Minggu, 28 Juni 2015

Punya Anak Banyak, Salah Siapa?




Punya banyak anak di zaman sekarang ini adalah sebuah anakronisme a.k. menentang kelaziman a.k. siap-siap untuk dicemooh. Tak seperti ungkapan pada zaman dahulu:”Banyak anak, banyak rezeki”, pada masa sekarang pameo tersebut sudah tak lagi berlaku.
Tak sedikit komentar miring yang hinggap di telinga saya, saat tahu saya tengah hamil anak kelima. Dari mulai pernyataan standar seperti : “Emang ngga KB?”, atau “Lho, hamil lagi?, repot banget dong”, sampai yang ekstrim seperti:”Kamu kaya kucing ya, beranak terus”  atau “YA AMPUUUN,,,HAMIL LAGI???, kamu NGGA KASIAN ya sama kakak2nya, mereka kan masih BUTUH PERHATIAN”.
Atau bahkan kalimat-kalimat datar yang mungkin dimaksudkan untuk memberi perhatian, tapi sayangnya entah kenapa, terasa menyakitkan di telinga saya:
“Hamil anak kelima?, waah…kamu kaya ya, berani punya anak banyak, saya aja punya anak dua rasanya khawatir terus”, (ini kata salah satu profesor saya di kampus).
“Punya anak itu lebih baik dua aja tapi berkualitas dan jadi orang semua, daripada banyak-banyak tapi ngga keurus, biaya sekolah makin kesini makin mahal lo de…”, (kalau ini kata Uwa saya ).
Dan begitu banyak komentar lain yang jujur saja, terlalu menyakitkan untuk saya lupakan begitu saja. Seolah-olah punya banyak anak adalah dosa besar dan aib untuk sebuah keluarga. Perhatian tetangga pun rasanya jadi lebih intens, anak-anak terlihat kotor sepulang bermain layang-layang pun bisa langsung memancing komentar bagaimana mereka kurang terurus. Begitu pun juga perhatian dari saudara, satu saja anak terlihat lebih kurus, akan  langsung memancing nasihat bagaimana cara menyuapi anak dengan benar.
Ya, nasihat-nasihat yang mungkin bermaksud baik, tapi sayangnya karena  hati saya yang terlalu sensitif jadi malah terasa tak enak untuk didengar. Sama seperti kasus kemandulan, kasus terlalu subur pun jadi salah pihak wanita. Bagaimana saya kurang canggih menggunakan alat kontrasepsi, bagaimana saya terlalu lalai hingga akhirnya hamil lagi dan hamil lagi. Ah ya, di titik-titik terburuk, saya akan mengakui bahwa itu memang kesalahan saya, kenapa saya tak berani mengeluarkan uang banyak untuk membayar dokter kandungan terbaik agar saya tak perlu terus-terusan hamil.
Si pemberi komentar mungkin hanya mengatakan nasihat-nasihat itu sambil lalu, tapi efeknya untuk saya yang dikomentari ternyata luar biasa, kalimat-kalimat itu akan mengendap terus di kepala saya, hingga saya pun mulai menyalahkan diri sendiri, “iya, kenapa saya harus terus-terusan hamil, padahal saya belum mampu jadi orang tua ideal, benarkah anak-anak saya tak terurus, ah mungkin benar, saya hampir tak punya waktu untuk mengecek buku PR mereka setiap malam.”
Kalimat-kalimat itu begitu mengganggu, padahal kondisi tubuh saya yang sedang berbadan dua pun tak bisa untuk dikatakan benar-benar sehat. Repot?, memang repot, saya sendiri mengakui hal itu. Kuliah S2 saya belum lagi selesai, ditambah beban suami yang harus mengurus juga bisnis keluarga, (disamping pekerjaan beliau sebagai dosen), membuat saya mau tak mau harus mengambil alih semua tugas kuliah  doktoral beliau.
Bayangkan saya harus mengerjakan tesis, penelitian ilmiah dan disertasi sekaligus, berikut mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa khadimat. Kadang, saya juga masih harus terlibat membantu bisnis suami. Ada saat saya bertanya, kenapa Allah menitipkan saya amanat berupa anak terus menerus, padahal saya sendiri merasa  belum mampu. Ada saat-saat dimana saya menangis sendirian, saat cucian menumpuk, si sulung minta dibuatkan kostum seni,  anak kedua mencari pensil warna, yang ketiga berteriak-teriak mencari kaus kaki, dan yang keempat  kehausan meminta ASI, sementara tugas kuliah dikejar deadline. Ada saat-saat dimana saya merasa saya adalah seburuk-buruk orangtua, yang membiarkan diri sendiri hamil lagi dan hamil lagi, padahal yang sudah jelas ada di dunia pun belum sepenuhnya terpenuhi haknya.
