Senin, 04 Mei 2026

Tentang Kamu, Nak


 

Untuk: Rahya Hanggana Langit Rahmatungga

 

Hampir 12 bulan sudah kita bersama, Nak, bergerak bersama, bernapas bersama, merasa bersama, sejak engkau masih berupa embrio kecil sampai gerakanmu mampu membuat tonjolan kecil di perutku.

 

Dua belas bulan yang istimewa, namun juga mencemaskan, mengingat begitu banyak hal yang terjadi pada kita berdua selama 12 bulan itu. Kamu ingat malam-malam panjang itu Nak?, saat kita berdua, ditemani secangkir kopi, yang aku tahu tak boleh dikonsumsi wanita hamil, tapi menjadi benteng terakhirku agar bisa terjaga sepanjang malam, bergulat dengan setumpuk buku teks, paper dan tentu saja si Macbook yang sudah harus di-upgrade  itu. Buku-buku teknik di sebelah kanan dan buku-buku filsafat di sebelah kiri. Rasanya tak pernah sepanjang hidupku, harus mencerna sederetan rumus dan mengintisarikan pemikiran tokoh-tokoh besar dunia dalam satu waktu sekaligus, tapi bersamamu Nak, entah bagaimana, saat pagi tiba satu jurnal humaniora sudah siap disetor dan ujian siang nanti pun rasanya tak akan terlalu sulit dihadapi.

 

Ingatkah juga kamu saat-saat itu Nak, saat kita berdua jatuh dari tangga kebun belakang, sekujur tubuhku rasanya remuk redam, tapi kamu Nak, tersembunyi dengan aman dan rasanya semua sakitku terbayar sudah. 

 

Dan ingatkah juga kamu Nak, saat waktu perkiraan lahirmu telah lewat jauh, tapi kamu tak juga mau meninggalkan rahimku,  kecemasan itu rasanya menjadi-jadi, berganti dengan ketakutan yang setiap hari membuatku bertanya padamu: ”Kapan kamu lahir,  Nak?”.

 

Pertanyaan-pertanyaan tetangga setiap bertemu rasanya semakin membuat khawatir: ”Loh, belum melahirkan juga??”, sementara satu persatu teman-teman sesama bumil melahirkan bayinya, hanya kita berdua yang masih setia berbagi ruang dalam satu tubuh bersama-sama. 

 

“Hasil USG nya bagus, tapi operasi saja”, rasanya hanya itu saja yang kita dengar setiap periksa ke dokter, tapi ayahmu Nak, yang dibesarkan di lingkungan konservatif, menolak keras saran dokter. “Setiap manusia yang lahir punya dawuh  masing-masing”, selalu begitu katanya. “Ia akan lahir dengan normal dan selamat, jadi biarkan ia memilih waktunya sendiri”, itu katanya tentangmu, dan aku hanya bisa terdiam, berdoa dalam hati karena cemas yang tak kunjung reda.

 

Satu bulan menjelang kelahiranmu, aku terserang insomnia akut, sepanjang malam aku mengumpulkan bahan-bahan seputar kehamilan postterm. Mencari-cari di google, apapun yang bisa menentramkan hatiku yang tak bisa berhenti mencemaskanmu. Tahukah kamu, Nak, setiap bangun pagi hal yang pertama kulakukan adalah memegang perut, berharap engkau memberikan tanda bahwa engkau di dalam cairan amniotik di dalam sana masih hidup dan sehat.

 

Doa-doa panjang diiringi tangis jiwa. Dan kekhawatiran yang semakin memuncak melihat bayi tetangga: “Sudah bisa tengkurep loh” celoteh ibu yang satu,  “Beratnya sekarang 7 kilo”, ungkap ibu yang lain, padahal hanya berselang minggu kami saling mengabarkan berita bahagia kehadiran si calon bayi.

 

Satu-satunya yang cukup meringankan perasaan hanya ucapan Nenek, ibu dari ayahmu yang berkata: “Tak apa-apa, ayahnya juga dulu satu tahun dalam kandungan Ibu”, dan akhirnya, aku memilih pasrah. Yang akan terjadi, terjadilah. 

 

Dan alih-alih terus mencemaskanmu Nak, aku malah memilih untuk menyibukkan diri. Berjalan kaki bolak balik ke depan kompleks meski hanya sekedar untuk membeli kue-kue jajan pasar, mencoba memasak jenis-jenis makanan yang cukup rumit, membaca sampai larut malam, dan terakhir ikut membantu di toko. Tak pernah aku bermanja diri bahkan saat berbadan dua, tapi rasanya tak pernah juga aku mendera diri sendiri sekeras ini. 

 

Kamu ingat saat kita dimarahi Kakek, Nak?, karena aku berkeras ikut membantu mengurusi ayam-ayam kita menjelang Idul Fitri kemarin, 1,2 ton ayam Nak, maka manalah mungkin aku membiarkan ayahmu mengurusi usahanya sendirian, sementara ia masih harus menyelesaikan tugasnya juga di kampus.

 

Dan akhirnya keajaiban itu datang juga, sama seperti hujan yang turun tiba-tiba di tengah terik langit kota Bandung siang itu, begitu pun tanda-tanda kelahiranmu. Meskipun penantian yang begitu lama sempat membuatku mengabaikan tanda-tanda itu. Flek-flek darah dan mulas kuanggap hanya efek dari kelelahan mengurus ayam-ayam itu seharian. Tapi itu bukan lagi mulas biasa. Mulas yang rasanya sampai menembus tulang belakang. Mulas berjeda yang setiap entakannya seolah menarik seluruh nafas sebelum meluluhlantakkan semua ketahanan terhadap rasa sakit. 

