Kamis, 11 Desember 2025

MENSYUKURI LUPA









lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi: karena sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu.


Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan dan hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan*

Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba saja melupakan sesuatu yang penting?, lupa akan janji temu yang sudah dibuat, lupa password rekening bank atau akun sosmed, lupa materi yang baru dipelajari, yang paling sering terjadi adalah lupa menyimpan suatu barang. Dan saya jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang atau benda penting semata karena saya lupa kalau membawa barang tersebut dan ketinggalan. Pernah, saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar yang berisi tugas besar saya ketinggalan di tempat ngeprint. Pernah juga saya kehilangan satu tempat pensil penuh berisi segala alat tulis, alat gambar dan kalkulator gara-gara ketinggalan di studio. Ketinggalan jam tangan bahkan handphone lalu hilang, oh pernah juga.

Keseringan lupa ini terkadang sangat mengganggu. Sering saya berharap, Tuhan memberi saya ingatan yang tajam dan tak gampang lupa, terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Karena sejauh yang saya pahami, mereka yang pintar dan cerdas itu memiliki ingatan yang sangat baik. Dalam beberapa novel detektif yang saya baca, para detektif yang menjadi tokoh utama ceritanya, dianugerahi Tuhan ingatan jangka panjang yang sangat detail, bahkan ada beberapa yang punya ingatan fotografis.

Namun seiring berjalannya usia, saya mulai menemukan bahwa kemampuan untuk melupakan justru adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena dengan lupa, kita bisa hidup dengan lebih damai dan tenang. Tanpa "lupa", betapa tersiksanya mereka yang harus berkompromi dengan ingatan yang traumatis.  Tanpa lupa, bayangkan, bagaimana konflik internal yang terjadi di dalam hati kita sendiri, yang membuat kita terus menerus dihantui oleh ingatan menyakitkan. 

Sigmund Freud bahkan menyatakan bahwa lupa sebetulnya adalah salah satu bentuk penting pertahanan diri manusia. Melalui mekanisme represi, manusia menekan ingatan menyakitkan sehingga hanya ada di alam bawah sadar, dan ini penting untuk melindungi pikiran sadar dari penderitaan emosional. 

Jadi alih-alih mengutuk atau mengeluhkan lupa, bukankah seharusnya kita mensyukurinya sebagai anugerah lain dari Sang Pencipta.

*Dan kemudian aku pun bersyukur, karena itu berarti aku juga bisa melupakan kamu.



*dari web, tercantum Sumadi Suryabrata, 2006: 47, tapi saya tidak menemukan buku ataupun rujukannya yang sah.


Berpisah Jalan

Ketika semesta sudah merestui sebuah perpisahan, percayalah bahwa kalian tidak akan bertemu lagi di kebetulan manapun. Bahkan meskipun kalian tinggal di kota yang sama atau bahkan jika kalian bekerja di satu instansi dalam gedung yang sama. Percayalah. 

 

Selalu akan ada momen, entah itu terlambat 5 menit, atau masuk melalui pintu yang berbeda, atau semua cara unik semesta lainnya yang tidak membiarkan kalian bertemu. Meskipun kita tahu, ada rindu yang belum usai, ada doa yang diam-diam dilangitkan untuk bisa bertemu, sebentar saja. 

 

Tapi semesta bukan tempat untuk menggoda luka. Ia akan menutup semua pintu, memisahkan kalian dalam ruang dan waktu yang selalu tak pernah beririsan, hingga pelan-pelan kalian menyadari, bahwa ini memang perpisahan yang mutlak.

 

Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan perasaan. Maka masing-masing dari kalian, akan saling merindukan dalam diam. Mencoba melanjutkan hidup sambil menghapus jejak-jejak kenangan yang aku yakin bertebaran dimana-mana. Di sinar matahari pagi, di tangga MRT, di selasar rumah sakit, di semua tempat yang pernah kalian lalui bersama. Tak ada yang berubah dari matahari, tak ada yg berubah dari semua tempat itu, yang berubah hanya persepsi kalian. Karena kehilangan, entah bagaimana, justru menyadarkan bahwa ternyata ada ruang kosong yang tak bisa begitu saja diisi orang lain. 

 

Lalu untuk berdamai dengan sakit yang rasanya terus menerus menghantui, kalian akan memilih cara seperti apa?.

 

Kalau aku, biasanya aku akan melarikan diri pada buku-buku, pada hitungan-hitungan rumit, pada pekerjaan. Dan jujur, sebagai hadiahnya aku berhak mengenakan jas almamater dengan lambang gajah Ganesha satu dekade yang lalu, karena kehilangan. Sakit yang tak tertahankan membuat aku belajar mati-matian, aku membawa buku kemana-mana, membaca dimana-mana, di angkot, di teras masjid, sambil menunggu teman, tak sedetik pun kubiarkan pikiran ini kosong. Dan entah bagaimana, sakit dan sedih itu menjelma energi, untuk hidup lebih baik, untuk terus berprogres. Hingga jika suatu saat nanti  ternyata semesta mempertemukan kembali karena tahu hati ini sudah rela, yang ditampilkan adalah versi terbaik diri, bukan sosok yang remuk karena tidak bisa berdamai dengan luka perpisahan.

 

Aku harap, sekarang pun begitu.

 

Jumat, 18 Juli 2025

AREM-AREM

 





"Kamu dimana?, kenapa belum sampai kantor?", begitu bunyi pesan teks yang kuterima pagi ini. Tergopoh-gopoh, aku berlari dari parkiran. Dan kamu tertawa melihatku yang kusut sesampai tiba di ruangan. 

