Selasa, 28 April 2026

Mencintai Buku-Buku




Buku adalah sahabat paling senyap dan setia;  ia adalah penasihat paling bijak dan terjangkau,  serta guru yang paling saba
r.

-Charles W Eliot-




Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.

Hidup adalah untuk mengolah hidup,

bekerja membalik tanah,

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Sajak-sajak Sepatu Tua

-W.S Rendra-

*sajak ini saya temukan di salah satu rak perpustakaan ketika SMP, yang membuat saya semakin jatuh cinta, pada puisi dan pada buku.

 


Perjalanan saya mencintai buku, dimulai sejak saya “terpaksa” mengenal aksara. Usia saya masih 5 tahun kala itu, tapi satu-satunya teman sepermainan saya (anak dari ibu khadimat di rumah) usianya sudah 7 tahun dan sudah harus masuk sekolah dasar. Saya yang ketika itu merasa akan kehilangan teman jika ia pergi sekolah, akhirnya merengek ingin masuk sekolah juga. Entah bagaimana prosesnya, tapi kemudian saya diberikan kesempatan untuk boleh ikut sekolah, meskipun dengan embel-embel jadi anak bawang saja. Namun setelah masuk kelas, baru saya tahu bahwa tidak ada perlakuan istimewa terhadap anak bawang. 

Sejak kecil saya termasuk anak yang sangat cengeng, jadilah saya menangis setiap tidak bisa mengikuti pelajaran. Dan kemudian karena bosan menangis, saya minta untuk ikut les calistung. Caturwulan kedua saya berhasil dapat ranking 2 di kelas, setelah cawu pertama hanya mendapat ranking 14, namun di luar dugaan, seiring dengan terbukanya dunia aksara untuk saya, dunia petualangan pun terbuka lebar. 

Kakak-kakak sepupu saya saat itu, kebetulan memang sudah besar-besar (berusia SMP dan SMA). Kebetulan lainnya, kala itu sedang ngetrend cergam (cerita bergambar) yang terbit berkala di Gramedia. Setelah lancar membaca, saya ketularan hobi kakak-kakak sepupu: ikut antri di Gramedia setiap tanggal terbit cergamnya. Uang jajan saya terbatas sehingga tidak ikut beli, tapi jika mengantar mereka antri, saya diberi kesempatan untuk langsung membaca setelah mereka selesai, jadilah saya selalu ngintili setiap tanggal terbit cergam. Saya masih ingat, judul cergam yang jadi langganan kami adalah Tapak Sakti (judul aslinya The Budha’s Palm). Memang itu cergam dewasa, terdapat beberapa kosa kata kasar yang saya tidak tahu artinya, tapi karena cergam inilah saya jadi keranjingan membaca, dalam arti konotatif dan denotatif.



Cergam itu membuat saya lancar membaca, dan setelah sanggup membaca satu cergam tanpa bantuan dan tanpa minta dibacakan, saya melahap habis semua bahan bacaan apapun yang bisa saya temukan kemudian: kolom anak di surat kabar langganan Uwa, buku cerita Teteh yang dipinjam dari perpustakaan, cergam-cergam dan komik-komik Aa yang berjilid-jilid, bahkan buku sejarah Aki. Jadi saya tumbuh besar dengan ditemani Smurf, Asterix, Kungfu Boy, Candy Candy, Aku Anak Shaleh, Bobo dan Rijal Haula Ar Rasul.

Sering sekali saya disuruh Mamah ke warung, tapi berjam-jam tak kunjung datang, ternyata malah ditemukan sedang membaca di kolong meja belajar Aa. Dan ajaibnya, ketika sedang membaca, saya tak hirau akan keadaan sekitar, telinga saya sempurna tuli, hanya terfokus pada buku yang sedang saya baca. Maka sering sekali, ketika sedang membaca, saya tak menjawab meskipun dipanggil berulang-ulang.

Setelah pindah ke Tasikmalaya, saya mulai kesulitan menemukan bahan bacaan bagus. Oh ya, seiring dengan semakin banyak buku yang saya baca, pelan-pelan saya bisa memilih, mana bacaan yang bagus dan mana yang tidak. Jadilah saya berteman dengan tetangga yang usianya jauh di atas saya, biar apa?, tentu agar bisa meminjam buku-buku mereka. Sialnya, referensi bacaan mereka pun terbatas, jadilah saya menghabiskan waktu luang saya, paling bagus bersama Lupus dan Donal Bebek, paling sial ketika ketemu beredisi-edisi Wiro Sableng yang jika saya ingat-ingat lagi, banyak sekali adegan dewasanya, astagaaa.

Setelah masuk SMP, lagi-lagi saya kurang beruntung, perpustakaan sekolah saya kecil dan koleksi bukunya terbatas, selama 3 tahun sepertinya saya sudah menamatkan semua koleksi sastra di sekolah, tapi karena itulah saya cukup akrab dengan nama-nama seperti Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, Motinggo Boesje, Armijn Pane, Idris, N.H Dini, serta para pengarang sastra lama dan angkatan pujangga baru lainnya. Dan di perpustakaan SMP inilah saya mulai berkenalan dengan Winnetou dan buku-buku Karl May yang lain. 

Apakah saya masih jadi anak yang bersembunyi di kolong meja untuk membaca?, tentu tidak, karena badan saya sudah membesar dan tak lagi muat di bawah meja, tapi saya masih jadi anak yang sama, yang lebih suka membaca daripada bermain dengan teman di luar rumah. Satu kali Bapak saya yang kesal, sampai berkomentar: “Teteh mah bakal jadi menak, bacaa we padamelanna teh, boro-boro mengerjakan pekerjaan rumah seperti anak tetangga”. Ahahahaha…, apakah kemudian saya berubah, tentu tidak.

Ketika melanjutkan sekolah di Bandung, saya menemukan tempat yang menjelma surga untuk saya: Perpustakaan Daerah. Letaknya cukup dekat dengan sekolah sehingga agenda saya hampir tiap hari adalah mengunjungi tempat ini. Setiap berkunjung saya akan meminjam tiga buku yang terdiri dari dua buku pelajaran dan satu novel. Dan saya selalu memasang target, novelnya harus sudah selesai pada kunjungan berikutnya. Anehnya dengan target bacaan yang cukup banyak, ketika SMK saya justru menjadi anak yang cukup populer, saya selalu ikut dalam semua acara “tak berguna” entah itu camping atau sekedar kumpul-kumpul dengan teman sepulang sekolah, dan lebih ajaib lagi, karena terbiasa membaca banyak buku, saya tak kesulitan memahami materi-materi di sekolah sehingga saya bertahan juara umum dari tahun ke tahun. Begitulah, membaca akhirnya menjadi bagian dari identitas saya, teman-teman saya tahu persis, harus mencari saya kemana di jam kosong, karena kemana lagi jika bukan ke perpustakaan. Sayangnya, saya tak banyak menemukan orang dengan hobi sama, yang bisa saya ajak bicara buku seharian.