 

Dan dokter, bisa-bisanya ia menyuruh kita pulang lagi padahal jeda mulasnya sudah setengah jam sekali. Maka satu jam kemudian kita menemui dokter lagi dengan air ketuban yang sudah pecah. Dan perjuangan kita berdua pun dimulai.

 

Tahukah kamu Nak?, tiga kali mengalami proses melahirkan ternyata tak membuatku mampu menghadapi satu kali lagi proses melahirkan dengan berani. Sebaliknya justru Nak, aku takut, sangatlah takut. Untaian dzikir yang sudah kudaras dalam hati ribuan kali itu menenangkan, ya memang menenangkan, tapi saat gelombang sakit itu menghantam tulang belakang sekali lagi dan lagi dan lagi, perlu lebih dari sekedar sebaris kombinasi huruf-huruf hijaiyyah. Bukan hanya tentang kesabaran, tapi juga sebuah ujian tentang  pemahaman bahwa sakit adalah hal yang tak bisa dihindari, tapi ketakutan adalah hal yang harus dihadapi. Maka kuserahkan semuanya pada naluri. Pada tubuh ringkih yang terbukti telah ribuan tahun sudah dari generasi ke generasi mengemban tugas reproduksi manusia.

 

Tarik nafas, ya…tarik nafas, instruksi dokter yang terdengar samar-samar. Ingin menjerit keras-keras, tapi layakkah engkau hadir dengan keluhan Nak, dan bagaimana bisa aku mengharapkanmu tumbuh menjadi manusia tangguh jika di awal penyambutanmu saja aku sudah menunjukkan kecengengan seorang wanita. Maka aku memilih menelan bulat-bulat jeritan yang ingin kuteriakkan, menggantinya dengan tarikan nafas yang coba kuatur sesuai hitungan tasbih. Tapi semenyiksa inikah rasanya?. Ingatanku sempurna lupa, padahal tiga kali sudah aku menjalani sensasi sakit yang sama. Aku lupa tentang bagaimana susah dan sakitnya menahan seluruh otot yang serempak berkontraksi ingin mendorongmu keluar sementara dokter bilang tak boleh karena pembukaan yang belum sempurna. Tarik nafas lagi…sampai aku bertanya sambil setengah menahan isak kapan pembukaannya sempurna. 

 

Dan ketika saat itu tiba Nak, serentetan instruksi menyerangku membabi buta, tentang bagaimana aku harus menahan dagu, menatap ke bawah dan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, seperti disuruh berlari satu putaran lagi di Sabuga sementara kakimu bahkan sudah goyah, tak mampu lagi menopang bahkan berat badanmu sendiri. Seperti menapakkan sebelah kaki di perbatasan antara hidup dan mati. Dan saat aku hampir menyerah pada seluruh sakit itu, tangisanmu merenggut kembali segenap kesadaranku yang sudah timbul tenggelam. Kamu selamat Nak, kita berdua selamat. Dan saat tubuh mungilmu yang masih berselimut lapisan lemak itu didekapkan padaku, aku mengucap segenap syukur, pertarunganku tak sia-sia.

 

 

Nak, tanpa terasa tiga bulan sudah hari-hariku diisi dengan kehadiranmu. Dan aku belajar lagi tentang bagaimana menjadi orang tua dari seorang bayi, tentang malam-malam panjang saat kamu sakit dan menangis semalaman,  tentang senyum dan tawamu yang selalu mampu menghilangkan semua penat dan lelahku. Tentang bagaimana lengkapnya perasaanku sebagai seorang ibu saat kamu tidur dalam buaianku. Dan yang paling ajaib adalah tentang bagaimana aku belajar bahwa kehadiranmu tidaklah mengurangi cinta dalam hatiku untuk kakak-kakakmu, sebaliknya justru, kehadiranmu menggenapkan. Membuatku menyimak ulang seluruh kapabilitasku menjadi orang tua. Rasanya belum pantas, dan mungkin tak akan pernah pantas, mengemban tanggung jawab berat mendidik empat jiwa yang berpotensi menjadi apa saja. Seperti berhadapan dengan selembar kertas kosong yang bebas untuk kutulisi apa saja. Sementara yang kupahami sekarang hanyalah bahwa menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup. Dan aku akan terus belajar Nak, mungkin tak akan pernah menjadi ibu yang sempurna, tapi aku akan belajar dari kesalahan, aku tak akan menyerah berusaha menjadi ibu yang baik, meski sering keraguan itu muncul: mampukah aku, Nak?.

 

 *Catatan di pertengahan 2014, saya temukan di file komputer lama.

 

 

Selasa, 28 April 2026

Mencintai Buku-Buku




Buku adalah sahabat paling senyap dan setia;  ia adalah penasihat paling bijak dan terjangkau,  serta guru yang paling saba
r.

-Charles W Eliot-




Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.

Hidup adalah untuk mengolah hidup,

bekerja membalik tanah,

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Sajak-sajak Sepatu Tua

-W.S Rendra-

*sajak ini saya temukan di salah satu rak perpustakaan ketika SMP, yang membuat saya semakin jatuh cinta, pada puisi dan pada buku.

 


Perjalanan saya mencintai buku, dimulai sejak saya “terpaksa” mengenal aksara. Usia saya masih 5 tahun kala itu, tapi satu-satunya teman sepermainan saya (anak dari ibu khadimat di rumah) usianya sudah 7 tahun dan sudah harus masuk sekolah dasar. Saya yang ketika itu merasa akan kehilangan teman jika ia pergi sekolah, akhirnya merengek ingin masuk sekolah juga. Entah bagaimana prosesnya, tapi kemudian saya diberikan kesempatan untuk boleh ikut sekolah, meskipun dengan embel-embel jadi anak bawang saja. Namun setelah masuk kelas, baru saya tahu bahwa tidak ada perlakuan istimewa terhadap anak bawang. 

