saya melongo sampai hampir lupa menutup mulut.
“Masya Allah… kalau pekerjaan rumah ada rewang mungkin ya Mbak?”.
“Ngga ada Mbak, pekerjaan rumah juga saya kerjain sendiri, tadi malem aja saya nyuci sampai jam 1 pagi, terus di rumah saya buka usaha air isi ulang, kalau ada yang pesan minta diantar ya saya anterin juga”.
Kaget saya tadi ternyata belum seberapa.
“Bisa Mbak?”, tanya saya bego. Sekilas meneliti ukuran tubuhnya yang sama sekali tak terlihat seperti Xena The Warrior Princess, cenderung mungil malah, tingginya hampir sama dengan saya yang juga bisa dibilang beke.
“Ya Alhamdulillah bisa-bisa aja Mbak”, jawabnya datar.
Maka semakin meningkatlah kadar kekepoan saya: “Mbak tidur berapa jam sehari?, ngatur waktunya gimana?, ngga capek ya?, Mbak makan apa biar strong begitu?, dst, dst”.
Semua jawaban Mbak Sum sukses semakin membuat saya ternganga. Makanannya ternyata biasa saja. Ia tak pernah minum doping penambah hormon yang membuatnya lantas bertransformasi jadi wonder woman, meski tidurnya hanya 2-3 jam sehari. Kuat?, ya buktinya sampai hari ini masih hidup, dan bahagia.
Sejenak saya ternganga lagi, seperti ditampar kuat-kuat. Jika dibanding Mbak Sum, aku mah apa atuh?, tapi mengapa si aku ini mengeluhnya panjang sekali. Padahal saya masih bisa tidur hingga 7jam sehari, padahal saya masih bisa internetan saat menunggu pembeli datang, padahal saya… padahal saya….
Ah ya, lagi-lagi disini saya temui betapa semua kata sifat sebenarnya relatif. Menderita-tidak menderita; melelahkan-tidak melelahkan bukankah semua tergantung sudut pandang masing-masing. Demi anak, dua kalimat sederhana itu yang kemudian akhirnya saya tahu kunci dari ketangguhan fisik dan kerja keras Mbak Sum. Saya yakin Mbak Sum juga pernah lelah, bagaimanapun juga ia hanya manusia biasa, tapi motivasi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya membuat ia menafikan lelah dan menyuntikkan kekuatan yang tak terduga.
“Satu-satunya hal yang membuat saya sedih itu Mbak, waktu anak saya bilang gini: ‘Mama, ayo pulang, Eneng belum bikin PR’, saya sampai nangis Mbak, waktu saya memang habis untuk jualan sampai-sampai saya ngga punya waktu untuk nemenin anak saya bikin PR”, matanya berkabut saat mengatakan ini pada saya. Dan semakin gerimislah hati saya. Ibu mana yang tak ingin terus menerus menemani buah hatinya, tapi saat kondisi menuntut lain?. Adakah ruang untuk menyalahkan?. Mbak Sum telah membuat pikiran saya penuh sesiangan itu, antara takjub dan malu, antara kagum dan kelu. Merasa belum jadi siapa-siapa, merasa belum cukup keras berjuang.
Sorenya saya membeli buah salak untuk anak-anak di rumah. Si ibu penjual salak ini kebetulan berjualan di emperan toko milik Uwa saya, maka mengobrolah kami berdua. “Ibu mah de, berangkat dari rumah Ibu di Sumedang jam 2 malem, sampai disini jam 3, terus beres-beres dagangan, jualan di pasar subuh sampai jam 8, langsung pindah kesini jualan lagi sampai sore”.
“Masya Allah Bu, kuatan pisan”, pikiran saya mulai tak enak, sejenak merasa lagi-lagi saya sedang bertemu dengan wonder woman kedua dalam sehari ini.
Dan ya, si ibu penjual salak ini pun memang jagoan juga. Jam terbang jualannya hampir 15 jam sehari, sampai di rumah ia masih harus mengerjakan sederet tetek bengek pekerjaan rumah, juga belanja barang untuk dijual esok harinya. Karena hanya berjualan di kaki lima, maka barang yang tak habis dijual harus dibawa pulang lagi. Begitu terus setiap hari.
Perempuan-perempuan tangguh.
Hari ini saya merasa begitu beruntung dipertemukan Allah dengan mereka. Secara tidak langsung, mereka telah memberi saya pelajaran, untuk bersyukur, untuk tak lagi mengeluh, untuk terus menerus memberi cinta tanpa pamrih bagi si buah hati, untuk terus berjuang demi generasi yang lebih baik, untuk memahami bahwa di atas langit masih ada langit. Tak ada ruang untuk merasa terpuruk, separah apaun kondisi kita saat ini pasti ada yang jauh lebih parah. Seperti halnya tak ada ruang untuk sombong, sehebat apapun kita merasa diri kita saat ini, pasti ada yang jauh lebih hebat.
Sepenggal kalimat Mbak Sum tiba-tiba saja terasa bergaung di telinga saya: “Ah, saya mah belum seberapa Mbak, saya yakin di luar sana masih banyak Ibu-ibu yang lain yang jauh lebih bekerja keras daripada saya”.
Hujan di hati saya tak lagi gerimis, tapi kini semakin deras.
Wahai Allah, berilah kekuatan untuk semua ibu di seluruh dunia.