Buku, entah bagaimana kemudian menjelma bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga benteng pertahanan saya yang terakhir. Betapa sering, saya melarikan semua duka dan sepi saya pada buku, mencari ketenangan atau sekedar penguatan juga dari buku. Ketika semua orang rasanya meninggalkan saya, buku akan selalu ada, menunggu untuk ditemukan, untuk kemudian menemani tanpa menghakimi. 

Sempat ada saat-saat saya terputus dari buku, tapi itu pun biasanya tak lama, selalu saya akan kembali lagi ke tempat yang sama, ke lembaran-lembaran aksara, yang seiring dengan meluasnya jaringan pertemanan, saya sadari bahwa tak semua buku akan sanggup saya baca. Dan seolah balas dendam akan keterbatasan semasa kecil dan remaja dulu yang tak sanggup membeli buku yang diinginkan, sekarang coping mechanism saya salah satunya adalah membeli dan membeli buku lagi. Setidaknya anak-anak saya suatu hari akan mewarisi koleksi buku yang bagus-bagus. Semua rekomendasi judul buku yang saya dapatkan selalu berujung check out, hingga pada satu titik ketika rak perabot di rumah terpaksa beralih jadi rak buku, suami saya protes dan dengan serius menganjurkan saya untuk stop membeli buku. Apakah anjuran ini saya turuti, tentu tidak juga. Saya anggap angin lalu saja protesnya, tapi ada satu fragmen yang kemudian cukup menyentak untuk saya. Ketika kemudian suami saya berkata, mungkin sudah saatnya untuk menulis, menuangkan isi pikiran yang rumit menjadi buku, jangan hanya cuma membaca saja. Saran yang jujur saja, terdengar sangat menantang. 

Tapi sementara belum mampu menulis, sepertinya saya akan tetap seperti ini: mencintai buku-buku. Tidak apa-apa bukan?. 

Minggu, 26 April 2026

Belajar Mendengarkan Lagi


Suatu sore, saya dan Aka sedang bercakap-cakap ringan ketika tiba-tiba saja ia berkata: 

 

Aka: “Umah, tadi Aka dapet info, besok ada event lagi di Summarecon, ada acara cosplay Xavier dan Caleb juga”

 

Aku: “Maksudnya Aka minta izin mau dateng?”

 

Aka: “Eh, ngga, Aka cuma mau cerita aja kalau besok ada event”

 

Aku: “Hooo…”

 

Setelah sempat hening, tiba2 Aka menyambung lagi:

 

Aka: “Umah, Umah sadar ngga sih kalau pikiran Umah tuh kaya laki-laki  banget”

 

Aku: “Oh ya, kenapa emang Ka?

 

Aka: “Iya, Umah tuh kalau ada siapa pun yg cerita ke Umah, pasti buru-buru cari solusi dari apa yang diceritakan, padahal ngga semua orang, apalagi perempuan, cerita tuh karena butuh saran atau solusi, kadang orang cerita tuh cuma pengen didenger aja”

 

Aku : “Ah, begitu ya, Aka ...”

 

Sebetulnya, tanggapan gamang itu bukan karena saya meragukan pernyataan Aka, tapi justru mungkin adalah ketidakpercayaan saya pada sosok diri sendiri yg dinilai Aka. Betulkah saya sudah bertransformasi dari “pendengar setia” menjadi “pencari solusi”?. Sejak kapan?, padahal dulu ada satu masa dimana saya jadi tempat sampah curhatan semua orang. Ya meskipun itu peran yg saya jalani karena melekat dengan pekerjaan di kantor dimana salah satu fungsi saya juga adalah kepegawaian sehingga mau tak mau saya tahu masalah-masalah dapur dan rahasia banyak orang, tapi tetap saja, jadi tempat curhat yang dipercaya banyak orang itu cukup membanggakan.

 

Sejak kapan saya lupa, bahwa semua orang perlu curhat, dan kadang hanya didengarkan saja tanpa dihakimi adalah satu-satunya hal yang diinginkan. Dan kemudian saya sadar, pendapat Aka mungkin betul, akhir2 ini saya terbiasa menanggung banyak hal dan memecahkan semuanya sendiri, sehingga membuat pikiran saya ter-setting bahwa segala sesuatu harus segera dicari jalan keluarnya, agar tidak berlarut-larut, agar bisa segera pindah ke tugas lainnya. Tapi karena pikiran seperti itu, sedikit demi sedikit saya bertransformasi jadi orang yang tidak menyenangkan untuk diajak bicara.

 

Kesadaran ini, tentu tidak timbul dari kekhawatiran saya terhadap citra diri yang disalahpahami karena sudah lama saya tidak terlalu peduli akan dianggap sebagai orang seperti apa. Tapi semata, saya sadar, berbicara dengan orang, adalah suatu relasi timbal balik yg resiprokal. Allport pernah menyatakan bahwa kegagalan hubungan interpersonal adalah penyebab kedua stress terbesar pada manusia, (penyebab pertama adalah kehilangan pekerjaan),  dan itu menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu perlu untuk terkoneksi dengan orang lain.

 

Sering sekali dalam satu hari yg berat, satu sapaan atau bahkan satu senyuman saja dari orang tak dikenal rasanya menghangatkan hati dan meringankan sisa hari. Maka ketika mendengarkan curhatan orang, alih-alih meringankan beban orang lain, sejatinya saya sedang berbuat baik pada diri saya sendiri, dan saya lebih perlu kepada kebaikan itu daripada si pencerita itu sendiri. 

 

Terakhir, saya bersyukur sudah bicara dengan Aka sore ini. Secara tidak langsung saya diingatkan untuk kembali belajar mendengarkan lagi. Setelah sekian lama “sibuk sendiri” dan nurani ini tergerus entah oleh apa yang sedikit tapi pasti mulai menumpulkan mata hati.

Rabu, 22 April 2026

Teori Spotlight Effect





Pada medio tahun 2000an,  psikolog sosial Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky membuat sebuah percobaan yg unik, mereka meminta beberapa responden memakai kaos yang aneh dan mencolok di ruang tunggu bandara. Yang menarik, dari semua pengunjung bandara ternyata hanya sekian persen saja (sedikit sekali) yang ingat bahwa ada orang dengan pakaian aneh di ruang tunggu. Kesimpulannya: mau kita seperti apa pun, selama tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan orang lain, tidak ada yang terlalu peduli. Kesimpulan lanjutan: kita tak sepenting itu dalam kehidupan org lain. Hasil percobaan ini melandasi teori 
spotlight effect yang menjelaskan kecenderungan seseorang untuk melebih-lebihkan sejauh mana perilaku, penampilan, atau kesalahan mereka diperhatikan oleh orang lain. Fenomena ini berakar dari bias egosentris, di mana manusia secara alami fokus pada diri mereka sendiri dan menganggap orang lain melakukan hal yang sama.
 
Dalam kemacetan Jakarta sore ini, tak sengaja saya sebelahan dengan sepasang pengendara motor paruh baya, sepertinya suami istri, suaminya tidak pakai helm sementara istrinya pakai. Karena persis sebelahan, tak sengaja saya menguping pembicaraan mereka. Dari logatnya sepertinya mereka orang Betawi.
 