Sejak kecil saya termasuk anak yang sangat cengeng, jadilah saya menangis setiap tidak bisa mengikuti pelajaran. Dan kemudian karena bosan menangis, saya minta untuk ikut les calistung. Caturwulan kedua saya berhasil dapat ranking 2 di kelas, setelah cawu pertama hanya mendapat ranking 14, namun di luar dugaan, seiring dengan terbukanya dunia aksara untuk saya, dunia petualangan pun terbuka lebar. 

Kakak-kakak sepupu saya saat itu, kebetulan memang sudah besar-besar (berusia SMP dan SMA). Kebetulan lainnya, kala itu sedang ngetrend cergam (cerita bergambar) yang terbit berkala di Gramedia. Setelah lancar membaca, saya ketularan hobi kakak-kakak sepupu: ikut antri di Gramedia setiap tanggal terbit cergamnya. Uang jajan saya terbatas sehingga tidak ikut beli, tapi jika mengantar mereka antri, saya diberi kesempatan untuk langsung membaca setelah mereka selesai, jadilah saya selalu ngintili setiap tanggal terbit cergam. Saya masih ingat, judul cergam yang jadi langganan kami adalah Tapak Sakti (judul aslinya The Budha’s Palm). Memang itu cergam dewasa, terdapat beberapa kosa kata kasar yang saya tidak tahu artinya, tapi karena cergam inilah saya jadi keranjingan membaca, dalam arti konotatif dan denotatif.



Cergam itu membuat saya lancar membaca, dan setelah sanggup membaca satu cergam tanpa bantuan dan tanpa minta dibacakan, saya melahap habis semua bahan bacaan apapun yang bisa saya temukan kemudian: kolom anak di surat kabar langganan Uwa, buku cerita Teteh yang dipinjam dari perpustakaan, cergam-cergam dan komik-komik Aa yang berjilid-jilid, bahkan buku sejarah Aki. Jadi saya tumbuh besar dengan ditemani Smurf, Asterix, Kungfu Boy, Candy Candy, Aku Anak Shaleh, Bobo dan Rijal Haula Ar Rasul.

Sering sekali saya disuruh Mamah ke warung, tapi berjam-jam tak kunjung datang, ternyata malah ditemukan sedang membaca di kolong meja belajar Aa. Dan ajaibnya, ketika sedang membaca, saya tak hirau akan keadaan sekitar, telinga saya sempurna tuli, hanya terfokus pada buku yang sedang saya baca. Maka sering sekali, ketika sedang membaca, saya tak menjawab meskipun dipanggil berulang-ulang.

Setelah pindah ke Tasikmalaya, saya mulai kesulitan menemukan bahan bacaan bagus. Oh ya, seiring dengan semakin banyak buku yang saya baca, pelan-pelan saya bisa memilih, mana bacaan yang bagus dan mana yang tidak. Jadilah saya berteman dengan tetangga yang usianya jauh di atas saya, biar apa?, tentu agar bisa meminjam buku-buku mereka. Sialnya, referensi bacaan mereka pun terbatas, jadilah saya menghabiskan waktu luang saya, paling bagus bersama Lupus dan Donal Bebek, paling sial ketika ketemu beredisi-edisi Wiro Sableng yang jika saya ingat-ingat lagi, banyak sekali adegan dewasanya, astagaaa.

Setelah masuk SMP, lagi-lagi saya kurang beruntung, perpustakaan sekolah saya kecil dan koleksi bukunya terbatas, selama 3 tahun sepertinya saya sudah menamatkan semua koleksi sastra di sekolah, tapi karena itulah saya cukup akrab dengan nama-nama seperti Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, Motinggo Boesje, Armijn Pane, Idris, N.H Dini, serta para pengarang sastra lama dan angkatan pujangga baru lainnya. Dan di perpustakaan SMP inilah saya mulai berkenalan dengan Winnetou dan buku-buku Karl May yang lain. 

Apakah saya masih jadi anak yang bersembunyi di kolong meja untuk membaca?, tentu tidak, karena badan saya sudah membesar dan tak lagi muat di bawah meja, tapi saya masih jadi anak yang sama, yang lebih suka membaca daripada bermain dengan teman di luar rumah. Satu kali Bapak saya yang kesal, sampai berkomentar: “Teteh mah bakal jadi menak, bacaa we padamelanna teh, boro-boro mengerjakan pekerjaan rumah seperti anak tetangga”. Ahahahaha…, apakah kemudian saya berubah, tentu tidak.

Ketika melanjutkan sekolah di Bandung, saya menemukan tempat yang menjelma surga untuk saya: Perpustakaan Daerah. Letaknya cukup dekat dengan sekolah sehingga agenda saya hampir tiap hari adalah mengunjungi tempat ini. Setiap berkunjung saya akan meminjam tiga buku yang terdiri dari dua buku pelajaran dan satu novel. Dan saya selalu memasang target, novelnya harus sudah selesai pada kunjungan berikutnya. Anehnya dengan target bacaan yang cukup banyak, ketika SMK saya justru menjadi anak yang cukup populer, saya selalu ikut dalam semua acara “tak berguna” entah itu camping atau sekedar kumpul-kumpul dengan teman sepulang sekolah, dan lebih ajaib lagi, karena terbiasa membaca banyak buku, saya tak kesulitan memahami materi-materi di sekolah sehingga saya bertahan juara umum dari tahun ke tahun. Begitulah, membaca akhirnya menjadi bagian dari identitas saya, teman-teman saya tahu persis, harus mencari saya kemana di jam kosong, karena kemana lagi jika bukan ke perpustakaan. Sayangnya, saya tak banyak menemukan orang dengan hobi sama, yang bisa saya ajak bicara buku seharian.

