Sabtu, 16 Mei 2026

Resensi THE BOOK OF LOST THINGS (KITAB TENTANG YANG TELAH HILANG)


 

Judul Buku                 : The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)

Pengarang                  : John Connoly

Alih Bahasa                : Tanti Lesmana

Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah Halaman        : 472 halaman

 

Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa, terutama yang masih ingat saat-saat ketika masa kanak-kanak mulai berlalu dan jalan menuju kedewasaan telah terbentang.

Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah milad dari sahabat saya pada tahun 2015, dan yang saya ingat, ini buku dongeng paling aneh yang pernah saya baca. Jadilah ketika saya menemukan buku ini lagi saat membereskan rak buku, saya memutuskan untuk membaca ulang. Dan buku ini memang page-turner banget, seseru itu, saya menamatkannya hanya dalam waktu satu hari, itu pun karena disela kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah yang memang selalu ada, seperti memasak dan sebagainya. 

Kisah bermula tentang seorang anak laki-laki bernama David, yang kemudian ditinggalkan wafat oleh ibunya karena sakit. Kehilangan dan perasaan berduka yang amat sangat membuat David harus berkonsultasi dengan psikiater di kotanya (Dr. Moberley), namun dalam sesi-sesi konsultasinya, David tidak pernah mengatakan bahwa ia mendengar buku-buku berbicara. 

David memang sangat menyukai buku, untuk David, buku adalah hal yang menjaga ingatan tentang ibunya, karena sama seperti David, ibunya pun penyuka buku cerita dan dongeng-dongeng kuno, berkebalikan dengan ayahnya yang juga suka membaca namun bacaan dalam jenis lain. Baru saat membaca ulang buku ini lagi, saya paham ayah David adalah seorangan matematikawan dan pekerjaan ayahnya adalah memecahkan sandi pasukan Jerman. Cerita ini memang berlatar belakang Inggris saat terjadi perang dunia kedua.

Belum lama setelah ditinggal wafat oleh ibunya, David harus menerima bahwa ayahnya ternyata menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Rose dan ia akan segera punya adik. Dan mengantisipasi serangan Jerman, David kemudian harus ikut pindah ke rumah keluarga Rose yang jauh dari pusat kota, rumah besar yang bersebelahan dengan hutan, dan David mendapat kamar di lantai atas yang penuh dengan buku. Belakangan David mengetahui bahwa kamar yang ia tempati ternyata adalah kamar paman buyut Rose, Jonathan Tulvey yang telah lama menghilang bersama Anna, adik angkat perempuannya. Dan buku-buku di kamar itu sebagian besar memang buku-buku milik Jonathan.

Setelah pindah ke kamar itu, David merasa semakin sering mendengar gumam buku-buku berbicara, seolah kisah-kisah dalam buku-buku tersebut sedang menunggu untuk dihidupkan kembali. Dan ia pun sering bermimpi dan bahkan melihat sesosok aneh laki-laki bertubuh bungkuk. Tak jarang dalam mimpinya ia juga melihat sebuah negeri lain yang sedang menanti raja baru. Dan yang tak kalah aneh, David merasa mendengar suara ibunya memanggil-manggil, meminta diselamatkan.

Diceritakan pula bahwa David tak akur dengan Rose, dan ketidakakuran itu semakin menjadi-jadi setelah Rose melahirkan Georgie. Pertengkaran mereka kemudian mencapai puncaknya dan akhirnya mendorong David mengikuti suara ibunya yang memanggil-manggil dan menuntunnya ke dunia lain yang ternyata tersembunyi di balik kebun cekung rumah Rose.

Dan petualangan David pun dimulailah. Negeri lain ini ternyata sangat menakutkan, baru saja datang, ia yang kebetulan bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian disebut Si Tukang Kayu, sudah harus berhadapan dengan segerombolan manusia serigala yang disebut Kaum Loup. Selamat dari mereka, Si Tukang Kayu kemudian bercerita tentang makhluk-makhluk aneh yang tiba-tiba saja muncul, karena konon Raja yang menguasai negeri itu sudah hampir kehilangan pengaruhnya dan sedang mencari pengganti.

David dianjurkan untuk pulang, negeri itu tak aman untuk David, namun kemudian, pohon yang menjadi pintu masuk David ke negeri itu tak bisa ditemukan, sehingga si Tukang Kayu kemudian menyimpulkan, David adalah bagian dari cerita di negeri itu. Akhirnya Tukang Kayu memberikan saran, David harus menemui Raja, karena konon katanya Raja mempunyai sebuah Kitab yang berjudul Kitab tentang yang Telah Hilang, kitab itu sangat berharga untuk Raja, mungkin saja kitab itu berisi peta seluruh negeri yang bisa menunjukkan bagaimana cara agar David bisa pulang kembali ke rumahnya. (Belakangan baru diketahui bahwa kitab ini ternyata 'hanyalah' buku harian Jonathan ketika kecil sebelum masuk ke negeri ini).

Tukang Kayu memutuskan untuk mengantar David, namun baru saja memulai perjalanan, Tukang Kayu sudah harus mengumpankan dirinya kepada para Loup yang mengejar David, jadilah David harus melanjutkan perjalanannya seorang diri. Entahlah, jika ada dalam posisi David, mungkin saya tak akan sanggup, bayangkan saja, harus berjalan sendirian melintasi negeri asing yang aneh dengan banyak makhluk tak terduga,  tanpa bekal apapun.

Membaca buku ini kedua kali, mau tidak mau saya merasa kagum pada perkembangan karakter David, ia datang ke negeri itu sebagai seorang anak laki-laki kecil yang getir karena kehilangan ibunya, sedang sangat cemburu pada adik tirinya, penuh dengan kebencian dan kemarahan pada ibu tirinya. Namun dalam perjalanan penuh bahaya dan sendirian itu, ia bertransformasi menjadi sosok yang cerdik dan pemberani. Kesedihan dan kemarahannya entah bagaimana bertransformasi menjadi kekuatan yang menuntunnya untuk tetap tangguh dan berpikir jernih bahkan pada saat-saat genting yang mengancam nyawa. Dan terbukti, pengetahuan dari buku-bukunya membantu, pada beberapa kesempatan ia berhasil lolos dari kejadian berbahaya berbekal cerita dari buku-buku yang sebelumnya ia baca, contohnya saat ia harus memilih dari dua jembatan yang dijaga troll, mana jembatan yang harus dipilih ketika satu troll suka berbohong sementara troll yang lain jujur. Ia mengajukan pertanyaan pada salah satu troll itu: "Apa yang akan dikatakan temanmu di jembatan seberang jika kutanyakan, jembatan mana yang aman untuk dilalui?", membaca bagian ini saya jadi teringat bahwa ini memang cerita yang cukup terkenal, jika tidak salah, ini satu cerita yang kurang lebih sama dari kisah Abu Nawas.