Saat seperti ini betapa mudahnya untuk merasa terpuruk, saat anak pertama tak jadi juara kelas, saya akan berandai-andai jika saja saya punya anak satu atau dua saja, mungkin saya akan punya lebih banyak waktu untuk menemaninya belajar. Saat anak kedua lebih suka bermain game daripada bermain keluar, saya akan berandai-andai jika saja saya punya banyak waktu untuk menemaninya bermain aktifitas fisik, dan begitulah… banyak sekali kasus dimana saya menyalahkan diri sendiri dan berpikir keadaan akan lebih baik ketika saya punya sedikit anak.
Saat seperti inilah yang membuat saya melupakan karunia Allah yang lain. Saya lupa bagaimana Allah mengaruniai saya rahim yang kuat, hingga saat hamil, berkali-kali saya jatuh dari tangga, atau dari motor hingga sekujur tubuh saya babak belur sekalipun, janin dalam rahim saya sama sekali tak terganggu, sehat tak kurang suatu apapun. Padahal banyak teman saya yang mencuci sedikit lebih banyak dari biasanya saja sudah bisa membuat keguguran.
Saya juga lupa betapa Allah selalu memberi saya kemudahan setiap melahirkan, semua persalinan saya normal dengan waktu hanya dua jam dari kontraksi pertama ke waktu lahir, dan kesehatan yang selalu Allah berikan hingga dua hari pasca melahirkan pun saya langsung bisa beraktifitas seperti biasa. Padahal banyak yang saya kenal, dua hari di rumah sakit dari kontraksi pertama, barulah bayinya lahir, harus operasi pula. Jadilah si ibu  bed rest berminggu-minggu.
Saya lupa betapa semua anak saya sempurna secara fisik dan mental, padahal ada beberapa teman yang saya kenal diberi ujian anak yang kekurangan salah satu anggota tubuh atau pun kekurangan secara mental.
Dan yang paling krusial adalah, saya lupa betapa Allah memberi saya kemudahan untuk hamil lagi dan hamil lagi padahal tak sedikit pasangan yang berobat hingga menghabiskan uang ratusan juta dengan penantian hingga berbelas tahun hanya untuk kehadiran seorang bayi mungil di rumah mereka.
Betapa mudahnya untuk mengingkari nikmat Allah.
Sampai saya menemukan tulisan ini. Ya bukankah anak itu adalah hak Allah, maka terserah Allah-lah akan menitipkan amanat-Nya kepada siapa. Ada yang diberi kemudahan punya anak, ada juga yang diberi ujian untuk menunggu lama, tapi tak sedikit yang bahkan tak diberi sama sekali. Tapi bukankah semua adalah ketetapan-Nya, dan bukankah Ia tak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Maka saat semua upaya untuk mengatur jarak kelahiran tak berhasil, saya yakin ada hikmah yang lebih besar di balik itu. Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. dan saya yakin Allah tahu sejauh mana kapabilitas hamba-Nya menanggung beban.
Ia tahu saya bukan orang tua ideal, maka mungkin karena itulah Ia menitipkan lagi dan lagi amanat-Nya pada saya, untuk memicu saya agar terus belajar, agar saya menggenapkan kesabaran dan berproses menuju orang tua ideal. Maka yang perlu saya lakukan hanyalah memohon agar Ia memberi saya kekuatan dan membimbing saya dalam proses menjaga amanat yang dititipkan-Nya.
Jika dianalogikan, mungkin saya ini seperti anak SD yang harus mengikuti ujian siswa SMP padahal sang pemberi ujian tahu saya mampu menyelesaikan soal siswa SMP, maka yang harus dilakukan bukanlah bagaimana agar saya bisa melewatkan ujian SMP dan kembali ke ujian SD, tapi bagaimana memampukan diri sendiri menyelesaikan ujian SMP.
Ya Allah berat sekali tanggung jawab yang Engkau titipkan, maka mampukanlah hamba... 