Buku, entah bagaimana kemudian menjelma bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga benteng pertahanan saya yang terakhir. Betapa sering, saya melarikan semua duka dan sepi saya pada buku, mencari ketenangan atau sekedar penguatan juga dari buku. Ketika semua orang rasanya meninggalkan saya, buku akan selalu ada, menunggu untuk ditemukan, untuk kemudian menemani tanpa menghakimi. 

Sempat ada saat-saat saya terputus dari buku, tapi itu pun biasanya tak lama, selalu saya akan kembali lagi ke tempat yang sama, ke lembaran-lembaran aksara, yang seiring dengan meluasnya jaringan pertemanan, saya sadari bahwa tak semua buku akan sanggup saya baca. Dan seolah balas dendam akan keterbatasan semasa kecil dan remaja dulu yang tak sanggup membeli buku yang diinginkan, sekarang coping mechanism saya salah satunya adalah membeli dan membeli buku lagi. Setidaknya anak-anak saya suatu hari akan mewarisi koleksi buku yang bagus-bagus. Semua rekomendasi judul buku yang saya dapatkan selalu berujung check out, hingga pada satu titik ketika rak perabot di rumah terpaksa beralih jadi rak buku, suami saya protes dan dengan serius menganjurkan saya untuk stop membeli buku. Apakah anjuran ini saya turuti, tentu tidak juga. Saya anggap angin lalu saja protesnya, tapi ada satu fragmen yang kemudian cukup menyentak untuk saya. Ketika kemudian suami saya berkata, mungkin sudah saatnya untuk menulis, menuangkan isi pikiran yang rumit menjadi buku, jangan hanya cuma membaca saja. Saran yang jujur saja, terdengar sangat menantang. 

Tapi sementara belum mampu menulis, sepertinya saya akan tetap seperti ini: mencintai buku-buku. Tidak apa-apa bukan?. 

Minggu, 26 April 2026

Belajar Mendengarkan Lagi


Suatu sore, saya dan Aka sedang bercakap-cakap ringan ketika tiba-tiba saja ia berkata: 

 

Aka: “Umah, tadi Aka dapet info, besok ada event lagi di Summarecon, ada acara cosplay Xavier dan Caleb juga”

 

Aku: “Maksudnya Aka minta izin mau dateng?”

 

Aka: “Eh, ngga, Aka cuma mau cerita aja kalau besok ada event”

 

Aku: “Hooo…”

 

Setelah sempat hening, tiba2 Aka menyambung lagi:

 

Aka: “Umah, Umah sadar ngga sih kalau pikiran Umah tuh kaya laki-laki  banget”

 

Aku: “Oh ya, kenapa emang Ka?

 

Aka: “Iya, Umah tuh kalau ada siapa pun yg cerita ke Umah, pasti buru-buru cari solusi dari apa yang diceritakan, padahal ngga semua orang, apalagi perempuan, cerita tuh karena butuh saran atau solusi, kadang orang cerita tuh cuma pengen didenger aja”

 

Aku : “Ah, begitu ya, Aka ...”

 

Sebetulnya, tanggapan gamang itu bukan karena saya meragukan pernyataan Aka, tapi justru mungkin adalah ketidakpercayaan saya pada sosok diri sendiri yg dinilai Aka. Betulkah saya sudah bertransformasi dari “pendengar setia” menjadi “pencari solusi”?. Sejak kapan?, padahal dulu ada satu masa dimana saya jadi tempat sampah curhatan semua orang. Ya meskipun itu peran yg saya jalani karena melekat dengan pekerjaan di kantor dimana salah satu fungsi saya juga adalah kepegawaian sehingga mau tak mau saya tahu masalah-masalah dapur dan rahasia banyak orang, tapi tetap saja, jadi tempat curhat yang dipercaya banyak orang itu cukup membanggakan.

 

Sejak kapan saya lupa, bahwa semua orang perlu curhat, dan kadang hanya didengarkan saja tanpa dihakimi adalah satu-satunya hal yang diinginkan. Dan kemudian saya sadar, pendapat Aka mungkin betul, akhir2 ini saya terbiasa menanggung banyak hal dan memecahkan semuanya sendiri, sehingga membuat pikiran saya ter-setting bahwa segala sesuatu harus segera dicari jalan keluarnya, agar tidak berlarut-larut, agar bisa segera pindah ke tugas lainnya. Tapi karena pikiran seperti itu, sedikit demi sedikit saya bertransformasi jadi orang yang tidak menyenangkan untuk diajak bicara.

 

Kesadaran ini, tentu tidak timbul dari kekhawatiran saya terhadap citra diri yang disalahpahami karena sudah lama saya tidak terlalu peduli akan dianggap sebagai orang seperti apa. Tapi semata, saya sadar, berbicara dengan orang, adalah suatu relasi timbal balik yg resiprokal. Allport pernah menyatakan bahwa kegagalan hubungan interpersonal adalah penyebab kedua stress terbesar pada manusia, (penyebab pertama adalah kehilangan pekerjaan),  dan itu menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu perlu untuk terkoneksi dengan orang lain.

 

Sering sekali dalam satu hari yg berat, satu sapaan atau bahkan satu senyuman saja dari orang tak dikenal rasanya menghangatkan hati dan meringankan sisa hari. Maka ketika mendengarkan curhatan orang, alih-alih meringankan beban orang lain, sejatinya saya sedang berbuat baik pada diri saya sendiri, dan saya lebih perlu kepada kebaikan itu daripada si pencerita itu sendiri. 