*gambar saya copy dari: http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo/wanita-tangguh_550dcd06813311ae77b1e76f

Selasa, 01 Desember 2015

APA YANG SEBAIKNYA DIBAWA SAAT MENENGOK IBU MELAHIRKAN?


“ Teman-teman mohon sarannya, apa yang sebaiknya dibawa saat menengok ibu melahirkan, kalau bisa sesuatu yang bermanfaat dan ngga akan digarselin :P “
Postingan salah satu teman di grup yang saya ikuti beberapa hari yang lalu ini entah kenapa cukup mengusik untuk saya. Mengusik, karena kalimat di akhirnya itu loh: tidak akan digarselin (keterangan: garsel=garage sale).
Jadi, grup yang saya ikuti ini, selain menjadi ajang untuk silaturahim antar alumni kampus juga membuka forum untuk anggota grup yang akan menjual barang-barang prelovednya, maka menjadi wajar jika barang-barang bekas kado yang didapat setelah melahirkan termasuk item yang cukup sering ditawarkan (dengan harga miring tentunya).
Kebetulan sekali, saya baru saja melahirkan dan Alhamdulillah juga mendapat banyak kado. Dari gendongan, tas bayi, baju-baju newborn sampai peralatan makan. Dan jujur saja, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pemberi kado, hampir sebagian besar dari kado-kado tersebut akhirnya hanya saya simpan. Bukan apa-apa, saya hanya merasa terlalu sayang jika kado-kado tersebut dibuka dan digunakan, sementara peralatan dede bayi sendiri sudah bisa dibilang cukup lengkap. Maka jadilah kado-kado tersebut hanya bertengger manis di lemari.
Apa yang saya alami, saya yakin demikianlah juga yang dialami oleh para ibu yang kemudian menggarsel kado-kado tersebut. Kebanyakan ibu-ibu sudah mempersiapkan segala sesuatu keperluan bayi mereka sebelum melahirkan. Maka memberikan lagi perlengkapan bayi mungkin sepertinya hanya akan berujung pada “disimpan di lemari dan (untuk kasus teman-teman di grup saya) akhirnya digarsel”. Sebagian berpendapat kurang etis menggarsel kado, sebagian lagi berpendapat itu sepenuhnya hak penerima kado. Tapi terlepas dari kontraversi pendapat diatas, postingan teman yang meminta saran apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan agar tak digarsel cukup menarik untuk dibahas.
Jadi, apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan?. =P
Mungkin hanya para ibu saja yang mengerti, pasca melahirkan seorang ibu akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Sebagian ibu bahkan sampai mengalami baby blues yang cukup akut. Maka menurut hemat saya, akan lebih baik jika kado yang diberikan adalah untuk si ibu alih-alih untuk si bayi. Misal makanan yang bisa jadi booster ASI, atau bisa juga voucher untuk spa atau perawatan diri di salon. Atau benda-benda yang memang sekiranya akan dibutuhkan oleh si ibu. Misal jika si ibu adalah ibu bekerja, tentu ia akan butuh pompa ASI, segambreng botol, dan tas khusus ASI untuk persiapan nanti jika bekerja kembali. Jika si ibu adalah ibu rumah tangga, saya yakin ia akan senang sekali jika mendapat aneka lulur atau rangkaian produk perawatan tubuh. Intinya berikanlah perhatian pada ibunya, bukan hanya pada bayinya. Jangan lupa, meski dari luar terlihat baik-baik saja, kondisi ibu pasca melahirkan itu tidak bisa dibilang sehat.
Jika misalnya tetap berkeras untuk memberikan kado buat si bayi pun, pilihlah sesuatu yang pasti akan digunakan, misal baju dan celana ukuran beberapa bulan lebih besar, karena baju-baju newborn pastilah sudah dipersiapkan si ibu. Bisa juga sepatu prewalker atau barang-barang yang akan digunakan dede bayi setelah agak besar.
Nah, itu kado untuk ibu melahirkan versi saya. Silakan jika mau menambahkan =D.