"Kebiasaan memang", komentarmu dengan geligi yang terlihat manis saat terbahak. 

Aku meletakkan tasku, membuka laptop, dan bersiap untuk mulai bekerja. Tiba-tiba kamu menyodorkan satu buah arem-arem padaku.

"Eh", komentarku dengan tatapan bertanya, 

"Buat kamu, hehehe...".

"Terima kasiih", lalu aku memakan arem-arem itu dengan lahap.

Siangnya, saat makan siang bersama, tiba-tiba terlintas tentang arem-arem tadi pagi.

"Tadi pagi, kamu beli arem-arem dari mana?, bekel dari rumah?", tanyaku.

"Engga, dikasi sama Bu Ar itu", jawabmu.

"Oiya, semua orang dikasi?", tanyaku lagi.

"Cuma sedikit kok, jadi aku ngambil satu".

"Hah, cuma satu, jadi yg aku makan tadi pagi itu sebetulnya jatah kamu dan kamu belum makan?", 

"Iya..."

aku langsung merasa bersalah, "Kenapa ngga bilang kalau kamu belum makan, aku pikir kamu punya beberapa dan buat aku satu"...

"Ngga apa-apa, kok, seneng lihat kamu makannya gembul",  jawab kamu.

"Aaaaaa....bukan gitu, duh aku jadi ngga enak, nanti arem-aremnya kuganti ya...", 

Sungguh, aku berjanji dalam hati untuk mengganti arem-arem itu besok, sepertinya di Monami juga ada itu arem-arem.

Siapa sangka, ternyata tak pernah ada besok untukku. Dan sampai hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, aku tak pernah punya kesempatan untuk mengganti arem-arem itu.


Senin, 26 Maret 2018

Pasang Kawat Gigi Murah dan Berkualitas di Bandung

Holaaa.....

Waktu cuti selama tiga bulan pasca melahirkan anak keenam ternyata tak membuat saya lebih produktif dalam mengisi blog ini. Pekerjaan rumah tangga sehari-hari, bayi yang sedang lucu-lucunya, hingga anak-anak besar yang sedang butuh-butuhnya perhatian membuat waktu terasa begitu cepat berlalu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi pekerjaan seolah tak ada habisnya, hingga waktu tiga bulan yang  digadang-gadang akan memberi saya banyak waktu untuk menulis dan membaca (tapi pada kenyataannya tidak) pun akhirnya berlalu begitu saja. Tapi setidaknya tiga resolusi saya pasca melahirkan terpenuhi. *Psssssttt.... tolong jangan ketawa ya,  karena tiga resolusi saya sederhana sekali sebenarnya:

1. Ikut program Keluarga Berencana =D
2. Merawat rambut agar tak rontok
3. Pasang kawat gigi.

Saya agak ragu untuk berbagi point yang pertama dan kedua, tapi untuk point ketiga, menurut hemat saya penting sekali untuk dibagikan. Penting sekali dengan tanda seru. Kenapa?, agar teman-teman yang punya masalah gigi seperti saya tak mengulangi kesalahan yang sama.

Jadi ceritanya kurang lebih empat tahun yang lalu, saya pasang kawat gigi. Kesalahan saya adalah saya pasang kawat gigi bukan di dokter spesialis ortho tapi di tukang gigi. Bodoh?, ya sangat bodoh memang, gara-gara termakan iklan dari tetangga ditambah dengan iming-iming tukang gigi ini profesional karena bekerja sama dengan dokter rumah sakit membuat saya lantas memutuskan untuk menyerahkan urusan gigi saya pada si tukang gigi (pada poin ini saya baru menyadari betapa sangat bodohnya saya percaya begitu saja, padahal kalau dipikir lagi sekarang, rasanya kerjasama antara tukang gigi dan dokter gigi itu konsep yang absurd sekali).

Ya begitulah, dengan pertimbangan tukang gigi tersebut dekat dari rumah dan tak perlu antri lama setiap kunjungan akhirnya saya pun memutuskan untuk pasang kawat gigi disitu. Saya memang sudah merasa aneh sejak kunjungan pertama. Bayangkan, saat memeriksa pasien, beliau tak pakai sarung tangan. Tampak seperti hal sepele tapi menurut saya pemakaian sarung tangan ini penting sekali. Bayangkan saja, tangan adalah anggota badan yang paling sering digunakan untuk berbagai aktivitas, siapa yang tahu sebelum menangani gigi kita si tukang gigi ini sudah memegang apa, dilalahnya lagi saya juga tak menemukan cairan desinfektan di ruangannya.

Hal aneh kedua yang saya temui dari si tukang gigi adalah, dia langsung memasang kawat gigi begitu saja di pertemuan pertama. Hanya melihat-lihat sekilas kondisi gigi saya lalu langsung pasang kawat saat itu juga. Tak ada analisa macam-macam, tak ada pembahasan sama sekali tentang gigi geraham saya yang berlubang ataupun karang gigi yang tampak jelas sekali. Pokoknya sama sekali tak ada pembahasan tentang kondisi gigi saya seperti apa, satu-satunya pembahasan justru terjadi saat tawar menawar harga. Ah ya, tarif untuk pemasangan kawat gigi ini bisa ditawar dan jangan heran jika ada pertanyaan aneh seperti : "pasang untuk gigi atas dan bawah?, atau atas saja?". Belakangan saya tahu bahwa pergerakan gigi itu meliputi gigi atas dan bawah sehingga hampir tidak mungkin jika selama masa perawatan untuk merapikan gigi yang dipasang hanya atas saja atau bawah saja.