*edisi mengingatkan diri sendiri.







Rabu, 01 April 2015

MUNGKINKAH MASUK S1 ITB TANPA BIMBEL?

Dulu, ketika saya masih remaja, saya sama sekali tidak berpikir bahwa kehidupanlah tempat belajar sesungguhnya, yang menguji siswanya setiap saat dan mereka harus lulus menempuh ujian ini.
-Old Shatterhand, dalam Winnetou Ketua Suku Apache, Karl May-

Bulan April, saya yakin menjadi permulaan dari bulan-bulan yang menyesakkan untuk adik-adik kita yang kini duduk di kelas terakhir Sekolah Menengas Atas. Ada ujian sekolah yang harus dihadapi, dilanjutkan dengan Ujian Nasional (UN), dan terakhir SPMB: pertarungan sebenarnya untuk masuk perguruan tinggi negeri favorit, yang saya yakin tak jauh-jauh dari ITB, UI, UGM, Unpad (*karena saya anak ITB, mohon diampuni jika ITB saya simpan di urutan pertama, haseeek…).
Tuntutan untuk lulus UN dengan nilai maksimal dan ambisi untuk masuk PTN favorit demi gengsi dan harga diri, telah menciptakan bisnis yang ternyata sangat menguntungkan, yaitu lembaga-lembaga bimbingan belajar yang menawarkan solusi-solusi praktis untuk mengisi soal ujian berikut garansi uang kembali jika tak lulus.
Memang canggih solusi-solusi praktis yang diajarkan bimbel ini, siswa diajari rumus cepat untuk menyelesaikan jenis soal tertentu. Lengkap dengan buku pintar yang berisi soal-soal tahun kemarin, setiap siswa dibekali strategi tercanggih untuk menghadapi UN ataupun SPMB. Bayaran yang diminta pun tak kalah canggih. Saya sempat tercengang saat menerima brosur dari salah satu bimbel tersebut yang dikirim ke rumah. Biaya untuk satu paket bimbingan dengan durasi tiga bulan lebih mahal dari biaya SPP kuliah saya selama satu tahun. Dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala, saat adik saya memaksa ingin ikut bimbel dengan harga fantastis tersebut. Alasannya sederhana: semua temannya di kelas tiga ikut bimbel dan dia tak yakin bisa lulus ujian masuk ITB atau PTN favorit lainnya jika tak ikut bimbel.
Dan semakin tercengang pula saya saat pernyataan saya bahwa sangat mungkin sekali masuk ITB tanpa bimbel dianggap absurd dan mengada-ada. Padahal saya yang mengalami sendiri, tak pernah ikut bimbel, dan hanya satu kali ikut ujian SPMB tapi bisa langsung lulus masuk ITB. Sebagai tambahan saya hanyalah lulusan SMK Analis Kimia. Meskipun saya juara umum di Analis, tapi saya dididik untuk lebih mahir menentukan kadar air dalam suatu jenis makanan daripada menyelesaikan suatu soal termodinamika yang saya yakin sangat dikuasai oleh para siswa SMA. Tanpa maksud mendiskreditkan kurikulum, tapi bukankah mata pelajaran SMK  lebih beorientasi praktek daripada teori, sementara sebaliknya mata pelajaran di SMA lebih menekankan penguasaan konsep daripada praktek.
Dan SPMB adalah melulu soal teori, bukannya praktek. Jika saya bisa, maka apa yang harus dikhawatirkan adik saya yang bersekolah di SMA untuk tak lulus SPMB. Dilihat dari latar belakang pendidikan dasar pun dia sudah lebih satu poin dari saya.