Istri        : “Orang mah yang pake helm tuh yang bonceng, bukan yang dibonceng”
Suami    : “Yee emang napa, ini artinya sayang istri”
 
Saya pun tergelak sendiri mendengar percakapan itu sebelum berapa detik kemudian kami terpisah di lampu merah.
 
Jakarta, adalah kota seribu paradoks. Konon ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri, tapi anehnya kota ini menyenangkan bagi saya justru untuk ketidakpeduliannya. Di kota bajingan ini justru saya menemukan sosok ibu, sosok bapak, bahkan sosok keluarga yang mewujud teman-teman di kantor yang pintar-pintar, baik hati dan menyenangkan. Dan episode sore ini justru menyadarkan saya, kota ini tetap seru seperti biasanya dan saya cinta, sungguh cinta.

Selasa, 21 April 2026

Review THE SONG OF ACHILLES


Judul: The Song of Achilles -Nyanyian Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2012

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Tebal buku: 490 halaman


Aku sanggup mengenalinya dari sentuhan saja, dari baunya; aku mampu mengenalinya andai pun mataku buta. Dari embusan napasnya dan jejak langkahnya di tanah. Aku sanggup mengenalinya dalam kematian, di ujung dunia. Hlm 169 

Aku pernah mendengar bahwa orang yang tinggal di dekat air terjun lama-kelamaan tidak mendengar gemuruhnya lagi—begitu pula aku; aku belajar untuk hidup di samping gemuruh aliran takdirnya. Hari-hari berlalu, dan dia masih hidup. Bulan-bulan berlalu, dan aku bisa seharian penuh tidak melongok k e dalam jurang kematiannya. Satu tahun yang penuh keajaiban, lalu dua tahun. Hlm 317

Dia belahan jiwaku, seperti kata para penyair. Hlm 378

 

Pada review kali ini, alih-alih memberikan spoiler, sepertinya saya akan memberikan bocoran saja: buku ini adalah sebuah novel cinta, dan belum lengkap bocorannya tanpa saya beri informasi tambahan, bahwa kisah cintanya pun adalah kisah cinta terlarang antara dua laki-laki: Achilles dan Patroclus. Jadi untuk teman-teman yang anti dengan isu ini, sebaiknya skip saja, jangan dilanjutkan membaca.

Teman-teman yang menggemari mitologi Yunani, saya yakin pernah mendengar nama Achilles setidaknya satu kali seumur hidup. Ia adalah manusia setengah dewa, pahlawan legenda yang diceritakan dalam Homer karya Illiad. Istilah Achilles heels atau tumit Achilles yang bermakna titik kelemahan fatal pada seseorang yang sangat kuat memang berasal dari cerita Achilles yang sangat terkenal. Konon, ibu Achilles, Thetis, adalah seorang dewi laut yang sangat khawatir dengan nubuat bahwa Achilles akan mati di usia muda, maka ia mencelupkan Achilles bayi ke Sungai Styx agar kebal senjata, namun tumit yang dipegang ibunya tidak terkena air suci sehingga menjadikannya satu-satunya titik lemah. Saat Perang Troya, Paris yang telah dibisiki Apollo mengenai titik lemah ini, sengaja memanah bagian tumit sehingga membuat Achilles terbunuh.

Namun semua versi cerita Perang Troya ini selalu hanya fokus pada Achillesnya itu sendiri, atau pada tokoh-tokoh besar lainnya yang memang sangat berperan penting dalam cerita. Kita akan melihat banyak kisah dari sudut pandang Paris atau Helen atau dewa-dewa yang terlibat. Inilah yang membedakan, karena yang diangkat dalam buku karya Madelaine Miller ini justru cerita dari sudut pandang Patroclus, sehingga penggambaran cerita menjadi sangat manusiawi.

Sejujurnya, saat pertama membaca buku ini, saya belum membaca review apa pun, sehingga sama sekali tak ada prasangka bahwa ini buku tentang kisah cinta sejenis. Tapi ternyata saya menyukai buku ini, penggambaran bagaimana Patroclus yang adalah seorang pangeran lemah, canggung dan sangat biasa, jatuh cinta pada pangeran setengah dewa dengan fisik  dan kekuatan yang sempurna, disampaikan dengan sangat halus dan sopan. Pada satu titik, pembaca diajak untuk ikut larut dalam setiap emosinya sampai-sampai lupa, ini novel cinta berlatar perang, bukan cerita perang dengan sedikit bumbu romansa.

Beberapa review yang saya baca kemudian menyatakan bahwa buku ini tearjerker, atau menguras air mata. Saya sepertinya kurang sepakat dengan pernyataan itu karena tak berhasil membuat sesenggukan, meskipun harus saya akui, Madelaine Miller dengan sukses mempertahankan keterikatan emosi pembaca, hingga ketika tiba di bagian kematian Patroclus, saya ikut memahami bagaimana sedih dan hancurnya Achilles. Rasanya saya ikut menanggung beban emosi ketika Achilles tidak kuasa melepaskan jasad Patroclus sementara di sisi lain Briseis mengutuknya sebagai penyebab kematian, bahwa Patroclus seribu kali lebih baik dari Achilles, bahwa Patroclus mati karena keegoisan Achilles. 

Kematian Patroclus sendiri kemudian menjadi titik balik yang merubah arah pertempuran dalam Perang Troya, dan Achilles tidak bisa menghindari takdirnya untuk juga terbunuh pada perang itu. 

Terakhir, saya tak hendak mengkritik cinta sejenis dalam buku ini, karena jika dilihat dari aspek penceritaan buku ini luar biasa bagus. Alih bahasa yang dilakukan juga sangat pas menerjemahkan emosi sehingga bisa dirasakan pembaca. Buku ini membuat Achilles dan Patroclus terasa hidup dan bernyawa kembali, padahal 28 abad sudah berlalu sejak Holmer menyusun Iliad.


 

 

Minggu, 19 April 2026

Review A MAN CALLED OVE

Seorang Lelaki Bernama Ove yang Selalu Gagal Bunuh Diri




Ove tahu benar, teman-teman istrinya tak paham mengapa perempuan itu menikah dengannya (hlm 48).

Ove adalah lelaki hitam-putih. Sementara itu, istrinya berwarna-warni. Ialah seluruh warna yang dimiliki Ove (hlm 51).

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan itu berbalik ketika sedang tidur. Kau bahkan rindu mengecat ruangan ulang ruangan untuknya (hlm 76)

Kita bisa menyibukkan diri dengan hidup atau dengan mati, Ove. Kita harus melanjutkan hidup (hlm 265).

Setiap manusia harus tahu apa yg diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yg baik. Demi anak-anak yg tdk pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yg benar-benar dipahaminya (hlm 270)

 

Karena kau bukan orang yang benar-benar tolol (hlm 312).