Negeri ini ternyata memang sangat aneh, ketakutan-ketakutan bawah sadar mewujud menjadi makhluk-makhluk di dunia nyata: kaum Loup ternyata adalah wujud ketakutan Raja, dan David sendiri yang takut pada cacing besar raksasa, penyihir dalam kastil dan pria penyuka sesama jenis ternyata bertemu ketiganya di negeri ini. Dengan imbalan akan diantar sampai ke tempat Raja, David setuju menjadi pengawal seorang ksatria bernama Roland yang sedang dalam perjalanan mencari Raphael (pria muda yang ternyata sangat dicintainya), menuju kastil penyihir yang dituju Raphael untuk membuktikan diri, dan untuk mendapatkan bekal dalam perjalanan, mereka membantu penduduk desa untuk membunuh cacing raksasa.

Di balik bayang-bayang, ada satu tokoh antagonis yang ternyata mengendalikan jalannya keseluruhan cerita, ialah si Lelaki Bungkuk, makhluk tua yang punya banyak nama sekaligus juga mungkin tak punya nama, Tukang Kayu menyebutnya Makhluk Jail, tapi sesungguhnya ialah  penguasa sejati di negeri itu, bukan sang Raja.

Di penghujung cerita, David menemukan bahwa ternyata Raja adalah Jonathan Tulvey, ia menjadi penguasa bayangan di negeri ini sebagai pertukaran kesepakatan dengan Si Lelaki Bungkuk, ia hanya perlu menyebutkan nama Anna adiknya dengan penuh kebencian, dan membawa sang adik ikut ke negeri itu, tanpa tahu bahwa setelah itu, si Lelaki Bungkuk akan memakan jantung Anna, dan mendapat tambahan usia sebanyak jatah umur Anna.

Jonathan mendapatkan kekuasaannya dari pengkhiatan terhadap adiknya yang lebih lemah yang seharusnya dilindungi, maka meskipun menjadi raja, ia tak pernah merasa bahagia sepanjang hidupnya. Dan kini Jonathan sudah mendekati akhir usianya, begitu pun si Lelaki Bungkuk yang terikat pada usia Jonathan, maka untuk dapat meneruskan hidup, si Lelaki Bungkuk harus mencari korban lainnya, seorang anak yang memiliki cukup kebencian sehingga sanggup menyerahkan sasaran kebenciannya sebagai pertukaran terhadap kekuasaan sebagai raja.  Melihat kondisi David yang hampir sama dengan Jonathan, sama-sama punya adik baru yang dianggap akan merebut kasih sayang orang tua, si Lelaki Bungkuk pun menawarkan posisi raja kepada David dengan syarat yang sama, David harus membawa Georgie dan menyebutkan namanya sebagai syarat kesepakatan. Sayangnya David yang sudah mengetahui keseluruhan fakta, memutuskan menolak tawaran itu pada detik-detik yang menentukan, sehingga Lelaki Bungkuk yang tak memperoleh perpanjangan usia lalu musnah, dan begitu pun kastilnya. 

Singkat cerita, David akhirnya bisa kembali pulang, bertemu kembali dengan ayahnya, dan jadi begitu menyayangi Rose dan Georgie. Diceritakan bahwa David meneruskan hidup sampai tua dan di ujung usianya ia memutuskan kembali masuk ke negeri aneh itu, di negeri itu ia bertemu kembali dengan Tukang Kayu yang ternyata adalah ayahnya sendiri, dan juga bertemu dengan istri dan anaknya yang telah wafat lebih dulu. 

Buku ini  termasuk ke dalam salah satu buku yang mengesankan untuk saya. Meskipun beberapa cerita di dalamnya sangat gelap, namun cerita itu menetap di sudut kepala, memesona dengan caranya sendiri. 

Oh ya, sebelum lupa saya ingin menyampaikan informasi tambahan yang 'penting banget': dalam buku ini sama sekali tidak ada kata pengantar, ucapan terima kasih penulis, pengantar penerbit atau glossary atau tambahan apa pun sebagaimana umumnya sebuah buku, buku ini benar-benar berisi keseluruhan inti cerita saja tanpa tambahan apapun selain halaman judul, informasi penerbitan, dan dua puisi pembuka di halaman pertama.

Senin, 11 Mei 2026

Sinopsis SEORANG ANAK YANG BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG SUPERHERO


Judul Buku            : Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero

Penulis                   : dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Jumlah halaman    : 246 halaman


Kamu mungkin bertanya, “Apakah aku pantas jadi superhero?”

serius, nih?

coba lihat ke belakang, ke semua perjalanan yang sudah kamu lalui,

orang yang sudah kamu bantu,

kata baik yang pernah kamu ucapkan,

hewan yang pernah kamu berikan makan,

tanaman yang pernah kamu siram,

dan diri sendiri yang telah kamu jaga selama ini.

Kamu sudah menjadi superhero. 

Kamu pun melakukan itu semua dengan segala keterbatasanmu. Itulah yang membuatmu menjadi super. (hlm. 246)

 

Dimulai dari buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, akhirnya saya jadi penggemar bukunya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Jadilah setiap beliau mengeluarkan buku baru, saya pasti langsung beli. Judulnya memang selalu unik-unik, bukunya yang kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya, dan buku yang ketiga: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. 

Buku ketiga ini bukan hanya judulnya saja yang menarik, tapi cover-nya juga, di bagian depan ada sesosok anak kecil yang sedang bermain superhero-superheroan, lengkap dengan pedang mainan, jubah dan ikat kepala.

Di sebelah anak kecil tersebut ada frame foto yang menampilkan superhero beneran. Menariknya ketika lembar cover dibuka ternyata frame foto itu adalah lubang yang menampilkan si superhero,  lembaran dibaliknya menampilkan gambar utuh si anak yang sama, namun terlihat sedang ketakutan dan berlindung pada si superhero yang melawan naga api. 


Menurut saya cover buku ini sudah dipilih dengan seksama dan terbukti sangat berhasil menggambarkan isi buku. Tak cukup sampai disitu, bahkan pembatas bukunya sendiri menyerupai topeng mainan yang banyak dijual depan sekolah SD dulu lengkap dengan lubang di kedua sisinya yang bisa dipasangi karet gelang untuk diselipkan di telinga.


Topeng mainan ini sengaja berwarna putih agar bisa digambar dan diwarnai sesuai dengan keinginan. Ini topeng saya yang sudah diwarnai =D


Hal lain yang mengesankan dari buku-bukunya dr. Andreas adalah Kata Pengantar, jika buku-buku lain biasanya dibuka dengan kata pengantar yang membosankan dengan template yang sama (biasanya saya cenderung skip bagian kata pengantar =D), tapi bagian kata pengantar dalam ketiga buku dr. Andreas selalu menjadi pembuka buku yang  menarik untuk dibaca, biasanya diawali dengan cerita yang kemudian benar-benar mengantarkan pembaca kepada isi buku. Saya menemukan satu bagian yang menarik dalam kata pengantar buku ini: Aku menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang ditemukan -itu adalah sesuatu yang kita bentuk dengan segala pilihan kita, dan pilihan orang-orang lain di sekeliling kita. Buku ini membahas tentang mengenali diri sendiri: kita ini siapa dan ingin menjadi seperti apa? (hlm xviii).