 

Terakhir, saya bersyukur sudah bicara dengan Aka sore ini. Secara tidak langsung saya diingatkan untuk kembali belajar mendengarkan lagi. Setelah sekian lama “sibuk sendiri” dan nurani ini tergerus entah oleh apa yang sedikit tapi pasti mulai menumpulkan mata hati.

Rabu, 22 April 2026

Teori Spotlight Effect





Pada medio tahun 2000an,  psikolog sosial Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky membuat sebuah percobaan yg unik, mereka meminta beberapa responden memakai kaos yang aneh dan mencolok di ruang tunggu bandara. Yang menarik, dari semua pengunjung bandara ternyata hanya sekian persen saja (sedikit sekali) yang ingat bahwa ada orang dengan pakaian aneh di ruang tunggu. Kesimpulannya: mau kita seperti apa pun, selama tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan orang lain, tidak ada yang terlalu peduli. Kesimpulan lanjutan: kita tak sepenting itu dalam kehidupan org lain. Hasil percobaan ini melandasi teori spotlight effect yang menjelaskan kecenderungan seseorang untuk melebih-lebihkan sejauh mana perilaku, penampilan, atau kesalahan mereka diperhatikan oleh orang lain. Fenomena ini berakar dari bias egosentris, di mana manusia secara alami fokus pada diri mereka sendiri dan menganggap orang lain melakukan hal yang sama.
 

Dalam kemacetan Jakarta sore ini, tak sengaja saya sebelahan dengan sepasang pengendara motor paruh baya, sepertinya suami istri, suaminya tidak pakai helm sementara istrinya pakai. Karena persis sebelahan, tak sengaja saya menguping pembicaraan mereka. Dari logatnya sepertinya mereka orang Betawi.

 
Istri        : “Orang mah yang pake helm tuh yang bonceng, bukan yang dibonceng”
Suami    : “Yee emang napa, ini artinya sayang istri”
 
Saya pun tergelak sendiri mendengar percakapan itu sebelum berapa detik kemudian kami terpisah di lampu merah.
 
Jakarta, adalah kota seribu paradoks. Konon ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri, tapi anehnya kota ini menyenangkan bagi saya justru untuk ketidakpeduliannya. Di kota bajingan ini justru saya menemukan sosok ibu, sosok bapak, bahkan sosok keluarga yang mewujud teman-teman di kantor yang pintar-pintar, baik hati dan menyenangkan. Dan episode sore ini justru menyadarkan saya, kota ini tetap seru seperti biasanya dan saya cinta, sungguh cinta.

Selasa, 21 April 2026

Review THE SONG OF ACHILLES


Judul: The Song of Achilles -Nyanyian Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2012

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Tebal buku: 490 halaman


Aku sanggup mengenalinya dari sentuhan saja, dari baunya; aku mampu mengenalinya andai pun mataku buta. Dari embusan napasnya dan jejak langkahnya di tanah. Aku sanggup mengenalinya dalam kematian, di ujung dunia. Hlm 169 

Aku pernah mendengar bahwa orang yang tinggal di dekat air terjun lama-kelamaan tidak mendengar gemuruhnya lagi—begitu pula aku; aku belajar untuk hidup di samping gemuruh aliran takdirnya. Hari-hari berlalu, dan dia masih hidup. Bulan-bulan berlalu, dan aku bisa seharian penuh tidak melongok k e dalam jurang kematiannya. Satu tahun yang penuh keajaiban, lalu dua tahun. Hlm 317

Dia belahan jiwaku, seperti kata para penyair. Hlm 378

 

Pada review kali ini, alih-alih memberikan spoiler, sepertinya saya akan memberikan bocoran saja: buku ini adalah sebuah novel cinta, dan belum lengkap bocorannya tanpa saya beri informasi tambahan, bahwa kisah cintanya pun adalah kisah cinta terlarang antara dua laki-laki: Achilles dan Patroclus. Jadi untuk teman-teman yang anti dengan isu ini, sebaiknya skip saja, jangan dilanjutkan membaca.

Teman-teman yang menggemari mitologi Yunani, saya yakin pernah mendengar nama Achilles setidaknya satu kali seumur hidup. Ia adalah manusia setengah dewa, pahlawan legenda yang diceritakan dalam Homer karya Illiad. Istilah Achilles heels atau tumit Achilles yang bermakna titik kelemahan fatal pada seseorang yang sangat kuat memang berasal dari cerita Achilles yang sangat terkenal. Konon, ibu Achilles, Thetis, adalah seorang dewi laut yang sangat khawatir dengan nubuat bahwa Achilles akan mati di usia muda, maka ia mencelupkan Achilles bayi ke Sungai Styx agar kebal senjata, namun tumit yang dipegang ibunya tidak terkena air suci sehingga menjadikannya satu-satunya titik lemah. Saat Perang Troya, Paris yang telah dibisiki Apollo mengenai titik lemah ini, sengaja memanah bagian tumit sehingga membuat Achilles terbunuh.

Namun semua versi cerita Perang Troya ini selalu hanya fokus pada Achillesnya itu sendiri, atau pada tokoh-tokoh besar lainnya yang memang sangat berperan penting dalam cerita. Kita akan melihat banyak kisah dari sudut pandang Paris atau Helen atau dewa-dewa yang terlibat. Inilah yang membedakan, karena yang diangkat dalam buku karya Madelaine Miller ini justru cerita dari sudut pandang Patroclus, sehingga penggambaran cerita menjadi sangat manusiawi.