Tapi ya itu, dengan keukeuh dia malah berargumen dia tak sepintar kakaknya, ditambah dengan sederet alasan mengenai jaman yang sudah berubah dan lain sebagainya. Akhirnya saya hanya bisa mengangkat bahu, terserah… Toh saya sudah coba menasihati, meski memang sudut pandang saya hanya melihat dari segi ekonomis saja. Sayang saja, jika uang dua puluh juta rupiah yang seyogyanya bisa untuk biaya di tahun pertama kuliah malah digunakan untuk bimbel tiga bulan.
Sebenarnya dulu pun alasan saya tak ikut bimbel, bukan semata karena alasan ekonomis, tapi lebih kepada upaya pembuktian terhadap diri sendiri. Termotivasi oleh sebuah buku berjudul Sekolah Itu Candu, karangan Roem Topatimasung, yang pada salah satu bagiannya menyatakan keraguannya pada sistem pembelajaran di sekolah pada zaman sekarang. Apakah pada masa sekarang ini pembelajaran dari sekolah formal belum cukup baik sehingga orang tua siswa bahkan masih perlu membayar mahal agar anaknya mengikuti segala macam bimbel. Kenapa pendidikan dikomersilkan sedemikian rupa padahal pada awal sejarahnya dulu, kata sekolah (bahasa Inggris: school), berasal dari bahasa Latin scholae  yang secara harfiah diartikan sebagai perintang waktu. Diceritakn oleh buku itu bahwa para pemuda Yunani dahulu biasa mengunjungi para filosof untuk belajar filsafat sebagai kegiatan perintang waktu. Perlahan-lahan kegiatan pengisi waktu tersebut menjadi sebuah lembaga resmi dan lambat laun sekarang malah menjadi sebuah bisnis.
Tersentuh oleh kalimat-kalimat pada buku tersebut, saya memasang target untuk diri saya sendiri, bahwa saya harus bisa masuk ITB tanpa ikut bimbel. Memang bukan mudah jalan yang saya tempuh kemudian. Seperti sebelumnya sudah saya ceritakan, saya bersekolah di SMK, landasan teori saya bisa dibilang minim, maka saya membuka-buka lagi semua buku mata pelajaran yang di SPMB-kan. Beruntung sekolah saya dahulu dekat dengan Perpustakaan Daerah sehingga saya tak kekurangan stok buku pelajaran.
Tak perlu saya ceritakan malam-malam panjang yang saya lalui dengan berusaha keras demi menguasai bahkan hanya sebuah rumus sederhana. Tak terhitung hari-hari muram dimana saya merasa jadi orang bodoh karena tak mengerti bagaimana cara memecahkan soal tertentu yang oleh bimbel bisa dengan satu-dua langkah tapi kenapa saya memerlukan jalan yang memutar dan berbelit-belit.
Lelah memang, ditambah dengan cemoohan dari teman-teman bahkan guru saya sendiri. Kenapa masuk SMK jika ingin kuliah, jangan pasang target tinggi-tinggi, ITB terlalu berat, cukuplah ambil D3 Unpad saja, dan sederet blablabla lainnya.
Semakin banyak cemoohan yang saya peroleh semakin kuat juga tekad saya. Semakin berkurang waktu tidur saya, semakin menumpuk buku yang harus saya baca. Ditambah dengan ujian sekolah, uji kompetensi dan ujian lain yang seakan tak ada habisnya, rasanya waktu berjalan begitu cepat karena tetiba saja saya sudah harus mendaftar SPMB dan menentukan pilihan hendak mengambil jurusan apa dan dimana.