Masuk ke isi, buku ini terdiri dari dua belas bagian yang dimulai dengan angka 1 sampai 12, ditambah dengan empat bagian yang saya perhatikan menjadi bentuk baku dalam buku-bukunya dr. Andreas: (1) Epilog (dalam buku ini judulnya Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child); (2) Bacaan Lebih Lanjut; (3) Ucapan Terima Kasih dan; (4) Tentang Penulis.

Bagian pertama berjudul Kenapa Harus Dilahirkan, pertanyaan ini ternyata adalah pertanyaan yang paling sering disampaikan pasien dalam sesi konsultasi, “Kenapa kita harus dilahirkan di dunia?, padahal kita tidak pernah minta dilahirkan”. Lalu dengan bijak buku ini akan menyarankan padamu bahwa mungkin kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi kita memiliki kekuatan untuk menciptakan makna dan keberuntungan dalam hidup kita sendiri (hlm 19).

Bagian kedua berjudul Anak Kecil yang Nyasar di Rumah Sendiri,  bagian ini bercerita tentang salah satu pasien bernama Stelora, seorang ibu berusia 34 tahun dengan gangguan kecemasan yang ternyata merupakan peninggalan dari pola asuh dan luka masa kecil yang belum sembuh. Entah bagaimana, saya yakin banyak sekali dari kita (bahkan mungkin saya sendiri) yang sebetulnya merupakan Stelora-Stelora lain dengan luka yang beragam.

Bagian Ketiga berjudul Seorang People Pleaser yang Merasa Berdosa Saat Membangun Boundaries. Dari buku pertama, buku-bukunya dr. Andreas  banyak sekali bicara tentang teori-teori psikologis yang disampaikan dengan ringan dan mudah dicerna, sehingga sejujurnya saya banyak sekali belajar dari buku-bukunya beliau. Dari buku ini, saya menemukan bahwa menurut Adam Grant terdapat tiga jenis manusia: giver (pemberi) yaitu orang yang cenderung memberikan sesuatu atau membantu orang lain, taker (penerima) yang merupakan kebalikan dari giver dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu dari orang lain, dan matcher (penyeimbang), karakter unik yang bisa memberi namun juga bisa menerima. Ini sebetulnya relate dengan ungkapan yang cukup sering beredar di sosmed: “orang ngga enakan biasanya ketemu sama orang ngga tau diri”, ditinjau dari teori Adam Grant ini, mungkin maksudnya giver yang selalu ingin memberi ketemunya sama taker yang selalu mau diberi. 

Dalam dunia kerja orang paling sukses dan paling tidak sukses ternyata adalah giver, yang membedakan adalah giver yang tahu batasan menjadi yang paling sukses sementara yang cenderung  mengorbankan diri dan menjadi people pleaser akan selalu jadi korban yang dimanfaatkan orang lain. Tanpa boundaries, giver ini menjadi people pleaser yang ternyata sangat tidak sehat. Maka berani mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain sebetulnya adalah salah satu bentuk self respect, karena ternyata kemampuan untuk mengatakan “tidak” merupakan salah satu sikap yang harus dilatih. Intinya, buatlah boundaries, berani mengatakan tidak, tetaplah jadi orang baik tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bagian Keempat berjudul Kita Semua Mengenakan Topeng, bab ini bercerita tentang pasien lain bernama Victor dan dalam bagian ini juga diterangkan konsep persona dan shadow yang digagas oleh Carl Jung. Dalam konsep persona, diri kita yang apa adanya disebut self, namun dalam interaksi dengan orang lain, kita perlu mengenakan sebuah topeng yang disebut sebagai persona, dan persona ini berubah-ubah bukan karena plin-plan melainkan fleksibel sesuai dengan peran kita, sebagai dokter atau guru, sebagai istri atau suami, sebagai anak atau orang tua.

Yang menjadi masalah adalah ketika beberapa topeng terasa lebih sesak untuk dikenakan dibanding topeng lainnya, ketika kita mengenakan topeng yang sama di semua situasi dan ketika kita mengenakan suatu topeng tanpa menyadari topeng apa yang dikenakan atau dengan kata lain kita  terlalu erat memegang topeng yang menurut Jung bukanlah diri sejati kita.  Dan mengenakan topeng ini ternyata tidak gratis, ada harga yang harus dibayar dan harga tersebut biasanya ditekan ke dalam suatu ruangan bernama shadow, contoh kecil: orang dengan topeng penyabar akan menekan marahnya ke dalam shadow, dan sayangnya shadow ini pun seperti gudang yang punya kapasitas penyimpanan dan dalam batas tertentu bisa meledak juga. Saran di akhir bagian menyatakan bahwa pada waktu-waktu aman, belajarlah untuk melepas semua identitas, untuk kemudian menyadari bahwa di balik semua label dan topeng, kamu adalah manusia yang sedang belajar menjadi utuh (hlm. 69).

Bagian Kelima berjudul Mencintai Orang Asing di Dalam Cermin. Pada bagian ini diceritakan bahwa pada tahun 1970 an seorang psikolog Austria bernama Heinz Kohut menyatakan bahwa seorang anak perlu memenuhi tiga kebutuhan agar menjadi utuh: mirroring needs (kebutuhan untuk divalidasi), idealizing needs (kebutuhan untuk memiliki role model), dan twinships needs (kebutuhan untuk menemukan kembaran). Ketika dalam perjalanan hidup ternyata kita tidak dibesarkan dalam lingkungan yang memenuhi ketiga kebutuhan itu, maka menjadi tanggung jawab diri kita sendiri untuk memenuhinya. ‘Mulailah dengan mencintai refleksi yang kamu temukan di dalam cermin. Mungkin kamu mengatakan, “Aku tidak tahu cara mencintaiku diriku!’ Jika demikian pun, tidak apa. Mulailah berkenalan dulu dengan sosok itu. Meminjam istilah Kunto Aji, temuilah kembali “Orang asing dalam cermin’ itu. Bukankah kita berkenalan dahulu, baru jatuh cinta?, hlm 81.