 

Cerita dimulai dengan seorang pria 59 tahun bernama Ove yang sedang bersitegang di toko komputer. Ia hendak membeli iPad namun masih perlu diyakinkan, tetapi petugas toko sepertinya bingung bagaimana menjelaskan kepada pria tua nyaris gaptek ini, bahwa iPad benar-benar ‘barang bagus’. Kemudian kita dapat menyimpulkan bahwa Ove ini pria tua pemberang-pemarah, gampang ngambek, cenderung pelit (ia tak mau bayar parkir rumah sakit) dan kering kaku seperti kanebo. Tapi kita pun akan melihat bahwa Ove lelaki yang sangat terampil, sangat jujur dan hidup dengan lurus dan seharusnya.

Ove hanya ingin mati dengan tenang. Setelah istrinya Sonja meninggal dunia, dan ia dipensiunkan begitu saja oleh perusahaan tempatnya bekerja, Ove merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan hidup. Maka ia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Alasannya praktis: gantung diri tak akan membuat darah menciprat kemana-mana sehingga tak akan mengotori lantai. Tapi karena terbiasa selalu hidup tertib dan rapi, Ove tetap melapisi semua lantai dengan plastik. Ia hanya tinggal memasang sebuah pengait. Dan Demi Tuhan, karena Ove sangatlah terampil, itu haruslah pengait yang kokoh dan layak.

Sayangnya, rencana Ove untuk bunuh diri, selalu saja gagal, kali pertama, karena tetangga baru tak bisa memundurkan mobil karavannya sehingga menghantam kotak surat Ove, mau tak mau Ove harus keluar dan membantu. Saat akan melanjutkan aksinya, ternyata anak tetangga barunya mengintip dari jendela dan Ove tak ingin meninggalkan kenangan yang buruk tentang orang bunuh diri  di benak seorang anak.

Kali berikutnya ketika akan memasang pengait lagi, tetangga baru datang lagi mengantarkan makanan. Hari berikutnya, tetangga yg lain minta tolong Ove memperbaiki pemanasnya di rumah, berikutnya lagi, tetangga baru pinjam tangga dan kunci Allen, dan begitulah rencana bunuh diri Ove selalu gagal karena semua orang sepertinya sibuk merecoki Ove. 

Ketika pengaitnya yang kokoh sudah terpasang, betapa konyolnya karena tali yang Ove gunakan untuk gantung diri malah putus begitu saja, dan Ove mengumpat-ngumpat tentang betapa tidak ada barang yang bagus dan layak yang diproduksi orang jaman sekarang.

Berikutnya Ove mencoba mengganti metode bunuh diri dengan mengalirkan gas karbon monoksida dari mobil, tepat saat Ove akan melancarkan aksinya, tetangga baru lagi-lagi mengganggu Ove dengan memaksa Ove mengantarkan ke rumah sakit dan berakhir dengan Ove harus menjaga kedua anak perempuannya.

Begitulah Ove terus menerus terseret ke dalam situasi yang tak diinginkan bersama tetangga barunya. Dan seiring dengan semakin terinvasinya ruang pribadi Ove, perlahan-lahan, tetangga barunya pun mendapat gambaran utuh tentang bagaimana kehidupan Ove. Meski demikian, Ove tetap menjalani kehidupannya dengan rutinitas yang sama persis, bangun di jam yang sama, menginspeksi kompleks perumahan, mengunjungi makam Sonja (istrinya yang wafat karena kanker) setiap hari dan Ove masih berkeinginan bunuh diri.

Ove kemudian mencoba untuk bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalur kereta api. Dilalahnya, bukannya bunuh diri, secara tak sengaja Ove malah jadi pahlawan karena menyelamatkan seorang pria yang tiba-tiba kejang-kejang dan jatuh ke jalur kereta.

Setelah itu, Ove menjadi sibuk luar biasa. Istri tetangga baru minta diajari menyetir, kedua anak perempuannya menjadi luar biasa dekat, lalu Ove terpaksa memelihara kucing, Ove membantu mantan murid istrinya memperbaiki sepeda dan membeli mobil, dan secara tak sengaja Ove mengumpulkan semua orang dari latar belakang berbeda (Pattrick-konsultan IT, Parvaneh-istri Pattrick, Nasanin putri Pattrick dan Parvaneh, Jimmy tetangga gendut yang adalah developer system Apple,  Anders si pesolek, Adrian mantan murid Sonja, Mirsad si gay, Anita istrinya Rune dan si kucing ) bersatu padu melawan petugas dari dinas sosial yang akan mengambil Rune (tetangga dan sahabat masa lalu Ove) ke panti jompo.

Di penghujung, Ove wafat dalam tidur dengan damai, alih-alih pemakaman yang sepi, hampir tiga ratusan orang mengantar Ove ke peristirahatannya yang terakhir. Satu benang merah yang kemudian saya tarik dari buku ini, meski galak dan tidak bisa basa basi, Ove sebenarnya adalah orang baik yang sangat peduli pada orang lain. Dalam satu bagian, Parvaneh berkata pada Ove bahwa Ove adalah orang paling lucu yang pernah ditemui putrinya, karena putrinya selalu menggambar semua orang dengan warna hitam, sementara Ove ia gambar dengan ledakan semua warna, merah, kuning, biru, oranye, semua warna-warna ceria.

Buku ini saya selesaikan dengan hati yang rasanya ikut menghangat. Mau tak mau ikut sayang pada pria tua bangka pemarah ini. Dan sesuai dengan apa yang tertera di sampul bukunya: kau akan tertawa, menangis, bersimpati terhadap orang temperamen yang kau temui dalam kisah memesona ini.

 

 

Kamis, 16 April 2026

Kepada Indah

Kami mulai bersahabat sejak 2003, sejak tahun pertama di ITB. Disatukan oleh mimpi buruk bernama: Kalkulus, Fisika Dasar dan Ospek Himpunan. Siapa sangka, 21 tahun kemudian ia tetap jadi sahabat terbaik untuk saya. Takdir kami dalam banyak hal terjalin erat, meskipun keputusan yang ia ambil selalu lebih baik dari saya: ia memutuskan lanjut osjur, saya malah memutuskan keluar himpunan, ia pasang kawat gigi di usia 20 an, saya baru pasang menjelang 30 an, ia memutuskan lanjut kuliah ke luar negeri, saya cukup dgn ITB saja lagi. Dan yang paling membedakan kami berdua adalah: saya memutuskan menikah di usia 19 tahun, dan ia di usia 38 tahun.

 

Namun entah bagaimana, di luar perbedaan kami yang selalu 180 derajat, setiap saya hilang arah dan hampir tenggelam,  ia yang selalu jadi jangkar utk saya. Ia yang dulu memarahi saya, memaksa saya untuk terus menamatkan kuliah, ketika romansa hidup berumah tangga begitu melenakan dan saya tergoda, ingin rasanya berhenti kuliah dan jadi ibu rumah tangga saja di rumah (saat itu saya masih semester 3). 

 

Ia juga yang memaksa saya ikut tes CPNS, padahal setelah lulus kuliah, lagi-lagi saya ingin di rumah saja, meski memang ragu, apakah murni ingin mengabdi untuk anak dan suami, atau semata takut bertarung di luar sana. 