Yah begitulah, kebodohan saya memutuskan untuk pasang kawat gigi di tukang gigi ini ternyata berakibat fatal. Ada beberapa gigi saya yang dicabut karena dianggap menghalangi pergerakan gigi untuk ditarik ke belakang, dan yang paling parah adalah: gigi depan saya yang memang berukuran besar-besar  dikikir, sodara-sodara. Bodohnya, saya mau saja. Padahal rasanya luar biasa ngilu dan setelah beberapa kali pengikiran saya memutuskan untuk tak lagi mengizinkan si tukang gigi mengikir gigi saya.

Hampir dua tahun gigi saya dipasangi kawat, sama sekali tak ada kemajuan yang berarti, dengan kata lain, susunan gigi depan saya masih berantakan, dan saya juga tetap tak bisa menggigit dengan sempurna karena posisi gigi atas yang terlalu maju ke depan. Akhirnya saya mengambil keputusan penting: melepaskan kawat gigi tersebut.  Saat itulah baru ketahuan masalah yang sebenarnya. Gigi depan saya tetap terlalu maju, karang gigi semakin menumpuk dan lubang di gigi geraham saya semakin membesar hingga mau tak mau gigi tersebut harus dicabut.

Yang paling mengganggu adalah hitam-hitam karena lubang akibat pengikiran di gigi depan. Dan karena yang dikikir adalah sela-sela di tiga gigi, maka karies pun terjadi sampai keenam gigi. Frustasilah saya. Malaas sekali untuk datang ke dokter gigi dan meminta solusinya. Sampai pada satu titik saya memutuskan untuk membiarkan saja kondisi gigi saya yang hancur. Toh saya juga sudah tak merasa muda lagi.

Tapi...
Tapi...
Tapi....

Setiap berkaca saya malu sendiri, duh mengganggu sekali gigi yang maju dan hitam-hitam ini. Akhirnya saya memantapkan hati untuk datang ke dokter gigi dan memulai lagi perawatan. Sungguh keputusan yang terlambat.

Dan dimulailah perjalanan panjang saya bolak balik ke dokter gigi.

Langkah pertama saya adalah mencabut semua gigi yang berlubang. Karena setiap kali hamil gigi saya keropos maka gigi geraham saya hampir semuanya berlubang, hingga mau tak mau akhirnya enam gigi geraham saya dicabut. Ya!, ENAM, sodara-sodara! (Duh, saya emosi sekali menyebut angka enam ini T_T). Setiap kali kunjungan, dokternya hanya bersedia mencabut satu gigi, maka enam minggu saya habiskan untuk mencabut gigi.

Langkah selanjutnya adalah menambal karies di gigi depan. Saat itulah saya baru tahu bahwa penambalan gigi depan itu rumit, Puskesmas tidak punya bahan untuk menambal gigi depan hingga saya dirujuk ke poliklinik gigi rumah sakit. Bayangkan, karies terjadi di enam gigi, sementara  setiap kunjungan satu kali seminggu yang ditambal itu hanya dua gigi yang berdekatan, maka hampir satu bulan sendiri waktu yang saya habiskan untuk menambal gigi depan. Saat bolak balik dokter gigi ini, saya masih menyusun tesis untuk menyelesaikan kuliah saya di pascasarjana ITB, maka bisa dibilang saya cukup punya banyak waktu luang, dalam artian saya masih bisa mengantri berjam-jam di ruang tunggu sambil bekerja dengan laptop saya. 

Setelah beres semua urusan penambalan dan pencabutan ini, pekan berikutnya saya mendatangi dokter spesialis orthodonti di Rumah Sakit Umum Daerah Ujung Berung. Saya mengantri berjam-jam hanya untuk mendengar vonis kasus saya terlalu berat untuk diselesaikan disana. Saya dirujuk ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad. Maka pergilah saya ke RSGM Unpad, sayangnya saya datang kesana setelah lewat pukul 13.00, hingga saya diarahkan untuk berkonsultasi dengan resident dan bukan dengan spesialis orthodontinya langsung. Hasil konsultasi ini sungguh mengecilkan hati saya, residentnya bilang kasus saya berat dan karena umur saya yang sudah tak muda lagi, perawatan gigi saya akan memakan waktu yang lama. Selain itu, saya diminta untuk memastikan waktu perawatan yang benar-benar harus saya patuhi karena tak boleh pindah dokter gigi selama masa perawatan. Jujur saja, setelah berkonsultasi dengan resident ini, semangat saya untuk kembali merawat gigi terjun bebas. Bukan apa-apa, pendapat beliau tentang gigi saya sungguh membuat saya patah hati.

Penasaran, saya coba mendatangi RSKGM yang ada di Jl. Martadinata No. 45, Bandung. Semata untuk minta second opinion, siapa tahu, dokter spesialis ortho disini bisa memberi saya harapan lagi. Dan setelah mengantri berjam-jam lagi, saya dihadapkan pada vonis yang sama: kasus gigi saya terlalu berat karena barisan gigi geraham belakang yang sudah habis dan saya dirujuk (lagi-lagi) ke RSGM Unpad.


Haaaah....

Putus sudah semangat saya.

Dalam kondisi seperti itu, saya tiba-tiba teringat, dokter yang menambal gigi depan saya di RSUD Ujung Berung, dalam salah satu kunjungan sempat menawari saya memasang kawat gigi di beliau, dengan harga spesial hanya Rp. 3.500.000,-. Saya sempat tergoda apalagi jika mengingat tarif pemasangan kawat gigi di tempat praktik pribadi spesialis ortho itu berkisar di angka Rp. 14.000.000,-. Tapi saya merasa aneh sendiri, jika spesialis ortho di RSUD dan RSGM saja menyerah, bagaimana mungkin dokter gigi biasa lantas sanggup menangani gigi saya. Maka berkali-kali saya mengingatkan diri sendiri, sudah cukup kesalahan saya mempercayakan urusan gigi saya pada yang bukan ahlinya. Tak mau lagi saya mengorbankan kesehatan gigi saya demi mengejar harga yang murah. Saya harus pasang kawat gigi, tapi di spesialis ortho. Titik.