Sejujurnya, saat pertama membaca buku ini, saya belum membaca review apa pun, sehingga sama sekali tak ada prasangka bahwa ini buku tentang kisah cinta sejenis. Tapi ternyata saya menyukai buku ini, penggambaran bagaimana Patroclus yang adalah seorang pangeran lemah, canggung dan sangat biasa, jatuh cinta pada pangeran setengah dewa dengan fisik  dan kekuatan yang sempurna, disampaikan dengan sangat halus dan sopan. Pada satu titik, pembaca diajak untuk ikut larut dalam setiap emosinya sampai-sampai lupa, ini novel cinta berlatar perang, bukan cerita perang dengan sedikit bumbu romansa.

Beberapa review yang saya baca kemudian menyatakan bahwa buku ini tearjerker, atau menguras air mata. Saya sepertinya kurang sepakat dengan pernyataan itu karena tak berhasil membuat sesenggukan, meskipun harus saya akui, Madelaine Miller dengan sukses mempertahankan keterikatan emosi pembaca, hingga ketika tiba di bagian kematian Patroclus, saya ikut memahami bagaimana sedih dan hancurnya Achilles. Rasanya saya ikut menanggung beban emosi ketika Achilles tidak kuasa melepaskan jasad Patroclus sementara di sisi lain Briseis mengutuknya sebagai penyebab kematian, bahwa Patroclus seribu kali lebih baik dari Achilles, bahwa Patroclus mati karena keegoisan Achilles. 

Kematian Patroclus sendiri kemudian menjadi titik balik yang merubah arah pertempuran dalam Perang Troya, dan Achilles tidak bisa menghindari takdirnya untuk juga terbunuh pada perang itu. 

Terakhir, saya tak hendak mengkritik cinta sejenis dalam buku ini, karena jika dilihat dari aspek penceritaan buku ini luar biasa bagus. Alih bahasa yang dilakukan juga sangat pas menerjemahkan emosi sehingga bisa dirasakan pembaca. Buku ini membuat Achilles dan Patroclus terasa hidup dan bernyawa kembali, padahal 28 abad sudah berlalu sejak Holmer menyusun Iliad.


 

 

Minggu, 19 April 2026

Review A MAN CALLED OVE

Seorang Lelaki Bernama Ove yang Selalu Gagal Bunuh Diri




Ove tahu benar, teman-teman istrinya tak paham mengapa perempuan itu menikah dengannya (hlm 48).

Ove adalah lelaki hitam-putih. Sementara itu, istrinya berwarna-warni. Ialah seluruh warna yang dimiliki Ove (hlm 51).

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan itu berbalik ketika sedang tidur. Kau bahkan rindu mengecat ruangan ulang ruangan untuknya (hlm 76)

Kita bisa menyibukkan diri dengan hidup atau dengan mati, Ove. Kita harus melanjutkan hidup (hlm 265).

Setiap manusia harus tahu apa yg diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yg baik. Demi anak-anak yg tdk pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yg benar-benar dipahaminya (hlm 270)

 

Karena kau bukan orang yang benar-benar tolol (hlm 312).

 

Cerita dimulai dengan seorang pria 59 tahun bernama Ove yang sedang bersitegang di toko komputer. Ia hendak membeli iPad namun masih perlu diyakinkan, tetapi petugas toko sepertinya bingung bagaimana menjelaskan kepada pria tua nyaris gaptek ini, bahwa iPad benar-benar ‘barang bagus’. Kemudian kita dapat menyimpulkan bahwa Ove ini pria tua pemberang-pemarah, gampang ngambek, cenderung pelit (ia tak mau bayar parkir rumah sakit) dan kering kaku seperti kanebo. Tapi kita pun akan melihat bahwa Ove lelaki yang sangat terampil, sangat jujur dan hidup dengan lurus dan seharusnya.

Ove hanya ingin mati dengan tenang. Setelah istrinya Sonja meninggal dunia, dan ia dipensiunkan begitu saja oleh perusahaan tempatnya bekerja, Ove merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan hidup. Maka ia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Alasannya praktis: gantung diri tak akan membuat darah menciprat kemana-mana sehingga tak akan mengotori lantai. Tapi karena terbiasa selalu hidup tertib dan rapi, Ove tetap melapisi semua lantai dengan plastik. Ia hanya tinggal memasang sebuah pengait. Dan Demi Tuhan, karena Ove sangatlah terampil, itu haruslah pengait yang kokoh dan layak.

Sayangnya, rencana Ove untuk bunuh diri, selalu saja gagal, kali pertama, karena tetangga baru tak bisa memundurkan mobil karavannya sehingga menghantam kotak surat Ove, mau tak mau Ove harus keluar dan membantu. Saat akan melanjutkan aksinya, ternyata anak tetangga barunya mengintip dari jendela dan Ove tak ingin meninggalkan kenangan yang buruk tentang orang bunuh diri  di benak seorang anak.

Kali berikutnya ketika akan memasang pengait lagi, tetangga baru datang lagi mengantarkan makanan. Hari berikutnya, tetangga yg lain minta tolong Ove memperbaiki pemanasnya di rumah, berikutnya lagi, tetangga baru pinjam tangga dan kunci Allen, dan begitulah rencana bunuh diri Ove selalu gagal karena semua orang sepertinya sibuk merecoki Ove. 

Ketika pengaitnya yang kokoh sudah terpasang, betapa konyolnya karena tali yang Ove gunakan untuk gantung diri malah putus begitu saja, dan Ove mengumpat-ngumpat tentang betapa tidak ada barang yang bagus dan layak yang diproduksi orang jaman sekarang.