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami, begitu panjang pembahasan kami tentang pernikahan. Kepadanya saya menuangkan semua senang susah saya selama menjadi istri dan ibu. Saya yang dramatis dan melankolis selalu kalah oleh ia dengan pikiran yang selalu logis dan taktis. Saya ingat, tahun 2006 saat terjadi huru hara pertama dan mungkin terbesar dalam rumah tangga saya. Nangis-nangis saya cerita, ia cuma menjawab, “Sini kumpulin dulu tugas besar Rektrans, kalau udh ngumpulin terserah kamu mau pulang ke Tasik atau ke rumah suami kamu”. Tampak kejam, tapi berkatnya semester itu saya lulus semua mata kuliah.

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami. Sering sekali saya tiba-tiba mumet dengan pikiran saya sendiri, lalu memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Berbulan-bulan tak menghubungi, lalu dengan seenaknya tiba-tiba muncul kembali, menyapa seolah tak ada hal yang terjadi sebelumnya. Dan selalu setiap saya kembali, saya tahu ia akan menerima saya “pulang”, begitu saja dan tidak menghakimi.

 

Seluruh perjalanan rumah tangga saya mungkin adalah pelajaran penting untuknya tentang pernikahan. Mungkin dari saya ia belajar, menikah itu ternyata bukan seperti kisah cinta Cinderella dan Pangeran, dimana dengan menikah semua masalah selesai lalu hidup bahagia selamanya. Justru sebaliknya, menikah adalah awal dari semua masalah hidup yang sebenarnya. Menikah adalah ikatan yang sanggup membangkitkan sisi gelap dalam diri yang tak pernah kamu tahu bahwa itu ada. Menikah adalah hal paling sulit dalam kerangka hubungan dua manusia.

 

Makanya ia santai saja, ketika usia merambat naik, namun belum kunjung juga menemukan pasangan hidup. Berkali mamahnya bilang, “Ayo, Nu, carikan calon suami”, saya hanya tersenyum simpul. Mah, menikah bukan tujuan akhir dalam hidup, dan juga bukan perlombaan. Bukankah lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah. Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan orang yang salah.

 

Dan waktu pun terus berlalu. Tak pernah sekali pun, saya bertanya padanya, “kapan kamu menikah?”. Saya hanya percaya, sahabat saya ini orang paling baik sedunia, tidak mungkin Tuhan membiarkan ia menjalani sisa hidup sendirian. Diam-diam saya berdoa, siapa pun suaminya kelak, ia harus laki-laki terbaik, jangan sampai ia jatuh ke tangan laki-laki semodel dakjal.

 

Dan hari ini ia menikah. Anehnya, separuh hati saya begitu kehilangan. Bagaimana pun juga, saya terlalu terbiasa dengan kehadiran dan kebaikannya. Separuh lagi,  lega dan senang luar biasa. 

 

Saya senang, karena meski ia tak pernah kesepian, ia tidak akan lagi sendirian di sore hari sepulang menjalani hari kerja yg padat. Saya senang, sahabat saya punya seseorang yang bisa diajak bergandeng tangan dan duduk berdua di akhir pekan yg  sunyi.  Saya senang, akhirnya ada seseorang yg mengambil perjanjian yg berat itu (mitsaqon ghalidza) kepada sahabat saya. Bagaimanapun, menikah itu fitrah. Seterjal apapun jalan di balik gerbangnya, bukankah pahalanya pun lebih besar.

 

Hari ini, mendengar tausiyah di pernikahannya, hati saya tersedu. Nasihat itu sesungguhnya bukan untuk pengantin baru saja, tapi juga berlaku utk pengantin bari. Dalam Al-Qur’an tidak ada kata cinta yg disandingkan dgn kata suami-istri. Yg ada adl kata mawadah warahmah. Cinta hanyalah bagian kecil dari mawadah warahmah ini. Dan mawadah warahmah ini kata kerja, jadi harus diupayakan.

 

Jadi, Ndah, selamat datang dan selamat bergabung😆.

 

“Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fî khair” 

 

Memoar 3 Nov 2024

-15 hari menjelang titi mangsa pernikahan saya yg ke 20-

Kamis, 11 Desember 2025

MENSYUKURI LUPA









lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi: karena sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu.


Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan dan hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan*

Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba saja melupakan sesuatu yang penting?, lupa akan janji temu yang sudah dibuat, lupa password rekening bank atau akun sosmed, lupa materi yang baru dipelajari, yang paling sering terjadi adalah lupa menyimpan suatu barang. Dan saya jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang atau benda penting semata karena saya lupa kalau membawa barang tersebut dan ketinggalan. Pernah, saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar yang berisi tugas besar saya ketinggalan di tempat ngeprint. Pernah juga saya kehilangan satu tempat pensil penuh berisi segala alat tulis, alat gambar dan kalkulator gara-gara ketinggalan di studio. Ketinggalan jam tangan bahkan handphone lalu hilang, oh pernah juga.

Keseringan lupa ini terkadang sangat mengganggu. Sering saya berharap, Tuhan memberi saya ingatan yang tajam dan tak gampang lupa, terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Karena sejauh yang saya pahami, mereka yang pintar dan cerdas itu memiliki ingatan yang sangat baik. Dalam beberapa novel detektif yang saya baca, para detektif yang menjadi tokoh utama ceritanya, dianugerahi Tuhan ingatan jangka panjang yang sangat detail, bahkan ada beberapa yang punya ingatan fotografis.

Namun seiring berjalannya usia, saya mulai menemukan bahwa kemampuan untuk melupakan justru adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena dengan lupa, kita bisa hidup dengan lebih damai dan tenang. Tanpa "lupa", betapa tersiksanya mereka yang harus berkompromi dengan ingatan yang traumatis.  Tanpa lupa, bayangkan, bagaimana konflik internal yang terjadi di dalam hati kita sendiri, yang membuat kita terus menerus dihantui oleh ingatan menyakitkan. 

Sigmund Freud bahkan menyatakan bahwa lupa sebetulnya adalah salah satu bentuk penting pertahanan diri manusia. Melalui mekanisme represi, manusia menekan ingatan menyakitkan sehingga hanya ada di alam bawah sadar, dan ini penting untuk melindungi pikiran sadar dari penderitaan emosional. 

Jadi alih-alih mengutuk atau mengeluhkan lupa, bukankah seharusnya kita mensyukurinya sebagai anugerah lain dari Sang Pencipta.

*Dan kemudian aku pun bersyukur, karena itu berarti aku juga bisa melupakan kamu.



*dari web, tercantum Sumadi Suryabrata, 2006: 47, tapi saya tidak menemukan buku ataupun rujukannya yang sah.


Berpisah Jalan

Ketika semesta sudah merestui sebuah perpisahan, percayalah bahwa kalian tidak akan bertemu lagi di kebetulan manapun. Bahkan meskipun kalian tinggal di kota yang sama atau bahkan jika kalian bekerja di satu instansi dalam gedung yang sama. Percayalah. 