Tekad bulat saya ternyata harus melalui jalan berliku untuk bisa terwujud,  dengan tesis saya yang tak selesai-selesai, dan DO mengancam di pelupuk mata, maka untuk sementara waktu, urusan gigi ini pun terlupakan. Hingga tak terasa waktu berjalan, Alhamdulillah saya lulus dan memperoleh gelar M.T, Alhamdulillah saya mulai kembali bekerja, Alhamdulillah saya kemudian hamil anak keenam. Dan selama hampir dua tahun, urusan pemasangan kawat gigi ini terlupakan dari benak saya, meskipun setiap berkaca di cermin saya menyadari bahwa penampakan gigi saya benar-benar mengganggu dan saya tetap berkeinginan untuk memasang kawat gigi. 

Siapa sangka jika keinginan saya akan terwujud dengan jalan yang tak disangka-sangka. Gigi geraham belakang suami saya berlubang dan harus dicabut, dilalahnya, RSUD Ujung Berung sampai RS Hermina ternyata tak sanggup mencabut gigi beliau hingga beliau dirujuk ke RSGM Unpad. Jadilah saya sekalian mendatangi spesialis ortho saat suami saya sedang dicabut gigi di klinik bedah gigi minor.

Sebelumnya saya sudah mendapat informasi bahwa sebelum memutuskan untuk memasang kawat gigi, harus ditentukan dulu jadwal waktu yang harus dipatuhi dan tak boleh diganti-ganti selama sekian tahun perawatan. Artinya jika saya memutuskan untuk merawat gigi saya di dokter spesialis yang praktek di Senin pagi, maka sekian tahun juga saya harus  meluangkan waktu untuk perawatan gigi di Senin pagi. Menimbang waktu bekerja saya dan lain sebagainya, akhirnya saya memutuskan untuk memilih dokter spesialis yang praktek di Jumat sore. Dan saya beruntung sekali karena dokter spesialis ortho yang praktek di Jumat sore ini perempuan dan baik hati.

Tak seperti resident sebelumnya yang membuat saya patah hati, dokter spesialis ortho ini justru membesarkan hati saya, beliau bilang masih ada solusi untuk gigi saya meski akan diperlukan konsistensi saya untuk mematuhi jadwal perawatan. Beliau memberi saya beberapa pekerjaan rumah terkait gigi saya yang harus diselesaikan. Pertama: mencabut akar gigi yang masih tersisa. Kedua: foto panoramic dan cephalometric. Ketiga: membongkar tambalan dan menambal ulang gigi depan. Ini karena hasil tambalan dokter gigi sebelumnya dipandang kurang bagus. Saya diberi rekomendasi untuk menambal ulang di dokter spesialis konservasi gigi yang praktek di Kamis sore. Dalam hati saya bersyukur,  tidak menerima tawaran pasang kawat gigi di dokter gigi yang menambal gigi depan saya dulu. Lah, menambal gigi depan saja ternyata ngga kepake sama dokter ortho saya, gimana kalau dia sampai pasang kawat gigi juga yang tingkat kerumitannya jauh di atas menambal gigi. PR keempat: membersihkan karang gigi, baru selanjutnya cetak gigi dan pemasangan kawat gigi.

Semua PR ini saya kerjakan di RSGM Unpad, karena malas mengantri dan mengurus surat rujukan untuk BPJS, akhirnya saya pilih untuk bayar sendiri. Relatif murah kok, untuk mencabut gigi biayanya Rp. 130.000,-; foto panoramic dan cephalometric biayanya Rp. 120.000,-; scalling atau pembersihan kawat gigi Rp. 140.000,-. Yang cukup mahal justru menambal gigi depan. Karena banyak yang harus ditambal saya sampai harus janjian di luar jam praktek biasa dengan dokter spesialis konservasi gigi yang direkomendasikan. Biaya menambal gigi ini total Rp. 2.400.000,- atau Rp.400.000,- per gigi. Mahal memang, tapi saya puas karena gigi depan saya tak lagi terlihat hitam-hitam.


RSGM Unpad, Jl. Kubang Selatan, Lebakgede, Coblong, Bandung

Setelah semua PR saya selesai, tibalah saya pada saat yang paling menentukan: pemasangan kawat gigi. Karena susunan gigi saya yang aneh, kawat yang dipasang baru bagian atas saja. Untuk gigi bawah kawat baru akan dipasang tiga minggu kemudian itupun dipasangnya di belakang gigi. Saya manut saja. Biaya yang diperlukan untuk pemasangan kawat ini Rp. 7.350.000,- relatif murah apalagi jika dibandingkan dengan dengan tarif spesialis ortho di tempat praktek pribadi.

Sekarang, hati saya lega sekali. Tinggal mengatur jadwal untuk menjalani perawatan di hari Jumat sore. 

Jadi...pesan moral dari cerita panjang lebar saya adalah:

1. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.
2. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.
3. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.

Apalagi di tukang gigi, di dokter gigi umum saja sebaiknya jangan. Bayangkan untuk mendapat gelar spesialis orthodonti itu diperlukan waktu lima tahun sendiri setelah lulus dokter gigi umum, secara keilmuan tentu akan sangat jauh berbeda dengan dokter gigi umum yang tak mempelajari ilmu ortho secara khusus. Jangan dibandingkan juga dengan tukang gigi yang cuma ikut kursus-kursus saja.