Di detik-detik terakhir saya justru ingin mundur. Tak yakin dengan usaha keras yang telah saya tempuh bahkan dari dua tahun sebelumnya. Hampir saja saya tak membeli formulir karena tiba-tiba saja gelombang keraguan menyerang saya, bisakah saya?, adakah hasilnya semua kerja keras saya?.
Beruntung seorang teman menyadarkan saya, untuk tak mundur sebelum bertarung, untuk tetap mencoba dan berupaya yang terbaik entah akan seperti apa hasilnya. Dan majulah saya, dengan nekatnya menentukan dua pilihan jurusan. Keduanya ITB.
Saat tiba hari H, saya ingat bahkan gedung tempat ujiannya saja saya tak tahu. Hanya bermodal berangkat dua jam lebih pagi dan sedikit petunjuk arah yang saya dapat dari sopir angkot. Hati saya menciut ketika ngobrol dengan peserta ujian yang lain, ada yang diantar orang tuanya untuk survey lokasi  bahkan jauh-jauh hari sebelum hari ujian.
Jika sesama peserta ujian bertanya pilihan apa yang saya ambil, saya menjawab Unpad, semata karena saya ngeper, karena pernah saya jujur menjawab kedua pilihan saya adalah ITB, teman berbincang saya langsung berkomentar panjang tentang petunjuk memilih jurusan dari bimbel yang dia ikuti. Tolong, jangan buat hati saya ciut lagi.
Seusai ujian, peserta yang lain masih sempat membahas soal yang baru saja keluar berikut komentar tentang bagaimana soal tadi pernah keluar di SPMB tahun sekian sesuai dengan buku sakti dari bimbel apalah. Semakin tersungkurlah saya.
Di penghujung harapan saya akhirnya saya hanya bisa melakukan satu hal terakhir: berserah diri pada apapun ketetapan yang terbaik menurut Tuhan. Saya sudah berikhtiar semaksimal yang saya bisa, saya sudah berdoa semampu saya, maka yang saya punya sekarang hanya tinggal keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Berbekal keyakinan itu saya lebih tenang menghadapi hari pengumuman. Ditambah dengan kabar baik bahwa saya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan farmasi di wilayah Bandung Barat. Tak lulus SPMB pun tak apalah, berarti bukan nasib saya menjadi mahasiswa regular, maka mengambil kuliah nanti setelah bekerja pun tak apalah.
Dan ketika hari pengumuman tiba, upaya saya ternyata tak sia-sia, saya lulus diterima di ITB. Maka kembali pada pertanyaan awal, jika saya ditanya: “Mungkinkah masuk S1 ITB tanpa bimbel?”, jawaban saya tetap: “Mungkin, sangat mungkin”. Jangan berkecil hati jika tak punya uang untuk ikut bimbel. Pada akhirnya setiap upaya yang berawal dari kesungguhan hati akan selalu berbuah manis. Dan ketika sudah berupaya maksimal, serahkan semuanya pada ketetapan Allah, karena Ia tak akan salah menggariskan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Selasa, 24 Februari 2015