Bagian keenam berjudul Warisan Itu Bernama Trauma. Saya menemukan banyak sekali fakta menarik ketika membaca bagian yang ini, pertama saya baru tahu bahwa trauma ternyata berasal dari istilah medis, bukan istilah psikologis. Menurut kamus Merriam-Webster, trauma adalah sebuah cedera pada jaringan yang diakibatkan sebab dari luar. Trauma berarti luka atau benturan. Respons tubuh terhadap trauma yang diterjemahkan sebagai rasa sakit ternyata bertujuan untuk melindungi diri dan juga sebagai survival agar di kemudian hari kita tidak mengulangi tindakan serupa. Selain trauma fisik, trauma psikologis pun ternyata berdampak sama. Kedua, saya juga baru tahu bahwa ternyata ada kosa kata baru: menyakutkan yang merupakan gabungan dari menyakitkan dan menakutkan (ini kosa kata baru ciptaan dr. Andreas sendiri hehehe...). Ketiga, trauma menyebabkan suatu fenomena yang disebut speed-accuracy tradeoff, yang artinya kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa sejarah pasti berulang. Dengan kata lain kita terlalu cepat memprediksi sesuatu berdasarkan data dari masa lalu. Sayangnya otak manusia selalu membuat prediksi yang belum tentu benar, dan sayangnya ketika prediksi dibuat, tanpa sadar kita berusaha membuktikan prediksi tersebut. Contoh sederhananya, ketika saya pernah bertemu dengan orang berusia lanjut yang cenderung bawel dan ikut campur, dengan mudah saya akan membuat prediksi bahwa semua orang lanjut usia itu bawel dan ikut campur.

Kelima, saat menghadapi kondisi yang traumatis, ada tiga hal yang akan kita lakukan: satu, mencari bantuan atau dukungan sosial, kedua, ketika tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan kita akan masuk mode kedua: fight or flight, ketiga ketika tidak bisa melawan ataupun melarikan diri kita masuk ke kondisi freeze atau membeku.

Keenam, ada trauma yang diwariskan antar generasi, dan menjadi tugas kitalah untuk memutus trauma transgenerasi tersebut.

Bagian Ketujuh berjudul Tutorial Merapikan Rumah yang Berantakan, rumah yang dibahas pada bagian ini adalah rumah dalam arti fisik juga dalam arti psikis. Karena ternyata bukan hanya rumah fisik yang bisa terdiri dari kompartemen-kompartemen dan berantakan, tapi pikiran juga. Langkah-langkah untuk merapikan rumah adalah: (1) Merencanakan sebelum membersihkan; (2) Benda lama: simpan, buang atau ganti; (3) Selesaikan satu sudut dalam satu waktu; (4) Gunakan alat yang tepat sesuai masalahnya; (5) Cari bantuan, jangan lakukan sendirian; (6) Berikan sentuhan baru; (7) Rawat dan pertahankan kebersihan rumah.

Bagian kedelapan berjudul Seorang Pilot Helikopter yang Pelupa. Bagian ini menjelaskan tentang identitas dengan cara yang amat sangat tidak biasa. Kita sudah tahu bahwa dr. Andreas adalah seorang dokter jiwa dan penulis, tapi bagaimana kalau ia pun mengklaim sebagai seorang pilot helikopter?, bukankah sah saja ia mengaku sebagai pilot helikopter. Disini kita berkenalan dengan konsep identitas palsu atau asli, dalam hal identitas profesi, identitas real or fake ini dinyatakan salah satunya dengan sertifikat atau ijazah. Dalam psikologi, identitas merupakan gabungan dari persepsi diri dan perilaku yang konsisten. Contoh sederhananya ketika kita menyatakan bahwa kita pelupa, diikuti dengan perilaku sering ketinggalan barang, maka “pelupa’ sudah menjadi identitas kita. Namun jangan khawatir karena identitas bisa diubah.

Bagian kesembilan berjudul Cara Memaafkan Kesalahan Seorang Petani Stroberi. Sejujurnya saya agak kesulitan mensarikan bagian ini, tapi untuk cepatnya tiga kalimat berikut sepertinya mewakili:

  1. Generasi stroberi mungkin dicap lemah dan kurang tahan banting, tapi bukankah yang menciptakan mereka adalah petani stroberi (generasi sebelumnya) yang sudah mendidik mereka sehingga jadi seperti itu.
  2. Penderitaan = rasa sakit – penerimaan, salah satu teknik mengurangi penderitaan adalah dengan menerima rasa sakit itu sendiri tanpa bertanya mengapa.  (hlm 162)
  3. Penderitaan = rasa sakit x penolakan, semakin kita menolak realitas atau menolak rasa sakit tersebut, penderitaan yang kita alami jadi berlipat ganda. (hlm 162)

Bagian kesepuluh menceritakan tentang Seorang Dokter yang Membohongi Pasiennya, bagian ini untuk saya adalah bagian paling emosional dari buku ini, saya tidak akan ceritakan, karena khawatir rangkuman malah akan mengurangi makna dari keseluruhan cerita di bagian kesepuluh ini.

Selanjutnya bagian kesebelas Rantai Trauma yang Harus Diputus dan bagian ke dua belas Menjadi Inner Parent untuk Inner Child adalah bagian penutup buku yang menceritakan juga akhir kunjungan Stelora dan Victor, keduanya menunjukkan tanda-tanda sembuh dari trauma dan hal lain yang menyebabkan mereka harus datang berkonsultasi sebelumnya.

Bagian Epilog: Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child berisi langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika kita ingin memberikan penjelasan kepada inner child di dalam diri kita tentang apa yang terjadi pada hidup kita selama ini. 

Usai menamatkan buku ini, saya rasa testimoni dari Disya Arinda yang tercetak di akhir buku memberikan gambaran yang paling sempurna: “Buku ini seperti seorang sahabat: memeluk sembari mengingatkan. Bertumbuh dengan luka masa lalu memang tidak terhindarkan, tapi tidak ada kata terlambat untuk berusaha pulih dan menentukan siapa dirimu hari ini." 

Selasa, 05 Mei 2026

Jangan Menikah Muda...




Usia saya masih 19 tahun kala itu, masih tahun kedua di program sarjana, masih dalam proses beradaptasi dengan kehidupan kampus yang sangat keras, karena entah kenapa, meskipun saya juara umum di sekolah asal saya, di kampus ini saya tak lebih dari anak cupu yang ternyata tak bisa apa-apa. Pernah sekali dapat nilai tertinggi pada praktikum Gambar Rekayasa dan UTS Análisis Statistik dan Probabilitas, tapi selebihnya nilai-nilai saya terjun bebas, jelek sekali, tak masuk hitungan sama sekali sebagai mahasiswa cemerlang.

 

Tapi saya juga tak pernah berencana sedikit pun untuk menikah di masa itu. Karena meskipun nilai saya tak cemerlang, itu semata karena saya memang kurang pintar dan kurang berjuang, bukan karena saya punya pacar sehingga konsentrasi belajar saya terpecah. Jadi percayalah, ketika kemudian saya menikah di pertengahan semester 3, itu bukan karena sebelumnya saya pacaran.