Pesan moral kedua, serahkan sesuatu pada ahlinya. Untuk mengatasi masalah gigi datanglah pada dokter spesialis gigi yang sesuai. Untuk menambal datanglah ke spesialis konservasi gigi, untuk memasang kawat datanglah ke spesialis ortho. Pasang kawat gigi di tukang gigi itu seperti sakit kanker dan datang berobat ke dukun. Secara pribadi saya merekomendasikan RSGM Unpad untuk mengatasi semua masalah gigi, selain karena rumah sakit ini menjadi rujukan untuk kasus-kasus gigi yang berat, biaya perawatan disini relatif murah dengan kualitas pelayanan yang memadai.

Pesan moral selanjutnya adalah: jaga gigi sedari dini. Gigi yang lengkap dan bagus itu sungguh suatu anugerah. Makanya, dijaga. Sikat gigi sebelum tidur dan sesudah sarapan. Juga jangan kebanyakan makan yang manis-manis. Pake kawat gigi itu sakit banget, sumpah. Udah gitu mahal lagi. Mending uangnya ditambahin dikit buat beli iphone X. Iya ngga?. =D


*gambar saya copy dari www.unpad.ac.id, dan hasil pencarian dari google.co.id










Kamis, 28 Desember 2017

Diary Penuh Namanya

Beres-beres  rumah. Menyapu semua debu, mensortir barang dan buku-buku lama.

Ada yang tertinggal di sela tumpukan barang-barang tak penting itu: diary tebal bersampul coklat, terisi penuh dengan tulisan tanganku, sampai halamannya yang terakhir. Peninggalan masa remaja yang tak bisa dibilang gilang gemilang, tapi membacanya serasa membuka lagi lembaran-lembaran kenangan, mengingatkan episode-episode hidup yang karena waktu, terasa sudah memudar ruhnya.

Ada banyak kisah disana, kejadian remeh dan sepele, hal-hal kecil yang banyak terjadi pada kehidupan seorang anak SMA. Memasang target juara umum, menginginkan sebuah gaun yang ternyata terlalu mahal, berseteru dengan teman, kenangan saat camping dan...jatuh cinta.

Tanpa kusadari ternyata hanya ada satu nama yang menjadi benang merah dalam diary itu, nama yang  entah kenapa mengisi hampir setiap lembarannya. Bahkan dalam cerita kehujanan sepulang sekolah pun bisa-bisanya nama itu ada disana.

Nama kamu, ya, hanya nama kamu.

Kamu, kakak kelas ketika SD, satu sekolah ketika SMP, dan hampir menjadi seorang kekasih ketika SMA. Ajaib, bagaimana aku bisa mencintai kamu begitu lama, menempuh jarak hingga berbilang tahun, sementara setiap berjumpa menatap matamu saja aku tak pernah sanggup. Hanya cinta yang bisu, tapi bukankah itu yang membuat indah cinta pertama. Saat cinta hanyalah cinta, tanpa pretensi dan dugaan apapun di dalamnya.

Mencintai kamu, entah kenapa membuatku ingin jadi perempuan baik-baik, membuatku ingin jadi perempuan pintar, atau setidaknya jadi seseorang yang bisa dibanggakan, seperti energi positif saat menatap pelangi sehabis hujan, atau menghirup tanah yang basah saat hujan pertama. Cinta monyet anak SD yang bertransformasi menjadi cinta yang memanusiakan setelah bertahun terlampaui.

Tapi entah kenapa alam seolah berkomplot untuk menjauhkanku darimu. Kamu tahu?, aku menunggumu berjam-jam siang itu, di Agen Bus Budiman Ciawi sementara kamu tak pernah datang hingga bis terakhir menjemputku. Sementara itu akhirnya aku pun tahu, seharian kamu menungguku di tempat berbeda dan tentu saja aku pun tak pernah datang untukmu. Sayang saat itu belum ada HP.

Dari sekian kali janji bertemu yang tak pernah jadi, kamu hanya bisa bilang: "Mungkin bukan jodoh". Satu kalimat sederhana  yang membuat seluruh persepsiku tentangmu hancur berantakan. Kamu, yang selalu kuanggap mewakili semua hal tentang impian dan keberanian mewujudkannya, ternyata hanya seorang pria yang dengan mudahnya menyerah pada takdir. Padahal aku ingin kamu berkata, "Jika Tuhan menuliskan kita memang bukan jodoh, aku akan berusaha agar Tuhan berkenan menghapus kata 'bukan' itu". Takdir bisa dirubah, tahukah kamu?, dan aku percaya itu dengan segenap imanku.

Maka bagaimana bisa aku mencintai orang selemah itu, bagaimana bisa aku menggantungkan harapan pada orang yang bahkan tak mau berjuang untuk impiannya sendiri, atau….
Aku yang tak layak untuk sekedar jadi impian bagimu?.

Dan dengan praduga aku-tak-layak-jadi-impian-bagimu, yang semakin dikuatkan dengan kehadiran wanita lain disisimu, aku belajar untuk merelakanmu.

Menenggelamkan diri dalam tumpukan buku-buku pelajaran, melarikan semua duka dan putus asa dalam deretan rumus dan perhitungan. Dan dengan getir mengakui, bahwa semakin keras upayaku menafikanmu, semakin deras pula rindu itu menyergapku. Sialnya hanya aku yang merasakan kegetiran itu sendirian. Kamu tahu  kenangan bisa membunuh  pelan-pelan?, karena sangat menyakitkan ketika aku ingat semuanya, aku  ingat setiap baris puisi yang kamu buat untukku, aku ingat rasa coklat yang kamu beri di hari ulang tahunku, aku ingat bunyi derai hujan saat kita menunggu bis berdua, aku ingat, aku ingat semua potongan kenanganku bersamamu.