Minggu, 29 November 2015

TENTANG SEBUAH PERJALANAN


Perjalanan…

Selalu saja jadi bahan cerita yang menarik. Entah itu tentang kejadian yang terjadi selama perjalanan, kawan seperjalanan, atau sekedar mencari-cari bahan kritik untuk Menteri Perhubungan seputar moda transportasi yang digunakan selama perjalanan.

Dan menarik untuk diamati, perjalanan yang dilakukan dengan moda transportasi yang nyaman, cepat (dan berkonotasi mahal) memberikan cerita yang jauh lebih sedikit dari perjalanan yang dilakukan dengan moda yang murah.

Teman-teman yang menggunakan mobil pribadi, saya rasa lebih miskin cerita dari teman-teman yang naik angkot atau bus DAMRI. Seperti halnya Awan Diga yang menulis banyak Cerita-cerita Kereta selama ia naik kereta kaleng, tapi kemudian tak lagi berceloteh panjang lebar saat menggunakan moda lain yang jauh lebih baik.

Manusia, selamanya tentang manusia. Bukan tentang kesenangan dan kebahagiaan hidupnya. Tapi lebih kepada derita dan perjuangannya. Dan bagi sebagian orang, untuk melakukan perjalanan pun sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Tak percaya?.

Cobalah untuk kawan yang kebetulan berada pada posisi saya (tinggal di Bandung tapi bekerja di Jakarta) untuk mengunjungi stasiun kereta Kiara Condong pukul 23.35 malam. Menurut jadwal, tepat pada jam itu kereta ekonomi menuju Jakarta akan transit di Stasiun Kiara Condong. Jangan heran jika kereta yang dimaksud baru tiba 2 jam kemudian, jangan heran juga jika setelah menunggu selama berjam-jam, kawan tak bisa naik karena kereta sudah penuh sesak dalam pengertian denotatif. Tapi jika kawan memaksa, masuk sajalah, tak usah bingung berpegangan dimana, karena guncangan kereta sehebat apapun tak akan sanggup membuat kawan terjatuh. Kawan akan ditahan oleh tubuh-tubuh yang berjajar rapat di sekelilingmu. Dan kawan harus bertahan dalam kondisi itu selama 4 jam hingga tak berhingga untuk sampai di stasiun Kota.

Dan herannya adaaaaa…. saja yang sanggup menahan kondisi itu dengan tetap memilih naik kereta penuh sesak itu...

Saya, jujur saja tidak. Alih-alih kereta ekonomi, saya lebih memilih naik bus AC ekonomi dari Cileunyi untuk menuju Jakarta. Memang cukup membosankan, mengingat kebanyakan penumpang (jika saya nilai dari pakaian dan bahasa tubuhnya), termasuk golongan menengah, tipikal pencari nafkah di ibukota, yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, hingga tak punya cukup energi untuk melakukan hal-hal yang aneh.

Tapi kesan yang saya berikan untuk moda ini kemudian hancur berantakan oleh seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya. Sebut saja wanita ini bernama Y, saat pertama mendengar suaranya yang sedang berceloteh di belakang saya, saya menilai ia seorang peramah, ciri khas orang Priangan yang tak segan membuka percakapan dengan teman seperjalanannya. Setengah jam kemudian, dari logat dan topik yang ia pilih untuk dibicarakan, saya menilai ia seorang yang berpendidikan rendah. Mungkin ia bahkan tak tamat SMP. Dan satu jam kemudian, saya menilai ia mengalami gangguan jiwa.
 
Ia bernyanyi-nyanyi cukup keras dengan suara yang tak bernada, menirukan lagu-lagu dangdut terbaru yang ia dengar lewat earphone. Sayangnya ia tak sadar kalau dirinya buta nada. Suara cemprengnya yang meliuk datar dan hanya kenal keras dan pelan saja terasa begitu mengganggu di telinga saya, tapi ia tak peduli dan terus bernyanyi. Nyanyiannya baru berhenti ketika pria di pinggirnya mengajaknya ngobrol. Dan mengalirlah cerita itu.