 

Kalau ditanya apa alasannya saya menikah muda, mungkin meskipun dengan rasa malu, harus saya akui bahwa saya tidak punya alasan apapun. Hidup bagi saya seperti sekumpulan kejutan yang saya serahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, belakangan baru saya sadari bahwa kalimat ini  sebenarnya hanyalah murni eufemisme dari "hidup tanpa rencana". Karena memang benar, saya hampir tak pernah merencanakan apapun dalam hidup saya, masuk kampus pun saya tak memilih jurusan dengan benar, maka salah saya sendiri jika ternyata jadinya saya terseret-seret mengikuti mata kuliah yang sama sekali tak bisa saya sukai.

 

Maka ketika pria ini datang lagi entah untuk keberapa puluh kalinya dalam lima tahun ini, mengajukan permintaan yang sama kepada Ibu dan Bapak untuk melamar saya, rasanya saya sudah kehabisan alasan untuk menolak. Sehingga ketika ibu saya berkomentar: "Sejujurnya Mamah belum pernah melihat laki-laki segigih itu, bertahun-tahun ditolak, balik lagi, balik lagi, kelihatan sekali kalau ia akan serius dan sangat sayang", akhirnya betul-betul iseng, saya terima saja. Siapa sangka jika ternyata langsung menetapkan tanggal akad dan meski masih terasa seperti mimpi, tiba-tiba saja saya sudah jadi istri seseorang.

 

Dan fase hidup yang baru pun dimulailah.

 

Siapa sangka jika kehidupan setelah menikah begitu indah, tapi sekaligus juga begitu banyak masalah. Indah karena mungkin sebelumnya kami tak pacaran, maka masa-masa awal pernikahan masih menjadi sekumpulan kesempatan bagi kami untuk saling mengenal. Saya masih sering terpesona pada sosok laki-laki yang menjadi suami saya (Mamah betul, ia memang sangat menyayangi saya). Tapi sebaliknya begitu banyak masalah, yang jika dikaji lagi saat ini setelah masing-masing dari kami sudah bertambah dewasa (dan bertambah tua bersama) semua masalah itu timbul dari satu sebab saja: kurang ilmu.

 

Benarlah ketika Rasulullah bersabda bahwa menikah adalah setengah dari agama, karena betapa peliknya hidup yang saya rasakan setelah menikah. Masalah bisa datang dari kanan kiri depan belakang. Dan lama sekali proses yang harus saya tempuh untuk sampai pada kesimpulan bahwa kekurangan uang ternyata bisa jadi masalah besar, meskipun selama masih berikhtiar, rezeki selalu datang entah dari mana saja. 

 

Jika saya ditanya, semiskin apa yang pernah dialami selama menikah?, sepertinya pernah sampai tidak pegang uang sama sekali, ah bukan, ada sisa-kepingan uang logam yang ketika dikumpulkan hanya cukup untuk membeli kerupuk. Anehnya saat itu kami berdua tidak sedih, biasa saja, meskipun ada kekhawatiran berikutnya akan bagaimana, tapi saat itu, keyakinan bahwa kami saling memiliki, dan apa pun yang terjadi selama kami berdua hadapi bersama, semua akan baik-baik saja (ini adalah sejenis keberanian atau mungkin kebodohan pengantin baru).

 

  

Seiring waktu, keberanian (atau kata lain dari kebodohan) yang timbul dari cinta impulsif ini terbukti perlahan memudar, digantikan dengan pertimbangan  dan sikap yang mungkin sama sekali tidak ideal namun lebih realistis. Karena untuk kami yang kemudian benar-benar menjalani hidup berdua tanpa dukungan keluarga besar, dalam kondisi yang satu masih kuliah S1 dan satu lagi kuliah S2 serta dikaruniai anak dalam waktu tiga tahun berturut-turut, hidup kemudian menjelma menjadi serangkaian ajang uji nyali. Karena ternyata bukan hal yang mudah, mengelola gaji dosen muda yang ternyata tak seberapa, dalam kondisi tiap tahun hamil dan dua-duanya masih kuliah.

 

Awal-awal pernikahan saya akui, sungguh kehidupan berumah tangga ini melenakan, saya terjebak dalam romansa, tak ingin kemana-mana, hanya ingin di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga, mengerjakan semua pekerjaan yang itu-itu saja sambil menunggu suami pulang bekerja, sepertinya menyenangkan. Sampai kemudian satu kejadian besar menyadarkan saya, dan dengan berat hati saya meneguhkan hati untuk menyelesaikan kuliah S1 saya apapun yang terjadi. Belakangan, saya harus mengakui bahwa jika ada keputusan paling bagus yang pernah saya ambil dalam hidup saya yang serampangan, maka itu adalah keputusan untuk tetap berjuang memperoleh gelar S.T. Meskipun dalam prosesnya, tidak bohong jika saya bilang berkali-kali merasa ingin bunuh diri, saking beratnya.

 

Hal lain yang saya rasakan setelah menikah adalah saya kewalahan menyesuaikan diri dengan status saya yang baru. Banyak hal dari rutinitas saya yang harus berubah setelah hidup bersama pasangan. Adaptasi yang ternyata sangat tidak mudah, karena itu tadi: kami berdua masih kurang ilmu. Dalam perjalanan, saya temukan, cinta yang sangat besar saja ternyata tidak cukup untuk menjalankan rumah tangga. Sering sekali bahkan sekedar masalah sepele berujung pada percekcokan, bukan karena tak cinta, semata karena masalah komunikasi saja. Dan sering sekali percekcokan ini berujung pada permintaan saya untuk bercerai, duh. Untungnya, usia saya dan suami terpaut sebelas tahun (pada banyak kesempatan ia sering memperkenalkan saya sebagai anaknya yang pertama), maka dapat dipahami bahwa ialah yang selalu bersabar menghadapi semua tingkah laku saya yang ajaib. Tak pernah satu kali pun ia terpancing setiap saya meminta berpisah, dan mungkin itu salah satu faktor yang membuat kami bertahan sampai hari ini, karena ia menjelma dingin setiap saya jadi api, dan seberat apapun kesalahan saya, semurka apapun ia, sama sekali ia tak pernah menyinggung perpisahan dengan saya sebagai solusi.

 

Panjang sekali jika kemudian menceritakan bagaimana perjalanan rumah tangga kami selama 22 tahun ini. Namun belajar dari kesalahan-kesalahan saya, jika ada beberapa point yang bisa saya simpulkan dengan ringkas, maka kurang lebih akan seperti inilah:

1.    Sebaiknya jangan menikah muda. Seandainya saya bisa mengulang waktu, saya tidak akan menikah di usia belasan, saya akan belajar saja dulu dengan tekun, kemudian bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya. Bertamasya ke seluruh belahan dunia, melakukan semua hal yang ingin saya lakukan, mengupayakan mimpi-mimpi, lalu selesai dengan diri saya sendiri dahulu, baru kemudian memutuskan menikah. Menikah sambil kuliah itu berat sekali, tetangga saya gagal menyelesaikan kuliahnya dan ternyata kegagalan ini menjadi penyesalan seumur hidup, bukan hanya untuk tetangga saya, tapi juga untuk ayah ibunya.