SELALU ADA KESEMPATAN KEDUA

Beberapa waktu yang lalu, media sempat ramai dengan pemberitaan tentang Aceng Fikri, bupati Garut yang menikahi wanita di bawah umur, dan menceraikan wanita tersebut dengan cara yang kurang santun. Jika pemberitaan tersebut benar, maka meminjam kosakata anak gaul, Pak Aceng ini bisa saya sebut sebagai: “bad boy”. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu lagi dengan pria asal Garut yang lain, sebut saja namanya X, tak disangka X ini pun ternyata tipikal pria bad boy juga. Saya mulai curiga, kenapa pria Garut yang saya ketahui semuanya bad boy. Secara kebetulan, sepupu saya baru saja patah hati karena calon suaminya yang juga orang Garut, ternyata baru ketahuan, lagi-lagi adalah seorang bad boy.
Saya pun mulai membangun deduksi dari fakta:
Aceng Fikri , orang Garut, bad boy.
X, orang Garut, bad boy.
Calon suami sepupu saya, orang Garut, bad boy.
Sahkah jika dari serangkaian fakta di atas, saya lantas mengambil kesimpulan bahwa semua pria Garut adalah bad boy?. Jika sepupu saya menemui lagi seorang pria Garut, bolehkah jika ia langsung menghakimi pria itu pun juga adalah seorang bad boy?.
Jika saya menjawab ya, maka saya jatuh pada kesalahan berpikir yang oleh Jalaluddin Rahmat disebut sebagai the dramatic of fallacy instance, kesalahan generalisir. Hanya karena tiga orang pria Garut yang saya temui semuanya bad boy, saya langsung memberikan cap bahwa semua pria Garut adalah bad boy.
Padahal bagaimana dengan sekian juta populasi pria Garut yang lain?. Hanya karena tiga sampel yang saya temui secara acak buruk, apakah lantas sekian juta sisanya pun jadi ikut buruk?.
Dalam ilmu statistik kita kenal yang namanya probabilitas atau peluang suatu kejadian. Probabilitas ini akan sangat dipengaruhi oleh keakuratan pengambilan sampel yang dilakukan. Tidaklah valid memutuskan sebuah kejadian akan seperti apa hanya berdasarkan sedikit sampel dari sekian banyak yang tersedia dalam ruang sampel, seperti halnya akan jauh dari kebenaran memutuskan kepribadian seseorang  seperti apa hanya berlandaskan sedikit contoh individu dari sekian banyak populasi. 
Selain keakuratan dalam pengambilan sampel, probabilitas ini pun akan sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Variabel inilah yang memungkinkan adanya simpangan dalam setiap perhitungan statistik. Simpangan, atau standar deviasi, atau anomali yang akan mengesahkan adanya ketidaksesuaian dari perhitungan yang paling akurat sekalipun.
Maka saya tidak sepakat ketika ada seorang yang bertaruh bahwa penjahat ketiga akan mengulangi kejahatan serupa, hanya karena dua penjahat terdahulu mengulangi kejahatannya setelah sekali dimaafkan.
Saya percaya selalu ada kesempatan kedua, dan siapa tahu ada variabel yang membuat si penjahat ketiga justru bisa lebih saleh dari sang hakim sendiri. Siapa tahu.

Senin, 16 Februari 2015

TAK ADA INSINYUR SIPIL DI SURGA

“Suatu hari, penduduk neraka meminta rekonsiliasi dengan penduduk surga.  Hal ini disebabkan penduduk neraka sudah tak tahan terus menerus menjalani siksaan. Bukan berarti mereka tak menerima ketetapan Tuhan untuk menjalani hukuman atas dosa-dosa mereka selama di dunia, tapi ada saat-saat dimana mereka ingin berhenti dan beristirahat sejenak dari hukuman.

Memanfaatkan hubungan kekerabatan dan karena kebaikan hati penduduk surga, akhirnya disepakatilah untuk membuat sebuah jembatan yang menghubungkan surga dengan neraka.  Teknisnya, masing-masing pihak bersepakat untuk membangun jembatan yang nantinya akan bertemu di titik tengah, di perbatasan antara surga dan neraka.

Singkat cerita dimulailah pembangunan jembatan tersebut. Selang beberapa waktu, penduduk neraka sudah selesai membangun jembatan bagian mereka, tapi lama ditunggu entah kenapa jembatan bagian penduduk surga tak juga selesai.  Akhirnya penduduk neraka menghubungi lagi penduduk surga untuk meminta konfirmasi. Jawaban yang didapat sungguh di luar dugaan, penduduk surga tak bisa membangun jembatan karena tak ada orang teknik sipil di surga. Semua orang teknik sipil ternyata tempatnya di neraka.”