Berikutnya Ove mencoba mengganti metode bunuh diri dengan mengalirkan gas karbon monoksida dari mobil, tepat saat Ove akan melancarkan aksinya, tetangga baru lagi-lagi mengganggu Ove dengan memaksa Ove mengantarkan ke rumah sakit dan berakhir dengan Ove harus menjaga kedua anak perempuannya.

Begitulah Ove terus menerus terseret ke dalam situasi yang tak diinginkan bersama tetangga barunya. Dan seiring dengan semakin terinvasinya ruang pribadi Ove, perlahan-lahan, tetangga barunya pun mendapat gambaran utuh tentang bagaimana kehidupan Ove. Meski demikian, Ove tetap menjalani kehidupannya dengan rutinitas yang sama persis, bangun di jam yang sama, menginspeksi kompleks perumahan, mengunjungi makam Sonja (istrinya yang wafat karena kanker) setiap hari dan Ove masih berkeinginan bunuh diri.

Ove kemudian mencoba untuk bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalur kereta api. Dilalahnya, bukannya bunuh diri, secara tak sengaja Ove malah jadi pahlawan karena menyelamatkan seorang pria yang tiba-tiba kejang-kejang dan jatuh ke jalur kereta.

Setelah itu, Ove menjadi sibuk luar biasa. Istri tetangga baru minta diajari menyetir, kedua anak perempuannya menjadi luar biasa dekat, lalu Ove terpaksa memelihara kucing, Ove membantu mantan murid istrinya memperbaiki sepeda dan membeli mobil, dan secara tak sengaja Ove mengumpulkan semua orang dari latar belakang berbeda (Pattrick-konsultan IT, Parvaneh-istri Pattrick, Nasanin putri Pattrick dan Parvaneh, Jimmy tetangga gendut yang adalah developer system Apple,  Anders si pesolek, Adrian mantan murid Sonja, Mirsad si gay, Anita istrinya Rune dan si kucing ) bersatu padu melawan petugas dari dinas sosial yang akan mengambil Rune (tetangga dan sahabat masa lalu Ove) ke panti jompo.

Di penghujung, Ove wafat dalam tidur dengan damai, alih-alih pemakaman yang sepi, hampir tiga ratusan orang mengantar Ove ke peristirahatannya yang terakhir. Satu benang merah yang kemudian saya tarik dari buku ini, meski galak dan tidak bisa basa basi, Ove sebenarnya adalah orang baik yang sangat peduli pada orang lain. Dalam satu bagian, Parvaneh berkata pada Ove bahwa Ove adalah orang paling lucu yang pernah ditemui putrinya, karena putrinya selalu menggambar semua orang dengan warna hitam, sementara Ove ia gambar dengan ledakan semua warna, merah, kuning, biru, oranye, semua warna-warna ceria.

Buku ini saya selesaikan dengan hati yang rasanya ikut menghangat. Mau tak mau ikut sayang pada pria tua bangka pemarah ini. Dan sesuai dengan apa yang tertera di sampul bukunya: kau akan tertawa, menangis, bersimpati terhadap orang temperamen yang kau temui dalam kisah memesona ini.

 

 

Kamis, 16 April 2026

Kepada Indah

Kami mulai bersahabat sejak 2003, sejak tahun pertama di ITB. Disatukan oleh mimpi buruk bernama: Kalkulus, Fisika Dasar dan Ospek Himpunan. Siapa sangka, 21 tahun kemudian ia tetap jadi sahabat terbaik untuk saya. Takdir kami dalam banyak hal terjalin erat, meskipun keputusan yang ia ambil selalu lebih baik dari saya: ia memutuskan lanjut osjur, saya malah memutuskan keluar himpunan, ia pasang kawat gigi di usia 20 an, saya baru pasang menjelang 30 an, ia memutuskan lanjut kuliah ke luar negeri, saya cukup dgn ITB saja lagi. Dan yang paling membedakan kami berdua adalah: saya memutuskan menikah di usia 19 tahun, dan ia di usia 38 tahun.

 

Namun entah bagaimana, di luar perbedaan kami yang selalu 180 derajat, setiap saya hilang arah dan hampir tenggelam,  ia yang selalu jadi jangkar utk saya. Ia yang dulu memarahi saya, memaksa saya untuk terus menamatkan kuliah, ketika romansa hidup berumah tangga begitu melenakan dan saya tergoda, ingin rasanya berhenti kuliah dan jadi ibu rumah tangga saja di rumah (saat itu saya masih semester 3). 

 

Ia juga yang memaksa saya ikut tes CPNS, padahal setelah lulus kuliah, lagi-lagi saya ingin di rumah saja, meski memang ragu, apakah murni ingin mengabdi untuk anak dan suami, atau semata takut bertarung di luar sana. 

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami, begitu panjang pembahasan kami tentang pernikahan. Kepadanya saya menuangkan semua senang susah saya selama menjadi istri dan ibu. Saya yang dramatis dan melankolis selalu kalah oleh ia dengan pikiran yang selalu logis dan taktis. Saya ingat, tahun 2006 saat terjadi huru hara pertama dan mungkin terbesar dalam rumah tangga saya. Nangis-nangis saya cerita, ia cuma menjawab, “Sini kumpulin dulu tugas besar Rektrans, kalau udh ngumpulin terserah kamu mau pulang ke Tasik atau ke rumah suami kamu”. Tampak kejam, tapi berkatnya semester itu saya lulus semua mata kuliah.

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami. Sering sekali saya tiba-tiba mumet dengan pikiran saya sendiri, lalu memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Berbulan-bulan tak menghubungi, lalu dengan seenaknya tiba-tiba muncul kembali, menyapa seolah tak ada hal yang terjadi sebelumnya. Dan selalu setiap saya kembali, saya tahu ia akan menerima saya “pulang”, begitu saja dan tidak menghakimi.