2.    Jangan salah pilih pasangan. Hidup seperti apa yang akan dijalani setelah menikah sangat tergantung dari pasangan seperti apa yang dipilih. Berapa banyak orang baik yang menjadi buruk karena menikah dengan pasangan yang salah, dan sebaliknya, banyak juga yang menjadi versi diri yang lebih baik setelah menikah. Jadi pastikan, jangan sampai salah pilih.

3.    Menikahlah dengan ilmu, bukan sekedar hanya karena cinta. Tentukan tujuan menikah, untuk membangun peradaban atau tujuan lain yang lebih luhur. Seiring waktu saya menemukan, bahwa tujuan menikah untuk menghindarkan diri dari zina adalah selemah-lemahnya tujuan.

4.    Menikahlah dengan orang yang benar-benar diinginkan. Saya melihat beberapa orang memutuskan menikah semata karena “kebetulan”.  Kebetulan bertemu dengan seseorang pada keadaan dan kondisi yang dirasa pas, jadi ya sudah menikah saja, mengira cinta akan tumbuh seiring waktu. Rasanya kurang etis juga ketika memutuskan hidup bersama, namun cinta hanya diterjemahkan sebatas tanggung jawab menafkahi dan menunaikan semua kewajiban rumah tangga lainnya.

5.    Komunikasi adalah kunci, sekali lagi saya garis bawahi bahwa cinta yang besar saja tidak cukup untuk menjalani hidup berumah tangga.

6.    Hati bisa berubah, maka sebaiknya perempuan tetap punya penghasilan sendiri biarpun sedikit, agar ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, perempuan tetap punya pilihan yang hanya bisa diciptakan dari kondisi bebas secara finansial.

7.    Jangan sampai pernikahan membuat kita kehilangan diri sendiri. Justru sebaliknya, menikah seharusnya membuat jiwa tenang sehingga termotivasi untuk bersama-sama menjadi versi diri yang jauh  lebih baik.

Poin-poin ini bisa sangat panjang sebetulnya, mengingat pernikahan adalah hal paling rumit dalam kerangka hubungan dua manusia, makanya disebutkan bahwa pernikahan adalah ibadah seumur hidup, dan (saya lupa baca dimana), konon pernikahan adalah ikatan yang sanggup membangkitkan sisi gelap dalam jiwa yang tak pernah kita tahu ada.

Tapi saya bukan konselor, pernikahan saya sendiri masih sangat-sangat jauh dari sempurna, dan tujuan tulisan kali ini sebetulnya sederhana saja, untuk mengingatkan agar sebaiknya tidak menikah muda dan yang paling penting tidak menikah tanpa ilmu. Itu saja sebetulnya.  Mohon maaf karena seperti biasa, tulisannya jadi panjang dan kemana-mana =D

 

 

Senin, 04 Mei 2026

Pada Suatu Senin Dini Hari

 Senin dini hari, alarmku berbunyi tepat jam setengah tiga.


Saat paling tepat untuk berkemas: mencuci muka seadanya, mengecek ransel dan barang bawaan. Dan terakhir, mengemasi air mata.

Telah kuulangi Senin seperti ini ratusan kali, tapi selalu tak pernah mudah, berpamitan dalam diam pada ketiga anakku yang tengah tertidur pulas. Menyampaikan rasa sayang dan kehilangan hanya lewat kecupan ringan di dahi. Si bungsu menggeliat dalam tidurnya, membuka mata sedikit, lalu tersenyum mengantuk sebelum kemudian tertidur lagi. Ada perih mengendap di dasar hati. Saat kuhirup wangi kulit lembut mereka. Membiarkan kehangatannya merambat ke hati sebelum akhirnya mataku melelehkan air asin yang panas di pipi.

Dan sebelum semuanya menjadi tak tertahankan, kusandang ransel di bahu, melangkah cepat dan membuka pintu depan, menyambut kegelapan dan udara dingin di luar sana. Aku beruntung, jalanan lengang dan gelap. Aku bisa menangis sendirian sambil terus berjalan, tanpa khawatir pada teguran atau sapaan dari orang yang sekedar ingin tahu.

Suara sepatuku menggema di jalanan beraspal, dan dingin udara Bandung menggigilkan seluruh tubuhku. Sementara pertanyaan yang sama terus menerus bergema di hati ini.

Takdirkah?

Bekerja di ibu kota, semua demi masa depan yang lebih baik untuk anak-anak, sementara di saat yang sama aku meninggalkan mereka, tanpa pengawasan dari orang yang bisa kupercaya sepenuh hati.

Dan seandainya takdir tercipta di tanganku sendiri, maka ini hanyalah sederet konsekuensi logis dari pilihan yang kuambil.

Lagi-lagi air asin itu meleleh di pipiku.

Susah payah kuhentikan deraiannya sebelum sebuah angkot berhenti tepat di depanku. Cukup penuh ternyata, oleh pria-pria dengan ransel besar dan ibu-ibu dengan keranjang belanjanya.

Di pasar Subuh, para ibu ini turun. Bau amis daging, sayur mayur, dan becek sisa hujan semalam menari-nari, menyelinap ke dalam angkot. Sejenak kulihat diriku disana, setengah tahun yang lalu, dalam celemek dan golok, bersimbah darah ayam yang mengorbankan nyawanya demi menyambung hidup seorang anak manusia.

Diriku di sudut sana. Menghitung lembar-lembar lusuh yang kudapat sepagian itu. Darah dan amis menempel di ujung-ujung lembarannya. Tak seberapa, tak sebanding dengan waktu tidur yang terpotong, tak sebanding dengan kesabaran menghadapi pembeli yang rewel, tak sebanding dengan lelah, tak sebanding dengan beban moral tentang seorang sarjana teknik yang terpuruk menjadi pedagang ayam.

Dan ibu kota menjadi tumpuan terakhir. Setelah pening menghapal undang-undang, setelah malam-malam panjang dalam doa dibarengi tangis jiwa, namaku tercetak disana, satu orang yang terpilih dari ratusan pelamar, yang berjuang demi sebaris NIP , status aman dengan gaji tiap bulan dan uang pensiun.

Sejenak kepalaku pening akibat mabuk dalam euforia, sebelum kesadaranku tersentak menatap ketiga anakku yang masih balita. Si sulung dan si tengah belum masuk TK, sedang si bungsu sendiri belum bisa bicara dengan jelas. Mereka masih terlalu kecil untuk ditinggal. Dan aku, masih terlalu rapuh untuk melewatkan sehari saja tanpa mereka.

Bimbang dan ragu…

Lalu bagaimana?, kesempatan tak datang dua kali.

Kenangan itu lalu menyeruak, Kakak tersedu sepulang bermain.