 

Selalu akan ada momen, entah itu terlambat 5 menit, atau masuk melalui pintu yang berbeda, atau semua cara unik semesta lainnya yang tidak membiarkan kalian bertemu. Meskipun kita tahu, ada rindu yang belum usai, ada doa yang diam-diam dilangitkan untuk bisa bertemu, sebentar saja. 

 

Tapi semesta bukan tempat untuk menggoda luka. Ia akan menutup semua pintu, memisahkan kalian dalam ruang dan waktu yang selalu tak pernah beririsan, hingga pelan-pelan kalian menyadari, bahwa ini memang perpisahan yang mutlak.

 

Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan perasaan. Maka masing-masing dari kalian, akan saling merindukan dalam diam. Mencoba melanjutkan hidup sambil menghapus jejak-jejak kenangan yang aku yakin bertebaran dimana-mana. Di sinar matahari pagi, di tangga MRT, di selasar rumah sakit, di semua tempat yang pernah kalian lalui bersama. Tak ada yang berubah dari matahari, tak ada yg berubah dari semua tempat itu, yang berubah hanya persepsi kalian. Karena kehilangan, entah bagaimana, justru menyadarkan bahwa ternyata ada ruang kosong yang tak bisa begitu saja diisi orang lain. 

 

Lalu untuk berdamai dengan sakit yang rasanya terus menerus menghantui, kalian akan memilih cara seperti apa?.

 

Kalau aku, biasanya aku akan melarikan diri pada buku-buku, pada hitungan-hitungan rumit, pada pekerjaan. Dan jujur, sebagai hadiahnya aku berhak mengenakan jas almamater dengan lambang gajah Ganesha satu dekade yang lalu, karena kehilangan. Sakit yang tak tertahankan membuat aku belajar mati-matian, aku membawa buku kemana-mana, membaca dimana-mana, di angkot, di teras masjid, sambil menunggu teman, tak sedetik pun kubiarkan pikiran ini kosong. Dan entah bagaimana, sakit dan sedih itu menjelma energi, untuk hidup lebih baik, untuk terus berprogres. Hingga jika suatu saat nanti  ternyata semesta mempertemukan kembali karena tahu hati ini sudah rela, yang ditampilkan adalah versi terbaik diri, bukan sosok yang remuk karena tidak bisa berdamai dengan luka perpisahan.

 

Aku harap, sekarang pun begitu.

 

Jumat, 18 Juli 2025

AREM-AREM

 





"Kamu dimana?, kenapa belum sampai kantor?", begitu bunyi pesan teks yang kuterima pagi ini. Tergopoh-gopoh, aku berlari dari parkiran. Dan kamu tertawa melihatku yang kusut sesampai tiba di ruangan. 

"Kebiasaan memang", komentarmu dengan geligi yang terlihat manis saat terbahak. 

Aku meletakkan tasku, membuka laptop, dan bersiap untuk mulai bekerja. Tiba-tiba kamu menyodorkan satu buah arem-arem padaku.

"Eh", komentarku dengan tatapan bertanya, 

"Buat kamu, hehehe...".

"Terima kasiih", lalu aku memakan arem-arem itu dengan lahap.

Siangnya, saat makan siang bersama, tiba-tiba terlintas tentang arem-arem tadi pagi.

"Tadi pagi, kamu beli arem-arem dari mana?, bekel dari rumah?", tanyaku.

"Engga, dikasi sama Bu Ar itu", jawabmu.

"Oiya, semua orang dikasi?", tanyaku lagi.

"Cuma sedikit kok, jadi aku ngambil satu".

"Hah, cuma satu, jadi yg aku makan tadi pagi itu sebetulnya jatah kamu dan kamu belum makan?", 

"Iya..."

aku langsung merasa bersalah, "Kenapa ngga bilang kalau kamu belum makan, aku pikir kamu punya beberapa dan buat aku satu"...

"Ngga apa-apa, kok, seneng lihat kamu makannya gembul",  jawab kamu.

"Aaaaaa....bukan gitu, duh aku jadi ngga enak, nanti arem-aremnya kuganti ya...", 

Sungguh, aku berjanji dalam hati untuk mengganti arem-arem itu besok, sepertinya di Monami juga ada itu arem-arem.

Siapa sangka, ternyata tak pernah ada besok untukku. Dan sampai hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, aku tak pernah punya kesempatan untuk mengganti arem-arem itu.


Senin, 26 Maret 2018

Pasang Kawat Gigi Murah dan Berkualitas di Bandung

Holaaa.....

Waktu cuti selama tiga bulan pasca melahirkan anak keenam ternyata tak membuat saya lebih produktif dalam mengisi blog ini. Pekerjaan rumah tangga sehari-hari, bayi yang sedang lucu-lucunya, hingga anak-anak besar yang sedang butuh-butuhnya perhatian membuat waktu terasa begitu cepat berlalu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi pekerjaan seolah tak ada habisnya, hingga waktu tiga bulan yang  digadang-gadang akan memberi saya banyak waktu untuk menulis dan membaca (tapi pada kenyataannya tidak) pun akhirnya berlalu begitu saja. Tapi setidaknya tiga resolusi saya pasca melahirkan terpenuhi. *Psssssttt.... tolong jangan ketawa ya,  karena tiga resolusi saya sederhana sekali sebenarnya:

1. Ikut program Keluarga Berencana =D
2. Merawat rambut agar tak rontok
3. Pasang kawat gigi.

Saya agak ragu untuk berbagi point yang pertama dan kedua, tapi untuk point ketiga, menurut hemat saya penting sekali untuk dibagikan. Penting sekali dengan tanda seru. Kenapa?, agar teman-teman yang punya masalah gigi seperti saya tak mengulangi kesalahan yang sama.

Jadi ceritanya kurang lebih empat tahun yang lalu, saya pasang kawat gigi. Kesalahan saya adalah saya pasang kawat gigi bukan di dokter spesialis ortho tapi di tukang gigi. Bodoh?, ya sangat bodoh memang, gara-gara termakan iklan dari tetangga ditambah dengan iming-iming tukang gigi ini profesional karena bekerja sama dengan dokter rumah sakit membuat saya lantas memutuskan untuk menyerahkan urusan gigi saya pada si tukang gigi (pada poin ini saya baru menyadari betapa sangat bodohnya saya percaya begitu saja, padahal kalau dipikir lagi sekarang, rasanya kerjasama antara tukang gigi dan dokter gigi itu konsep yang absurd sekali).

Ya begitulah, dengan pertimbangan tukang gigi tersebut dekat dari rumah dan tak perlu antri lama setiap kunjungan akhirnya saya pun memutuskan untuk pasang kawat gigi disitu. Saya memang sudah merasa aneh sejak kunjungan pertama. Bayangkan, saat memeriksa pasien, beliau tak pakai sarung tangan. Tampak seperti hal sepele tapi menurut saya pemakaian sarung tangan ini penting sekali. Bayangkan saja, tangan adalah anggota badan yang paling sering digunakan untuk berbagai aktivitas, siapa yang tahu sebelum menangani gigi kita si tukang gigi ini sudah memegang apa, dilalahnya lagi saya juga tak menemukan cairan desinfektan di ruangannya.