Mendengar anekdot yang disampaikan salah satu dosen saat kuliah ini, saya hanya bisa mesem-mesem sendiri.  Bingung sebenarnya harus memberikan komentar atau bereaksi seperti apa. Tapi jika saya bisa tarik kesimpulan, anekdot ini lahir bukan tanpa latar belakang. Ada beragam premis sebelum akhirnya lahir kesimpulan yang berujung pada satu guyonan.  Panjangnya mata rantai dalam sebuah proyek konstruksi yang memungkinkan timbulnya peluang untuk berbuat curang mungkin adalah salah satu diantaranya. Atau bisa jadi faktor keamanan yang sangat lentur dalam penentuan spesifikasi teknis bangunan konstruksi memungkinkan adanya modifikasi-modifikasi yang berujung pada mark-up biaya. Atau sifat unik dari setiap proyek yang menyebabkan tindakan pengawasan tak bisa diseragamkan. Atau bisa juga…. Yah, daftar dugaan yang akan semakin panjang jika ditulis satu persatu.
Tapi jika berbicara tentang peluang untuk berbuat curang, saya yakin tak hanya dalam proyek konstruksi saja kemungkinan itu tersedia. Yang dekat dalam kehidupan sehari-hari saja, misal dalam perdagangan sembako atau sayur mayur sekalipun, saya yakin, juga memiliki celah untuk sebuah kecurangan, entah itu dengan mengurangi timbangan atau menukar barang yang sudah disepakati. Semua untuk laba yang lebih besar. Lalu kenapa hanya insinyur sipil yang masuk neraka?.
Lama saya renungkan pertanyaan ini. Membuat saya iseng membaca ulang sejarah konstruksi di dunia. Tercatat dalam sejarah, Hammurabi menerapkan hukuman mati untuk kegagalan bangunan yang menyebabkan kematian. Sementara itu dalam catatan yang lain, runtuhnya sebuah jembatan yang terjadi di awal-awal masa layannya menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Dan tak terhitung kalkulus berdarah yang timbul karena runtuhnya sebuah gedung.
Bukan rahasia jika suatu proyek konstruksi melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar, tapi setiap kegagalan bangunan ternyata tak hanya menyebabkan kerugian secara materil. Ada kerugian lain yang lebih besar: hilangnya sebuah nyawa yang bisa jadi mata rantai untuk munculnya dampak-dampak negatif  lainnya. Kematian seorang tulang punggung keluarga akan menyusahkan kehidupan satu keluarga, sementara kematian seorang anak akan jadi trauma berkepanjangan untuk orang tuanya. Bukan tentang kematian itu sendiri, tapi tentang bagaimana dampaknya terhadap orang-orang sekitar yang ditinggalkan si mati.
Dan akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: kecurangan seorang insinyur sipil dalam suatu proyek konstruksi yang menyebabkan kegagalan bangunan akan berdampak fatal terhadap banyak orang. Mungkin karena itulah, tanggung jawab yang diemban sedemikian besar sehingga hukuman yang dijatuhkan untuk kesalahan yang terjadi pun sangatlah berat. Kecurangan yang dilakukan seorang pedagang eceran mungkin merugikan, tapi masih dalam skala kecil, dalam hal ini hanya individu yang membeli saja yang menderita kerugian. Sementara itu, kecurangan yang dilakukan seorang insinyur sipil dalam sebuah proyek konstruksi akan berdampak lebih buruk karena melibatkan banyak pihak. Belum terhitung jika muncul korban jiwa yang tak sedikit.
Dan saat menulis ini, lama saya renungkan lagi, apakah saya ini kekurangan pekerjaan, kenapa sebuah anekdot saja bisa membuat saya berpikir lama dan menulis ocehan yang begitu panjang lebar.
Tiba-tiba saya teringat pada tesis yang bahkan belum juga saya sentuh. Seketika saya terkena serangan panik. Bagaimana bisa, tinjauan pustaka analisis keandalan bangunan malah jadi ocehan tentang anekdot yang beredar di lingkungan insinyur sipil.
*aaaaaaaa………..(nangis bombay T__T)
ingin wisudaaaaaa……


Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...