“Kenapa Kak?”, tanyaku lembut.

“Kakak diejek Awa, Bu, katanya baju Kakak jelek”. Aku tertegun, mengangkat lembut dagunya, menentang matanya.

“Jangan sedih Kak, bilang pada Awa, baju Kakak jelek, tapi Kakak pintar”.

Ucapanku tak membantu. Ia tak mengerti apa itu pintar, ia hanya mengerti bajunya tak sebagus baju temannya.

Dan aku merasa jadi orang paling berdosa. Aku, sarjana institut terbaik negeri ini, tapi tak sanggup beri kehidupan lebih baik untuk anakku sendiri.

Maka kukeraskan hatiku. Kuyakinkan diri sendiri bahwa cinta tak berarti selalu dekat. Untuk apa cinta, jika saat mereka sakit aku tak bisa beli obat. Untuk apa cinta jika saat mereka ingin sekolah, aku tak punya uang untuk membeli buku. Sementara aku berdalih semua yang kulakukan untuk anakku, lalu apa artinya jika aku tak dapat membuat mereka berjalan dengan kepala tegak.

Maka disinilah aku sekarang. Di dini hari yang dingin ini, menanti bus malam menuju Jakarta, berebut kursi penumpang dengan pejuang-pejuang lain yang juga mencari nafkah disana.

Bayangan tentang si sulung yang ingin jadi dokter, si tengah yang ingin jadi pilot, dan si bungsu yang ingin jadi insinyur, sudah cukup menjadi energi untukku melewatkan 5 hari yang sepi di ibu kota. Kesepian, muak, jenuh. Melihat dahi-dahi yang berkerut, senyuman mekanis dan derap langkah yang selalu terburu-buru mengejar waktu.

Mungkin aku tak bisa mengubah dunia. Aku tak menyumbang apa pun untuk peradaban. Tapi setidaknya aku ingin, anak-anakku, darah dagingku, yang akan tinggal di masa depan, tidaklah menjadi generasi yang lemah. Aku tak ingin mereka jadi sampah peradaban yang hanya bisa mengandalkan hidup dari belas kasihan orang, aku tak ingin mereka menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar berjuang untuk dapat hidup. Aku ingin mereka jadi orang besar, dengan jiwa dan pikiran yang juga besar. Dan pendidikan adalah salah satu jalan menuju kesana.

Bus melaju kencang di jalan yang lengang. Radio tapenya melantunkan sebuah lagu yang telah lama kukenal baik: Fix You, ColdPlay.


When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
could it be worse?

Lights will guide you home
and ignite your bones
And I will try to fix you

High up above or down below
when you're too in love to let it go
but If you never try you'll never know
Just what your worth

Lights will guide you home
and ignite your bones
And I will try to fix you

Tears streaming down your face
When you lose something you cannot replace

Tears streaming down your face and I
Tears streaming down your face

I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face and I

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Hatiku pilu, mendengar alunan musiknya, meresapi bait-bait lagunya. Tapi dukaku terasa terwakili. Dan kelegaan timbul begitu saja. Aku yakin anak-anakku mengerti, bahwa aku sedang berjuang untuk mereka. Dan aku yakin pula, mereka tak akan menyia-nyiakan perjuanganku.

Hingga pada suatu hari di masa depan, kami bisa membuktikan pada dunia tanpa perlu banyak kata, bahwa kami adalah penguasa bagi takdir kami sendiri. Kami adalah para pejuang, dan kami menang.

Nak, kita ditantang seratus dewa.



*Catatan saya pada Februari 2011, ditemukan dari file di komputer lama

 

 

Tentang Kamu, Nak


 

Untuk: Rahya Hanggana Langit Rahmatungga

 

Hampir 12 bulan sudah kita bersama, Nak, bergerak bersama, bernapas bersama, merasa bersama, sejak engkau masih berupa embrio kecil sampai gerakanmu mampu membuat tonjolan kecil di perutku.

 

Dua belas bulan yang istimewa, namun juga mencemaskan, mengingat begitu banyak hal yang terjadi pada kita berdua selama 12 bulan itu. Kamu ingat malam-malam panjang itu Nak?, saat kita berdua, ditemani secangkir kopi, yang aku tahu tak boleh dikonsumsi wanita hamil, tapi menjadi benteng terakhirku agar bisa terjaga sepanjang malam, bergulat dengan setumpuk buku teks, paper dan tentu saja si Macbook yang sudah harus di-upgrade  itu. Buku-buku teknik di sebelah kanan dan buku-buku filsafat di sebelah kiri. Rasanya tak pernah sepanjang hidupku, harus mencerna sederetan rumus dan mengintisarikan pemikiran tokoh-tokoh besar dunia dalam satu waktu sekaligus, tapi bersamamu Nak, entah bagaimana, saat pagi tiba satu jurnal humaniora sudah siap disetor dan ujian siang nanti pun rasanya tak akan terlalu sulit dihadapi.

 

Ingatkah juga kamu saat-saat itu Nak, saat kita berdua jatuh dari tangga kebun belakang, sekujur tubuhku rasanya remuk redam, tapi kamu Nak, tersembunyi dengan aman dan rasanya semua sakitku terbayar sudah. 

 

Dan ingatkah juga kamu Nak, saat waktu perkiraan lahirmu telah lewat jauh, tapi kamu tak juga mau meninggalkan rahimku,  kecemasan itu rasanya menjadi-jadi, berganti dengan ketakutan yang setiap hari membuatku bertanya padamu: ”Kapan kamu lahir,  Nak?”.

 

Pertanyaan-pertanyaan tetangga setiap bertemu rasanya semakin membuat khawatir: ”Loh, belum melahirkan juga??”, sementara satu persatu teman-teman sesama bumil melahirkan bayinya, hanya kita berdua yang masih setia berbagi ruang dalam satu tubuh bersama-sama. 

 

“Hasil USG nya bagus, tapi operasi saja”, rasanya hanya itu saja yang kita dengar setiap periksa ke dokter, tapi ayahmu Nak, yang dibesarkan di lingkungan konservatif, menolak keras saran dokter. “Setiap manusia yang lahir punya dawuh  masing-masing”, selalu begitu katanya. “Ia akan lahir dengan normal dan selamat, jadi biarkan ia memilih waktunya sendiri”, itu katanya tentangmu, dan aku hanya bisa terdiam, berdoa dalam hati karena cemas yang tak kunjung reda.

 

Satu bulan menjelang kelahiranmu, aku terserang insomnia akut, sepanjang malam aku mengumpulkan bahan-bahan seputar kehamilan postterm. Mencari-cari di google, apapun yang bisa menentramkan hatiku yang tak bisa berhenti mencemaskanmu. Tahukah kamu, Nak, setiap bangun pagi hal yang pertama kulakukan adalah memegang perut, berharap engkau memberikan tanda bahwa engkau di dalam cairan amniotik di dalam sana masih hidup dan sehat.