Dan aku ingat bahwa tak satupun janji yang pernah kamu penuhi. Kenyataan yang selama ini selalu kusangkal tapi kini terlalu nyata untuk kuabaikan.

Dan buku menjadi benteng pertahanan terakhirku. Pelarianku yang gila pada buku pelajaran ternyata membuatku masuk ITB, dan entah kenapa setelah terluka olehmu Tuhan membuka mataku pada cinta lain yang selalu menungguku dan selalu kuabaikan selama lima tahunku dalam bayang-bayangmu.

Meski sulit dijalani, perjuanganku menata hati sepeninggalmu ternyata berbuah manis. Aku belajar banyak hal dan mendapatkan banyak  hal juga dari setiap luka yang kamu goreskan.

Karena kamu, jiwaku utuh kini.  Aku punya pekerjaan yang baik dan kusukai, juga cinta yang selalu kucari, yang kupikir  ada padamu  dan ternyata malah kutemukan pada diri orang yang selalu kuabaikan. Ia,  pria disamping ku kini, yang mencintaiku seperti adanya aku, yang kepadanya aku menyandarkan banyak hal, yang membuatku merasakan seperti apa mencintai tanpa kekhawatiran cinta itu tak berbalas.

Dan jika Tuhan memperkenankan kita untuk bertemu lagi di masa depan, aku ingin mengucapkan terima kasih dari hati terdalam padamu. Karena aku sampai di titik ini dalam hidupku, sebagiannya karena kamu. Terima kasih…

Dan diary coklat itu kusatukan dengan tumpukan barang-barang buangan. Terlalu banyak yang harus kusyukuri saat ini, sampai tak tersisa waktu untuk menoleh ke belakang.



*Untuk D, kuharap kamu mendapat semua hal terbaik.

Jumat, 27 Oktober 2017

SAAT KITA TAK LAGI JADI SAHABAT...

Pernahkah?, sekali saja dalam hidup, kamu memutuskan untuk mencoret nama seseorang dari hatimu?. Seseorang yang pernah punya arti, seseorang yang pernah kamu anggap lebih dari saudara, ialah seseorang yang pernah kamu panggil sahabat. 

Saya pernah, dan rasanya sungguh tak enak. 

Dan jika diingat-ingat lagi mungkin ada dua orang yang saya perlakukan seperti itu. Orang pertama adalah sahabat saya sejak SD, sebut saja namanya Ina. Persahabatan kami yang dimulai sejak SD berlangsung terus hingga SMA, bahkan hingga saya lulus SPMB dan kemudian kuliah sementara  Ina memutuskan untuk menikah dengan guru SMA-nya. Tak ada masalah sebenarnya, hanya saja lambat laun, mungkin karena kesibukan saya di kampus dan kesibukan Ina sebagai ibu rumah tangga, hubungan kami terputus begitu saja. Tak ada lagi surat-menyurat di akhir minggu (karena tiga tahun terakhir dalam masa persahabatan ini,  kami tinggal di kota yang berbeda), tak ada lagi kunjungan-kunjungan akrab setiap saya kebetulan pulang ke kampung halaman. Bahkan entah kenapa sekarang rasanya ada sekat yang tak bisa ditembus setiap saat kami bertemu. Hanya ada perbincangan-perbincangan sopan yang terasa berjarak, padahal dulu kami akan dengan heboh bercerita setiap detail kejadian yang kami alami di saat-saat tak bersama. Hingga lambat laun akhirnya saya pun memutuskan untuk tak menghubunginya duluan.

Kadang sedih rasanya, saat menyadari bahwa persahabatan kami terputus bukan serta merta karena ada masalah, tapi lebih karena kami mulai saling mengabaikan hingga perlahan kami mulai saling menjelma menjadi orang asing. Lebih pedih lagi saat kesadaran berikutnya hadir, bahwa setelah hubungan kami menjadi seperti ini, rasanya akan sulit untuk mengembalikannya kembali seperti dulu. Nyaris tak mungkin, ada sesuatu yang mengganjal yang tak bisa dijelaskan bagaimana dan kenapa bisa seperti itu. Satu-satunya yang tampak jelas hanyalah fakta bahwa kini kami sekedar "teman" dan bukan lagi "sahabat". 

Orang berikutnya adalah teman saya ketika SMA yang lucunya mulai menjadi sahabat saya setelah menikah. Sebut saja namanya Opi. Persahabatan kami terjalin saat saya dan suami mulai sering berkunjung ke rumahnya. Dan karena usia perkawinan kami tak terpaut jauh, bisa dibilang kami berangkat memulai bahtera rumah tangga kami dari nol bersama-sama. Saya tahu persis perjuangannya membangun rumah tangga dari awal, dari mulai menjadi pedagang ikan di pasar tradisional sampai akhirnya bisnisnya meningkat pesat dengan menjadi pemasok rumah makan-rumah makan besar di seputaran kota Bandung. Saat rumah tangga kami masih saja berkutat dengan gaji bulanan yang hanya cukup untuk bertahan hidup setiap bulan, Opi sudah mampu membeli rumah dan kendaraan dengan uang cash. 

Tapi seperti kebanyakan episode kehidupan yang melesat cepat juga menukik tajam, Opi juga tersandung masalah hingga kemudian bercerai dan terbelit hutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya masih tetap menganggapnya sahabat bahkan saat hidup Opi tengah hancur-hancuran seperti ini. Tak juga lantas berpikiran negatif saat ia melarikan uang saya dan suami dalam jumlah yang cukup besar. Saya percaya, di luar kesalahannya dalam rumah tangga, Opi adalah sahabat baik yang tak akan mungkin mengkhianati saya dan suami.