Hal aneh kedua yang saya temui dari si tukang gigi adalah, dia langsung memasang kawat gigi begitu saja di pertemuan pertama. Hanya melihat-lihat sekilas kondisi gigi saya lalu langsung pasang kawat saat itu juga. Tak ada analisa macam-macam, tak ada pembahasan sama sekali tentang gigi geraham saya yang berlubang ataupun karang gigi yang tampak jelas sekali. Pokoknya sama sekali tak ada pembahasan tentang kondisi gigi saya seperti apa, satu-satunya pembahasan justru terjadi saat tawar menawar harga. Ah ya, tarif untuk pemasangan kawat gigi ini bisa ditawar dan jangan heran jika ada pertanyaan aneh seperti : "pasang untuk gigi atas dan bawah?, atau atas saja?". Belakangan saya tahu bahwa pergerakan gigi itu meliputi gigi atas dan bawah sehingga hampir tidak mungkin jika selama masa perawatan untuk merapikan gigi yang dipasang hanya atas saja atau bawah saja.

Yah begitulah, kebodohan saya memutuskan untuk pasang kawat gigi di tukang gigi ini ternyata berakibat fatal. Ada beberapa gigi saya yang dicabut karena dianggap menghalangi pergerakan gigi untuk ditarik ke belakang, dan yang paling parah adalah: gigi depan saya yang memang berukuran besar-besar  dikikir, sodara-sodara. Bodohnya, saya mau saja. Padahal rasanya luar biasa ngilu dan setelah beberapa kali pengikiran saya memutuskan untuk tak lagi mengizinkan si tukang gigi mengikir gigi saya.

Hampir dua tahun gigi saya dipasangi kawat, sama sekali tak ada kemajuan yang berarti, dengan kata lain, susunan gigi depan saya masih berantakan, dan saya juga tetap tak bisa menggigit dengan sempurna karena posisi gigi atas yang terlalu maju ke depan. Akhirnya saya mengambil keputusan penting: melepaskan kawat gigi tersebut.  Saat itulah baru ketahuan masalah yang sebenarnya. Gigi depan saya tetap terlalu maju, karang gigi semakin menumpuk dan lubang di gigi geraham saya semakin membesar hingga mau tak mau gigi tersebut harus dicabut.

Yang paling mengganggu adalah hitam-hitam karena lubang akibat pengikiran di gigi depan. Dan karena yang dikikir adalah sela-sela di tiga gigi, maka karies pun terjadi sampai keenam gigi. Frustasilah saya. Malaas sekali untuk datang ke dokter gigi dan meminta solusinya. Sampai pada satu titik saya memutuskan untuk membiarkan saja kondisi gigi saya yang hancur. Toh saya juga sudah tak merasa muda lagi.

Tapi...
Tapi...
Tapi....

Setiap berkaca saya malu sendiri, duh mengganggu sekali gigi yang maju dan hitam-hitam ini. Akhirnya saya memantapkan hati untuk datang ke dokter gigi dan memulai lagi perawatan. Sungguh keputusan yang terlambat.

Dan dimulailah perjalanan panjang saya bolak balik ke dokter gigi.

Langkah pertama saya adalah mencabut semua gigi yang berlubang. Karena setiap kali hamil gigi saya keropos maka gigi geraham saya hampir semuanya berlubang, hingga mau tak mau akhirnya enam gigi geraham saya dicabut. Ya!, ENAM, sodara-sodara! (Duh, saya emosi sekali menyebut angka enam ini T_T). Setiap kali kunjungan, dokternya hanya bersedia mencabut satu gigi, maka enam minggu saya habiskan untuk mencabut gigi.

Langkah selanjutnya adalah menambal karies di gigi depan. Saat itulah saya baru tahu bahwa penambalan gigi depan itu rumit, Puskesmas tidak punya bahan untuk menambal gigi depan hingga saya dirujuk ke poliklinik gigi rumah sakit. Bayangkan, karies terjadi di enam gigi, sementara  setiap kunjungan satu kali seminggu yang ditambal itu hanya dua gigi yang berdekatan, maka hampir satu bulan sendiri waktu yang saya habiskan untuk menambal gigi depan. Saat bolak balik dokter gigi ini, saya masih menyusun tesis untuk menyelesaikan kuliah saya di pascasarjana ITB, maka bisa dibilang saya cukup punya banyak waktu luang, dalam artian saya masih bisa mengantri berjam-jam di ruang tunggu sambil bekerja dengan laptop saya. 

Setelah beres semua urusan penambalan dan pencabutan ini, pekan berikutnya saya mendatangi dokter spesialis orthodonti di Rumah Sakit Umum Daerah Ujung Berung. Saya mengantri berjam-jam hanya untuk mendengar vonis kasus saya terlalu berat untuk diselesaikan disana. Saya dirujuk ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad. Maka pergilah saya ke RSGM Unpad, sayangnya saya datang kesana setelah lewat pukul 13.00, hingga saya diarahkan untuk berkonsultasi dengan resident dan bukan dengan spesialis orthodontinya langsung. Hasil konsultasi ini sungguh mengecilkan hati saya, residentnya bilang kasus saya berat dan karena umur saya yang sudah tak muda lagi, perawatan gigi saya akan memakan waktu yang lama. Selain itu, saya diminta untuk memastikan waktu perawatan yang benar-benar harus saya patuhi karena tak boleh pindah dokter gigi selama masa perawatan. Jujur saja, setelah berkonsultasi dengan resident ini, semangat saya untuk kembali merawat gigi terjun bebas. Bukan apa-apa, pendapat beliau tentang gigi saya sungguh membuat saya patah hati.

Penasaran, saya coba mendatangi RSKGM yang ada di Jl. Martadinata No. 45, Bandung. Semata untuk minta second opinion, siapa tahu, dokter spesialis ortho disini bisa memberi saya harapan lagi. Dan setelah mengantri berjam-jam lagi, saya dihadapkan pada vonis yang sama: kasus gigi saya terlalu berat karena barisan gigi geraham belakang yang sudah habis dan saya dirujuk (lagi-lagi) ke RSGM Unpad.


Haaaah....

Putus sudah semangat saya.

Dalam kondisi seperti itu, saya tiba-tiba teringat, dokter yang menambal gigi depan saya di RSUD Ujung Berung, dalam salah satu kunjungan sempat menawari saya memasang kawat gigi di beliau, dengan harga spesial hanya Rp. 3.500.000,-. Saya sempat tergoda apalagi jika mengingat tarif pemasangan kawat gigi di tempat praktik pribadi spesialis ortho itu berkisar di angka Rp. 14.000.000,-. Tapi saya merasa aneh sendiri, jika spesialis ortho di RSUD dan RSGM saja menyerah, bagaimana mungkin dokter gigi biasa lantas sanggup menangani gigi saya. Maka berkali-kali saya mengingatkan diri sendiri, sudah cukup kesalahan saya mempercayakan urusan gigi saya pada yang bukan ahlinya. Tak mau lagi saya mengorbankan kesehatan gigi saya demi mengejar harga yang murah. Saya harus pasang kawat gigi, tapi di spesialis ortho. Titik.