 

Seluruh perjalanan rumah tangga saya mungkin adalah pelajaran penting untuknya tentang pernikahan. Mungkin dari saya ia belajar, menikah itu ternyata bukan seperti kisah cinta Cinderella dan Pangeran, dimana dengan menikah semua masalah selesai lalu hidup bahagia selamanya. Justru sebaliknya, menikah adalah awal dari semua masalah hidup yang sebenarnya. Menikah adalah ikatan yang sanggup membangkitkan sisi gelap dalam diri yang tak pernah kamu tahu bahwa itu ada. Menikah adalah hal paling sulit dalam kerangka hubungan dua manusia.

 

Makanya ia santai saja, ketika usia merambat naik, namun belum kunjung juga menemukan pasangan hidup. Berkali mamahnya bilang, “Ayo, Nu, carikan calon suami”, saya hanya tersenyum simpul. Mah, menikah bukan tujuan akhir dalam hidup, dan juga bukan perlombaan. Bukankah lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah. Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan orang yang salah.

 

Dan waktu pun terus berlalu. Tak pernah sekali pun, saya bertanya padanya, “kapan kamu menikah?”. Saya hanya percaya, sahabat saya ini orang paling baik sedunia, tidak mungkin Tuhan membiarkan ia menjalani sisa hidup sendirian. Diam-diam saya berdoa, siapa pun suaminya kelak, ia harus laki-laki terbaik, jangan sampai ia jatuh ke tangan laki-laki semodel dakjal.

 

Dan hari ini ia menikah. Anehnya, separuh hati saya begitu kehilangan. Bagaimana pun juga, saya terlalu terbiasa dengan kehadiran dan kebaikannya. Separuh lagi,  lega dan senang luar biasa. 

 

Saya senang, karena meski ia tak pernah kesepian, ia tidak akan lagi sendirian di sore hari sepulang menjalani hari kerja yg padat. Saya senang, sahabat saya punya seseorang yang bisa diajak bergandeng tangan dan duduk berdua di akhir pekan yg  sunyi.  Saya senang, akhirnya ada seseorang yg mengambil perjanjian yg berat itu (mitsaqon ghalidza) kepada sahabat saya. Bagaimanapun, menikah itu fitrah. Seterjal apapun jalan di balik gerbangnya, bukankah pahalanya pun lebih besar.

 

Hari ini, mendengar tausiyah di pernikahannya, hati saya tersedu. Nasihat itu sesungguhnya bukan untuk pengantin baru saja, tapi juga berlaku utk pengantin bari. Dalam Al-Qur’an tidak ada kata cinta yg disandingkan dgn kata suami-istri. Yg ada adl kata mawadah warahmah. Cinta hanyalah bagian kecil dari mawadah warahmah ini. Dan mawadah warahmah ini kata kerja, jadi harus diupayakan.

 

Jadi, Ndah, selamat datang dan selamat bergabung😆.

 

“Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fĂŽ khair” 

 

Memoar 3 Nov 2024

-15 hari menjelang titi mangsa pernikahan saya yg ke 20-

Kamis, 11 Desember 2025

MENSYUKURI LUPA









lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi: karena sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu.


Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan dan hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan*

Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba saja melupakan sesuatu yang penting?, lupa akan janji temu yang sudah dibuat, lupa password rekening bank atau akun sosmed, lupa materi yang baru dipelajari, yang paling sering terjadi adalah lupa menyimpan suatu barang. Dan saya jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang atau benda penting semata karena saya lupa kalau membawa barang tersebut dan ketinggalan. Pernah, saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar yang berisi tugas besar saya ketinggalan di tempat ngeprint. Pernah juga saya kehilangan satu tempat pensil penuh berisi segala alat tulis, alat gambar dan kalkulator gara-gara ketinggalan di studio. Ketinggalan jam tangan bahkan handphone lalu hilang, oh pernah juga.

Keseringan lupa ini terkadang sangat mengganggu. Sering saya berharap, Tuhan memberi saya ingatan yang tajam dan tak gampang lupa, terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Karena sejauh yang saya pahami, mereka yang pintar dan cerdas itu memiliki ingatan yang sangat baik. Dalam beberapa novel detektif yang saya baca, para detektif yang menjadi tokoh utama ceritanya, dianugerahi Tuhan ingatan jangka panjang yang sangat detail, bahkan ada beberapa yang punya ingatan fotografis.

Namun seiring berjalannya usia, saya mulai menemukan bahwa kemampuan untuk melupakan justru adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena dengan lupa, kita bisa hidup dengan lebih damai dan tenang. Tanpa "lupa", betapa tersiksanya mereka yang harus berkompromi dengan ingatan yang traumatis.  Tanpa lupa, bayangkan, bagaimana konflik internal yang terjadi di dalam hati kita sendiri, yang membuat kita terus menerus dihantui oleh ingatan menyakitkan. 

Sigmund Freud bahkan menyatakan bahwa lupa sebetulnya adalah salah satu bentuk penting pertahanan diri manusia. Melalui mekanisme represi, manusia menekan ingatan menyakitkan sehingga hanya ada di alam bawah sadar, dan ini penting untuk melindungi pikiran sadar dari penderitaan emosional. 

Jadi alih-alih mengutuk atau mengeluhkan lupa, bukankah seharusnya kita mensyukurinya sebagai anugerah lain dari Sang Pencipta.

*Dan kemudian aku pun bersyukur, karena itu berarti aku juga bisa melupakan kamu.



*dari web, tercantum Sumadi Suryabrata, 2006: 47, tapi saya tidak menemukan buku ataupun rujukannya yang sah.


Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...