Tentang ia yang ternyata orang Garut, yang ternyata janda dua kali dengan dua anak dari dua lelaki yang berbeda. Suami pertama meninggal karena kecelakaan, dan suami kedua kabur dengan wanita lain. Kedua anak menjadi tanggungannya, sedang ia sendiri tak punya ijazah cukup untuk melamar kerja. Akhirnya ia menjadi pegawai di sebuah tempat billyard di Jakarta. Dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia harus membayar sewa kamar, biaya makan selama di Jakarta sekaligus juga mengirimkan biaya untuk anaknya di kampung. Tujuh ratus ribu adalah jumlah yang absurd untuk mencukupi semua kebutuhan, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjual tubuhnya untuk mencari tambahan.

“Saya tak melakukannya tiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun dengan orang-orang tertentu saja”, katanya, mungkin diucapkannya untuk mencari pembenaran. Sambil sedikit mengeluh andai ada orang yang mau memperistrinya.

“Saya sengaja pulang karena ingin bertemu anak-anak saya, sudah hampir satu bulan saya belum menengok mereka. Kebetulan tadi siang saya menemani bos saya minum dan karaoke-an, saya dapat tips lima ratus ribu, cukup untuk ongkos pulang pergi dan bekal untuk kedua anak saya sekedarnya”.
Mendengar penuturannya, saya meralat penilaian saya, ia tak sakit jiwa, hanya sedikit mabuk tampaknya. Dan bukankah orang mabuk selalu bicara jujur.

Satu jam kemudian, saya tiba di tempat tujuan saya. Saat berdiri untuk mengambil barang bawaan di atas kursi, sedikit iseng saya melirik ke arahnya. Dan tampaklah ia menggelosor di kursinya, kini tertidur begitu pulas, rambutnya yang dicat merah menjuntai ke arah wajahnya yang tirus. Tak bisa dibilang cantik, tapi kaos ketat yang menonjolkan bagian dadanya mungkin bisa menutupi kekurangan wajahnya.

Alih-alih benci pada wanita ini yang mengaku terus terang dirinya adalah pelacur , saya merasa iba sekali. Mungkin ia pelacur, mungkin ia pendosa di mata alim ulama, tapi di mata saya ia hanyalah seorang ibu. Yang tak tahu lagi harus dengan cara apa menafkahi anak-anaknya. Maka dikorbankannya dirinya, perasaannya, demi beberapa lembar uang yang meski bukan segalanya, tapi dengan uanglah anak-anaknya bisa melanjutkan hidup.

Ia berkisah dengan nada yang datar, tak tersirat kegetiran sedikit pun. Tapi siapa yang tahu jika jiwanya hancur lebur. Tak ada wanita yang bercita-cita jadi pelacur. Meski pekerjaan ini sama tuanya dengan peradaban manusia. Ia contoh yang baik dari ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh sekaligus bukan buruh.

Saat turun dari bis, satu perasaan sesak menghimpit hati saya. Tak berhak saya menghujat, apalagi menghina ia yang banyak dihujat sebagai seorang pendosa. Bukankah Allah sendiri yang berjanji, bahwa Ia tak akan membiarkan hamba-Nya yang menghina dosa saudaranya, mati sebelum diuji dengan dosa yang serupa. 

Saya tak menghina, tapi separuh hati saya bersyukur: Tuhan tak menempatkan saya dalam kondisi yang mendorong wanita itu menjadi seperti itu.

Lihatlah, bukankah jiwa ini begitu ringkih?.