 

Doa-doa panjang diiringi tangis jiwa. Dan kekhawatiran yang semakin memuncak melihat bayi tetangga: “Sudah bisa tengkurep loh” celoteh ibu yang satu,  “Beratnya sekarang 7 kilo”, ungkap ibu yang lain, padahal hanya berselang minggu kami saling mengabarkan berita bahagia kehadiran si calon bayi.

 

Satu-satunya yang cukup meringankan perasaan hanya ucapan Nenek, ibu dari ayahmu yang berkata: “Tak apa-apa, ayahnya juga dulu satu tahun dalam kandungan Ibu”, dan akhirnya, aku memilih pasrah. Yang akan terjadi, terjadilah. 

 

Dan alih-alih terus mencemaskanmu Nak, aku malah memilih untuk menyibukkan diri. Berjalan kaki bolak balik ke depan kompleks meski hanya sekedar untuk membeli kue-kue jajan pasar, mencoba memasak jenis-jenis makanan yang cukup rumit, membaca sampai larut malam, dan terakhir ikut membantu di toko. Tak pernah aku bermanja diri bahkan saat berbadan dua, tapi rasanya tak pernah juga aku mendera diri sendiri sekeras ini. 

 

Kamu ingat saat kita dimarahi Kakek, Nak?, karena aku berkeras ikut membantu mengurusi ayam-ayam kita menjelang Idul Fitri kemarin, 1,2 ton ayam Nak, maka manalah mungkin aku membiarkan ayahmu mengurusi usahanya sendirian, sementara ia masih harus menyelesaikan tugasnya juga di kampus.

 

Dan akhirnya keajaiban itu datang juga, sama seperti hujan yang turun tiba-tiba di tengah terik langit kota Bandung siang itu, begitu pun tanda-tanda kelahiranmu. Meskipun penantian yang begitu lama sempat membuatku mengabaikan tanda-tanda itu. Flek-flek darah dan mulas kuanggap hanya efek dari kelelahan mengurus ayam-ayam itu seharian. Tapi itu bukan lagi mulas biasa. Mulas yang rasanya sampai menembus tulang belakang. Mulas berjeda yang setiap entakannya seolah menarik seluruh nafas sebelum meluluhlantakkan semua ketahanan terhadap rasa sakit. 

 

Dan dokter, bisa-bisanya ia menyuruh kita pulang lagi padahal jeda mulasnya sudah setengah jam sekali. Maka satu jam kemudian kita menemui dokter lagi dengan air ketuban yang sudah pecah. Dan perjuangan kita berdua pun dimulai.

 

Tahukah kamu Nak?, tiga kali mengalami proses melahirkan ternyata tak membuatku mampu menghadapi satu kali lagi proses melahirkan dengan berani. Sebaliknya justru Nak, aku takut, sangatlah takut. Untaian dzikir yang sudah kudaras dalam hati ribuan kali itu menenangkan, ya memang menenangkan, tapi saat gelombang sakit itu menghantam tulang belakang sekali lagi dan lagi dan lagi, perlu lebih dari sekedar sebaris kombinasi huruf-huruf hijaiyyah. Bukan hanya tentang kesabaran, tapi juga sebuah ujian tentang  pemahaman bahwa sakit adalah hal yang tak bisa dihindari, tapi ketakutan adalah hal yang harus dihadapi. Maka kuserahkan semuanya pada naluri. Pada tubuh ringkih yang terbukti telah ribuan tahun sudah dari generasi ke generasi mengemban tugas reproduksi manusia.

 

Tarik nafas, ya…tarik nafas, instruksi dokter yang terdengar samar-samar. Ingin menjerit keras-keras, tapi layakkah engkau hadir dengan keluhan Nak, dan bagaimana bisa aku mengharapkanmu tumbuh menjadi manusia tangguh jika di awal penyambutanmu saja aku sudah menunjukkan kecengengan seorang wanita. Maka aku memilih menelan bulat-bulat jeritan yang ingin kuteriakkan, menggantinya dengan tarikan nafas yang coba kuatur sesuai hitungan tasbih. Tapi semenyiksa inikah rasanya?. Ingatanku sempurna lupa, padahal tiga kali sudah aku menjalani sensasi sakit yang sama. Aku lupa tentang bagaimana susah dan sakitnya menahan seluruh otot yang serempak berkontraksi ingin mendorongmu keluar sementara dokter bilang tak boleh karena pembukaan yang belum sempurna. Tarik nafas lagi…sampai aku bertanya sambil setengah menahan isak kapan pembukaannya sempurna. 

 

Dan ketika saat itu tiba Nak, serentetan instruksi menyerangku membabi buta, tentang bagaimana aku harus menahan dagu, menatap ke bawah dan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, seperti disuruh berlari satu putaran lagi di Sabuga sementara kakimu bahkan sudah goyah, tak mampu lagi menopang bahkan berat badanmu sendiri. Seperti menapakkan sebelah kaki di perbatasan antara hidup dan mati. Dan saat aku hampir menyerah pada seluruh sakit itu, tangisanmu merenggut kembali segenap kesadaranku yang sudah timbul tenggelam. Kamu selamat Nak, kita berdua selamat. Dan saat tubuh mungilmu yang masih berselimut lapisan lemak itu didekapkan padaku, aku mengucap segenap syukur, pertarunganku tak sia-sia.

 

 

Nak, tanpa terasa tiga bulan sudah hari-hariku diisi dengan kehadiranmu. Dan aku belajar lagi tentang bagaimana menjadi orang tua dari seorang bayi, tentang malam-malam panjang saat kamu sakit dan menangis semalaman,  tentang senyum dan tawamu yang selalu mampu menghilangkan semua penat dan lelahku. Tentang bagaimana lengkapnya perasaanku sebagai seorang ibu saat kamu tidur dalam buaianku. Dan yang paling ajaib adalah tentang bagaimana aku belajar bahwa kehadiranmu tidaklah mengurangi cinta dalam hatiku untuk kakak-kakakmu, sebaliknya justru, kehadiranmu menggenapkan. Membuatku menyimak ulang seluruh kapabilitasku menjadi orang tua. Rasanya belum pantas, dan mungkin tak akan pernah pantas, mengemban tanggung jawab berat mendidik empat jiwa yang berpotensi menjadi apa saja. Seperti berhadapan dengan selembar kertas kosong yang bebas untuk kutulisi apa saja. Sementara yang kupahami sekarang hanyalah bahwa menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup. Dan aku akan terus belajar Nak, mungkin tak akan pernah menjadi ibu yang sempurna, tapi aku akan belajar dari kesalahan, aku tak akan menyerah berusaha menjadi ibu yang baik, meski sering keraguan itu muncul: mampukah aku, Nak?.

 

 *Catatan di pertengahan 2014, saya temukan di file komputer lama.

 

 

Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...