Begitulah, hampir dua tahun sudah Opi menghilang tanpa kabar sampai pada suatu hari ia menelepon saya. Sedikit pun saya tak mengungkit masalah uang yang ia pinjam, bahkan saya masih mempersilakannya datang ke rumah kami, menawarinya tempat usaha dengan asumsi mungkin sekarang ia akan belajar dari kesalahan masa lalu dan mencoba memperbaiki diri. Saya memang cukup kaget saat tahu bahwa sekarang ia menjadi istri muda seorang pejabat di kejaksaan, tapi di luar fakta itu saya mencoba untuk tidak berubah sikap.

Hati saya mulai merasa terganggu saat ia meminjam uang lagi pada saya. Jumlahnya memang tak banyak, tapi jumlah yang sedikit namun sering ini rasanya mengganggu. Apalagi saat ia mulai menawarkan barang-barang pribadinya untuk dijual, saya merasa semakin tak nyaman. Akhirnya saya memilih untuk memutuskan hubungan saya dengannya. Saya sengaja tak membalas semua pesannya ataupun mengangkat teleponnya. dan lambat laun hati saya pun mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya dalam hidup saya. Mungkin sikap saya ini salah, tapi saya tak bisa mengingkari ada sisi hati saya yang merasa ia memanfaatkan saya habis-habisan. 

Dan begitulah, sampai hari ini ternyata kebekuan hati saya tak juga kunjung mencair. Sama sekali tak tersentuh meski Opi mencoba menghubungi saya berkali-kali. Entahlah, mungkin suatu hari, saat saya sudah menjadi orang baik, saya akan mencoba menghubunginya duluan. Sementara untuk saat ini, biarkanlah seperti ini saja dahulu.

Dua kasus diatas sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan pada saya: kehilangan sahabat itu menyakitkan.  Atau lebih tepatnya, kehilangan orang yang pernah kita sayangi itu menyakitkan, entah itu sahabat, pacar, saudara. Maka untukmu yang saat ini masih memiliki sahabat atau orang yang dekat dengan kita, genggamlah erat tangannya. Jangan sekalipun mengabaikan karena bisa jadi satu pengabaian kecil akan menjadi awal mula dari keterasingan yang merusak hubungan selamanya. Dan saat itu terjadi akan sulit sekali untuk memperbaiki, untuk merekatkan kembali hubungan yang sudah renggang.



*saat menulis ini entah kenapa hati saya rasanya pedih sekali... 




Kamis, 12 Oktober 2017

HILANGNYA EMPATI PARA KARTINI





Tahun 2014 silam, nama Dinda sempat menjadi nama yang terkenal di kalangan para netizen, sayangnya Dinda terkenal bukan karena prestasi , tapi karena keluhannya di media sosial mengenai ibu hamil. Cerita dimulai ketika Dinda, yang adalah seorang commuter ini keberatan ketika kursi kereta yang sudah didapatkannya dengan susah payah harus diberikan begitu saja pada seorang ibu hamil. Padahal perjuangan Dinda untuk bisa dapat tempat duduk di KRL ini sungguh luar biasa, Dinda sampai harus bangun pagi dan pergi menuju stasiun yang jauh dari rumahnya. Dalam perspektif Dinda, seharusnya ibu hamil ini pun melakukan hal yang sama jika memang ingin dapat tempat duduk, bukan dengan seenaknya begitu saja meminta tempat duduk dari penumpang lain.

Curhatan Dinda ini menjadi viral dan mendapat banyak reaksi negatif, selain menuai hujatan dan caci maki bahkan banyak dibuat meme-meme yang kocak tapi jleb-banget menanggapi curhatan Dinda ini.  Dinda yang awalnya bersikeras untuk tidak merasa salah, akhirnya memutuskan untuk meminta maaf melalui media sosial yang sama. 

Sangsi sosial yang diberikan pada Dinda oleh warga netizen ini ternyata tak lantas memberi efek jera. Pada bulan Juni 2017 silam, kasus Dinda ini berulang lagi, kali ini seorang mahasiswi bernama Shafira Nabila Cahyaningtyas yang menjadi bintang utamanya. Ceritanya hampir sama persis, Shafira yang sedang enak-enak tidur di kereta dibangunkan petugas keamanan kereta dan dianjurkan untuk memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Merasa tak terima, mahasiswi ini marah-marah di media sosial.











Lagi-lagi, curhatan mengenai ibu hamil ini menjadi viral juga. Kecaman dan hujatan dari netizen sempat membuat akun media sosial mahasiswi ini ditutup. Tak seperti Dinda, Shafira cukup beruntung karena tak ada meme anekdot yang beredar tentang dirinya. (*Meskipun untuk saya pribadi, dihujat dan dicaci maki orang ramai walaupun hanya sekedar di media sosial itu sudah lebih dari cukup untuk dibilang menyakitkan sih =D).

Entah mengapa, untuk saya fenomena Dinda dan Shafira ini menarik untuk diamati. Dalam perspektif pemerintah, curhatan Dinda dan Shafira ini bisa menjadi masukan yang penting terkait dengan ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana yang memadai serta regulasi yang melindungi. Di sisi lain, Dinda dan Shafira ini menjadi PR untuk lembaga-lembaga pendidikan. Bagaimana bisa, produk pendidikan tinggi seperti Dinda dan Shafira ini ternyata tak memiliki kemampuan untuk berempati, untuk merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Bukan tidak mungkin jika keduanya adalah puncak dari gunung es "ketidakempatian" yang tidak kelihatan. 