PERTANYAAN TAK BERUJUNG


Seorang teman uring-uringan pada saya sepulang menghadiri acara keluarga yang rutin diadakan setahun sekali. Apa pasal?, sudah bertahun-tahun ini ia selalu datang sendirian dan menjadi sasaran empuk pertanyaan sadis berupa samurai berwujud kata-kata: “Kapan menikah?”.
Awal-awal mendapat pertanyaan begitu, ia masih bisa tersenyum geli dan berkelit dengan alasan masih ingin mengejar karir, tapi tahun demi tahun, saat usianya merambat naik tanpa disadari, saat satu persatu teman-teman seangkatan meninggalkannya menuju gerbang bernama pernikahan, saat ia menjadi satu-satunya orang yang datang sendirian dalam setiap acara yg selayaknya dihadiri bersama pasangan, ia pun perlahan kehilangan kata-kata untuk berdalih.
Dan acara keluarga menjadi prioritas terakhir dalam jadwalnya bahkan kalau memungkinkan tak perlulah untuk datang, yah untuk apa, ungkapnya padaku, jika setiap acara selesai, ia selalu merasa depresi dan ingin bunuh diri. Ia bahagia dengan kesendiriannya, enjoy dan santai saja, tapi jika ditanya langsung seperti itu ditambah dengan tatapan menuduh dan segudang saran untuk tidak terlalu pilih-pilih atau blablabla lainnya, mau tak mau kepikiran juga. Dan pertanyaan sederhana yang hampir berupa basa basi ringan itu justru menimbulkan tsunami di benak si tertanya, menimbulkan sederet tanda tanya lain yang mau tak mau memporakporandakan kepercayaan dirinya, “iya ya, kenapa aku belum menemukan pasangan jiwaku, apa aku akan selamanya hidup kesepian, apa aku tak layak dicintai, apa aku, bla bla bla….”.
Begitulah, pertanyaan berupa dua kalimat sederhana itu ternyata lebih dari cukup untuk membuatnya tak bisa tidur nanti malam, menghantuinya dengan bayang-bayang mengerikan tentang orang yang menikmati masa tuanya tanpa keluarga yang benar-benar dibangun dengan tali pernikahan.
Dan akulah yang menjadi tempat penampungan terakhir keluh kesahnya.
Oke…aku sudah menikah, aku belum pernah merasakan bagaimana menjengkelkannya ditodong dengan pertanyaan seperti itu, karena aku menikah di usia sangat muda. Tak banyak kata-kata yang bisa kuucapkan sebagai penawar kegalauannya. Tapi jika masih boleh berargumen, ingin sekali aku bilang : “Apakah setelah menikah lantas semuanya beres begitu saja”. Orang yang rajin menanyakan pertanyaan itu pun belum tentu lebih bahagia hidupnya dari yang ditanya, siapa tahu ternyata ia menikahi seorang psikopat atau diselingkuhi pasangan hidupnya atau apalah sederet masalah rumah tangga lainnya. Lantas kenapa pertanyaan itu seolah menjadi salah satu pendorong bagi banyak orang untuk terburu-buru menikah, hingga akhirnya malah menyesali pilihan yang memang diambil karena mengejar tenggat usia –ideal-untuk-menikah?. Kenapa demi menghindari sebutan bujang lapuk, perawan tua atau tak laku-laku, lantas harus mempertaruhkan kebahagiaan seumur hidup dengan menikahi siapa saja.
Padahal saya yakin pertanyaan itu tak lantas akan berhenti, karena setelah menikah pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya, “Kapan punya momongan?”, setelah lahir anak pertama akan muncul lagi pertanyaan :”kapan punya anak kedua?”, lalu jika si anak sudah tumbuh dewasa ada lagi pertanyaan: “kapan punya mantu?”, “Kapan punya cucu?”, meski saya yakin tak akan ada orang yang bertanya “Kapan mati?”.
Entahlah, pertanyaan-pertanyaan annoying ini kebanyakan hanya berupa basa basi dalam lingkup pergaulan kita, sebagian lebih karena tak ada lagi topik yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Tapi betapa pertanyaan-pertanyaan sambil lalu ini ternyata bisa menjadi media bullying mental yang sangat ampuh, meskipun jika diambil sisi positifnya kita jadi tahu bahwa menikah, punya anak, punya cucu, adalah standar kesuksesan dalam hidup bagi banyak orang. Bukankah agak jarang juga kita ditanya :”Kapan naik gaji, kapan beli mobil baru, atau bahkan kapan ganti istri :-P”.
Perkara terganggu atau tidak terganggu bukan ditentukan oleh pertanyaan tersebut, tapi bagaimana pikiran kita me-manage hal itu dan tetap optimis bahwa jalan yang diberikan oleh Tuhan saat ini (sendirian atau berpasangan) adalah yang terbaik untuk kita.
Sebuah bantal melayang ke kepalaku, “Gampang bilang gitu kalau ngga ngerasain sendiri”, tuntutmu padaku.
Dan aku hanya bisa mengangkat bahu, “Kalau kamu ditanya lagi ‘Kapan menikah?’ seperti itu senyumlah dan jawab saja, ‘Masih belum dipercaya untuk dapat yang terbaik, mohon do’anya saja’ :-D”

Resensi MALAM SERIBU JAHANAM

Judul buku                    : Malam Seribu Jahanam Penulis                       : Intan Paramadhita Penerbit                      : Grame...