Tekad bulat saya ternyata harus melalui jalan berliku untuk bisa terwujud,  dengan tesis saya yang tak selesai-selesai, dan DO mengancam di pelupuk mata, maka untuk sementara waktu, urusan gigi ini pun terlupakan. Hingga tak terasa waktu berjalan, Alhamdulillah saya lulus dan memperoleh gelar M.T, Alhamdulillah saya mulai kembali bekerja, Alhamdulillah saya kemudian hamil anak keenam. Dan selama hampir dua tahun, urusan pemasangan kawat gigi ini terlupakan dari benak saya, meskipun setiap berkaca di cermin saya menyadari bahwa penampakan gigi saya benar-benar mengganggu dan saya tetap berkeinginan untuk memasang kawat gigi. 

Siapa sangka jika keinginan saya akan terwujud dengan jalan yang tak disangka-sangka. Gigi geraham belakang suami saya berlubang dan harus dicabut, dilalahnya, RSUD Ujung Berung sampai RS Hermina ternyata tak sanggup mencabut gigi beliau hingga beliau dirujuk ke RSGM Unpad. Jadilah saya sekalian mendatangi spesialis ortho saat suami saya sedang dicabut gigi di klinik bedah gigi minor.

Sebelumnya saya sudah mendapat informasi bahwa sebelum memutuskan untuk memasang kawat gigi, harus ditentukan dulu jadwal waktu yang harus dipatuhi dan tak boleh diganti-ganti selama sekian tahun perawatan. Artinya jika saya memutuskan untuk merawat gigi saya di dokter spesialis yang praktek di Senin pagi, maka sekian tahun juga saya harus  meluangkan waktu untuk perawatan gigi di Senin pagi. Menimbang waktu bekerja saya dan lain sebagainya, akhirnya saya memutuskan untuk memilih dokter spesialis yang praktek di Jumat sore. Dan saya beruntung sekali karena dokter spesialis ortho yang praktek di Jumat sore ini perempuan dan baik hati.

Tak seperti resident sebelumnya yang membuat saya patah hati, dokter spesialis ortho ini justru membesarkan hati saya, beliau bilang masih ada solusi untuk gigi saya meski akan diperlukan konsistensi saya untuk mematuhi jadwal perawatan. Beliau memberi saya beberapa pekerjaan rumah terkait gigi saya yang harus diselesaikan. Pertama: mencabut akar gigi yang masih tersisa. Kedua: foto panoramic dan cephalometric. Ketiga: membongkar tambalan dan menambal ulang gigi depan. Ini karena hasil tambalan dokter gigi sebelumnya dipandang kurang bagus. Saya diberi rekomendasi untuk menambal ulang di dokter spesialis konservasi gigi yang praktek di Kamis sore. Dalam hati saya bersyukur,  tidak menerima tawaran pasang kawat gigi di dokter gigi yang menambal gigi depan saya dulu. Lah, menambal gigi depan saja ternyata ngga kepake sama dokter ortho saya, gimana kalau dia sampai pasang kawat gigi juga yang tingkat kerumitannya jauh di atas menambal gigi. PR keempat: membersihkan karang gigi, baru selanjutnya cetak gigi dan pemasangan kawat gigi.

Semua PR ini saya kerjakan di RSGM Unpad, karena malas mengantri dan mengurus surat rujukan untuk BPJS, akhirnya saya pilih untuk bayar sendiri. Relatif murah kok, untuk mencabut gigi biayanya Rp. 130.000,-; foto panoramic dan cephalometric biayanya Rp. 120.000,-; scalling atau pembersihan kawat gigi Rp. 140.000,-. Yang cukup mahal justru menambal gigi depan. Karena banyak yang harus ditambal saya sampai harus janjian di luar jam praktek biasa dengan dokter spesialis konservasi gigi yang direkomendasikan. Biaya menambal gigi ini total Rp. 2.400.000,- atau Rp.400.000,- per gigi. Mahal memang, tapi saya puas karena gigi depan saya tak lagi terlihat hitam-hitam.


RSGM Unpad, Jl. Kubang Selatan, Lebakgede, Coblong, Bandung

Setelah semua PR saya selesai, tibalah saya pada saat yang paling menentukan: pemasangan kawat gigi. Karena susunan gigi saya yang aneh, kawat yang dipasang baru bagian atas saja. Untuk gigi bawah kawat baru akan dipasang tiga minggu kemudian itupun dipasangnya di belakang gigi. Saya manut saja. Biaya yang diperlukan untuk pemasangan kawat ini Rp. 7.350.000,- relatif murah apalagi jika dibandingkan dengan dengan tarif spesialis ortho di tempat praktek pribadi.

Sekarang, hati saya lega sekali. Tinggal mengatur jadwal untuk menjalani perawatan di hari Jumat sore. 

Jadi...pesan moral dari cerita panjang lebar saya adalah:

1. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.
2. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.
3. Jangan pasang kawat gigi di tukang gigi.

Apalagi di tukang gigi, di dokter gigi umum saja sebaiknya jangan. Bayangkan untuk mendapat gelar spesialis orthodonti itu diperlukan waktu lima tahun sendiri setelah lulus dokter gigi umum, secara keilmuan tentu akan sangat jauh berbeda dengan dokter gigi umum yang tak mempelajari ilmu ortho secara khusus. Jangan dibandingkan juga dengan tukang gigi yang cuma ikut kursus-kursus saja.

Pesan moral kedua, serahkan sesuatu pada ahlinya. Untuk mengatasi masalah gigi datanglah pada dokter spesialis gigi yang sesuai. Untuk menambal datanglah ke spesialis konservasi gigi, untuk memasang kawat datanglah ke spesialis ortho. Pasang kawat gigi di tukang gigi itu seperti sakit kanker dan datang berobat ke dukun. Secara pribadi saya merekomendasikan RSGM Unpad untuk mengatasi semua masalah gigi, selain karena rumah sakit ini menjadi rujukan untuk kasus-kasus gigi yang berat, biaya perawatan disini relatif murah dengan kualitas pelayanan yang memadai.

Pesan moral selanjutnya adalah: jaga gigi sedari dini. Gigi yang lengkap dan bagus itu sungguh suatu anugerah. Makanya, dijaga. Sikat gigi sebelum tidur dan sesudah sarapan. Juga jangan kebanyakan makan yang manis-manis. Pake kawat gigi itu sakit banget, sumpah. Udah gitu mahal lagi. Mending uangnya ditambahin dikit buat beli iphone X. Iya ngga?. =D


*gambar saya copy dari www.unpad.ac.id, dan hasil pencarian dari google.co.id










Resensi MALAM SERIBU JAHANAM

Judul buku                    : Malam Seribu Jahanam Penulis                       : Intan Paramadhita Penerbit                      : Grame...