Dan saya memang merasakan "gunung es" tersebut. Qadarullah, saya hamil lagi. Saat usia kehamilan saya masih sekitar dua bulanan, sama sekali tidak ada tanda kehamilan yang bisa dilihat oleh orang lain sekilas dari tampilan fisik saya.  Maka saya pun merasa maklum ketika naik angkutan umum, sama sekali tak ada yang berkenan memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi pernah suatu kali, saya merasa marah juga. Di bus Transjakarta menuju Gambir yang saya naiki sepulang kerja pada suatu sore, seorang ibu hamil berdiri di depan kursi yang diisi seorang gadis muda yang duduk bersebelahan dengan ibu-ibu yang membawa anak kecil. Saya perkirakan dari besar perutnya, mungkin usia kandungan ibu hamil ini sudah masuk trisemester akhir. Satu menit, dua menit, saya tunggu si gadis muda ini untuk berdiri. Ia tetap bergeming meski petugas di pintu sudah berteriak-teriak untuk memberikan kursi bagi si ibu hamil. Sepuluh menit kemudian, si gadis muda ini masih tetap duduk. Melihat sama sekali tak ada gelagat ia akan memberikan kursinya untuk si ibu hamil, akhirnya saya jengkel juga. Saya colek bahu si gadis muda, dan dengan kekesalan yang ditahan-tahan, saya minta si gadis muda memberikan kursinya untuk si ibu hamil. Nggilani, si gadis muda ini berdiri dengan sikap malas-malasan yang tak ditutup-tutupi. Sampai saya siap-siap jika ia akan balik mengomeli saya meskipun untungnya ternyata ia memilih untuk tak berkata apa-apa.

Sepanjang sisa perjalanan, saya mengamati si gadis muda ini. Dari mulai kerudungnya yang tak menutupi dada, sampai kemejanya yang ngatung. Ingin sekali menemukan sedikit saja raut sakit dari wajahnya agar saya mendapat pembenaran di balik alasan ketakpeduliannya pada ibu hamil yang jelas-jelas berdiri di depan mukanya. Sayang sekali, pengamatan saya malah menunjukkan bahwa ia sehat-sehat saja. Hingga saya memutuskan bahwa alasan di balik sikapnya murni karena ia memang tak peduli. Dan akhirnya saya hanya bisa menghela nafas.

Pada kesempatan yang lain (lagi-lagi di bus TransJakarta), sayalah yang dicuekin oleh penumpang wanita di depan saya. Maka bagaimana mungkin saya berinisiatif meminta tempat duduk saat tak terlihat sedikit pun tanda ada yang peduli pada wanita berperut buncit ini. Dan lagi-lagi saya hanya bisa menghela nafas.

Mungkin di zaman ini, memang perlu untuk para wanita muda ini mengalami sendiri bagaimana rasanya mengandung. Mengalami sendiri agar bisa merasakan bagaimana kondisi fisik wanita itu melemah kala ada janin yang tumbuh di rahimnya. Bukankah Allah pun memberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa  bahkan pada bulan Ramadhan salah satunya adalah pada wanita hamil.

Kondisi fisik setiap calon ibu memang berbeda-beda, ada yang dianugerahi tubuh yang kuat selama masa kehamilan, tetapi banyak juga yang tubuhnya melemah, seperti yang saya rasakan pada masa kehamilan yang keenam ini. Pola makan dan waktu tidur saya kacau balau. Hampir setiap malam, saya baru bisa tidur setelah pukul 01.00 dinihari, alhasil, kepala saya pusing setiap bangun shubuh. Dan bisa ditebak bagaimana lemasnya badan saya sepanjang hari. Duduk di kursi saja punggung dan pinggang saya sakit, bagaimana bisa saya harus berdiri sepanjang perjalanan pergi dan pulang bekerja. Alhamdulillah, di masa sekarang ini ada layanan transportasi online. Sungguh sangat membantu untuk saya yang berdomisili cukup dekat dari tempat kerja.

Tapi bayangkan untuk para commuter yang harus berganti 2 hingga 3 kali moda transportasi untuk sampai ke tempat kerja, bagaimana borosnya jika harus bergantung pada transportasi online. Padahal rezeki setiap orang itu berbeda-beda, bersyukurlah untuk yang diberi kelonggaran sehingga bisa naik moda transportasi yang nyaman untuk pulang dan pergi bekerja. Tapi bagaimana untuk mereka yang oleh Allah tak diberi kelonggaran yang sama, mereka yang menghitung dengan persis berapa anggaran untuk transportasi setiap bulan sehingga transportasi umum yang murah menjadi satu-satunya pilihan.  Hingga bahkan ketika hamil pun mereka harus bertahan dengan moda transportasi umum tersebut.

Berdesak-desakan, berebut kursi, dengan tubuh yang kian melemah setiap bulan seiring dengan membesarnya janin dalam kandungan. Tetap menjalani itu semua walau dengan resiko mempertaruhkan keselamatan diri sendiri dan calon bayi yang dikandung karena kewajiban untuk ikut mencari nafkah. Sampaikah pemikiran para wanita muda yang tak peduli itu kesana. Entahlah, mungkin memang harus merasakan sendiri dahulu agar bisa peduli.







*note: gambar saya dapat dari google dengan kata kunci pencarian Dinda, Shafira dan ibu hamil. 


                                                                                                                                                                                         




Resensi MALAM SERIBU JAHANAM

Judul buku                    : Malam Seribu Jahanam Penulis                       : Intan Paramadhita Penerbit                      : Grame...